Oleh: Erwin Sugiarto
Perkembangan Teknologi Informasi (TI) sudah demikian merajalela ke semua bidang kehidupan, rasanya tidak ada yang belum terjamah oleh TI. Demikian juga di bidang pendidikan, masalahnya masih banyak yang beranggapan bahwa menerapkan TI berarti harus mengalokasikan dana yang tidak sedikit, TI masih dianggap sebagai sesuatu hal yang mewah dan mahal.
Untungnya belakangan ini sudah banyak pihak yang mau berpartisipasi baik menjadi donor ataupun menyediakan layanan murah atau bahkan gratis untuk kepentingan dunia pendidikan. Sehingga seharusnya dengan menerapkannya secara tepat maka sekolah dapat menekan pengeluaran dengan tetap memaksimalkan potensi dari penggunaan TI untuk pembelajaran siswa dan untuk eksistensi sekolah itu sendiri di mata lingkungan sekitar dan masyarakat umum.
Sebagai contoh sederhana adalah website sekolah, dapat ditemukan bahwa di era seperti sekarang ini ternyata masih ada sekolah-sekolah yang tidak mempunyai website, jangankan untuk mempublikasikan prestasi siswa-siswanya, ternyata untuk membuat sekolah tersebut eksis dan dapat dilihat infonya dari dunia maya pun belum terpikirkan. Kemudian untuk sekolah yang sudah mempunyai website dan sudah mengisinya dengan info tentang sekolah, ternyata kadang tidak mengupdatenya lagi karena tidak tahu bagaimana cara mengupdate beritanya. Terakhir adalah sekolah yang selalu mengupdate isi websitenya, ternyata masih banyak yang menggunakan website statis sehingga kegiatan mengupdate berita baru kadang malah menimpa berita yang lama, artinya histori berita lama menjadi hilang. Padahal saat ini sudah banyak website dinamis yang dapat diandalkan dan dijamin tidak akan menguras kantong sekolah-sekolah tersebut, andai saja mereka tahu maka mereka dapat eksis dengan berkesinambungan di internet, menambah satu lagi kesempatan mereka untuk bersaing dengan sekolah-sekolah lain, memperbesar kesempatan mereka untuk mendulang pundi-pundi penyeleksian siswa baru setiap tahunnya.
Dari contoh di atas dapat ditelaah bahwa sekolah perlu mengikuti perkembangan TI agar mampu bersaing, sekolah perlu mengambil hal-hal bagus di TI yang bisa diterapkan di sekolah tersebut, sekolah perlu mencari alternatif pengimplementasian TI dengan menggunakan biaya yang minim, sekolah perlu terus memaksimalkan fungsi TI yang telah diterapkan sehingga mendatangkan dampak yang besar bagi perkembangan sekolah tersebut.
Isi artikel ini bukanlah tentang sebuah penemuan luar biasa, bukan pula sesuatu hal baru karena perkembangan TI yang selalu cepat berubah, tetapi artikel ini dibuat untuk mengajak semua pihak dan khususnya sekolah-sekolah untuk berani menerapkan TI dikarenakan tersedianya alternatif-alternatif murah yang dapat digunakan untuk bersaing, mempublikasikan prestasi siswa, dan eksis di internet, apalagi menghadapi AFTA 2010 yang sudah di depan mata, serta maraknya sekolah yang berpindah ke Sekolah Bertaraf Internasional.
Dari artikel ini diharapkan akan didapatkan data tentang berapa nilai investasi yang perlu dianggarkan untuk mengadopsi TI serta memahami mana yang termasuk inovasi TI yang lebih mahal dan mana yang lebih murah, adapun mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan dan pada akhirnya hal ini diserahkan kepada pihak sekolah untuk memutuskannya.
Sangatlah banyak yang dapat ditulis ketika menyinggung keterkaitan dunia pendidikan sekolah dengan TI, sehingga pada artikel ini pembahasan akan dibatasi pada :
1. Menghitung biaya minimal pembuatan dan penggunaan website dinamis sebagai website sekolah.
2. Menghitung biaya minimal pembuatan e-learning sehingga siswa dapat mengakses pelajaran melalui media internet dari mana saja.
