<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; Book Review</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/tag/book-review/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 17:33:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>How to Teach for Exams</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 15:28:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun di luar sana banyak sekali pendapat tentang UAN—yang setuju, lah,&#8230;yang tidak sertuju, lah,&#8230;ada satu hal yang pasti. Tes itu penting! Dan segala daya upaya harus kita kerahkan ketika kita akan mempersiapkan tes—untuk diri kita sendiri ataupun untuk membantu orang lain. Kali ini saya mau share salah satu buku yang sudah cukup lama ada di pasaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.amazon.co.uk/How-Teach-Exams-Sally-Burgess/dp/0582429676"></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.pearsonlongman.com/professionaldevelopment/howtoseries/how-to-teach-for-exams.html"><img class="size-full wp-image-188 aligncenter" title="How to Teach for Exams" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/03/images1.jpg" alt="" width="87" height="116" /></a>Walaupun di luar sana banyak sekali pendapat tentang UAN—yang setuju, lah,&#8230;yang tidak sertuju, lah,&#8230;ada satu hal yang pasti. Tes itu penting! Dan segala daya upaya harus kita kerahkan ketika kita akan mempersiapkan tes—untuk diri kita sendiri ataupun untuk membantu orang lain.</p>
<p>Kali ini saya mau <em>share</em> salah satu buku yang sudah cukup lama ada di pasaran yang membahas cara kita membantu siswa dalam menghadapi sebuah tes. Buku ini sangat spesifik dengan mengangkat Bahasa Inggris sebagai subjeknya. Tetapi apakah buku ini hanya bermanfaat bagi guru-guru Bahasa Inggris? Tidak juga. Ada beberapa manfaat yang bisa kita petik untuk diterapkan ke mata pelajaran lainnya.</p>
<p>Adalah seroang pakar pengajaran Bahasa Inggris yang bernama Jeremy Harmer. Dia mengeluarkan beberapa seri buku yang bisa dijadikan pegangan para praktisi pendidikan pada umunya dan guru-guru Bahasa Inggris pada khususnya. Di buku ini dia menjadi editor untuk dua penulis—<em>Sally Burgess </em>dan <em>Katie Head</em>.</p>
<p>Buku ini berjudul <em>How to Teach for Exams.</em> Tebalnya hanya 156 halaman dengan isi penting seperti:</p>
<p>-  Bagaimana menjadi guru sukses dalam mempersiapakan murid untuk sebuah tes</p>
<p>- Bagaimana memilih dan mempersiapkanmateri pengajaran yang sesuai untuk tes</p>
<p>- Bagaimana mengajarkan empat macam  ketrampilan berbahasa—berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis untuk ujian, dan lain-lain</p>
<p>Saya sendiri pernah melahap buku ini. Tulisannya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sangat bermanfaat untuk pendidik seperti saya.</p>
<p>UAN <em>nggak</em> UAN,&#8230;buku ini akan membantu kita menjadi pendidik yang sukses untuk mempersiapkan anak didik kita menghadapi sebuah tes.</p>
<p>PS: <a href="http://www.pearsonlongman.com/professionaldevelopment/howtoseries/how-to-teach-for-exams.html">LONGMAN</a> juga menyediakan CD nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Bullying</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 18:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu bullying? Siapa pelaku bullying? Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying? Bagaimana menghadapi bullying? Buku Barbara Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_94" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><br />
<img class="size-full wp-image-94" title="Stop Bullying" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/buku_stop_bullying.gif" alt="Barbara Coloraso" width="180" height="275" /><p class="wp-caption-text">Barbara Coloraso</p></div>
<p>Apa itu bullying?</p>
<p>Siapa pelaku bullying?</p>
<p>Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying?</p>
<p>Bagaimana menghadapi bullying?</p>
<p>Buku <a href="http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=145&amp;p=1">Barbara</a> Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying terjadi.</p>
<p>Buku ini bisa dijadikan pegangan bagi orang tua dan juga guru-guru untuk memutus rantai bullying di sekitar kita. Buku ini juga berisi kisah-kisah nyata dari korban dan pelaku bullying.</p>
