Penutur Asli vs Penutur Non-Asli

Saya percaya teman-teman pengajar bahasa Inggris sering menelan ludah pahit jika harus mengajar dalam  satu tim dengan penutur asli.  Bahan yang diajar sama, pesertanya sama, tapi kenapa honor dibedakan? Kalau sekedar berambut pirang dan berkulit Kaukasian, memang kami tidak bisa merubah sel  genetis, tapi kalau urusan kompetensi ?

Mungkin anda juga tahu ada sekelompok orang (semoga anda bukan salah satu diantara mereka yang mengatakan) bahwa baru mau kursus atau belajar bahasa asing jika yang mengajarnya adalah penutur asli.  Atau bersedia ikut seminar pengajaran bahasa asing kalau yang membawakannya penutur asli.

Dalam edisi jumat, Jakarta Globe,  October 29 halaman 7, seorang mahasiswi program PHd , UW Madison, Amerika Serikat menyatakan seorang penutur asli bahasa Inggris dapat memberikan input bahasa yang diharapkan hanya JIKA mereka memiliki kemampuan pedagogy.  Di sisi lain,  para pengajar bahasa asing non penutur asli aka orang Indonesia mengajar bahasa asing di Indonesia dituntut memiliki ijazah formal pengajaran bahasa Inggris atau setara dengen TEFL, TESOL atau CELTA. Yang terjadi seringkali di Indonesia, penutur asli hanya bermodalkan selembar kertas sertifikat  berdasarkan tes teori pengajaran yang diberikan secara on-line. Menyedihkan.

Memang pakem bahwa penutur asli bisa mengajarkan bahasa yang alami, yang memang dipakai oleh orang yang berbahasa tersebut, dan bukan  bahasa textbook yang salah konteks. Memang, lafal pengucapan sang penutur asli pun pasti lebih dipercaya, meskipun bisa saja tetap ada unsur dialek lokal darimana si penutur asli berasal.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih penutur asli :

  1. Penguasaan metode pengajaran (pedagogy)

Jika penutur asli tidak menguasai metode pengajaran (pedagogy) bahasa, proses pembelajaran malah akan membahayakan proses pemerolehan bahasa bagi anak-anak.  Karena apa yang mereka pelajari akan menjadi dasar apa yang mereka pelajari seumur hidupnya. Bahayanya ada 2 : anak-anak tidak “mendapat apa-apa” atau belajar bahasa dengan cara yang salah. Ada, misalkan pengajar penutur asli yang hanya memberikan permainan di kelas tanpa ada learning point atau tidak komunikatif. Atau anak-anak belajar kata-kata yang tidak senonoh atau tidak sopan atau tidak sesuai dari gurunya yang penutur asli itu.

2.  Penguasaan tata bahasa yang sesuai dengan kaidahnya.

Jangan sangka para penutur asli mengetahui kaidah tata bahasa, meskipun itu bahasa mereka. Predikat penutur asli tidak menjamin kemampuan atau pengetahuan tata bahasa dan kaidahnya. Penulis menemukan beberapa kejadian bahkan penutur asli itu mencari referensi dari buku “Grammar for Dummies” yang pastinya tidaklah cukup untuk mengajarkan kepada orang yang belajar bahasa.

3. Proses seleksi dan rekruitmen

Sebaiknya ada proses seleksi dan rekruitmen yang memastikan kompetensi yang memadai. Penulis mengambil contoh, jika seorang penutur non asli (Non-native speaker) pengajar bahasa inggris ingin menjadi asisten mengajar di Universitas di Amerika, maka harus melalui prasyaratan minimal gelar kesarjanaan atau master dalam bidang pengajaran Bahasa Inggris, dan magang selama 2 tahun ditambah nilai TOEFL minimal 550.

Di Indonesia memang ada beberapa institusi yang memberikan prasyarat nilai TOEFL dan paling tidak internal training dan praktek mengajar sekian kali bagi para orang Indonesia yang akan mengajar bahasa Inggris. Sebaiknya ada juga prasyarat yang diberlakukan kepada para penutur asli, yang dapat dipertanggungjawabkan demi jaminan kualitas hasil belajar peserta didik.

Pada intinya baik penutur asli maupun penutur asing yang mengajar bahasa Inggris perlu memiliki kemampuan berbahasa dan pedagogy.  Meskipun demikian,  menurut saya ada banyak kelebihan pengajar yang bukan penutur asli  antara lain: area kesulitan pembelajaran bahasa asing bagi orang Indonesia sehingga empatinya lebih baik,  sikap yang memberi teladan dalam pengajaran bahasa asing : bahwasanya boleh saja  mahir berbahasa asing, tapi  bahasa nasional tetap bahasa Indonesia, dan  bertindak tanduk lokal serta bangga menjadi bangsa Indonesia.  Jangan ragu untuk bersejajar  dengan penutur asli.



0 Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Beri Komentar