Yuk, bercerita!

Apakah sewaktu kecil anda senang diceritakan dongeng Cinderella atau Pinokio ? atau Semar Bagong Petruk Gareng , dongeng silat Ho Ping Ho atau dongeng 1001 malam beserta Aladin? Atau ada yang teringat di suatu masa ada kaset sandiwara sanggar cerita yang sangat beken atau sandiwara radio satria madangkara nan seru itu?

Masa kecil saya sakit-sakitan dan seringnya harus “dirumahkan”  atau terbaring di rumah sakit menjadikan saya anak yang tergantung dengan buku. Buku apa saja jadi teman baik saya sejak kecil : cerita dongeng Snow Whit, komik petualangan Tin Tin, Winnetou, Asterix, Tanguy  sampai novel Lima Sekawan, atau Si Badung. Dalam keadaan terbaring berhari-hari saya bisa terhibur dengan membaca dan mengkhayalkan tokoh-tokoh cerita itu dan bahkan melanjutkan ceritanya versi saya dengan berteman tembok berkapur putih di samping tempat tidur saya. Seolah permukaan tembok itu menjadi layar hidup berisi tokoh-tokoh itu, dan cerita berlanjut , dan yang lebih penting lagi kehidupan saya pun berlanjut…

Hingga kini cerita-cerita itu tetap membuat saya takjub ; misalkan bagaimana seorang puteri masih bisa lemah lembut meskipun dijahati, betapa dalam keadaan yang serba tak mungkin seorang gadis biasa seperti Upik Abu dibantu peri baik hati yang tak minta bayaran  plus masih  dapat hadiah pangeran yang tampan rupawan. Aih, ternyata kalau kesabaran dan ketabahan itu ada hadiahnya pangeran rupawan saya pun rela lah bersabar, itu lah pikiran saya. Hehe. Sampai sekarang saya masih kagum ada tokoh Semar, orang dari kaum kebanyakan namun luar biasa bijaksana dan sakti mandraguna.

Apakah  Cerita Dongeng Baik ?

Sejak dahulu kala, cerita dalam bentuk metafor banyak digunakan para tokoh agama dan guru sebagai cara untuk menyampaikan suatu kebenaran. Ahli komunikasi, pemimpin dan negotiator di masa kini menggunakan metafor atau cerita yang bermakna dalam dengan karakter cerita yang kuat untuk menginspirasikan, mempengaruhi dan memotivasi orang lain.

Dongeng, dalam istilah Neurolinguistic Programming  (NLP) termasuk teknik yang  disebut Metafora, yaitu suatu cara yang sering digunakan untuk menjelaskan suatu konsep, prilaku atau situasi dengan menggunakan persamaan/ perbandingan. Biasanya lebih mudah memahami sesuatu yang asing  bagi kita dengan cara menghubungkannya dengan hal yang kita sudah kenal dengan baik.

Otak manusia terdiri dari belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berkaitan dengan logika dan rasionalisasi . Biasanya, jika kita memberitahu atau mengkritik orang secara langsung, kita mengakses pikiran orang tersebut dalam keadaan sadar sepenuhnya, sehingga si pendengar lebih menggunakan otak kirinya dan menggunakan  logikanya sehingga lebih sulit menerima kritikan.Di lain pihak,  pada saat kita bercerita kita bisa membuka pikiran orang lain dan mengakses pikiran bawah sadarnya dalam keadaan yang relaks sehingga orang tersebut menerima apa yang kita sampaikan tanpa merasa tensinggung atau  tersudutkan dan pada akhirnya membahas masalah-masalah yang terpendam.

Metafor (atau bercerita) banyak digunakan karena dapat menstimulasi sisi otak kanan:  memicu pemikiran holistik, merangsang imajinasi melalui bentuk visual dan sensorik untuk memahami suatu konsep yang abstrak sekalipun, sementara dalam pikiran bawah sadar informasi yang baru disambungkan dengan data base yang sudah tersimpan

Ada beberapa jenis metafora antara lain : analogi, simile, lelucon, cerita, parabel dan alegori.  Beberapa jenis  teknik cerita metafor dipergunakan dalam NLP :

1.      Simplifying (menyederhanakan)

Jenis metafor ini singkat, tepat dan menghasilkan hasil yang diinginkan, serta menjembatani elemen yang kompleks.

