Membentuk konsep diri anak (2)

Kesalahan – bagian dari pembelajaran

Selama proses pembelajaran berlangsung, anak pasti akan melakukan kesalahan. Peran orang tua/guru disini adalah mendiskusikan kesalahan, tujuan yang tidak tercapai, dan perbuatan yang tidak baik. Kita pun kadang gagal memberikan jawaban, mengatakan hal yang tepat, gagal memenangkan pertandingan bola, atau tidak bisa menulis kalimat yang jelas.

Jelaskanlah kepada anak bahwa kesalahan sebenarnya membantu pembelajaran. Kita belajar berdasarkan umpan balik yang diberikan kepada kita. Jika umpan baliknya mengatakan kita melakukan sesuatu yang tidak benar, hasilnya adalah tergantung dari apa yang akan kita lakukan yaitu mengkoreksi kesalahan.Hal yang terpenting adalah anda ingin anak tidak mudah putus asa, berusaha lagi, mencoba lagi, melakukan pendekatan yang berbeda yang sesuai bagi anak agar dapat mencapai tujuannya. Intinya, fleksibilitas adalah alat pembelajaran yang diperlukan.

Perlu ditekankan kepada anak bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Jika kita tidak pernah berbuat kesalahan, karena hal yang dikerjakan sifatnya terlalu mudah dan bukan hal yang baru, hal itu berarti kita membuang-buang waktu. Anak perlu berbuat kesalahan sesekali (bukan sering) merupakan yang penting untuk proses pembelajaran, sehingga anak dapat merasakan apa rasanya kehilangan kesempatan, dan bagaimana harus mencoba lagi, dan lagi. Kemungkinan untuk berbuat kesalahan adalah sesuatu yang akan selalu kita hadapi, dan akan menjadi sesuatu yang tak terlalu menyakitkan atau mengecewakan jika anak pernah mengalami sebelumnya.

Tentunya anda ingin anak mau mencoba melakukan sesuatu yang baru. Bantulah anak untuk mengerti bahwa dengan mengalami kegagalanlah ia dapat kesempatan untuk sukses, meraih sesuatu dan belajar hal yang baru.

Pada saat melakukan yang terbaik, anda perlu menunjukkan bahwa tidak ada orang yang sempurna. Kita sebagai orang tua atau guru tidak perlu bersikap seolah-olah orang dewasa selalu gagal. Doronglah rasa ingin tahu, rasa ingin mencoba, dan mengambil resiko. Anak-anak belajar banyak hal dengan melihat bahwa orang tuanya/ gurunya memiliki ketidaksempurnaan , mengakui kesalahan dan berupaya memperbaikinya.

Bersikaplah positif!

Kita dapat memberi kejutan istimewa, melakukan atau mengucapkan sesuatu untuk memberi semangat. Kejutan istimewa bentuknya dapat bermacam-macam, dari sekedar makanan kecil sampai pesta kejutan. Ucapan yang positif juga sangat membantu anak membentuk percaya dirinya. Misalkan dalam pertandingan bola, penonton bisa meneriaki para pemain seperti“ tendangan maut!” , “hebat!”. Sebagai orang dewasa kita dapat memberi contoh sikap positif ini agar anak-anak nantinya dapat menjadi otomatis positif.

Mengingat pengalaman masa kecil

Kebanyakan orang dewasa tidak mengingat pengalaman masa kecilnya : apa yang membuat senang dan khawatir, merasa terkucil, dan takut. Sebenarnya, saat anak merasa khawatir, kita dapat membantu anak dengan cara membayangkan diri kita berada di posisi anak atau berempati.

Anak yang terluka perasaannya tidak akan merasa lebih baik dengan bujukan atau dengan ucapan “ tidak apa-apa”. Tugas orang dewasa adalah mendukung dan memberi penjelasan. Dengarkan anak dengan penuh empati (gunakan hati, bukan kepala). Lebih baik anda katakan:
“Kelihatannya kamu marah sekali waktu temanmu mengejek”
Dengan begitu anda memberikan kesan anda memahami perasaannya, dan tidak menghakiminya. Anak dapat mengungkapkan kemarahannya tanpa khawatir ditolak atau diceramahi jika anak pecaya bahwa anda akan menerima perasaannya.

Setelah itu, tanyakan padanya apakah ia mau dipeluk dan sekaligus bicarakanlah kenapa temannya berprilaku seperti itu dan tanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk mengatasinya nanti jika hal yang sama terjadi lagi.

