Mendengar kata ‘tes’, reaksi alami setiap orang adalah merasa cemas dan meragukan kemampuan dirinya –seolah-olah anda tidak akan keluar dari ruang ujian dengan selamat. Namun, seperti halnya terbit matahari, tes tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan. Setiap hal yang kita pelajari akan ditandai oleh tes—untuk menandai kemajuan (atau ketidakmampuan)—dan kita berharap dapat pengecualian untuk terbebas dari keharusan menjalaninya. Kita hidup dengan tes dan kadang seolah kita mati karenanya.
Sebelum kita membahas mengenai ujian nasional, sebenarnya ada beberapa prinsip dasar yang perlu kita luruskan.
Apakah yang dimaksud dengan Tes?
Tes adalah metode pengukuran kemampuan, pengetahuan, atau kecakapan seseorang dalam bidang tertentu.Marilah kita kupas definisi tersebut satu persatu.
1. Tes merupakan metode.
Tes berarti alat – seperangkat teknik, prosedur atau item—yang memerlukan kecakapan di pihak pembuat tes. Untuk memenuhi prasyaratan sebuah tes, metode tersebut haruslah bersifat eksplisit dan berstruktur : tes pilihan berganda yang memiliki jawaban yang benar, tes menulis dengan rubik penilaian, wawancara lisan berdasarkan teks pertanyaan dan ceklis dari jawaban yang diharapkan.
2. Tes harus dapat mengukur.
Beberapa jenis tes mengukur kemampuan umum, sedangkan yang lain berfokus pada kemampuan atau tujuan yang sangat spesifik. Hasil dan cara pengukuran dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Ada jenis tes seperti tes essay singkat, yang dapat dinilai dengan peringkat huruf (A atau B) disertai komentar instruktur. Jenis tes yang lain, tes standar yang berskala besar misalkan memberikan angka , peringkat, dan mungkin sub skor. Jika suatu alat tidak memberikan bentuk pengukuran hasil –sebagai alat menentukan hasil bagi peserta tes—berarti teknik tersebut tidak dapat dikatakan sebagai tes.
3. Tes mengukur kemampuan, pengetahuan dan kecakapan seseorang.
Penguji perlu memahami:
- Siapakah pengambil tes ?
- Apakah pengalaman dan latar belakang mereka?
- Apakah tes tersebut sesuai dengan kemampuan mereka?
- Bagaimana peserta tes menginterpretasikan skor mereka?
4. Tes menguji ranah tertentu.
Dalam hal tes kecakapan, meskipun kemampuan sesungguhnya hanya melibatkan sampling
dari kecakapan, namun dapat mengukur kemampuan secara menyeluruh. Salah satu kendala
terbesar dalam membuat tes yang memadai adalah bagaimana caranya mengukur criteria
yang diinginkan dan jangan sampai mengikutsertakan factor-faktor lain yang berlawanan.
Tes yang baik adalah instrumen yang memberikan pengukuran akurat atas kemampuan peserta tes dalam ranah tertentu. Meski kedengarannya mudah, namun membuat tes yang baik melibatkan ilmu dan seni.
Tes seperti apa yang disebut efektif?
Membuat tes tidaklah mudah, karena memerlukan pengetahuan dan seni. Namun, ada kaidah-kaidah yang perlu dipenuhi : praktis, dapat diandalkan dan valid.
1. praktis, yang berarti
- tidak terlalu mahal
- pelaksanaannya tidak terlalu lama
- mudah untuk diselenggarakan
- prosedur skoringnya spesifik dan hemat waktu
2. Konsisten dan dapat diandalkan
Jika tes diberikan kepada siswa yang sama pada dua kesempatan yang berbeda, hasilnya akan sama.Terkadang sifat tes itu sendiri dapat mengakibatkan pengukuran yang salah. Jika tes memakan waktu yang terlalu lama, peserta tes akan kelelahan sebelum mereka sanggup mencapai nomor terakhir dan berakibat tidak dapat menjawab dengan baik. Tes yang tidak dirancang dengan baik (yang ambigu atau mempunyai jawaban yang benar lebih dari satu) juga dapat menjadi sumber ketidakandalan tes.
