Tips Memilih Lembaga Bimbingan Belajar

Menyambung artikel mengenai alasan siswa dan orang tua memilih untuk mengikuti sesi di lembaga bimbingan belajar, saya akan membagi tips tentang bagaimana memilih lembaga bimbingan belajar yang sesuai dengan kebutuhan putra/putri kita.

Tidak ada salahnya bila kita melakukan survey kecil-kecilan sebelum menentukan lembaga bimbel mana yang akan kita pilih. Mintalah brosur atau carilah iklan tentang lembaga bimbel itu. Akan lebih baik lagi bila kita mendapatkan testimoni dari (mantan) pengguna jasa bimbel tersebut. Informasi utama yang perlu diketahui diantara adalah:

  • Jasa pengajaran mata pelajaran apa saja yang ditawarkan. Tanyakan juga apakah biaya yang dimaksud sudah termasuk dengan materi modul dan materi serta kesempatan mengikuti try-out (bila putra/ putri kita akan mengikuti ujian nasional),
  • Besaran jumlah peserta per kelas. Apakah pengajaran dilakukan dalam kelas terbatas (3 sampai 5 orangkah) atau kelas besar semacam kuliah umum. Jumlah peserta per kelas tentu akan mempengaruhi besarnya perhatian dan intensitas interaksi peserta dengan pengajarnya. Tanyakan pula fasilitas pendukung pengajaran dan metode pengajaran.
  • Reputasi lembaga tersebut terutama dari aspek komitmen pengajarnya. Soal reputasi bahwa pengajar merupakan lulusan sekolah favorit atau kuliah di universitas ternama, saya pikir itu hal yang bersifat subyektif. Saya pribadi lebih menimbang berat hal absensi pengajar atau sesi yang konsisten, bukan dari universitas mana yang bersangkutan berasal. Sesi yang sudah dijadwalkan seharusnya tetap berjalan meskipun pengajar mata pelajaran tersebut absen. Ini artinya sang pengelola lembaga memiliki komitmen yang tinggi terhadap aspek pelayanan.

Faktor berikutnya adalah waktu belajar. Hal ini untuk menghindari ketidaktersediaan sesi yang dibutuhkan karena tidak sesuai dengan jadwal kepulangan putra/ putri kita. Sebelum mendaftar, mintalah jadwal sesi-sesi yang ada yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini penting dilakukan terutama bila putra/ putri kita telah memiliki jadwal tambahan lain setelah pulang sekolah.

Biaya juga dapat menjadi faktor penentu pemilihan sebuah lembaga bimbel. Semakin banyak dana yang tersedia maka akan semakin besar kesempatan kita untuk memilih lembaga mana yang ‘tersesuai’. Meski hal ini tidak selalu berarti bahwa lembaga bimbel yang mahal akan lebih berkualitas.

Faktor terakhir adalah faktor kedekatan lokasi sekolah atau rumah dengan lembaga bimbel. Untuk sebagian besar orang tua, faktor keamanan menjadi prioritas utama. Bila pun lokasi lembaga bimbel yang ada cukup jauh, persiapkan putra/ putri kita secara finansial (misalnya dengan memberikan uang saku secukupnya atau memesan ojek langganan) dan secara fisik (berhubung yang bersangkutan tidak dapat pulang ke rumah sebelum belajar, ada baiknya disediakan baju ganti atau bekal secukupnya).

Saya yakin masih banyak lagi faktor-faktor lain yang dipertimbangkan dalam memilih lembaga bimbingan belajar.

Faktor apalagi yang menjadi pertimbangan Anda?



7 Komentar

  1. Nina says:

    I like your blog so much…..keep on writing dear..I’ll be your no.1 fan..Kiss Kiss

  2. daffodil says:

    Thanks Nina for visiting ….
    Kapan bisa diminta menjadi nara sumber?
    Or better yet, jadi guest profile?
    Mau yah? Yah? Yah? :-)

  3. Maaf, saya awam. Tapi saya bingung. Kurikulum kita ini lebih berat daripada beberapa negeri maju, tapi masih ditambahi macam-macam les dan bimbel. Beban anak-anak pun berlebih. Bisa-bisa mereka kehilangan masa kanak-kanaknya. Bayangkan, libur akhir pekan dan lainnya pun masih diberi PR.

