<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; pendidikan anak</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/tag/pendidikan-anak/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 17:33:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Membentuk konsep diri anak (2)</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak-2.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 15:45:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak Usia Dini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Kesalahan – bagian dari pembelajaran Selama proses pembelajaran berlangsung, anak pasti akan melakukan kesalahan. Peran orang tua/guru disini adalah mendiskusikan kesalahan, tujuan yang tidak tercapai, dan perbuatan yang tidak baik. Kita pun kadang gagal memberikan jawaban, mengatakan hal yang tepat, gagal memenangkan pertandingan bola, atau tidak bisa menulis kalimat yang jelas. Jelaskanlah kepada anak bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kesalahan – bagian dari pembelajaran</strong></p>
<p>Selama proses pembelajaran berlangsung, anak pasti akan melakukan kesalahan. Peran orang tua/guru disini adalah mendiskusikan kesalahan, tujuan yang tidak tercapai, dan perbuatan yang tidak baik. Kita pun kadang gagal memberikan jawaban, mengatakan hal yang tepat, gagal memenangkan pertandingan bola, atau tidak bisa menulis kalimat yang jelas.</p>
<p>Jelaskanlah kepada anak bahwa kesalahan sebenarnya membantu pembelajaran. Kita belajar berdasarkan umpan balik yang diberikan kepada kita. Jika umpan baliknya mengatakan kita melakukan sesuatu yang tidak benar, hasilnya adalah tergantung dari apa yang akan kita lakukan yaitu mengkoreksi kesalahan.Hal yang terpenting adalah anda ingin anak tidak mudah putus asa, berusaha lagi, mencoba lagi, melakukan pendekatan yang berbeda yang sesuai bagi anak agar dapat mencapai tujuannya. Intinya, fleksibilitas adalah alat pembelajaran yang diperlukan.</p>
<p>Perlu ditekankan kepada anak bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Jika kita tidak pernah berbuat kesalahan, karena hal yang dikerjakan sifatnya terlalu mudah dan bukan hal yang baru, hal itu berarti kita membuang-buang waktu. Anak perlu berbuat kesalahan sesekali (bukan sering) merupakan  yang penting untuk proses pembelajaran, sehingga anak dapat merasakan apa rasanya kehilangan kesempatan, dan bagaimana harus mencoba lagi, dan lagi. Kemungkinan untuk berbuat kesalahan adalah sesuatu yang akan selalu kita hadapi, dan akan menjadi sesuatu yang tak terlalu menyakitkan atau mengecewakan jika anak pernah mengalami sebelumnya.</p>
<p>Tentunya anda ingin anak mau mencoba melakukan sesuatu yang baru. Bantulah anak untuk mengerti bahwa dengan mengalami kegagalanlah ia dapat kesempatan untuk sukses, meraih sesuatu dan belajar hal yang baru.</p>
<p>Pada saat melakukan yang terbaik, anda perlu menunjukkan bahwa tidak ada orang yang sempurna. Kita sebagai orang tua atau guru tidak perlu bersikap seolah-olah orang dewasa selalu gagal. Doronglah rasa ingin tahu, rasa ingin mencoba, dan mengambil resiko. Anak-anak belajar banyak hal dengan melihat  bahwa orang tuanya/ gurunya memiliki ketidaksempurnaan , mengakui kesalahan dan berupaya memperbaikinya.</p>
<p><strong>Bersikaplah positif!</strong></p>