3. valid
Tingkat kesimpulan yang diambil dari hasil tes sesuai, bermakna dan berguna menyangkut tujuan dilakukan pengujian. Suatu tes sebenarnya mengambil sampel materi yang memadai untuk pengambilan hasil, dan mempersyaratkan si pengambil tes untuk menunjukkan kemampuan yang diukur. Sebagai contoh, jika kita mengtes kemampuan tennis seseorang dengan menguji orang tersebut untuk lari 100 meter, maka tes tersebut dianggap tidak memenuhi validitas materi.
Dalam hal ini, ada 2 jenis tes yang dapat diberikan: tes langsung dan tes tidak langsung. Tes langsung melibatkan si pengambil tes untuk menampilkan tugas yang ditargetkan. Dalam Tes tidak langsung, peserta tes melakukan sesuatu tugas yang berhubungan dengan tugas. Misalkan untuk menguji kemampuan lisan untuk penekanan suku kata, tes yang diberikan adalah meminta peserta tes untuk menandai suku kata yang ditekan.
b. hasil tes berhubungan dengan kriteria
Tes harus bisa menunjukkan sampai di tingkat mana kriteria sudah dicapai.
Apakah Ujian Nasional itu dan apa tujuan diselenggarakannya
Ujian Nasional, diberikan sebagai salah satu instrumen pendidikan yang dikenal dengan tes standar yaitu produk dari proses penelitian dan pengembangan empirik yang bersifat menyeluruh. Tes standar menetapkan prosedur pelaksanaan dan pemberian nilai tes yang standar. Tes standar juga merupakan tes yang mengacu pada norma (norm-referenced test) yang tujuannya adalah menempatkan peserta ujian pada continuum diantara kisaran nilai dan membedakan mereka berdasarkan urutan ranking.Tes standarisasi mencakup tujuan atau kriteria standar tertentu yang konstan dari satu bentuk tes ke bentuk lainnya. Kriteria yang dibuat memenuhi ukuran kompetensi yang biasanya mengacu pada kurikulum tertentu.
Di Amerika Serikat, siswa SD dan SMP menempuh tes standar untuk mengukur kemahiran standard dan kompetensi yang telah ditetapkan untuk level-level tertentu. Ujian ini berbeda-beda di setiap Negara bagian, kota dan wilayah sekolah, tetapi kesemuanya memiliki persamaan tujuan pengujian skala besar. Di beberapa negara bagian di AS, elepas SMA, siswa harus mengambil tes ACT berupa tes pilihan ganda utnuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, Membaca dan IPA. Selain ACT, ada juga beberapa negara bagian di AS yang mempergunakan Ujian masuk perguruan tinggi dikenal sebagai SAT (semacam UMPTN) , ujian masuk program pasca sarjana disebut sebagai GRE. Adapula yang jenis ujian khusus untuk manajemen seperti GMAT atau jurusan hukum yaitu LSAT.
Banyak orang salah mengira bahwa ujian standar harus terdiri dari soal-soal yang memiliki jawaban yang telah ditentukan yang berbentuk pilihan ganda. Meskipun benar kenyataannya bahwa kebanyakan tes standar berbentuk pilihan ganda, namun pilihan ganda bukanlah karakteristik yang diprasyaratkan. Kenyataan format pilihan ganda memberikan “alat obyektif” bagi pembuat tes untuk menentukan benar atau salahnya jawaban siswa, sehingga format ini cenderung dipilih sebagai jenis tes untuk skala besar. Namun sebenenarnya ada juga jenis standar tes yang tidak berupa pilihan ganda seperti tes TSE dan TWE yang dibuat oleh ETS.
Keuntungan dan kelemahan tes standar
Setiap hal mengandung kelebihan dan kelemahan. Ujian Nasional layaknya seperti tes standar lainnya memberikan keuntungan antara lain :
1. produk yang telah siap sedia yang membebaskan guru dari menghabiskan waktu membuat tes
2. pelaksanaan tes kepada sejumlah besar siswa dapat diadakan dengan waktu yang terbatas
3. jika bentuk tes adalah pilihan ganda, prosedur scoring sangat praktis (menggunakan mesin scanner)
4. memberikan kepastian akan validitas hasilnya dapat didokumentasikan secara empirik, sehingga skor tes memiliki validitas dan keandalan yang relative, dan juga hasilnya umum dan serupa. Bandingkan sulitnya memberi gambaran umum dari hasil ujian dari materi yang berbeda, guru yang berbeda, dengan cara mengajar yang berbeda. Karena itu tes standar sangat berguna bagi penerimaan siswa baru di jenjang perguruan tinggi dan sekolah dapat membandingkan siswanya terhadap siswa lainnya di seluruh negara atau dunia.
