Saatnya Sekolah Lebih Memanfaatkan Media Sosial

media sosial untuk sekolah

Ketika tempo hari internet menjadi gerah karena isu penghinaan terhadap Islam oleh seorang remaja yang mengatasnamakan sebuah sekolah Katolik di Bekasi, saya segera menulis dalam blog SeratusKata: public relations itu penting.

Tidak, saya tak mengajak berdiskusi soal agama di sini. Saya hanya mengingatkan bahwa sekarang zamannya media sosial. Media yang isinya dibentuk oleh para pengguna, bukan oleh redaksi seperti di koran.

Dalam kehidupan kita ada blog, Facebook, dan Twitter –– dua yang terakhir mudah sekali dijangkau melalui ponsel. Jika diterapkan ke dalam lembaga pendidikan, maka semakin banyak guru dan murid, bahkan sekolah, yang mencemplungkan diri ke sana.

Ketika terjadi krisis, dan sekolah harus melakukan komunikasi untuk menjelaskan persoalan, maka guru tak perlu menghabiskan waktu untuk Facebook dan Twitter. Yang diperlukan adalah perumusan pesan yang dingin, tidak konfrontatif maupun provokatif, untuk kemudian disiarkan melalui jaringan media sosial yang dimiliki sivitas akademika.

Mereka itu adalah guru, murid, alumni, dan pemangku kepentingan (stakeholders: orangtua murid, orangtua alumni, donatur yayasan, dan lainnya). Mereka menyebarkannya melalui akun masing-masing.

Memang bukan jaminan jika masalahnya adalah SARA, terutama agama, persoalan akan beres. Tetapi dalam krisis, komunikasi harus cepat dan tepat, plus jernih tidak emosional.

Tanpa klarifikasi, yang tentu saja sepihak, maka masyarakat akan menganggap apa yang dituduhkan itu benar. Tetapi setidaknya ada dokumentasi yang dapat diakses oleh publik tentang penjelasan suatu hal.

Sekolah adalah lembaga yang menampung kepentingan masyarakat. Dalam lingkup yang kecil adalah menampung amanat orangtua siswa. Di zaman media terbuka, sudah bukan saatnya lagi sekolah berdiam diri. Misalnya jika ada kabar kekerasan dalam inisiasi (ospek), kekerasan oleh guru, skandal nilai, dan sejenisnya yang negatif.

Kepala sekolah akan kecapaian jika berulangkali harus memberi keterangan kepada reporter koran, radio, televisi, dan situs berita. Memang harus dilakukan tetapi tim guru sebaiknya juga memanfaatkan media daring (online) untiuk menjelaskan. Apa yang sudah dimuat oleh media umum, dari TV sampai situs berita, belum tentu dibaca semua orang. Juga belum tentu hasil penyuntingannya memuaskan. Media sosial memberi kesempatan untuk menampilkan diri lebih utuh. Misalnya melalui blog sekolah.

Tidak bisa lagi sekarang ini sekolah hanya bersikap, “Yang penting kami tahu mana yang benar. Biarlah sejarah yang kelak membuktikan.”

Sebagai keyakinan, itu memang keren. Tetapi mesin pencari, misalnya Google, Bing, dan bahkan Topsy, mencatat apa yang dilontarkan oleh banyak orang. Tanpa klarifikasi berarti (dianggap) benar. •••


0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Beri Komentar