<p>Kita dapat memberi kejutan istimewa, melakukan atau mengucapkan sesuatu untuk memberi semangat. Kejutan istimewa bentuknya dapat bermacam-macam, dari sekedar makanan kecil sampai pesta kejutan. Ucapan yang positif juga sangat membantu anak membentuk percaya dirinya. Misalkan dalam pertandingan bola, penonton bisa meneriaki para pemain seperti“ tendangan maut!” , “hebat!”. Sebagai orang dewasa kita dapat memberi contoh sikap positif ini agar anak-anak nantinya dapat menjadi otomatis positif.</p>
<p><strong>Mengingat pengalaman masa kecil</strong></p>
<p>Kebanyakan orang dewasa tidak mengingat pengalaman masa kecilnya : apa yang membuat senang dan khawatir, merasa terkucil, dan takut. Sebenarnya, saat anak merasa khawatir, kita dapat membantu anak dengan cara membayangkan diri kita berada di posisi anak atau berempati.</p>
<p>Anak yang terluka perasaannya tidak akan merasa lebih baik dengan bujukan atau dengan ucapan “ tidak apa-apa”. Tugas orang dewasa adalah mendukung dan memberi penjelasan. Dengarkan anak dengan penuh empati (gunakan hati, bukan kepala). Lebih baik anda katakan:<br />
“Kelihatannya kamu marah sekali waktu temanmu mengejek”<br />
Dengan begitu anda memberikan kesan anda memahami perasaannya, dan tidak menghakiminya. Anak dapat mengungkapkan kemarahannya tanpa khawatir ditolak atau diceramahi  jika anak pecaya bahwa anda akan menerima perasaannya.</p>
<p>Setelah itu, tanyakan padanya apakah ia mau dipeluk dan sekaligus bicarakanlah kenapa  temannya berprilaku seperti itu dan tanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk mengatasinya nanti jika hal yang sama terjadi lagi.</p>
<p>Berhati-hatilah dalam berkomentar, misalkan jika anak berusaha meraih mainan di atas lemari tapi tangannya tak sampai, ucapkan:<br />
“lemarinya tinggi sekali ya. Mari, ibu/ayah Bantu mengambilnya.”<br />
Janganlah sekali-sekali berkomentar , “ Kamu pendek badannya, tidak akan sampai”.</p>
<p><strong>Peran buku cerita</strong></p>
<p>Setiap anak mengalami berbagai macam perasaan dan situasi dan juga pertanyaan. Melalui buku cerita, anda dapat mengeksplorasi emosi dan bagaimana menghadapinya. Anak lebih bisa memahami dirinya, dan memahami anak-anak lain  melalui cerita yang menggambarkan masalah, kekhawatiran dan konflik yang serupa. Keunggulan buku cerita adalah pada saat kita mendiskusikan satu tokoh dalam cerita, kita dapat meninjau suatu masalah tanpa menuding, menghakimi atau menggurui  karena anak tidak merasa dirinya sebagai pelaku.</p>
<p>Tugas anda sebagai pendidik adalah mengenali emosi anak dan mencarikan penyaluran emosi yang sesuai dan dapat diterima. Maka dari itu, bacakanlah cerita sebelum anak tidur karena pada saat itulah kesempatan emas untuk mendiskusikan berbagai topic, perasaan, dan banyak hal. Kita sendiri sebagai orang dewasa dapat memahami dunia anak dan mengingat seperti apa menjadi anak-anak melalui buku cerita.</p>
<p>Berikut ini buku-buku yang dapat anda pergunakan untuk anak-anak balita dan SD berdasarkan tema yang diperlukan.</p>
<p>PERPISAHAN</p>
<p>Dear Phoebe, Sue Alexander<br />
You go away, Dorothy Corey<br />
Mama Pergi Kerja Dulu, Ya , Nur Ayati  (Elex Media )</p>
<p>PERSAUDARAAN</p>
<p>Amy and the new baby, Myra Berry Down<br />
The room is mine, Betty Wright</p>
<p>PERCERAIAN</p>
<p>Where is Daddy? The story of a divorce, Beth Goff<br />
Divoce is a grown-up problem, Janet Sinberg</p>
<p>CACAT</p>
<p>Howie helps himself, Joan Fassler<br />
I have a sister, my sister is deaf, Jean Whitehouse</p>
