Sekolah Kreatif

Saya adalah orang yang percaya sekali pada tanda-tanda yang akan menajarkan sesuatu di kehidupan saya. Beberapa waktu yang lalu, saya menerima tanda-tanda itu.

Waktu itu saya berada dalam perjalanan kereta dari Surabaya menuju Jakarta. Ketika memasuki gerbong dan menuju ke tempat duduk saya, saya melihat ada koran Jawa Pos edisi 10 Oktober 2009 di kursi sebelah. Setelah beberapa lama kereta berjalan namun tidak ada orang yang duduk disitu, saya memutuskan untuk mengambil koran itu dan membacanya. Saya membolak-balik koran untuk menemukan berita-berita menarik. Salah satunya adalah yang akan saya bahas kali ini.

Di bagian METROPOLIS harian JAWA POS, ada sebuah tulisan dengan judul “Dulu Tak Laku, Kini Sekolah Favorit”. Tulisan itu adalah tentang seorang laki-laki yang bernama Heru Tjahjono. Dia adalah konseptor sekolah kreatif–SD Muhammadiyah Kreatif 16 Surabaya. Tepatnya di daerah Bratajaya. Bapak Heru yang difotonya berambut gondrong menceritakan bahwa dulunya sekolah itu tidak banyak peminatnya walaupun iurannya murah–hanya Rp. 15 ribu. Kemudian dia mempunyai ide untuk merubah total sekolah itu.

Perubahannya terjadi di berbagai macam aspek. Di bagian fisik sekolah, yang paling menarik adalah penggunaan tangga kayu dari lantai satu  ke lantai dua yang tidak sering digunakan untuk turun. Itu karena ada pelorotan ke bawah yang menjadi sarana “transportasi” yang lebih diminati murid-murid.

Kebijakan sekolah soal seragam juga berbeda. Murid-murid tidak diwajibkan untuk memakai seragam. Saya yakin kata-kata “tidak diwajibkan” benar-benar dimanfaatkan sepenuhnya oleh mereka. Saat ini saya membayangkan bagaimana rasanya kalau ada sekolah seperti ini ketika saya kecil. Mungkin saya akan memakai kaos dan celana pendek. Yang penting kan belajarnya.

Ngomong-ngomong soal belajar, di sekolah ini siswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Mereka juga belajar melalui berbagai kegiatan outdoors. Itu ciri sekolah kreatif menurut Pak Heru. Saking kreatifnya ini sekolah, ekstra kurikulernya pun berbeda dengan kegiatan yang biasanya ada di sekolah-sekolah lain. Beberapa kegiatannya adalah group hip-hop Islami dan Barongsai.

Selain berusaha menginspirasi murid-muridnya, nampaknya sekolah ini juga sudah berhasil melakukan yang sama terhadap SD Muhammadiyah Kreatif 20 Surabaya dan SD Muhamadiyah Kreatif 02 Bangil. Mungkin kedua sekolah itu juga ingin mengalami kenaikan iuran seperti di SD Muhammadiyah Kreatif 16 Surabaya yang berangkat dari Rp. 15 ribu menuju Rp. 150 ribu per bulan.

Saya salut dengan apa yang saya baca. Tanda-tanda saya berupa koran di tempat duduk sebelah saya bermanfaat untuk saya. Namun ada beberapa pertanyaan yang membuat saya berpikir keras. Seberapa efektifkah sistim pendidikan seperti itu? Apakah sudah ada penelitian tentang itu? Dan seberapa jauhkah kita boleh berkreasi? Apakah sekolah negeri bisa melakukan yang sama? Bagaimana menurut anda?



2 Komentar

  1. Satria says:

    Assalamualaikum,
    sy sangat suka posting ini.
    sebuah mimpi yang manis bisa memberi pendidikan penuh kreasi seperti sekolah alam.
    pertanyaan yg sama sejak dulu: batas kreatifitas kita sejauh mana?
    yg bisa mencegah perkembangan peserta didik kearah negatif,fun tp mengusung juga nilai2 kehidupan dan kebenaran…
    sangat menunggu jawaban.

  2. Je says:

    Benar sekali Mas Satria. Moga2 kita tidak terlalu menganggung2kan kreatifitas dan akhirnya melupakan tujuan utama pendidikan. Menyebut2 soal tujuan pendidikan, saya jadi berpendapat bahwa itulah yang terpenting. Segala sesuatunya harus mencapai tujuan yang sudah ditetapkan yang (lebih dianggap) tahu tentang pendidikan. Apakah menurut anda dan yang lainnya kenyataan bahwa ada sekolah swasta dan ada sekolah negeri mempengaruhi tingkat kreativitasan untuk mereka bergerak dan maju?

Beri Komentar