Sekolah Menengah Kejuruan menjadi salah satu fokus dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional periode 2005-2009. Info ini saya dapetkan dari situs http://www.unimed.ac.id/pegawaidoc/03.pdf ketika browsing-browsing di internet.
Hal ini sangat masuk akal melihat kondisi negara kita sekarang. Dengan makin mahal dan ketatnya dunia pendidikan, SMK menjadi salah satu pilihan favorit para pendaftar sekolah menengah. Mari kita lihat keberadaan SMK dari tiga sudut pandang yang berbeda—murid, sekolah dan bisnis.
Dari segi murid, SMK bisa jadi pilihan yang menggiurkan karena jenis sekolah itu memberikan akses ketiga hal sekaligus ketika para murid lulus: Melanjutkan ke Perguruan Tinggi, belajar sambil bekerja dan berwirausaha. Setelah menempuh pendidikan di SMK, para siswa masih bisa melanjutkan ke pendidikan ke Perguruan Tinggi yang sesuai dengan jurusan pilihan mereka. Yang dari jurusan akutansi bisa terus memperdalam ilmunya. Begitu juga yang dari jurusan teknik. Apabila tidak sabar menunggu kelulusan, murid-murid bisa langsung membagi waktu mereka antara belajar dan bekerja sesuai dengan keahlian mereka, bukan? Saya pernah mempunyai seorang kenalan anak SMK yang bekerja paruh waktu di sebuah bengkel sambil menerapkan ilmunya di bisang otomatif—jurusan yang dia ambil. Dan apabila murid-murid dengan jurusan tertentu sudah lulus dan memilih berwiraswasta, mereka bisa saja membuka usaha kecil-kecilan. Semuanya tergantung niat, bukan?
Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia sudah berjumlah 7. 719 sekolah. Info ini saya dapat dari www.disdiknasdki.net. Jumlah ini sama dengan jumlah SMA yang ada. Dengan perbandingan fifty-fifty, SMK harusnya lebih percaya diri dengan apa yang ditawarkan oleh mereka. Selain itu, SMK harus selalu menjaga mutu pendidikan yang ditawarkan. Salah satunya—menurut saya pribadi—adalah kerjasama dengan perusahaan-perusahaan dalam rangka penyaluran alumni SMK tersebut. Sudahkah terlaksana dengan baik? Para praktisi SMK tentu lebih bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Apa efeknya menjamurnya SMK terhadap sektor bisnis? Selain tenaga kerja yang (seharusnya) handal yang diproduksi oleh SMK, beberapa institusi bisa saja menjalin kerjasama denan beberapa SMK terutama di bidang keahlian. Misalnya saja, kursus Bahasa Inggris bisa menawarkan program intensif sebagai pelajaran tambahan terhadap murid-murid SMK. Tentunya program ini harus bersifat customized agar tepat guna. Sektor bisnis pengadaan alat-alat industri bisa juga mengikuti tender pemerintah atau swasta dalam pengadaan sarana belajar yang berguna, bukan? Saya yakin hal ini sudah dipikirkan oleh para pebisnis. Kalaupun belum, bisa jadi ini saat yang tepat.
Keberadaan SMK bisa dimaknai sangat positif oleh berbagai pihak. Mungkin satu hal yang perlu kita ingat, SMK adalah sebuah fenomena yang sangat berguna bagi bangsa kita—Indonesia.
Je
Sekolah Menengah Kejuruan menjadi salah satu fokus dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional periode 2005-2009. Info ini saya dapetkan dari salah satu situs pendidikan ketika browsing-browsing di internet.
Hal ini sangat masuk akal melihat kondisi negara kita sekarang. Dengan makin mahal dan ketatnya dunia pendidikan, SMK menjadi salah satu pilihan favorit para pendaftar sekolah menengah. Mari kita lihat keberadaan SMK dari tiga sudut pandang yang berbeda—murid, sekolah dan bisnis.
Dari segi murid, SMK bisa jadi pilihan yang menggiurkan karena jenis sekolah itu memberikan akses ketiga hal sekaligus ketika para murid lulus: Melanjutkan ke Perguruan Tinggi, belajar sambil bekerja dan berwirausaha. Setelah menempuh pendidikan di SMK, para siswa masih bisa melanjutkan ke pendidikan ke Perguruan Tinggi yang sesuai dengan jurusan pilihan mereka. Yang dari jurusan akutansi bisa terus memperdalam ilmunya. Begitu juga yang dari jurusan teknik. Apabila tidak sabar menunggu kelulusan, murid-murid bisa langsung membagi waktu mereka antara belajar dan bekerja sesuai dengan keahlian mereka, bukan? Saya pernah mempunyai seorang kenalan anak SMK yang bekerja paruh waktu di sebuah bengkel sambil menerapkan ilmunya di bisang otomatif—jurusan yang dia ambil. Dan apabila murid-murid dengan jurusan tertentu sudah lulus dan memilih berwiraswasta, mereka bisa saja membuka usaha kecil-kecilan. Semuanya tergantung niat, bukan?
Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia sudah berjumlah 7. 719 sekolah. Info ini saya dapat dari www.disdiknasdki.net. Jumlah ini sama dengan jumlah SMA yang ada. Dengan perbandingan fifty-fifty, SMK harusnya lebih percaya diri dengan apa yang ditawarkan oleh mereka. Selain itu, SMK harus selalu menjaga mutu pendidikan yang ditawarkan. Salah satunya—menurut saya pribadi—adalah kerjasama dengan perusahaan-perusahaan dalam rangka penyaluran alumni SMK tersebut. Sudahkah terlaksana dengan baik? Para praktisi SMK tentu lebih bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Apa efeknya menjamurnya SMK terhadap sektor bisnis? Selain tenaga kerja yang (seharusnya) handal yang diproduksi oleh SMK, beberapa institusi bisa saja menjalin kerjasama denan beberapa SMK terutama di bidang keahlian. Misalnya saja, kursus Bahasa Inggris bisa menawarkan program intensif sebagai pelajaran tambahan terhadap murid-murid SMK. Tentunya program ini harus bersifat customized agar tepat guna. Sektor bisnis pengadaan alat-alat industri bisa juga mengikuti tender pemerintah atau swasta dalam pengadaan sarana belajar yang berguna, bukan? Saya yakin hal ini sudah dipikirkan oleh para pebisnis. Kalaupun belum, bisa jadi ini saat yang tepat.
Keberadaan SMK bisa dimaknai sangat positif oleh berbagai pihak. Mungkin satu hal yang perlu kita ingat, SMK adalah sebuah fenomena yang sangat berguna bagi bangsa kita—Indonesia.
Je