<p><em>Mariskova</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of Learning Styles</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/the-power-of-learning-styles.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/the-power-of-learning-styles.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 04:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Menemukan gaya belajar siswa kita lalu membuat formulasi pendekatan yang sesuai untuk mengajar di satu kelas dengan anak-anak yang berbeda bakatnya akan (kalau tidak dapat dikatakan ‘selalu’) menjadi salahsatu tantangan dalam mengajar, kalau (juga) tidak dapat dikatakan sebagai tantangan terbesar. Dalam prolog-nya sang penulis, Barbara Prashnig mengkritik pendidikan yang diterima oleh jutaan anak yang belajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_35" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-35 " title="The_Power_of_Learning_Styles" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2009/12/The_Power_of_Learning_Styles.jpg" alt="Barbara Prashnig" width="150" height="193" /><p class="wp-caption-text">Barbara Prashnig</p></div>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Menemukan gaya belajar siswa kita lalu membuat formulasi pendekatan yang sesuai untuk mengajar di satu kelas dengan anak-anak yang berbeda<span style="font-size: 13px; "><span style="font-size: 15px; "> bakatnya akan (kalau tidak dapat dikatakan ‘selalu’) menjadi salahsatu tantangan dalam mengajar, kalau (juga) tidak dapat dikatakan sebagai tantangan terbesar. Dalam prolog-nya sang penulis, Barbara Prashnig mengkritik pendidikan yang diterima oleh jutaan anak yang belajar dengan system sekolah yang tidak sesuai dengan bakat setiap anak. Hal inilah yang mungkin akan menarik minat kita untuk membaca buku ini dengan harapan akan menemukan sedikit ‘pencerahan’ dalam gaya mengajar (atau bahkan, gaya belajar) kita.</span></span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Dari segi tampilan, tata letak buku ini boleh dikatakan unik. Pada halaman kanan ditulis dalam format sugestopedia. Ruang kosong untuk catatan kecil pembaca juga disediakan di halaman ini. Sementara pada halaman kiri berupa pemikiran dan slogan-slogan utama yang merupakan stimulan bagi mereka yang membutuhkan deskripsi pendek akan suatu topic. Terdapat kesan bahwa inilah cara Barbara menunjukkan pada pembaca bahwa dia juga menyediakan lebih dari satu macam jalan untuk dapat memahami isi bukunya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Kembali kepada penerapan konsep keberagaman, Barbara menyebutkan ‘perkataan lama seperti ‘Kerjakan seperti yang kulakukan’ atau ‘Kerjakan sesuai perintahku’ yang sering digunakan oleh orangtua kepada anak-anak mereka atau antara guru kepada muridnya jelas bukan pendekatan yang paling tepat untuk mengeluarkan kemampuan seseorang karena tidak mempertimbangkan keragaman manusia’ (Halaman 47).</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Lebih lanjut, Barbara menyebutkan bahwa ‘sikap menyeragamkan juga sangat tidak adil bagi semua orang dan memberi dampak buruk yang besar terhadap pengembangan potensi manusia sehingga menyebabkan penghargaan diri rendah, motivasi menurun, stress meningkat, kecemasan dan kinerja yang tidak konsisten.‘</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Meskipun mungkin bukan satu-satunya kambing hitam penyebab hal-hal buruk tersebut, pendapat Barbara ini cukup membuat kita berkaca pada konsep pengajaran yang telah dilakukan selama ini. Muncul pertanyaan seperti, ‘Apakah saya telah memaksakan gaya belajar saya kepada siswa-siswi saya?’, ‘Apakah saya telah menjadi salah satu penyumbang kegagalan system pendidikan yang menyeragamkan gaya pengajaran kepada pelajar?’ dan lain sebagainya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Untuk membantu pengajar menemukan cara terbaik dalam menyampaikan materi pengajaran, Barbara Prashniq bekerjasama dengan Kevin Dunn dari New York untuk menciptakan instrumen baru yaitu Learning Style Analysis (Analisis Gaya Belajar) dengan 2 kategori yaitu untuk versi sekolah dasar dan sekolah lanjutan (SMP dan SMA), LSA dilambangkan oleh tingkatan dalam piramida dimana empat<span style="font-size: 13px;"><span style="font-size: 15px;"> tingkat pertama ditentukan secara biologis dan genetik sementara dua tingkat terakhir dikondisikan atau dipelajari (halaman 97-99).</span></span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Hal yang juga bermanfaat dari buku ini adalah dengan disediakannya beberapa contoh kasus kekeliruan penerapan cara belajar siswa (halaman 215-223), skema rencana pelatihan secara umum bagi guru dan staf penunjangnya (halaman 239-245) dan diakhiri dengan saran penciptaan suasana yang mendukung perkembangan gaya belajar anak-anak di rumah.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Satu hal yang patut disayangkan dari buku ini adalah beberapa ‘tugas’ yang dapat dilakukan pembaca untuk lebih memahami penerapan isi buku ini harus dilakukan secara on-line sehingga dirasakan kurang praktis, terutama bagi mereka yang sulit terhubung ke dunia maya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Suatu contoh penerapan konsep LSA dalam bentuk silabus juga akan sangat membantu para pembaca yang ingin mencoba menerapkan konsep ini. Terlebih lagi terdapat daftar panjang sekolah-sekolah di Selandia Baru yang telah menerapkan konsep LSA ini dan dinilai cukup berhasil.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;"><strong>‘The Power of Learning Styles’</strong><br />