2.      Depersonalizing (tidak membuat orang merasa terpojok/ dituding)

Metafor jenis ini dipergunakan untuk mencegah seseorang tersinggung atau dipermalukan disaat pesan disampaikan. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan menggunakan pengandaian atau cerita, tanpa adanya komentar pribadi yang dilontarkan. Jadi, lebih mudah bagi seseotang untuk melihat sudut pandang orang lain yang pada keadaan normal tidak mau menerima perubahan.

3.      Memicu kreatifitas

Metafor dihubungkan dengan otak kanan. Metafor juga dapat mengakses pikiran bawah sadar sehingga mengeluarkan zat-zat kreatif seseorang sehingga menjadi lebih terbuka terhadap alternatif solusi dan pendapat pribadinya untuk menyelesaikan masalah. Metafor biasanya digunakan untuk menanamkan suatu konsep atau mengembangkan ide-ide yang terpendam. Metafor juga menghasilkan inovasi dan kreatifitas, dan dulunya digunakan Einstein untuk  masuk ke dalam mode kreatif.

4.      Enlightening (mencerahkan)

Metafor yang digunakan dalam bahasa kita mengindikasikan diri kita. Contohnya, beberapa orang mempergunakan metafor uang, dan biasanya orang-orang seperti ini berorientasi pada uang atau bisnis. Dengan mendengarkan metafor yang dipergunakan seseorang, kita bisa mengetahui nilai-nilai yang mereka anut. Informasi ini dapat dipergunakan untuk menjaga hubungan dan berkomunikasi secara efektif dengan mempergunakan teknik mencocokkan.

5.      Mencocokkan

Teknik metafor dapat dipergunakan untuk mencocokkan nilai yang dianut seseorang kemudian memperkenalkan konsep baru atau cara lain melakukan sesuatu dengan cara mengganti bagian akhir cerita. Dengan cara ini, anda dapat menyelaraskan pengalaman seseorang dengan menggunakan metafor kemudian mengarahkannya untuk menerima suatu yang baru.

6.      Mempersonalisasikan

Teknik ini paling berguna untuk digunakan dalam organisasi. Sebuah organisasi biasanya merupakan suatu kesatuan yang impersonal dan tidak ada beremosi. Dalam hal ini, metafor diperlukan untuk mempersonalisasikan dan menarik perasaan manusiawi, dibandingkan mempergunakan ketentuan hukum dan bahasa yang tidak personal. Seringkali metafor dipergunakan untuk membangkitkan organisasi dan menghadirkan misi dan budaya perusahaan.

7.      Menarik perhatian

Metafor juga dipergunakan untuk menarik perhatian dan mempertahankan konsentrasi. Pikiran kita terbuka saat kita mendengarkan cerita, anekdot, fable yang dipenuhi efek visual dan bahasa sensorik. Jika anda perhatikan seorang pembicara karismatik dan mempesona, anda pasti temukan bahwa pidato orang tersebut dipenuhi metafor. Informasi yang disampaikan dengan cara begini, akan bertahan lebih lama di dalam memori.

8.      Mengatasi resistansi

Metafor adalah cara yang luar biasa untuk menghindari konflik dan resistansi. Anda juga dapat menyampaikan permasalahan dalam bentuk cerita, dan bertanya kepada orang tersebut untuk mengakhirinya. Karena tidak ada yang dipersalahkan, jawabannya dapat keluar dalam bentuk akhir cerita.

9.      Menciptakan ingatan yang kuat

Metafor dapat menyuguhkan imaji visual, suara atau gerak di dalam pikiran kita. Melalui metafor kita dapat melihat, mendengar dan merasakan ide-ide disampaikan. Sebagai akibatnya, informasi yang disampaikan tertanam dengan kuat di otak kita dan kita mengingatnya dalam waktu yang panjang.

10.  Kesadaran dan introspeksi

Metafor juga merupakan alat introspeksi untuk pengembangan diri. Dengan mengakses otak kanan, anda dapat masuk ke pikiran bawah sadar dan menemukan jawabannya sendiri. Anda juga mendapat pemahaman tentang orang lain, dengan mengindetifikasikan metafor yang digunakan.

11.  Mengidentifikasi masalah

Metafor juga dapat dipergunakan untuk menemukan masalah. Solusi permasalahan tidaklah sepenting menemukan masalah. Dengan mempergunakan metafor dalam bentuk cerita atau anekdot, permasalahan yang tersembunyi dapat muncul. Jika anda menyadari permasalahannya, anda akan dapat menemukan solusinya.