5. Menggambarkan nilai keseluruhan (agregrasi)
Tes standar yang dirancang dengan baik memberikan gambaran bentuk penilaian terhadap kemampuan seseorang terhadap satu ranah pengetahuan atau keterampilan. Dibandingkan dengan penilaian individu yang tidak akurat untuk tujuan praktis, nilai tengah skor kelas, sekolah, cabang ataupun kelompok lainnya , tes standar merupakan informasi yang berharga dikarenakan minimalnya kesalahan yang dapat dihindari dengan cara menaikkan ukuran sample.
Sedangkan, kelemahan diadakannya tes standar adalah :
1. ketidaksesuaiannya jenis tes untuk mengukur kemampuan siswa setelah menyerap pelajaran
2. adanya salah paham antara tes langsung dan tidak langsung. Beberapa jenis tes standar yang baik memiliki korelasi yang tinggi antara kemampuan dan tujuan yang ingin dicapai, tapi korelasinya tidak cukup untuk menunjukkan tercapainya kriteria tujuan untuk semua pengambil tes.
3. Menurut pakar, tes standar tidak dapat mengukur insiatif, kreatifitas, imajinasi, pemikiran konseptual, upaya, ironi, penilaian, komitmen, nuansa, niat baik, refleksi etis, atau hal-hal positif lainnya. Yang diukur oleh tes standar adalah keterampilan tertentu, fakta dan fungsi spesifik, pengetahuan, yang merupakan hal yang paling tidak penting dalam aspek pembelajaran.
Di AS, orang yang mengambil perpanjangan SIM harus mengikuti tes tertulis berbentuk pilihan Sebagai bahan perbandingan, sistem pendidikan di Jepang dinyatakan lebih canggih ketimbang di Negara Paman Sam. Para siswa di Jepang secara konsisten mengalahkan kemampuan akademik siswa Amerika, terutama dalam pelajaran Matematika dan IPA. Menurut sumber yang dipercaya dan tahu benar mengenai system pendidikan di kedua negara tsb, rata-rata lulusan SMA di Jepang mempelajari lebih banyak hal dibanding rata-rata lulusan sekolah menengah atas di Amerika. Di jepang, 95 % kaum muda menyelesaikan tingkat SMA meskipun program wajib belajar hanya sampai tingkat SMP atau kelas 9.
Hal inilah yang merupakan salah satu faktor yang menempatkan negara Jepang sebagai pemain kuat di bidang ekonomi dunia. Negara Jepang menghasilkan dua kali lipat jumlah insinyur per kapita dibandingan AS. Tambahan lagi pekerja pabrik Jepang cenderung lebih trampil dan disiplin, lebih pandai matematika dan IPA dan mahir teknologi dibanding rata-rata pekerja pabrik AS. Bagaimana Jepang melakukannya? Salah satu pendorong bagi kehidupan bersekolah di Jepang adalah serangkaian ujian masuk mulai dari tingkat SMP. Tes-tes ini benar-benar menentukan masa depan siswa di JEpang. Dari tingkat TK sampai SMA, mayoritas kaum muda Jepang sekolah dengan satu tujuan : untuk lulus tes masuk yang akan menempatkan mereka.pada pekerjaan yang baik atau pemerintahan. Mengutip pendapat Diane Ravitch, tokoh pendidikan AS yang paham dengan system pendidikan Jepang mengatakan “ Siswa Jepang sukses menyekolahkan rakyatnya karena pemerintahnya menganggap pendidikan dengan serius”.
