Membentuk konsep diri anak (1)

Menurut penelitian Jack Canfield dan Harold Wells, anak-anak yang punya masalah akademis biasanya memiliki konsep diri yang buruk (Saya tidak bisa, karena saya bodoh). Prestasi akademis berhubungan dengan konsep diri anak, sehingga upaya untuk mengajar anak akan sulit dilakukan tanpa pembinaan konsep diri.

Anak yang memiiki konsep diri yang baik biasanya belajar dengan mudah karena senang menerima tantangan untuk melakukan sesuatu yang baru dan memperoleh keterampilan yang baru. Sikap mental “aku bisa”, membuat pembelajaran menjadi lebih mudah. Lingkungan yang mendukung, yang dapat mengakomodasi kebutuhan emosinya, yang penuh cinta dan kehangatan, merupakan hal yang diperlukan seorang anak untuk dapat mengembangkan kemampuan akademisnya dan mengembangkan emosinya .

Sebagai orang tua atau guru, kita harus punya komitmen untuk membantu anak merasa nyaman dengan dirinya. Jika anak merasa bahwa anda percaya akan kemampuannya untuk menjadi sukses, dan ia juga percaya, tidak akan terbayangkan apa yang bisa dicapai olehnya!

Pentingnya merasa dicintai
Bagaimana anda mengekespresikan rasa cinta anda kepada anak sangat menentukan bagaimana anak memandang dirinya. Untuk bisa merasa dicintai dan dihargai, anak harus dapat merasakan cinta orang tua. Sebagai orang tua, Anda harus berupaya menunjukkan rasa cinta anda lebih dari sekedar pelukan dan kata-kata “Ibu/Ayah saying kamu”.

Bagaimana cara menunjukkannya? Saat kita bersama anak, anak harus merasa bahwa kita hadir untuknya secara mental dan fisik. Saat anda meluangkan waktu15 menit untuk membacakan cerita, upayakan dalam 15 menit itu anda tidak meyambinya dengan memikirkan cucian piring, pekerjaan di kantor, tagihan yang harus dibayar, dll. Pastikan anda menghabiskan 15 menit itu untuk mendengarkan, dan memperhatikan anak. Tunjukkan pada anak, bahwa anda menikmati waktu bersamanya. Jika anda memilih untuk mencuci mobil bersama anak, dibandingkan menonton TV atau sibuk dengan facebook anda, anda menunjukkan bahwa dirinya berarti dan anda senang berada di dekatnya.

Jika anda menjemput anak dari sekolah, atau anda sampai di rumah, tunjukkan bahwa anda senang bertemu dengannya. Jadikan kedatangan anda di rumah sebagai hadiah terbesar, bukan oleh-oleh atau benda yang anda bawa. Hal ini menunjukkan kepada anak bahwa anda merindukannya dan ia berarti bagi anda.

Mencintai anak juga berarti kita menghormati anak sebagai individu. Perlakukan anak anda dengan cara yang sama anda memperlakukan orang lain. Ucapkan, “ tolong” dan “terimakasih”, ketuklah pintu sebelum masuk ke kamarnya, jika anda ingin menegur atau menasihati tunggulah sampai teman atau saudara kandungnya tidak di dekatnya. Pertimbangkanlah perasaannya sama seperti anda lakukan kepada orang yang anda hormati.

Yang terakhir, sisakan cinta untuk diri anda sendiri. Jangan berharap menjadi orang tua atau guru yang sempurna. Tidak ada orang yang sempurna. Kita tidak mungkin cinta setengah mati terus menerus selama 24 jam kepada anak. Kadang kita frustasi menghadapi anak, mengucapkan kata-kata yang nantinya kita sesali, kecewa dengan diri kita karena tidak bisa mengendalikan marah dan emosi kita. Ambillah ruang gerak bagi diri kita untuk dapat menjelaskan kepada anak apa yang membuat anda marah, dan bahwa kadang anda perlu melepaskan emosi sama sepertinya, dan bahwa meskipun demikian anda tetap mencintainya.

Ekpektasi Anda
Anda juga perlu memperhatikan derajat ekspekstasi anda. Jika ekspektasi anda terlalu rendah, akan berakibat anak merasa tak berdaya dan tak mungkin berhasil karena anak merasa anda tak percaya ia akan berhasil. Sama bahayanya jika anda berharap terlalu tinggi, kegagalan yang berulang membuat anak tak percaya diri.