12.  Menggali emosi

Metafor menyentuh emosi dan perasaan kita lewat panca indera. Cerita pendek yang dipenuhi perasaan yang murni dapat membuat kita tertawa atau menangis, sesuatu yang tidak dapat dikalahkan oleh metafor. Tindakan kita dipengaruhi oleh emosi, dan digunakan untuk membuat keputusan dan bertindak. Komunikator yang efektif tahu pentingnya menggunakan imajinasi manusia dan melibatkan hati, dibanding otak.

Ciri-ciri metafor

Suatu cerita disebut metafor jika mengandung elemen-elemen yang sensasinya bisa dirasakan oleh tubuh kita, biasanya sangat kaya, mendalam dan hidup—bukan jenis cerita yang di”buat” oleh pikiran sadar dengan rumus tertentu; bukan sekedar fakta; melibatkan seluruh susunan syaraf, biasanya mengejutkan dan tidak tertebak pada bagian akhirnya; tak terlupakan; artinya diserap oleh pikiran sedemikian rupa sehingga mudah disimpan, dan dapat di”panggil kembali” jauh sesudahnya; dan yang terpenting adalah mengandung EMOSI dan seolah-olah si pendengar “merasakan dengan tubuhnya”.

Tentunya tidak semua cerita dapat mengubah seseorang. Pada saat perubahan terjadi  tidak selalu berarti orang mengingat ceritanya– tentu saja jika ceritanya mudah dilupakan berarti cerita tersebut gagal memberi dampak.  Seberapa jauh sepotong cerita akan diingat tergantung dari seberapa besar cerita tersebut akan membawa dampak bagi seseorang, dan seberapa kuat mereka merasakannya melalui panca inderanya. Sensasi atau pengalaman seseorang lah yang membuat suatu cerita “nyata” bagi seseorang.

Metafor merupakan cerita tentang pengalaman manusia. Semua informasi yang disampaikan, perubahan dan pembelajaran semata-mata mengenai pengalaman manusia. Bisa saja kita membuat metafor tentang kartun anjing dan kucing, yang menceritakan kucing pergi ke medan perang, kuda bisa berbicara, melompat, boneka kayu saling memukul, peri dan jin, bahkan mengenai makluk angkasa luar, tapi pada akhirnya semuanya mengenai pengalaman manusia, pembelajaran dan perubahan dalam kemasan yang cantik.

Aesop, contohnya, menggunakan tokoh keledai, kucing dan srigala untuk menunjukkan 3 orang yang bertengkar. Ketiga  tokoh ini menggambarkan perangai manusia – satu orang bodoh dan keras kepala tapi baik hati, satunya lagi hanya memikirkan diri sendiri, putus asa dan agak malas, tokoh yang ke-3 jahat dan curang terhadap kedua temannya. Kita semua pernah bertemu orang-orang seperti itu – cerita metafor memadatkan dan menekankan aspek-aspek tertentu untuk menghasilkan pegerakan energi yang lebih baik dan respon yang lebih jelas dan alami, dan pembelajaran yang lebih berdampak atau perubahan bagi para pendengarnya.

Cerita metafor yang melibatkan hewan, seperti cerita Aesop dan cerita dongeng lainnya, merupakan salah satu cara menghadirkan informasi yang menciptakan pergerakan dari suatu titik pemahaman ke titik pemahaman lain melintasi batas yang diinginkan. Batas yang dilewati mungkin merupakan hambatan sistem energi pendengar, dan pergerakan dalam cerita dirancang sedemikian rupa agar pendengar melewati hambatan dari dirinya sendiri untuk kemudian mencapai resolusi.

Tingkatan cerita metafor yang tertinggi adalah cerita yang terumit, yaitu cerita peri-peri (dongeng). Dalam cerita dongeng, tokohnya manusia dan bukan hewan. Konsep “peri” mencakup adanya  kekuatan “dunia lain” yang mengagumkan—dongeng merupakan cerita metafor dimana orang-orang berinteraksi sesamanya dan dengan NASIB.

