Bicara mengenai bimbingan belajar, saya jadi teringat dengan metode pengajaran yang pernah saya ‘cicip’ di sebuah lembaga bimbel di Dewi Sartika. Ketika itu mata pelajaran yang disuguhkan adalah matematika ilmu sosial. Pengajarnya kebetulan owner dari lembaga tersebut yang saat itu terkenal bertangan dingin. Keberhasilan gaya mengajarnya sudah melegenda di kalangan siswa seperti saya saat itu. Keajaiban, ya itulah yang kami harapkan.
Awal sesi dimulai seperti biasa. Kami membuka modul matematika kami dan mulai melihat-lihat rumus serta contoh-contoh soalnya. Sang Ibu kemudian meraih mikropon dan mulai membaca rumus tersebut. Lalu kami diminta untuk mengikutinya. M e n g i k u t i n y a? Iya, benar. Kami diminta menyebutkan rumus keras-keras. Anda bisa bayangkan seperti apa riuh rendahnya ruangan? Sekitar 70an anak-anak SMA bersahut-sahutan menghapalkan rumus dengan setengah berteriak.
Saya bingung. Sepertinya saya juga tidak sendirian. Tapi berhubung sang Ibu nada bicaranya tegas dan sepertinya tidak ada harapan juga bagi kami untuk tawar menawar, kami semua patuh.
Lama saya menyadari arti dari permintaan si Ibu. Ternyata Ibu mengaplikasikan konsep gaya belajar (learning style) ketika beliau mengajar. Mengerjakan soal dalam diam untuk si visual dan berteriak untuk si audio. Wah, wah, wah. Tambah kagum saya terhadap si Ibu.
Kagum? Serius lo?
Serius.
Metode pengajaran ada ribuan di luar sana tetapi mempraktekkan metode tersebut bisa jadi belum dilakukan oleh SEMUA pengajar. Maksud saya, ada tapi tidak semua karena alasan tertentu.
Beneran. Serius.
Dev,
zaman kecil dulu, metode yg begini dipraktekin guru ngaji gw. Serius ! beneran huruf arab yg jlimet, bacaan sholat, tajwid dsb gampang bener diingetnya..karena di audio dan diulang2..itu mungkin yg tidak dipraktekan zaman sekarang. Kayaknya guru2 jadul juga praktek belajarnya kayak gini ya,tapi mana ada hari gini guru bacain keras2 “ini ibu Budi” dan muridnya suruh ngulang baca..anak2 sekarang belajarnya lebih mandiri dan guru sibuk sendiri..
Terima kasih sudah berkunjuuuuung ….
‘zaman kecil dulu’ ya? Sama banget metode ‘baca keras’nya meski dari aspek konten-nya berbeda. Yang perlu dipertanyakan adalah apakah tujuan metode ini pada akhirnya lebih kepada menghafal daripada memahami. Saya melihatnya lebih kepada bahwa metode ‘baca keras’ adalah metode awal. Follow-up activitiesnya yang akan mengambil peran penting sehingga peserta belajar akan mencapai tahap ‘memahami’.
Untuk situasi saya, Ibu memberikan banyak soal dimana hapalan rumus adalah modal utama karena ketika mengerjakan soal-soal yang ada diperlukan modifikasi rumus. Ribet kayaknya kalau rumus masih harus digumam-gumam lagi ketika mengerjakan soal. Oleh karenanya, her method worked!
ZB, iya guru-guru jaman dulu biasanya pake metode drilling sampai hapal. Termasuk guru ngaji gue juga :p. Untuk kasus si Daff -yang bikin gw heran- drilling untuk rumus matematika itu yang buat gue luar biasa…
“Satu ditambah satu sama dengan… duaaaa”