The Power of Learning Styles

Barbara Prashnig

Barbara Prashnig

Menemukan gaya belajar siswa kita lalu membuat formulasi pendekatan yang sesuai untuk mengajar di satu kelas dengan anak-anak yang berbeda bakatnya akan (kalau tidak dapat dikatakan ‘selalu’) menjadi salahsatu tantangan dalam mengajar, kalau (juga) tidak dapat dikatakan sebagai tantangan terbesar. Dalam prolog-nya sang penulis, Barbara Prashnig mengkritik pendidikan yang diterima oleh jutaan anak yang belajar dengan system sekolah yang tidak sesuai dengan bakat setiap anak. Hal inilah yang mungkin akan menarik minat kita untuk membaca buku ini dengan harapan akan menemukan sedikit ‘pencerahan’ dalam gaya mengajar (atau bahkan, gaya belajar) kita.

Dari segi tampilan, tata letak buku ini boleh dikatakan unik. Pada halaman kanan ditulis dalam format sugestopedia. Ruang kosong untuk catatan kecil pembaca juga disediakan di halaman ini. Sementara pada halaman kiri berupa pemikiran dan slogan-slogan utama yang merupakan stimulan bagi mereka yang membutuhkan deskripsi pendek akan suatu topic. Terdapat kesan bahwa inilah cara Barbara menunjukkan pada pembaca bahwa dia juga menyediakan lebih dari satu macam jalan untuk dapat memahami isi bukunya.

Kembali kepada penerapan konsep keberagaman, Barbara menyebutkan ‘perkataan lama seperti ‘Kerjakan seperti yang kulakukan’ atau ‘Kerjakan sesuai perintahku’ yang sering digunakan oleh orangtua kepada anak-anak mereka atau antara guru kepada muridnya jelas bukan pendekatan yang paling tepat untuk mengeluarkan kemampuan seseorang karena tidak mempertimbangkan keragaman manusia’ (Halaman 47).

Lebih lanjut, Barbara menyebutkan bahwa ‘sikap menyeragamkan juga sangat tidak adil bagi semua orang dan memberi dampak buruk yang besar terhadap pengembangan potensi manusia sehingga menyebabkan penghargaan diri rendah, motivasi menurun, stress meningkat, kecemasan dan kinerja yang tidak konsisten.‘

Meskipun mungkin bukan satu-satunya kambing hitam penyebab hal-hal buruk tersebut, pendapat Barbara ini cukup membuat kita berkaca pada konsep pengajaran yang telah dilakukan selama ini. Muncul pertanyaan seperti, ‘Apakah saya telah memaksakan gaya belajar saya kepada siswa-siswi saya?’, ‘Apakah saya telah menjadi salah satu penyumbang kegagalan system pendidikan yang menyeragamkan gaya pengajaran kepada pelajar?’ dan lain sebagainya.

Untuk membantu pengajar menemukan cara terbaik dalam menyampaikan materi pengajaran, Barbara Prashniq bekerjasama dengan Kevin Dunn dari New York untuk menciptakan instrumen baru yaitu Learning Style Analysis (Analisis Gaya Belajar) dengan 2 kategori yaitu untuk versi sekolah dasar dan sekolah lanjutan (SMP dan SMA), LSA dilambangkan oleh tingkatan dalam piramida dimana empat tingkat pertama ditentukan secara biologis dan genetik sementara dua tingkat terakhir dikondisikan atau dipelajari (halaman 97-99).

Hal yang juga bermanfaat dari buku ini adalah dengan disediakannya beberapa contoh kasus kekeliruan penerapan cara belajar siswa (halaman 215-223), skema rencana pelatihan secara umum bagi guru dan staf penunjangnya (halaman 239-245) dan diakhiri dengan saran penciptaan suasana yang mendukung perkembangan gaya belajar anak-anak di rumah.

Satu hal yang patut disayangkan dari buku ini adalah beberapa ‘tugas’ yang dapat dilakukan pembaca untuk lebih memahami penerapan isi buku ini harus dilakukan secara on-line sehingga dirasakan kurang praktis, terutama bagi mereka yang sulit terhubung ke dunia maya.

Suatu contoh penerapan konsep LSA dalam bentuk silabus juga akan sangat membantu para pembaca yang ingin mencoba menerapkan konsep ini. Terlebih lagi terdapat daftar panjang sekolah-sekolah di Selandia Baru yang telah menerapkan konsep LSA ini dan dinilai cukup berhasil.

‘The Power of Learning Styles’
Barbara Prashnig
Penerbit Kaifa, Juni 2007



0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Beri Komentar