Setelah usai Perang Dunia ke -2, pihak swasta dan pemerintah Jepang mulai mengandalkan lulusan universitas untuk membangun kembali negaranya dari kejatuhan. Keluarga Jepang kemudian menyadari bahwa supaya dapat mengantarkan anak-anaknya ke jenjang yang tinngi dan pekerjaan yang gajinya tingi, mereka harus memasukan anaknya ke bangku kuliah terutama di univeristas yang peringkatnya tinggi. Sekarang ini kompetisi ujian masuk perguruan tinggi di Jepang sangatlah ketat. Lebih dari sejuta tamatan SMA setiap tahunnya bersaing dan hanya separuhnya yang dapat diterima di universitas.
Para orang tua memasukkan anaknya ke sekolah sedini mungkin. Hampir semua anak Jepang masuk TK pada usia 5 tahun. Setelah itu, 6 tahun sekolah dasar diarahkan untuk mempersiapkan anak-anak untuk ujian masuk SMP. Para orang tua di Jepang sangat menyadari bahwa SMP, SMA dan Universitas memiliki peringkat dari yang tertinggi sampai menengah. Dengan nilai yang tinggi pada tingkat SMP akan membantu anak tsb untuk dapat masuk ke SMA yang bergengsi. Hal ini dengan sendirinya akan meningkatkan kesempatan untuk berprestasi lebih baik pada ujian masuk perguruan tinggi. Mendapatkan SMA yang ranking tinggi menempatkan anak untuk menguasai semua kemampuan yang diperlukan untuk data masuk ke universitas yang bergengsi. Tujuan utama para ortu di Jepang adalah supaya anaknya mendapatkan universitas terpandang.Mengapa? Jika anak bisa masuk ke Universitas Tokyo, masa depannya terjamin. Perusahaan dan pemerintah Jepang biasanya mencari lulusan dari universitas terkemuka. Semuanya tergantung dari ujian masuk dan sekolah yang diambil.
Begitu seriusnya siswa di Jepang mensikapi ujian masuk SMP atau SMA atau Univ, mereka tidak berpacaran, menyetir mobil, atau bekerja paruh waktu. Sepulang sekolah anak-anak akan belajar dan belajar. Bahkan ada istilah “Tidur 4 jam sehari, kamu akan lulus. Tidur 5 jam, kamu tidak akan lulus ujian”. Para orang tua juga percaya bahwa sekolah tidak cukup mempersiapkan anak untuk ujuan masuk. Dengan demikian anak-anak ini dikirim untuk belajar di Bimbel yang disebut Juku. Sekitar 70 % anak-anak mengikutu Juku, dua atau tiga jam sepulang dari sekolah.Ada juga kursus untuk Univ Prep yang disebut Ronin. Para ibu-ibu Jepang terkenal sangat mendukung Bimbel ini dari mulai menyiapkan bekal, bertemu dengan para guru, sampai-sampai bekerja paruh waktu untuk membiayai Bimbel untuk anaknya, dan kadang para ibu tersebut duduk di kelas mendengarkan pelajaran saat anaknya sakit dan harus absent dari bimbel.
Di AS, ada sejenis tes yang diberikan kepada para siswa dinamakan NAEP (The National Assessment of Educational Progress) yang diselenggarakan oleh Pusat Statistik Pendidikan, unit dari Diknas AS. Tes ini merupakan ujian berkala yang mengukur kemajuan siswa yang mencakup mata pelajaran Matematika, Membaca, Menulis dan IPA. Pada tahun 2001 tes ditambah dengan Sejarah dan Bahasa Asing yang akan diterapkan pada tahun 2012. Hasil ujian ini diberikan dalam bentuk Kartu Rapor Nasional yang dipergunakan oleh para pembuat kebijakan, Kepala Sekolah, guru, dan orang tua.
NAEP tidak diberikan kepada semua siswa, namun hanya sample siswa di kelas 4, 8 dan 12 untuk ujian utama. Selain itu beberapa siswa sebagai sample pada usia 9,13 dan 17 untuk ujian jangka panjang. Pemilihan sampling diambil karena merupakan titik penting dalam pencapaian akademik. Hasil NAEP memberikan gambaran mengenai pencapaian mata pelajaran, pengalaman belajar, dan lingkungan sekolah untuk kelompok populasi tertentu (misalkan siswa kelas 4) dan berdasarkan kelompok-kelompok dalam pupulasi tersebut (sebagai contoh, siswa wanita, siswa Hispanik). Hasil NAEP tidak diberikan dalam bentuk skor individu atau skor sekolah, meskipun dimungkinkan untuk memberikan data untuk area tertentu yang dipilih. Ujian NAEP ini diberikan kepada semua siswa dengan buku tes dan prosedur yang sama diseluruh negara bagian setiap tahunnya.