3. Menghitung biaya minimal pembuatan dan penggunaan website sistem informasi sekolah untuk mensosialisasikan nilai-nilai siswa (nilai harian/kuis ataupun nilai tes) kepada siswa dan orang tua siswa, sehingga naik atau turunnya nilai siswa dapat dilihat bersama oleh siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua.
“Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah selama beberapa dekade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederhana dan berubah dengan lamban, namun kini teknologi berubah secara dramatis”, (dikutip dari buku Psikologi Pendidikan edisi kedua bab 12 halaman 493, John W. Santrock, 2008).
“Banyak guru tidak memiliki pengetahuan memadai dalam menggunakan komputer, dan banyak sekolah tidak menyediakan workshop atau pelatihan yang dibutuhkan. Dan dengan perkembangan teknologi yang pesat, komputer yang dibeli sekolah menjadi cepat ketinggalan zaman. Bahkan ada yang rusak dan perlu diperbaiki (Baines, Deluzain, & Stanley, 1999). Kenyataan ini berarti pembelajaran di sekolah belum direvolusionerkan secara teknologi. Hanya ketika sekolah punya guru yang terlatih secara teknologilah, maka revolusi teknologi akan benar-benar mengubah sekolah-sekolah (Howell & Dunnivant, 2000; Tomei, 2002)”, (dikutip dari buku Psikologi Pendidikan edisi kedua bab 12 halaman 493 dan 494, John W. Santrock, 2008).
Berangkat dari teori di atas, awalnya teknologi yang diterapkan di sekolah-sekolah berkembang dengan lambat dan kemampuannya terbatas, itulah sebabnya sekolah menjadi tidak menyadari ketika ternyata sekarang ini teknologi yang dapat diadopsi oleh mereka sudah demikian canggih dan beraneka ragamnya.
A. WEB SEKOLAH
Saat ini kebutuhan akan adanya website dapat diibaratkan bagai memiliki sebuah kantor di dunia nyata, orang lain yang ingin mengetahui siapa kita dan ingin berbisnis dengan kita dapat melihat profil kita di website, apabila orang tersebut merasa cocok dan nyaman dengan isi informasi yang ada di dalam website maka besar kemungkinan ia akan menghubungi kita untuk melakukan transaksi bisnis.
Demikian juga dengan sekolah, orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ataupun organisasi yang ingin memberikan beasiswa pendidikan, kemungkinan besar mencari dahulu informasinya melalui internet terutama website sekolah, apabila dirasakan kenyamanan dengan aturan sekolah serta kepuasan dengan prestasi sekolah terhadap siswanya maka besar kemungkinan mereka akan menghubungi sekolah tersebut.
Berikut beberapa layanan penyedia web yang cukup murah untuk digunakan sebagai referensi awal pembanding harga, sbb:
Nama Jenis Web Harga
Duwa WebMedia (http://www.duwaweb.com/layanan.php) Hanya desain 1 tampilan halaman + animasi Rp 2.750.000,-
Desain Web Murah
(http://www.desainwebmurah.com/paket_website.html) Paket CMS Website (web dinamis, desain tampilan halaman, email tak terbatas, domain dan hosting) Rp 1.250.000,-
MasterWeb
(http://www.masterwebnet.com) Domain + hosting paket Bisnis C sebesar 1,2GB (dapat di setting Moodle, email tak terbatas) Rp 650.000,-
EDU 2.0 for School
(http://www.edu20.org) Web e-learning seperti Moodle yang tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web: merdeka.edu20.org Gratis
Berdasarkan referensi di atas, maka untuk membuat website sekolah dibutuhkan biaya kurang lebihnya sbb:
OPSI1:
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB) = Rp 650.000,-
Biaya mendesain 1 tampilan halaman + animasi = Rp 2.750.000,-
Total = Rp 3.400.000,-
Pilih OPSI1 bila membutuhkan kapasitas yang cukup besar untuk menampung data e-learning serta membutuhkan jasa mendesain halaman awal website dengan penambahan unsur animasi flash. Nama domain website dapat ditentukan sendiri. Setiap tahunnya perlu membayar biaya perpanjang sewa sebesar biaya domain dan hosting yaitu Rp 650.000.