Dongeng peri melibatkan MANUSIA, bukan hewan; disitulah letak perbedaan yang terpenting. Konsep dongeng “peri” juga menghadirkan kekuatan dari “dunia lain” sehingga berefek berbeda .Namun kita juga mempertahankan “sudut pandang yang berbeda” – ini bukan cerita tentang tetangga kita yang memiliki 2 anak, orang-orang dalam cerita ini “tinggal di suatu kerajaan nun jauh di sana, di suatu masa”.Dengan cerita metafor, kita terlena akan rasa aman – “cerita ini tidak ada hubungannya dengan dirimu, dirimu aman, ini semua jauh berbeda denganmu dan masalahmu, dengar saja, temanku..”

Begitu kita terhanyut oleh cerita, kita menjadi “BAGIAN DARI CERITA”, masuk ke dalamnya, dan ketika kita sudah demikian, kita merasakan perpindahan energi sebagaimana tokoh dalam cerita alami, dalam waktu yang nyata, sejalan dengan cerita berlangsung. Maka dari itu, kita bisa menjadi marah ketika merasakan perlakuan buruk ibu tiri yang jahat; kita menjadi takut ketika pemburu membawa kita ke hutan yang gelao dan pisau yang tajam tersembunyi dibalik punggung si pemburu, kita terkejut ketika sesuatu terjadi, kita sedih dan kecewa – sebenarnya, kita sedang membuat tarian pergerakan energi yang tertulis sejalan dengan bergulirnya cerita. Dan disini lah perubahan terhadap sistem energi kita sendiri terjadi. Beginilah pembelajaran yang sebenarnya terjadi, beginilah manusia belajar dan berubah.

Bagaimana menulis cerita metafor

Untuk bisa menulis cerita metafor, anda harus masuk  kedalam alur peristiwa yang anda ketahui kemudian menggunakan metafor sejauh yang  anda inginkan. Apakah anda punya cerita lucu di dalam keluarga anda? Sesuatu yang menarik yang terjadi kepada orang yang anda kenal? Sesuatu yang menarik dan penting yang telah anda pelajari dan terjadi pada anda?

Contohnya,

Saya  mempunyai pengalaman berenang di laut, dan terhanyut sampai ke tengah laut karena arus yang deras. Tdak ada cara lain  untuk menyelamatkan diri selain berenang ke pinggir pantai.  Tapi saya begitu lelah untuk berenang ke tepi, dan rasanya saya hampir tenggelam  dan anak-anak anda melihatnya dengan jelas dari pantai. Lalu saya berhenti berenang, dan berusaha, nafas saya tersengal-sengal karena berusaha mengatasi rasa takut dan berusaha mencari jalan keluar.

Saya mengapung di air, dan tersadar oleh ombak besar yang menggulung dan menghalau saya – hei, arahnya menuju pantai. Terbersitlah ide  — saya kemudian berenang mencapai ombak sekuat tenaga dan memasrahkan diri saya tersapu ombak sedikit demi sedikit.  Begitu ombak berhenti, saya berhenti berenang dan mengambil nafas, dengan demikian saya bisa menghemat banyak tenaga dan nafas.

Dalam waktu setengah jam, saya berhasil mencapai pantai— penuh rasa lelah dan bersyukur bisa selamat dan kembali ke daratan.

Dari cerita nyata seperti ini, anda bisa merasakan pengalaman saya ini seolah-olah terjadi pada anda. Padahal cerita ini benar-benar terjadi, dan disitulah intinya cerita metafor – ada kebenaran yang tersembunyi : sebab dan akibat dari aturan alam. Jika unsur kebenarannya tidak ada, hasil cerita hanya akan jadi cerita tak bermutu, tidak berdampak apa-apa pada pembaca, sehingga terlupa dan tak ada artinya.

Bagaimana mengubahnya menjadi metafor? Mungkin kita bisa menggunakan urutan kejadiannya yang sama, namun mengganti tokohnya menjadi seekor bebek yang berenang di laut dan daratan terlalu jauh untuk dicapai. Atau, tokohnya bisa diganti burung yang sedang migrasi, yang kehabisan tenaga,dan masih jauh dari daratan, hingga terdorong oleh angin ke arah daratan.

Metafor bisa berubah, tapi ceritanya tetap sama, peristiwa dan perasaannya tetap sama, dan pembelajaran didalamnya tetap ada. Cerita seperti ini banyak diingat orang pada saat krisis, dan mereka mempergunakan pergerakan energi untuk berhenti, dan berpikir dan mendengarkan, sehingga mereka bisa mempergunakan lingkungan untuk menyelamatkan diri, karena kalau mereka terus berusaha, mereka malah akan celaka.