Meskipun semua pakar pendidikan menyadari bahwa tes standar merupakan sekumpulan alat yang dipergunakan untuk menguji kemampuan siswa, para kritikus berpendapat bahwa penyalahgunaan dan penggunaan yang berlebihan berdampak negatif terhadap proses belajar dan mengajar.
Jika tes standar dijadikan faktor utama dalam pendidikan, kecenderungannya adalah tes tersebut dipergunakan untuk menentukan kurikulum dan fokus pengajaran. Akibatnya, materi yang diujikan tidak diajarkan, dan yang diajarkan dikelas adalah bagaimana mengerjakan tes. Hal ini menghambat pembelajaran yang membutuhkan nalar tingkat tinggi. Meskipun metode ini dapat dijadikan focus pembelajaran untuk hasil yang diinginkan seperti untuk mata pelajaran matematika dan membaca. Seorang ahli, Popham mengatakan bahwa skor tes standar menjadi alat bermasalah untuk keandalan sekolah karena dipengaruhi oleh 3 faktor: apa yang dipelajari anak di sekolah, apa yang dipelajari anak di luar sekolah, dan kecerdasan bawaan. Perkembangan tes terkini sudah diusulkan dengan mengendalikan secara statistik bakat bawaan dan faktor di luar sekolah.
Meskipun kita dapat mempergunakan tes standar dan tidak menjadikannya penghambat kurikulum dan pengajaran, hal ini dapat menyebabkan sekolah menghasilkan skor tes yang lebih rendah dan berdampak negatif secara politis. Di AS, skor tes yang rendah menyebabkan sekolah tersebut diberi predikat “kurang baik” dan dikucilkan. Jika tes dijadikan metode satu-satunya untuk menentukan keandalan, maka para orang tua dan masyarakat tidak mengetahui bagaimana prestasi anak-anak di sekolah yang tidak dites.
Para pendukung kebijakan tes standar mengatakan bahwa ini bukanlah alasan untuk meninggalkan tes, tapi hanya bentuk kritik terhadap tes yang tidak didesain dengan baik. Beberapa ahli menganggap bawa tes berfokus pada sumber-sumber pendidikan yang merupakan aspek penting dalam pendidikan – meninggalkan serangkaian pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan—dan bahwa aspek yang lain tidaklah kurang penting, atau perlu ditambahkan pada skema tes. Jika “pengetahuan dan keterampilan” mencakup kemampuan untuk menulis essay, sebagai contoh, maka kemampuan ini tidak dicakup dalam ranah tes.
Para kritikus menyatakan beberapa anak hasil tesnya kurang baik bukan karena faktor penguasaan materi, tetapi karena panik dan kurang mahir dalam pengelolaan waktu dan keterampilan mengerjakan tes. Hal ini menunjukkan bahwa tes semata tidak dapat mengukur pengetahuan siswa, namun hanya kemampuan siswa menerapkan pengetahuannya dalam situasi yang menegangkan. Kecemasan menghadapi tes terkait dengan penyakit jiwa dan berkaitan dengan kecemasan umum.
Dalam perkembangannya, Bimbingan Tes menjadi hal yang berbeda. Karena para siswa merasa tes standar semakin penting, maka mereka menyiapkan dirinya untuk tes dengan cara mengerjakan tes trial gratis, membeli buku-buku, sampai mencari guru pembimbing. Banyak orang tua yang bersedia merogoh koceknya untuk mengkursuskan anaknya di lembaga bimbingan tes yang dalam hal ini orang tua yang berkemampuan ekonomi lebih baik lebih diuntungkan dibanding mereka yang berada di posisi ekonomi rata-rata. Meskipun ada juga pendapat yang mengatakan bimbingan tes hanya membawa efek kecil pada peningkatan tes.