Berhati-hatilah dalam berkomentar, misalkan jika anak berusaha meraih mainan di atas lemari tapi tangannya tak sampai, ucapkan:
“lemarinya tinggi sekali ya. Mari, ibu/ayah Bantu mengambilnya.”
Janganlah sekali-sekali berkomentar , “ Kamu pendek badannya, tidak akan sampai”.

Peran buku cerita

Setiap anak mengalami berbagai macam perasaan dan situasi dan juga pertanyaan. Melalui buku cerita, anda dapat mengeksplorasi emosi dan bagaimana menghadapinya. Anak lebih bisa memahami dirinya, dan memahami anak-anak lain melalui cerita yang menggambarkan masalah, kekhawatiran dan konflik yang serupa. Keunggulan buku cerita adalah pada saat kita mendiskusikan satu tokoh dalam cerita, kita dapat meninjau suatu masalah tanpa menuding, menghakimi atau menggurui karena anak tidak merasa dirinya sebagai pelaku.

Tugas anda sebagai pendidik adalah mengenali emosi anak dan mencarikan penyaluran emosi yang sesuai dan dapat diterima. Maka dari itu, bacakanlah cerita sebelum anak tidur karena pada saat itulah kesempatan emas untuk mendiskusikan berbagai topic, perasaan, dan banyak hal. Kita sendiri sebagai orang dewasa dapat memahami dunia anak dan mengingat seperti apa menjadi anak-anak melalui buku cerita.

Berikut ini buku-buku yang dapat anda pergunakan untuk anak-anak balita dan SD berdasarkan tema yang diperlukan.

PERPISAHAN

Dear Phoebe, Sue Alexander
You go away, Dorothy Corey
Mama Pergi Kerja Dulu, Ya , Nur Ayati (Elex Media )

PERSAUDARAAN

Amy and the new baby, Myra Berry Down
The room is mine, Betty Wright

PERCERAIAN

Where is Daddy? The story of a divorce, Beth Goff
Divoce is a grown-up problem, Janet Sinberg

CACAT

Howie helps himself, Joan Fassler
I have a sister, my sister is deaf, Jean Whitehouse

KEMATIAN

My grandpa died today, Joan Fassler
The tenth good thing about Barney , Judith Viorst

ADOPSI

Abby , Jeannette Caines
I am adopted, Susan Lapsley

Kegiatan untuk membangun konsep diri yang positif

1. Di malam hari, pada saat makan atau di tempat tidur, mintalah anak bercerita tentang kesuksesannya hari itu. Anda mungkin dapat membantu dengan menunjukkan apa yang dicapainya dan membantunya melihat apa yang perlu dicapai, dipelajari dan dicapai.

2. Carilah tempat yang tenang untuk bermain melengkapi kalimat. Berilah waktu bagi anak untuk menceritakan pikiran dan perasaannya dengan melengkapi kalimat berikut :
- Jika saya boleh mengajukan permohonan kepada Tuhan, saya ingin….
- Saya senang sekali sewaktu…
- Saya marah pada saat ….
- Orang menganggap saya ini…..
- Saya tidak suka orang yang …..
- Hal yang saya kuasai adalah ……….
- Hal yang sedang saya pelajari dan akan kuasai adalah….
- Saya tidak suka orang menolong saya untuk ……

3. Berdiskusilah tentang ucapan yang membuat hati anak senang
Misalkan : “ Saya tahu kau sudah berusaha keras untuk itu”
“ Upaya yang bagus! Lain kali kau pasti berhasil!
“ Terimakasih atas pertolonganmu!”

Diskusikan ucapan yang membuat hati anak kecewa
Misalkan : “ Tidak bisa ya?”, “Sulit ya menulis sambung”

Jangan sekali-sekali mengatakan :
“ Ya ampun, payah sekali kamu itu”
“ Masak begitu saja tidak bisa?”

Setelah itu berilah waktu khusus untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hati anak senang.

4. Buatlah poster penggugah semangat.
Gambarlah poster untuk siapa saja di dalam keluarga yang berbuat sesuatu yang baik dan tulislah namanya. (jika anak belum bisa menulis, mintalah kepada anak yang usianya lebih tua).
Contohnya : Saya melihat Ani membantu ibu menyapu kamar tidur.
Tertanda, Budi.



2 Komentar

  1. Daff says:

    Mulai usia brapa anak anak bisa diajak diskusi ttg kesalahan itu bagian dari pembelajaran?

  2. Ken Sanjaya says:

    sejak balita. disesuaikan aja cara penyampaiannya

Beri Komentar