Metafor sungguh hal yang luar biasa, karena berisi peristiwa-preristiwa yang berlapis-lapis, dan kompleks sehingga mampu merubah orang-orang yang mendengarnya. Metafor dapat mengajari kita bagaimana mengatasi masalah dan situasi yang belum pernah kita  hadapi sebelumnya, dan yang terpenting, bisa dipergunakan untuk “mengangkat” hambatan energi yang menghambat pertumbuhan dalam berpikir, berespon secara emosi dan bahkan secara fisik , sehingga penyembuhan dan pemulihan energi dapat terjadi.

Mungkin anda mau mulai menulis metafor anda sendiri? Sebenarnya sungguh merupakan hal yang menarik bagaimana kita bisa menuliskan pengalaman penting dalam hidup kita dan membaginya dengan orang lain tanpa harus menampilkan diri anda yang sebenarnya. Cobalah menerjemahkan pergerakan dan peristiwa hidup anda dalam metafor, dan menggunakan inti cerita dimainkan di panggung yang lain, dengan aktor yang berbeda, dengan kostum yang berbeda, dengan waktu yang berbeda — tapi cerita tetap sama…

Semua metafor biasanya berpengaruh besar pada seseorang, meskipun efeknya tidak selalu seperti yang diharapkan. Komunikator yang baik tahu bagaimana mempergunakan metafor dengan tepat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Tentunya perlu dipilih metafor yang tepat tergantung dari situasi . Dengan menggunakan metafor, anda dapat mengakses peta pikiran seseorang dan mengeluarkan solusi dari pikiran bawah sadar. Metafor memunculkan pikiran kreatif, dan menjaga kita tetap tertarik akan suatu topik pembicaraan. Dengan menggunakan metafor yang tepat, hasil luar biasa yang kemungkinan didapat dan  menjadi komunikator yang efisien.

Apapun jenis ceritanya, darimana pun asalnya, sebenarnya cerita atau dongeng memiliki unsur-unsur penting yang dapat dipergunakan orang tua atau  pendidik/ guru. Sayang sebenarnya, jika dongeng itu hanya dianggap sesuatu yang harus disampaikan sebagai prasyarat pemenuhan materi pelajaran atau pentas seni semata. Jika saja informasi (pelajaran, nasehat, aturan )  yang ingin disampaikan oleh para orang tua dan guru disampaikan sedemikian rupa sehingga berdampak dengan apa yang dirasakan anak pada tubuhnya, informasi tersebut tidak diingat.

Tentu saja cara yang biasa dan lebih mudah adalah menyampaikan langsung kepada anak , “ Pencipta Lagu Indonesia Raya adalah WR Supratman”.  Pikiran sadar dapat menyimpan informasi dalam jangka pendek dengan upaya yang keras, tapi kemudian terkikis cepat. Terlebih lagi informasi tersebut tidak dapat di HUBUNGKAN dengan aspek-aspek bagaimana informasi dapat disimpan. Sebagai contoh, seorang siswa yang belajar matematika menghafal rumus dengan cara menghafal, tapi tidak memahami gambaran besar rumus tsb. Semua rumus ini, setelah tes usai, akan terlupa dan tidak dapat diakses lagi APALAGI dipergunakan dalam bentuk yang berguna.

Pernahkah anda mencoba menyampaikan pelajaran dengan metafor atau bercerita sedemikian menariknya sehingga anak (didik) anda terhanyut ke alam pikiran bawah sadar dan menikmati informasi itu seolah-olah mereka mengalami sendiri cerita itu? Kemudian, bukankah pelajaran sekolah itu bisa menjadi suatu hal yang luar biasa menarik, dan lebih baik lagi menjadi acuan bersikap dan berpandangan?

Jika ada hal-hal yang anda ingin bicarakan dengan anak atau siswa anda, dan anda kesulitan untuk menjelaskannya atau tahu anak atau siswa anda akan menentangnya, cobalah menggunakan teknik metafor.

Einsten menyatakan “Anda tidak dapat merubah suatu masalah dari ruang yang sama tempat masalah itu berasal” .  Metafor memungkinkan kita keluar dari permasalahan –permasalahan menyangkut pengalaman manusia– selama beberapa saat , dan memandang kembali permasalahan ini dari sudut pandang yang berbeda.

Sumber acuan :

http://www.exforsys.com

http://silviahartmann.com

http://aromatherapy4soul.com/frangipani.htm

http://ceritakecil.com



0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Beri Komentar