Di AS, kerancuan tes terjadi dikarenakan tes standar dianggap mengutamakan satu kelompok dibanding yang lainnya. Para kritikus percaya bahwa seringkali pembuat tes kebanyakan berasal dari kelas menengah danberkulit putih sehingga tes standar mengandung nilai, kebiasaan dan bahasa para pembuat tes. Namun demikian, ada fakta mengejutkan bahwa ternyata kelompok yang mendapatkan hasil tertinggi bukanlah mereka yang berasal dari kelompok ekonomi menengah, namun orang-orang Asia pendatang.
Pada kenyataannya, tidak semua jenis tes didesain dengan baik, sebagai contoh, ada tes pilihan ganda yang mengandung jawaban ambigu atau tidak mencakup kurikulum yang ditetapkan. Beberapa tes standar dalam bentuk essai dan dikritik karena tingkat efektifitas dalam pemberian skor. Sekarang ini, dikembangkanlah tes dalam bentuk essai yang dinilai oleh komputer.
Bagaimanapun buruknya perwajahan Ujian Nasional, sebagaimana tes standar yang diberlakukan di Negara manapun bersifat wajib, mandatory, utama untuk kelulusan atau masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Kegunaan lainnya adalah untuk perbandingan (apakah siswa dianggap “cepat” atau “lambat” dalam menguasai pelajaran) dan juga untuk penentuan pemberian beasiswa.
Begitu besarnya ketergantungan akademis pada tes standar sebagai alat penentu dalam pembuatan keputusan menjadikan tes standar isu yang kontroversial. Seringkali para kritikus mengusulkan nilai kumulatif atau pengukuran yang tidak bersifat angka (deskripsi kemampuan siswa) dari guru. Dalam hal ini pendukung aliran penerapan tes standar berargumentasi bahwa tes standar memberikan standar yang obyektif dan pasti serta meminimalkan kemungkinan untuk pengaruh politik atau subjektifitas. Barangkali jalan tengahnya adalah penentuan keputusan akademik tidak didasarkan pada angka hasil tes semata, namun juga menyertakan kritera lain seperti rapor, pelajaran yang diprasyaratkan, kehadiran, dll. Pemakaian tes standar semata biasanya digunakan dikarenakan faktor yang lain sulit diukur.
Apapun praduga terhadap penyelenggaraan Ujian Nasional, mari kita jernihkan kepala kita dengan menempatkan tujuan utama diselenggarakannya ujian berstandar nasional. Untuk menuju idealisme diperlukan waktu dan pengalaman, juga kesempatan. Alih-alih menuduh pemerintah bertendensi mengambil keuntungan dari dana penyelenggaraan Ujian Nasional, marilah kita turut berbenah dan mendukung sistem pendidikan yang lebih baik.
Sepanjang ada korelasi positif yang termonitor antara tujuan yang tertera di kurikulum (dalam hal ini KTSP); materi ajar; metode pembelajaran; jenis asesmen sbelum ujian akhir; dan ujian akhir atau UAN itu sendiri, maka saya yakin kita akan percaya bahwa hasil UAN validitasnya dapat dipertanggung jawabkan.
sangat setuju bu.
kata kuncinya adalah ‘termonitor’. selama pihak terkait dapat terus menerus memperbaiki sistem yang (selama ini sering dianggap) memadai maka ujian nasional dapat menjalankan fungsinya sebagai assessment tidak hanya untuk siswa (micro-education subject) tetapi untuk sistem pendidikan secara menyeluruh.
Izinkanlah saya berkomentar.
• Sekompleks apapun Indonesia, antara lain karena faktor geografis dan kesenjangan, pemetaan kualitas sekolah dan pendikan yang merujuk ke sebuah standar tetap perlu. Mungkin “jalan tengah” dalam menentukan kelulusan yang meminimalkan kepentingan politis (antara lain pemda) adalah sebuah pilihan. Bagaimana bentuknya saya tidak tahu.
• Mungkin OOT: Haruskah semua orang masuk universitas dan menjadi sarjana? Sebagai konsep ini ada. Tapi sebagai praktik, apalagi dengan keragaman kondisi sekolah kejuruan dan (ini yang utama) tuntutan masyarakat, ini memunculkan katakanlah kecanggungan. Ujung-ujungnya merembet ke ujian sekolah juga, dengan segala eksesnya.