<p>KEMATIAN</p>
<p>My grandpa died today, Joan Fassler<br />
The tenth good thing about Barney , Judith Viorst</p>
<p>ADOPSI</p>
<p>Abby , Jeannette Caines<br />
I am adopted, Susan Lapsley</p>
<p><strong>Kegiatan untuk membangun konsep diri yang positif</strong></p>
<p>1.	Di malam hari, pada saat makan atau di tempat tidur, mintalah anak bercerita tentang kesuksesannya hari itu. Anda mungkin dapat membantu  dengan menunjukkan apa yang dicapainya dan membantunya melihat apa yang perlu dicapai, dipelajari  dan dicapai.</p>
<p>2.	Carilah tempat yang tenang untuk bermain melengkapi kalimat. Berilah waktu bagi anak untuk menceritakan pikiran dan perasaannya dengan melengkapi kalimat berikut :<br />
-	Jika saya boleh mengajukan permohonan kepada Tuhan, saya ingin….<br />
-	Saya senang sekali sewaktu…<br />
-	Saya marah pada saat ….<br />
-	Orang menganggap saya ini…..<br />
-	Saya tidak suka orang yang …..<br />
-	Hal yang saya kuasai adalah ……….<br />
-	Hal yang sedang saya pelajari dan akan kuasai adalah….<br />
-	Saya tidak suka orang menolong saya untuk ……</p>
<p>3.	Berdiskusilah tentang ucapan yang membuat hati anak senang<br />
Misalkan : “ Saya tahu kau sudah berusaha keras untuk itu”<br />
“ Upaya yang bagus! Lain kali kau pasti berhasil!<br />
“  Terimakasih atas pertolonganmu!”</p>
<p>Diskusikan ucapan yang membuat hati anak kecewa<br />
Misalkan : “ Tidak bisa ya?”, &#8220;Sulit ya menulis sambung&#8221;</p>
<p>Jangan sekali-sekali mengatakan :<br />
“ Ya ampun, payah sekali kamu itu”<br />
“  Masak begitu saja tidak bisa?”</p>
<p>Setelah itu berilah waktu khusus untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hati anak senang.</p>
<p><strong>4.	Buatlah poster penggugah semangat.</strong><br />
Gambarlah poster untuk siapa saja di dalam keluarga yang berbuat sesuatu yang baik dan tulislah namanya. (jika anak belum bisa menulis, mintalah kepada anak yang usianya lebih tua).<br />
Contohnya : Saya melihat Ani membantu ibu menyapu kamar tidur.<br />
Tertanda, Budi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membentuk konsep diri anak (1)</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 21:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Menurut penelitian Jack Canfield dan Harold Wells, anak-anak yang punya masalah akademis biasanya memiliki konsep diri yang buruk (Saya tidak bisa, karena saya bodoh). Prestasi akademis berhubungan dengan konsep diri anak, sehingga upaya untuk mengajar anak akan sulit dilakukan tanpa pembinaan konsep diri. Anak yang memiiki konsep diri yang baik biasanya belajar dengan mudah karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut penelitian Jack Canfield dan Harold Wells, anak-anak yang punya masalah akademis biasanya  memiliki konsep diri yang buruk (Saya tidak bisa, karena saya bodoh).  Prestasi akademis berhubungan dengan konsep diri anak, sehingga upaya untuk mengajar anak akan sulit dilakukan tanpa pembinaan konsep diri.</p>
<p>Anak yang memiiki konsep diri yang baik biasanya belajar dengan mudah karena senang menerima tantangan untuk melakukan sesuatu yang baru dan memperoleh keterampilan yang baru. Sikap mental “aku bisa”, membuat pembelajaran menjadi lebih mudah. Lingkungan yang mendukung, yang dapat mengakomodasi kebutuhan emosinya, yang penuh cinta dan kehangatan, merupakan hal yang diperlukan seorang anak untuk dapat mengembangkan kemampuan akademisnya dan mengembangkan emosinya .</p>
