<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; film</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/tag/film/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 17:33:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/104.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/104.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 18:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[trailer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-103" title="sangpemimpi-209x300" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/sangpemimpi-209x300.jpg" alt="sangpemimpi-209x300" width="209" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan di Jerman, film ini memenangkan Gelar Film Terbaik&#8211;di festival film anak CINEPANZ ke dua puluh.</p>
<p style="text-align: left;">Memangnya apa sih yang spesial dari film ini? Kalau saya berbicara masalah teknis pembuatan film tentu saja tidak akanada yang percaya. Makanya saya akan melihat film ini lebih dalam dari sisi pendidikannya. Cerita di film ini masih berkutat seputar kehidupan si Novelis Andre Hirata di masa kecil. Dia tinggal di daerah Belitung yang keindahan alamnya sangat hebat. Namun keadaan itu tidak sehebat seperti yang beberapa anak-anak disana inginkan. Ada tiga anak sebagai tokoh utama di film ini. Ikal (Andrea Hirata yang masih kecil), Arai (saudara jauhnya), dan Jimbron (seorang anak yang gagap). Ketiganya mengalami hal-hal yang hebat untuk ukuran anak kecil seusia mereka di Belitung. Salah satu pembuka film ini adalah peristiwa bertemunya Arai dengan Ikal. Setelah itu menyusul Jimbron. Arai adalah seorang pemimpi yang selalu bersikap optimis dalam hidup. Sikap ini tetap ada di dirinya walaupun dia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan tidak mempunyai apa-apa lagi. Hal ini benar-benar menginspirasi Ikal dan Jimbron. Ketiganya bergumul dengan mimpi mereka. Semuanya menjadi terarah ketika salah satu guru mereka&#8211;Pak Julian&#8211;menyebutkan nama &#8220;SORBONNE&#8221;. Sorbonne adalah sebuah universitas di Perancis. Pak Julian benar-benar berusaha memotivasi semua muridnya untuk kesana. Dan ketiga tokoh utama di film ini pun memimpikan hal yang sama. Dalam usahanya mencapai impian, mereka bertiga berusaha keras untuk menabung demi bisa berangkat ke Jakarta dan kuliah dulu disana. Apa saja mereka lakukan. Mereka menjadi pelayan di sebuah restoran, bekerja di prabrik, mencari tambahan di pelabuhan dan lain sebagainya. Dengan tekad seperti itu tentunya mereka akan berhasil bukan? Ternyata belum pasti. Di tengah perjalanan meraih impian mereka, ada beberapa godaan yang menghambat mereka. Ikal, Arai dan Jimbron menghadapi tantangan mereka masing-masing. Jimbron ternyata tidak terlalu pintar. Tetapi toh dia tetap berusaha. Bagaimana dengan Ikal? Ketetapan hati Ikal goyah dengan beberapa hal yang dia lihat dan dengar dari orang-orang tentang mencapai mimpinya dengan lebih cepat namun bukan dengan cara belajar dan bermimpi. Bagaimana dengan Arai? Apakah jalan mimpinya lancar? Apakah mereka berdua bisa mencapai Perancis? Tidak adil buat si penulis dan pembuat film kalau saya menjawab pertanyaan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan buah pemikiran dari film itu. Poin-poin tersebut antara lain: 1. Seberapa pentingkah sebuah mimpi di dunia pendidikan? 2. Bagaimanakah sikap pendidik secara umum menanggapi mimpi seorang siswa didik? 3. Apakah bekerja setelah bersekolah itu baik? Tentu kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada kita semua tanpa konteks apa-apa, jawaban kita juga tidak cukup terarah. Oleh karena itu, mari kita tonton film &#8220;Sang Pemimpi&#8221; dan mulai mempunyai pendapat tentangnya. Selamat menonton. -Je- PS: Ariel perterpan ikut membintangi film ini. Kalau tidak percaya sama saya, silahkan &#8220;mengintip&#8221; trailer filmnya dengan cara klik kata-kata di bawah ini <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=yL0mjLyC-ho">Trailer Sang Pemimpi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/104.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Freedom Writers</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/freedom-writers.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/freedom-writers.