Sebuah kisah nyata yang mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya oleh mereka yang akan melaksanakan sebuah acara bagi para orang tua.
Sekitar bulan Februari 2008 lalu, saya berkeinginan untuk mengadakan workshop sehari dengan topik autisme (termasuk di dalamnya sindrom hiperaktif) dan cara belajar anak. Dengan kebutuhan khusus yang ada, tentunya cara belajar anak (dan cara orang tua dan guru memberikan pelajaran) akan sangat berbeda dengan anak-anak yang lain. Sedianya acara ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2008.
Ide workshop ini benar-benar sebuah idealisme yang sangat besar, kalau tidak dapat disebut sebagai sebagai sebuah obsesi. Betapa tidak. Kami berencana mengundang 100 orang dan melaksanakannya tidak di aula sekolah tetapi MENYEWA satu aula khusus. Proposal kegiatan telah dibuat dengan biaya mendekati 10 juta. Terlebih lagi fakta di lapangan, banyak siswa-siswi, terutama program anak-anak, menunjukkan gejala-gejala hiperaktif dan beberapa bahkan gejala yang mengarah pada autisme. Terus terang, kami tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus ini.
Sehingga muncullah ide untuk mengundang para orang tua dan guru dalam suatu forum dengan mengundang seorang psikolog terkenal yang telah lama berkecimpung di dunia anak yang memiliki kebutuhan khusus ini. Guru sebagai audiens karena mereka akan memerlukan pengetahuan yang ada untuk menangani siswa-siswi mereka, sementara orang tua membutuhkannya untuk dapat menerapkannya di lingkungan rumah.
Sekitar dua bulan sebelum hari H, tim saya menyebarluaskan angket untuk mengetahui hari dan waktu dimana para orang tua dapat menghadirinya. Maklum, sekolah kami berlokasi di area dimana kedua orang tua adalah pekerja. Tidak ketinggalan kami sebutkan pula bahwa workshop ini adalah GRATIS alias tidak dipungut biaya.
Sampai 3 minggu sebelum hari H, jawaban yang kami terima sangat mengecewakan. Dari sekitar 310 lembar angket yang kami sebarluaskan, hanya 4 lembar saja yang dikembalikan kepada tim kami. Ya, anda tidak salah membaca. EMPAT LEMBAR SAJA.
Beberapa guru menyampaikan alasan yang disampaikan oleh orang tua siswa-siswi , diantaranya:
‘Wah, ibu saya kan sibuk, Sir. Ngga ada waktu buat ke seminar.’
‘Ma’am, saya kan ngga autis. Kenapa ibu saya diundang?’
Dan beberapa alasan klasik lainnya yang sangat ‘khas anak-anak’ seperti:
‘Ma’am, saya lupaaa.’
‘Ma’am, suratnya hilang…. (sambil menunduk).’
Tanpa berpikir panjang lagi semua hal yang berhubungan dengan persiapan workshop itu kami batalkan: pemesanan tempat di sebuah aula, biaya yang telah kami minta dari kantor pusat dan tentu saja undangan bagi calon pembicara.
Di kepala saya kemudian berputar-putar beberapa pertanyaan, seolah-olah ingin menemukan jawaban dari teka-teki ketidaktertarikan para orang tua pada maksud kami:
‘Apakah waktu pelaksanaan yang tidak sesuai?’
‘Apakah karena anak mereka dianggap ‘normal’ dan baik-baik saja (padahal banyak dari guru kami yang mengeluh bahwa ketika bertemu dengan orang tua siswa/siswi yang ‘bermasalah’ ini beberapa tidak mau mengakui bahwa putra-putrinya membutuhkan pendekatan khusus)?’
‘Apakah karena acara ini bebas biaya (kami berpikiran bahwa mungkin (ya, MUNGKIN saja) orang tua tidak merasa berkewajiban untuk mengembalikan angket tersebut)?’
Saya benar-benar tak habis pikir.
Mungkin anda memiliki pengalaman yang sama?
Daffodil