<p>Sebagai orang tua atau guru, kita harus punya komitmen untuk membantu anak merasa nyaman dengan dirinya. Jika anak merasa bahwa anda percaya akan kemampuannya untuk menjadi sukses, dan ia juga percaya, tidak akan terbayangkan apa yang bisa dicapai olehnya!</p>
<p><strong>Pentingnya merasa dicintai</strong><br />
Bagaimana anda mengekespresikan rasa cinta anda kepada anak sangat menentukan bagaimana anak memandang dirinya. Untuk bisa merasa dicintai dan dihargai, anak harus dapat merasakan cinta orang tua.  Sebagai orang tua, Anda harus berupaya menunjukkan rasa cinta anda lebih dari sekedar pelukan dan kata-kata “Ibu/Ayah saying kamu”.</p>
<p>Bagaimana cara menunjukkannya? Saat kita bersama anak, anak harus merasa bahwa kita hadir untuknya secara mental dan fisik. Saat anda meluangkan waktu15 menit untuk membacakan cerita, upayakan  dalam 15 menit itu anda tidak meyambinya dengan  memikirkan cucian piring, pekerjaan di kantor, tagihan yang harus dibayar, dll. Pastikan anda menghabiskan 15 menit itu untuk mendengarkan, dan memperhatikan anak. Tunjukkan pada anak, bahwa anda menikmati waktu bersamanya. Jika anda memilih untuk mencuci mobil bersama anak, dibandingkan menonton TV atau sibuk dengan facebook anda, anda menunjukkan bahwa dirinya berarti dan anda senang berada di dekatnya.</p>
<p>Jika anda menjemput anak dari sekolah, atau anda sampai di rumah, tunjukkan bahwa anda senang bertemu dengannya. Jadikan kedatangan anda di rumah sebagai hadiah terbesar, bukan oleh-oleh atau benda yang anda bawa. Hal ini menunjukkan kepada anak bahwa anda merindukannya dan ia berarti bagi anda.</p>
<p>Mencintai anak juga berarti kita menghormati anak sebagai individu. Perlakukan anak anda dengan cara yang sama anda memperlakukan orang lain. Ucapkan, “ tolong” dan “terimakasih”, ketuklah pintu sebelum masuk ke kamarnya, jika anda ingin menegur atau menasihati tunggulah sampai teman atau saudara kandungnya tidak di dekatnya. Pertimbangkanlah perasaannya sama seperti anda lakukan kepada orang yang anda hormati.</p>
<p>Yang  terakhir, sisakan cinta untuk diri anda sendiri. Jangan berharap menjadi orang tua atau guru yang sempurna. Tidak ada orang yang sempurna. Kita tidak mungkin cinta setengah mati terus menerus selama 24 jam kepada anak. Kadang kita frustasi menghadapi anak, mengucapkan kata-kata yang nantinya kita sesali, kecewa dengan diri kita karena tidak bisa mengendalikan marah dan emosi kita. Ambillah ruang gerak bagi diri kita untuk dapat menjelaskan kepada anak apa yang membuat anda marah, dan bahwa kadang anda perlu melepaskan emosi sama sepertinya, dan bahwa meskipun demikian anda tetap mencintainya.</p>
<p><strong>Ekpektasi Anda</strong><br />
Anda juga perlu memperhatikan derajat ekspekstasi anda. Jika ekspektasi anda terlalu rendah, akan berakibat anak merasa tak berdaya dan tak mungkin berhasil karena anak merasa anda tak percaya ia akan berhasil. Sama bahayanya jika anda berharap terlalu tinggi, kegagalan yang berulang membuat anak tak percaya diri.</p>
<p>Ada beberapa factor yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengembangkan kemampuan menyesuaikan derajat ekspektasi anda.<br />
Pertama, pertimbangkanlah tingkat perkembangan anak. Anda memang ingin memberikan tantangan, tapi upayakan tantangan itu tidak melebihi kemampuannya.Misalkan, anak usia 2 tahun tidak mungkin diharapkan untuk duduk diam manis selama 2 jam di rumah nenek/kakeknya.</p>