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 00:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Menonton film ini merupakan (lagi) sebuah pencerahan bagi saya. Kisah ini diinspirasikan oleh sebuah kisah nyata dari seorang guru yang bernama Erin Gruwell yang harus mengajar di satu sekolah khusus bagi siswa-siswi yang multiras yang terjadi sekitar tahun 1996. Datang di hari pertama dengan membawa idealisme seorang staf pengajar yang baru akan mengajar untuk pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Menonton film ini merupakan (lagi) sebuah pencerahan bagi saya. Kisah ini diinspirasikan oleh sebuah kisah nyata dari seorang guru yang bernama Erin Gruwell yang harus mengajar di satu sekolah khusus bagi siswa-siswi yang multiras yang terjadi sekitar tahun 1996.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-41" title="freedom writers" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2009/12/freedomwritersposter-202x300.jpg" alt="freedom writers" width="202" height="300" /></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Datang di hari pertama dengan membawa idealisme seorang staf pengajar yang baru akan mengajar untuk pertama kalinya, Erin dikejutkan dengan adanya segregasi diantara siswa-siswinya. Bukan oleh tingkat kepandaian,  ataupun oleh tingkat ekonomi, tetapi oleh perbedaan perkumpulan (<em>gank</em>) yang didasarkan kepada ras. Terdapat tiga ras besar dalam kelas<em>Freshman English</em>nya yaitu Asia, Amerika Latin dan keturunan Afrika. Satu siswa kulit putih yang menjadi musuh nomor satu kelas itu (termasuk juga sang guru kelas karena dia berkulit putih) merasa teralienasi dan hanya merasa aman dengan duduk di dekat gurunya. Dimana lagi selain di bangku paling depan.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Kondisi yang ada menjadi bertambah buruk ketika kolega Erin di sekolah tersebut menunjukkan sikap apatis atas keadaan segregasi yang ada dan menyalahkan kondisi tersebut kepada dewan pendidikan kota. Dewan inilah yang merubah status sekolah menjadi sekolah integrasi yang (seharusnya) diikuti oleh siswa-siswi secara sukarela (<em>voluntary integration program</em>). Program inilah yang merubah ‘iklim’ belajar menjadi satu sistem dimana blok-blok pertemanan menjadi sangat dominan dan sekolah akhirnya memutuskan untuk melarang pembicaraan apapun yang berhubungan dengan <em>gank </em>dan hal-hal yang berkaitan dengannya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Ayah Erin sendiri menunjukkan ketidakpuasannya atas pilihan anaknya untuk menjadi guru di sekolah khusus itu. Dia berujar,’Banyak-banyaklah mengambil pengalaman. Ini hanya sebuah pekerjaan. Bila kau tak menyukainya, kau bisa menggantinya.’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Hari-hari pertama Erin dilewati dengan kegagalan demi kegagalan. Ketika akhirnya siswa-siswinya menemukan bahwa mereka sebenarnya adalah sama: berjuang untuk hidup hari demi hari dengan cara apapun, bahkan dengan mengikuti sebuah perkumpulan, barulah Erin merasakan inti pengajaran yang sesungguhnya. Siswa-siswi yang semula dianggap tidak dapat memahami literature-literatur rumit pada akhirnya diberikan kesempatan untuk mengetahui ‘dunia di luar’ kehidupan <em>gank </em>mereka. Mereka menjalani wisata sekolah, menulis agenda harian yang berisikan tentang cerita kehidupan mereka, dan bahkan berhasil mengundang satu tokoh penting dalam cerita yang mereka baca demi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang mereka miliki atas diri mereka sendiri. Pada akhirnya, agenda harian mereka itu dibukukan dan berhasil diterbitkan. Benar-benar <em>amazing</em>,</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Namun keberhasilan itu tidak terlepas dari beberapa pengorbanan yang akhirnya harus dijalani Erin seperti pertemuanny</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">a dengan dewan pendidikan kota, 2 macam pekerjaan yang harus diambilnya untuk dapat membelikan buku-buku baru dan satu pengorbanan besar yang tak pernah terbayangkan akan dialaminya. Benar-benar sebuah harga yang mahal sebagai pendidik.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Lalu apakah harga yang dibayarkan itu pantas? Dan bagaimana Erin dapat melewati masa-masa sulit di awal pengajarannya hingga akhirnya siswa-siswinya tidak rela melepaskan sang guru di tahun berikutnya? Saksikan filmnya dan temukan detil strategi Erin di film ini.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">‘Freedom Writers’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Paramount Pictures &amp; MTV Entertainment</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Hillary Swank, Imelda Staunton, Scott Glenn, Mario, Robert Wisdom, Kristin Herrera, Jacklyn Ngan</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;"><em>Je<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/freedom-writers.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