OPSI2:
Biaya mendesain, domain & hosting 1 tahun = Rp 1.250.000,-
(tahun berikutnya untuk perpanjang sewa cukup bayar Rp 285.000 / tahun)
Pilih OPSI2 bila hanya membutuhkan website sederhana (kapasitas tidak besar) tetapi cukup untuk memperkenalkan sekolah, dan isi website dapat diubah dengan mudah bagaikan menulis di Ms-Word (website dinamis). Nama domain website dapat ditentukan sendiri, untuk perpanjang setiap tahunnya hanya perlu membayar Rp 285.000.
OPSI3:
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB) = Rp 650.000,-
Sebenarnya sudah ada aplikasi e-learning di MasterWeb, maka pilih OPSI3 bila web sekolah akan diintegrasikan dengan web e-learning, dalam hal ini disarankan mengaktifkan fitur Moodle (e-learning) yang sudah ada di dalamnya. Selanjutnya tinggal mengubah theme Moodle agar sesuai dengan identitas sekolah. Nama domain website dapat ditentukan sendiri. Setiap tahunnya perlu membayar biaya perpanjang sewa sebesar biaya domain dan hosting yaitu Rp 650.000.
OPSI4:
Web untuk sekolah gratis = Gratis
Pilih OPSI4, dalam hal ini adalah EDU 2.0 for School (http://www.edu20.org), adalah web e-learning seperti Moodle yang instan tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web akan menjadi: merdeka.edu20.org.
Sampai disini diharapkan sekolah memiliki bekal yang cukup untuk mempertimbangkan penawaran harga penyediaan sebuah website yang murah atau lebih mahal, sekali lagi mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan, yang bagi masing-masing sekolah nilai ini akan berbeda-beda.
B. WEB E-LEARNING
“Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan”, dikutip dari Wikipedia (id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik).
Dahulu, untuk membuat web e-learning butuh bantuan sebuah software house dan membutuhkan biaya yang sangat mahal, tetapi saat ini sudah banyak produk open source yang menawarkan e-learning, dan yang banyak digunakan adalah Moodle dengan jumlah web mencapai 50.358 dan digunakan di 211 negara.
Di Indonesia sendiri terdapat 607 web Moodle, banyak digunakan oleh komunitas sekolah dan universitas, perusahaan sekelas Garuda Indonesia pun mempercayakan Moodle sebagai web untuk Training Center nya.
Dengan mengimplementasikan Moodle, maka siswa dapat mengakses pelajaran melalui media internet dari mana saja, sehingga memudahkan siswa mereview pembelajaran, terlebih untuk siswa yang kebetulan tidak hadir sekolah, ia tetap dapat mengetahui apa yang diajarkan ketika ia tidak hadir.
Berikut beberapa layanan penyedia web e-learning yang cukup murah untuk digunakan sebagai referensi awal pembanding harga, sbb:
Opsi Jenis Web Harga
MasterWeb
(http://www.masterwebnet.com) Domain + hosting paket Bisnis C sebesar 1,2GB (dapat di setting Moodle, email tak terbatas) Rp 650.000,-
EDU 2.0 for School
(http://www.edu20.org) Web e-learning seperti Moodle yang tinggal pakai, butuh koneksi internet, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web: merdeka.edu20.org Gratis (butuh koneksi internet)
Moodle
(http://moodle.org/downloads/) Download aplikasinya dan instal di jaringan lokal sehingga tidak membutuhkan koneksi internet untuk mengaksesnya sebagai media belajar Gratis (tidak butuh koneksi internet)
Berdasarkan referensi di atas, maka untuk membuat website e-learning dibutuhkan biaya kurang lebihnya sbb:
OPSI1:
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB) = Rp 650.000,-
Pilih OPSI1, web dapat difungsikan sebagai web sekolah (untuk promosi) dan web e-learning (untuk pembelajaran).
OPSI2:
Web e-learning + web sekolah gratis = Gratis
Pilih OPSI2, dalam hal ini adalah EDU 2.0 for School (http://www.edu20.org), adalah web e-learning seperti Moodle yang instan tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web akan menjadi: merdeka.edu20.org.