<p>Kedua, amati anak dan perhatikan apa yang disukai dan dibencinya, sikapnya di beberapa situasi yang berbeda. Sebelum anda berharap , perhatikan terlebih dahulu keadaan anak anda dan cari tahu bagaimana mengatasinya.</p>
<p>Ketiga, fleksibellah. Jika anda berharap anak melakukan sesuatu, tapi  anak tidak dapat memenuhinya, turunkanlah derajat ekspektasi anda. Jika anak tidak siap bersepeda roda dua, pasangkanlah lagi roda tambahannya di sepeda.</p>
<p><strong>Biarkan anak-anak bersikap kekanak-kanakan</strong><br />
Dalam bukunya yang berjudul The Hurried Child, David Elkind, menyebutkan adanya  akibat-akibat negatif dikarenakan pengkarbitan anak-anak: mempercepat anak menjadi dewasa : meningkatnya sakit kepala, sakit perut pada anak-anak yang ada kaitannya dengan stress, meningkatnya tingkat bunuh diri, tingginya jumlah aliran kepercayaan yang sesat, meningkatnya kejahatan dan ekperimen seksual dini (dan juga penyakit menular seksual pada remaja).</p>
<p>Menurut Elkind, hal ini disebabkan antara lain karena : orang tua di masa sekarang mengalamai stress yang lebih tinggi dibandingkan orang tua di masa 20 tahun yang lalu, lebih banyaknya tingkat perpisahan dan perceraian, meningkatnya kejahatan yang mengakibatkan meningkatnya rasa takut, dan tingginya rasa khawatir yang  disebabkan ancaman teknologi dan inflasi.</p>
<p>Elkind juga menyebutkan tingkat stress anak-anak sekarang lebih tinggi karena sekolah, dan pengaruh televisi masa kini. Sebaiknya kita ingat, bahwa anak tidak berpikir, belajar, atau merasa seperti orang dewasa. Kita perlu waspada seberapa banyak menuntut dari anak dan memastikan tuntutan kita sesuai dengan usianya. Sungguh tidak adil jika kita menuntut anak berlaku seperti orang dewasa.</p>
<p>Anak tidak dapat membuat keputusan seperti layaknya orang dewasa. Tugas kitalah sebagai orang tua/ orang dewasa untuk menetapkan batasan, mengingatkan anak mana yang pantas dan mana yang tidak, kapan saatnya anak perlu bersikap lebih matang dan kapan ia diizinkan untuk berlaku kekanak-kanakan. Kita perlu mengingatkan anak bahwa mereka tetaplah anak-anak, dan mengizinkan mereka bertingkah seperti ya…anak-anak!</p>
<p><strong>Tidak membanding-bandingkan</strong></p>
<p>Anak perlu merasa sebagai individu yang utuh, orang yang istimewa, jadi janganlah membanding-bandingkan! Banyak orang tua menganggap bahwa mereka memperlakukan anak-anaknya dengan cara yang sama, padahal anak-anak ingin diperlakukan berbeda, sebagai individu yang unik.</p>
<p>Meskipun sebagai orang tua anda ingin anak berprestasi di semua bidang, kenyataannya tidak mungkin anak menonjol dalam matematika dan juga membaca. Ada yang berprestasi dalam bidang akademis, ada yang di bidang olah raga. Yang penting adalah beri semangat dan Bantu anak untuk memperbaiki prestasi di bidang yang kurang dikuasainya, tapi jangan lupa memberitahu betapa bangganya anda akan prestasinya yang lain.</p>
<p>Sebelum tidur, berilah waktu dan rutinitas malam bagi masing-masing anak. Bacakanlah cerita yang berbeda bagi setiap anak, berilah waktu khusus berdua dengan anda bagi masing-masing anak. Biarkan anak yang lebih tua tidur lebih lambat, biarpun hanya 15 menit. Berikan perhatian yang khusus bagi setiap anak, agar masing-masing merasa istimewa.</p>
<p>Sanjaya Ken</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