Barbara Prashnig<br />
Penerbit Kaifa, Juni 2007</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;"><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/the-power-of-learning-styles.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teacher Bureaucrats</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/teacher-bureaucrats.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/teacher-bureaucrats.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 00:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Asked why Finland has the best education system in the world, one Finnish principal reportedly replied: "Teachers, teachers, teachers." Reading Christopher Bjork's valuable little book, it is easy to see how this reply could be applied to easily explain Indonesia's dismal education performance.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agak telat memang sewaktu saya membaca resensi buku <em>Indonesian Education: Teachers, Schools, and Central Bureaucracy</em>: Christopher Bjork yang ditulis oleh Arya B. Gaduh di Jakarta Post tanggal 7 Februari 2006 yang lalu. Bukunya sendiri belum bisa saya miliki sampai sekarang karena ternyata mencari buku ini susahnya melebihi mencari jarum di antara peniti. Kembali ke soal buku Christopher Bjork ini, saya merasa walaupun 3 tahun sudah berlalu sejak buku ini ditulis resensinya oleh saudara Arya, isi buku ini masih relevan. Dan tentunya, ironis. <em>Haree genee </em>masih punya <em>budaya</em> seperti ini?!</p>
<p>Budaya seperti apa? Silahkan baca sendiri. Lalu mengaca. Apa benar tulisan Mr. Bjork ini?</p>
<p>Published on The Jakarta Post (http://www.thejakartapost.com)<br />
<strong>&#8216;Indonesian Education&#8217; highlights problem of teacher-bureaucrats </strong><br />
<em>The Jakarta Post , Jakarta | Sun, 07/02/2006 4:34 PM | Life<br />
Arya B. Gaduh, Contributor, Jakarta</em></p>
<p>Indonesian Education: Teachers, Schools, and Central Bureaucracy Christopher Bjork New York and London: Routledge, 2005 200 pp.</p>
<p>Asked why Finland has the best education system in the world, one Finnish principal reportedly replied: &#8220;Teachers, teachers, teachers.&#8221; Reading Christopher Bjork&#8217;s valuable little book, it is easy to see how this reply could be applied to easily explain Indonesia&#8217;s dismal education performance.</p>
<p>Indonesian Education is an account of how school-based actors respond to central government&#8217;s policy to decentralize education that began in early 1990s. However, Bjork uses this account to explain something broader that, at first glance, seems trivial: The way Indonesian teachers frame their professional responsibilities.<br />
For most people, it is obvious that a teacher&#8217;s professional responsibility is to teach. But this was not what Bjork found on his visits.</p>
<p>&#8220;From campus after campus, teachers displayed a remarkably casual attitude toward their instructional duties. Yet most schools&#8217; employees displayed great seriousness towards school rituals.&#8221; (p. xiv) This puzzled him. So he decided to spend more than a year in late 1990s Malang observing six junior high schools (SMPs) &#8212; public, private and religious. He interviewed principals and teachers, observed instructions at the back of classrooms, and hung around the teachers&#8217; offices.<br />
The result is a dense description of the environment that most Indonesian teachers must face &#8212; and clues to solving his puzzle.<br />
He found one of these clues in history.</p>
<p>The New Order saw schools as a crucial link to national integration. Thus, schools became a &#8220;powerful means to forge nationalistic loyalties and identities over ethnic, religious, and class division&#8221;, and through schools, &#8220;a uniform national ideology, view of history, and a set of values&#8221; were communicated to Indonesian citizens.<br />
As such, the Soeharto government went to great length to ensure ideological uniformity &#8212; among others, through the way curricula are interpreted.</p>