Ada beberapa factor yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengembangkan kemampuan menyesuaikan derajat ekspektasi anda.
Pertama, pertimbangkanlah tingkat perkembangan anak. Anda memang ingin memberikan tantangan, tapi upayakan tantangan itu tidak melebihi kemampuannya.Misalkan, anak usia 2 tahun tidak mungkin diharapkan untuk duduk diam manis selama 2 jam di rumah nenek/kakeknya.

Kedua, amati anak dan perhatikan apa yang disukai dan dibencinya, sikapnya di beberapa situasi yang berbeda. Sebelum anda berharap , perhatikan terlebih dahulu keadaan anak anda dan cari tahu bagaimana mengatasinya.

Ketiga, fleksibellah. Jika anda berharap anak melakukan sesuatu, tapi anak tidak dapat memenuhinya, turunkanlah derajat ekspektasi anda. Jika anak tidak siap bersepeda roda dua, pasangkanlah lagi roda tambahannya di sepeda.

Biarkan anak-anak bersikap kekanak-kanakan
Dalam bukunya yang berjudul The Hurried Child, David Elkind, menyebutkan adanya akibat-akibat negatif dikarenakan pengkarbitan anak-anak: mempercepat anak menjadi dewasa : meningkatnya sakit kepala, sakit perut pada anak-anak yang ada kaitannya dengan stress, meningkatnya tingkat bunuh diri, tingginya jumlah aliran kepercayaan yang sesat, meningkatnya kejahatan dan ekperimen seksual dini (dan juga penyakit menular seksual pada remaja).

Menurut Elkind, hal ini disebabkan antara lain karena : orang tua di masa sekarang mengalamai stress yang lebih tinggi dibandingkan orang tua di masa 20 tahun yang lalu, lebih banyaknya tingkat perpisahan dan perceraian, meningkatnya kejahatan yang mengakibatkan meningkatnya rasa takut, dan tingginya rasa khawatir yang disebabkan ancaman teknologi dan inflasi.

Elkind juga menyebutkan tingkat stress anak-anak sekarang lebih tinggi karena sekolah, dan pengaruh televisi masa kini. Sebaiknya kita ingat, bahwa anak tidak berpikir, belajar, atau merasa seperti orang dewasa. Kita perlu waspada seberapa banyak menuntut dari anak dan memastikan tuntutan kita sesuai dengan usianya. Sungguh tidak adil jika kita menuntut anak berlaku seperti orang dewasa.

Anak tidak dapat membuat keputusan seperti layaknya orang dewasa. Tugas kitalah sebagai orang tua/ orang dewasa untuk menetapkan batasan, mengingatkan anak mana yang pantas dan mana yang tidak, kapan saatnya anak perlu bersikap lebih matang dan kapan ia diizinkan untuk berlaku kekanak-kanakan. Kita perlu mengingatkan anak bahwa mereka tetaplah anak-anak, dan mengizinkan mereka bertingkah seperti ya…anak-anak!

Tidak membanding-bandingkan

Anak perlu merasa sebagai individu yang utuh, orang yang istimewa, jadi janganlah membanding-bandingkan! Banyak orang tua menganggap bahwa mereka memperlakukan anak-anaknya dengan cara yang sama, padahal anak-anak ingin diperlakukan berbeda, sebagai individu yang unik.

Meskipun sebagai orang tua anda ingin anak berprestasi di semua bidang, kenyataannya tidak mungkin anak menonjol dalam matematika dan juga membaca. Ada yang berprestasi dalam bidang akademis, ada yang di bidang olah raga. Yang penting adalah beri semangat dan Bantu anak untuk memperbaiki prestasi di bidang yang kurang dikuasainya, tapi jangan lupa memberitahu betapa bangganya anda akan prestasinya yang lain.

Sebelum tidur, berilah waktu dan rutinitas malam bagi masing-masing anak. Bacakanlah cerita yang berbeda bagi setiap anak, berilah waktu khusus berdua dengan anda bagi masing-masing anak. Biarkan anak yang lebih tua tidur lebih lambat, biarpun hanya 15 menit. Berikan perhatian yang khusus bagi setiap anak, agar masing-masing merasa istimewa.

Sanjaya Ken



3 Komentar

  1. sandra says:

    terima kasih atas pengetahuannya, saya sebagai guru BK, tulisan ini sangat bermanfaat sekali.

  2. mariskova says:

    Sama-sama Mbak Sandra :) Mungkin Mbak Sandra mau menulis artikel juga?

  3. patzee says:

    tx 4 enrich me…

Beri Komentar