    Sekolah dan pendidikan yang baik menurut saya tidak menawarkan bimbel sebagai pilihan. Apalagi jika, jujur saja, tujuannya adalah lolos saringan ujian ke tahap yang lebih lanjut.

    Ketika kita hanya bisa menyerah pasrah dengan menunjuk “sistem”, maka sepantsnya kita merenung tentang fungsi sekolah dan pendidikan sebagai agen perubahan, bukan sebagai pemberi afirmasi terhadap arus massa dan kepentingan birokrat pendidikan.

    Salam/

  4. mariskova says:

    Yang saya tahu, di sekolah dasar, jumlah jam belajar di sekolah untuk anak Indonesia itu bisa dua kali lebih banyak dari jumlah jam belajar di US atau Jepang atau menurut standar UNICEF (harus cari-cari lagi nih bahan bacaan saya waktu itu). Apa yang didapat oleh anak Indonesia dengan jumlah jam belajar yang 2x lipat itu? Apa anak Indonesia sudah 2x lebih pintar dari anak-anak di negara maju? Kalau melihat para ortu berbondong-bondong memasukkan anaknya ke bimbel (yang berarti menambah jam belajar anak), berarti jawaban pertanyaan saya sebelumnya adalah belum.
    Soal bimbel, sebenarnya Jepang juga mengalami tren yang sama. Menurut penuturan ortu-ortu di Jepang, salah satu alasan mereka memaksa anak mereka menambah jam belajar di bimbel ya supaya bisa masuk sekolah yang bagus (bukan lulus sekolah yang sedang dijalani sekarang). Salah dua alasan ortu Jepang mengirim anaknya ke bimbel adalah karena mereka tidak punya waktu untuk memperhatikan anaknya belajar di rumah.

  5. menarik juga diskusinya, boleh disharing dong sistem yg berjalan di luar negeri seperti apa

  6. mulyadi says:

    Kalo bicara bimbel, yg terpenting orang tua lakukan adalah bertanya pengalaman orang tua yg anaknya pernah ikut bimbel, bagus atau tdk bimbel tsb. Saya sendiri pernah membuka bimbel (ikut warlaba TEKNOS GENIUS), wah manajemennya pusatnya benar-benar kacau.
    Pengajar-pengajarnya selalu dibilang dari univ ternama, padahal yg sebenarnya adalah tdk. Dan tanpa melalui pelatihan mereka disuruh mengajar. Akibatnya pengajar tdk menguasai materi yg dibahas, mereka hanya mengerti soal-soal yg ada pada modul . Begitu juga dengan modul TEKNOS, yg membuat modul yaitu pengajar yg kebetulan mengajar di TEKNOS, dng background yg diragukan kemampuannya membuat buku. Jadi anak-anak yg ikut bimbel TEKNOS tdk mendapatkan apa-apa, malah rugi waktu.
    Saya sendiri akhirnya menutup bimbel tersebut karena rugi besar, dan setelah saya cek ke bimbel TEKNOS lainnya, umumnya mereka warlaba-warlaba yg masih baru juga dan yg lama-lama sudah pada tutup. Padahal TEKNOS mengaku sudah membuka bimbel 28 tahun tapi pusatnya sendiri tempat masih ngontrak. Demikian sharing saya, agar orang tua berhati-hati dalam memilih bimbel dan kalo mau ikut warlaba periksa dulu cabang-cabang yg ada apa mereka berhasil atau tdk dan perhatikan juga umur dari cabang-cabang tersebut.

  7. titin says:

    keberhasilan siswa terletak pada siswanya itu sendiri, sepandai apapun guru yang mengajar tetapi kalo siswanya tidak serius dan bersungguh, tentu tidak bisa optimal. menurut saya, LBB yang baik itu juga harus memberikan motivasi dan semangat kepada anak didiknya, tidak hanya povit, siswa banyak, terkenal, nilai disekolah baik saja yang diutamakan. seperti perbedaan kata pendidik dan pengajar, mendidik dan mengajar memiliki arti yang berbede

Beri Komentar