<p>&#8220;In years immediately after independence, teachers had great leeway to interpret the broad guidelines outlined by the [Ministry of Education and Culture]; during the 1970s, in contrast, teachers were `increasingly burdened by more syllabus subjects, more detailed curricula, more numerous instructional objectives. (Schaeffer, 1990: 80)&#8221; (p. 53)</p>
<p>A heavy emphasis was put on obedience and loyalty in schools. For instance, principals rated their teachers based on criteria such as loyalty, work performance, obedience, honesty, cooperation and initiative. For all of these criteria, 75 was the passing grade &#8212; bar one: loyalty, in which a teacher had to achieve a score of 90 to continue working in any school.</p>
<p>All of these criteria, Bjork argues, indicated to teachers that their primary responsibility is to support the objectives set by the &#8220;&#8221;center&#8221;" in Jakarta. They reinforced the notion that &#8220;&#8221;teachers are valued for their willingness to serve the government, not their skills as educators&#8221;" (p. 95) &#8212; something that was confirmed by the tacit requirements for public school teachers to join the Indonesian Civil Servants Corps (Korpri) and vote for the ruling Golkar party.<br />
Instead of being mere teachers, educators were expected to become teacher-cum-bureaucrats.</p>
<p>Bjork compellingly illustrates how, on many occasions, the bureaucrat identity trumps that of a teacher. Teachers, for instance, would make sure to come on time for the flag ceremony every morning, yet would stop a lesson and leave for no apparent reason. The excitement that arose during a teachers meeting to prepare a celebration would be absent when the meeting&#8217;s subject was teaching and the new curriculum. There were exceptions, of course, but the examples above proved to be the rule.</p>
<p>This mentality, Bjork argues, was also responsible for the failure of the much-hyped Local Content Curriculum (LCC) policy of the early 1990s. The central government, keen to follow the global trend of education decentralization, allowed &#8212; even required &#8212; school administrators to devote 20 percent of instructional hours for locally designed curriculum. This greater freedom did not move teachers to experiment with the curriculum. Instead, they simply relabeled existing courses &#8220;&#8221;LCC courses&#8221;".</p>
<p>Why was there little enthusiasm for this policy, despite the fact that it was uniformly considered good on paper?</p>
<p>According to Bjork, there is that teacher-bureaucrat mentality on the one hand: &#8220;&#8221;Teachers in Indonesia do not cast themselves in the role of change agent; they do not even audition for the part&#8230; The instructor&#8217;s role as a civil servant was emphasized over that of educator, and his opportunities to shape school policy and practice were limited. Obedience rather than initiative was rewarded.&#8221;" (p. 110)</p>
<p>On the other hand, officials often fail to grasp that education decentralization is not merely a technical process, but a process that demands drastic institutional changes. &#8220;&#8221;Decentralization,&#8221;" suggests Bjork, &#8220;&#8221;requires a change in institutional culture, but the [Ministry of Education and Culture] is only addressing the technical aspects of this process.&#8221;" (p. 172)</p>
<p>Until now, the hype of education decentralization remains. In its last incarnation, it comes under the name &#8220;&#8221;school-based management&#8221;". Failures of the past do not suggest that it will fail this time around. But they do suggest that something clearly needs fixing.<br />
For success, Bjork argues that &#8220;&#8221;government employees at both central and local levels must be firmly committed to the ideals that underpin decentralization, and lend adequate material and logistical support to reform efforts.&#8221;"</p>
<p>Alas, judging from the recent national exam controversy, one is left to wonder whether these commitments are indeed there.</p>
<p>The reviewer lives in Jakarta, and can be reached at <a href="mailto:abgaduh@gmail.com">abgaduh@gmail.com</a>.<br />
Copyright © 2008 The Jakarta Post &#8211; PT Bina Media Tenggara. All Rights Reserved.<br />
Source URL: http://www.thejakartapost.com/news/2006/07/02/039indonesian-education039-highlights-problem-teacherbureaucrats.html</p>
<p><em>Mariskova</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/teacher-bureaucrats.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