OPSI3:
Web e-learning yang tidak butuh koneksi ke internet = Gratis
Pilih OPSI3 bila ingin membuat web e-learning berbasis Moodle yang hanya dapat diakses dalam lingkungan sekolah saja (dalam jaringan LAN) dan tidak butuh koneksi internet, dengan cara menginstal aplikasi dari http://moodle.org/downloads. Cocok untuk diterapkan di sekolah yang belum terpasang internet atau koneksi internet di lingkungan sekolah masih kurang cepat.
C. NILAI SISWA
Bila sekolah sering mengadakan rapat orang tua dan guru secara berkala yang salah satu tujuannya adalah memberitahukan nilai siswa kepada orang tuanya, maka sebaiknya rapat tersebut kedepannya diadakan untuk acara yang lebih berguna misal konsultasi orang tua dan guru. Dengan memanfaatkan internet dan sistem informasi nilai siswa, maka nilai siswa dapat langsung diketahui oleh orang tua berdasarkan kalendar pengecekan nilai yang dapat diberitahukan periodenya dari pihak sekolah kepada orang tua.
Tentunya ini tergantung kepada kebijakan pihak sekolah apakah memang ada periode penilaian yang ingin diberitahukan kepada orang tua siswa, bila dibutuhkan maka sekolah sebenarnya tidak perlu menunggu atau membuat sistem web nila tersebut karena ada web gratis yang menyediakan fitur pencatatan nilai siswa dan dapat dilihat oleh guru, administrator (Kepala Sekolah), siswa, dan orang tua siswa.
Website tersebut bernama www.engrade.com, web gratis yang menyediakan layanan pencatatan nilai dan dapat dilihat oleh pihak sekolah, siswa, ataupun orang tua siswa. Hal ini membuat terjadinya transparansi nilai, dan membuat siswa serta orang tua lebih terpacu untuk melakukan perbaikan apabila ditemukan adanya penurunan nilai, atau sebaliknya membuat anak termotivasi melihat nilainya yang semakin membaik.
Moodle pun sepertinya menyediakan fitur untuk melihat nilai dengan banyak login (pihak sekolah, siswa, ataupun orang tua siswa), hanya saja penulis belum mencobanya lebih dalam sehingga tidak dapat melakukan perbandingan.
KESIMPULAN
Ternyata dapat dibuktikan bahwa pemanfaatan TI tidaklah harus dianggap mahal, sekali lagi mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan, yang bagi masing-masing sekolah nilai ini akan berbeda-beda. Sampai disini diharapkan sekolah memiliki bekal yang cukup untuk mempertimbangkan kualitas layanan yang akan diterapkannya.
USUL DAN SARAN
Jejaring sosial, cloud computing, pengoptimalan 1 cpu untuk digunakan oleh 2 sampai dengan 4 pengguna secara bersama-sama (misal diletakkan di sudut perpustakaan), optimasi handphone untuk media learning dan masih banyak lagi hal-hal lain yang masih bisa digali untuk mengadopsi perkembangan TI di sekolah. Tentunya artikel ini masih jauh dari sempurna, harapannya semoga semua yang telah dituliskan paling tidak memberi sedikit ilmu bagi dunia pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
John W. Santrock, 2008, “Psikologi Pendidikan” edisi kedua bab 12 halaman 492, 493, dan 494.
http://www.desainwebmurah.com/paket_website.html
http://www.duwaweb.com/layanan.php
http://www.edu20.org
http://www.komputercenter.com/ip-cameras-c-17
http://www.livecast.com
http://www.masterwebnet.com
http://www.megatron.biz/cctv.htm
http://www.moodle.org
BIODATA
Nama : Erwin Sugiarto
Informasi : Sebelumnya mengurusi manajemen guru TI sekolah dan instruktur di sebuah institusi pendidikan di Jakarta sampai awal tahun 2010, saat ini beralih tugas mengurus pembuatan modul TI, harapannya antara modul dan pengajarnya dapat lebih bersinergi.
maaf mas, saya mau tanya bisa ga memberikan contoh aplikasi web sekolahnya seperti apa?
terima kasih
saya dari PDC TELKOM Bintaro jakarta.Pak Erwin bisa tidak kita bekerjasama untuk menggarap sekolah..