Media Sosial & Guru Profesional

Tulisan ini dipicu oleh pembahasan @bincangedukasi (digagas oleh Bincang Edukasi) bertagar #twitedu bertema media sosial hari Minggu, 6 Januari 2013 sore. Salah satu pertanyaan yang mencuat adalah apakah guru sebaiknya berinteraksi melalui media sosial dengan siswa atau justru hindari semaksimal mungkin? Silakan punya pendapat berbeda dengan saya.

Media Sosial

Untuk memulai dengan bekal yang sama, saya kutipkan definisi media sosial dari Wikipedia,

“Means of interactions among people in which they create, share, exchange and comment contents among themselves in virtual communities and networks. [dari Ahlqvist, Toni; Bäck, A., Halonen, M., Heinonen, S (2008). "Social media roadmaps exploring the futures triggered by social media". VTT Tiedotteita - Valtion Teknillinen Tutkimuskeskus (2454): 13.]“

“Menciptakan, berbagi, bertukar dan berkomentar tentang konten antar pengguna komunitas dan jejaring maya.” Dari definisi ini, media sosial tidak dibatasi pada Facebook, tapi mulai dari forum, blog, YouTube, Twitter, sampai Wikia. Dari pengguna, untuk pengguna, bagi pengguna.

User-generated content: mulai populer sejak tahun 2005, konten web didominasi oleh materi yang diunggah/diisi langsung oleh pengguna. Contoh paling sederhananya adalah blog dan forum, yang populer tentunya YouTube. Tak ada yang membatasi siapa membuat website dan akan diisi apa. Selama ada akses ke internet dan kita punya sesuatu untuk dikatakan (atau media visual seperti foto dan video), kita bisa membuat konten. Semudah itu. Keuntungan sekaligus kerugian.

Guru Profesional

Menurut KBBI daring, guru memiliki definisi:

“Orang yg pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.”

profesional:

1 bersangkutan dng profesi; 2 memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya; 3 mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan amatir)”

sedangkan profesionalisme adalah:

“Mutu, kualitas, dan tindak tanduk yg merupakan ciri suatu profesi atau orang yg profesional.”

Tidak menyalahi definisi kata-kata jika dikatakan bahwa guru tidak dianjurkan berinteraksi dengan siswa melalui media sosial berdasarkan kekhawatiran ‘guru menjadi tidak/kurang profesional’. Di antara sebabnya adalah:

1. Sukarela dan tidak dibayar

Berinteraksi dengan jalan ini memang ‘tidak dibayar’. Sukarela tanpa paksaan dan penugasan (kecuali jika pada rincian tugas dan fungsi pokok guru di masa datang dinyatakan secara tertulis dalam undang-undang bahwa guru wajib berinteraksi melayani siswa melalui media sosial).

Interaksi antara guru dengan siswa melalui ranah media sosial ada yang merupakan bagian dari tugas guru, ada pula yang masih disandarkan pada pemahaman masing-masing guru sampai seberapa jauh ‘IT’ akan diterapkan. Jika media sosial dimaksud masih merupakan perpanjangan fungsi kelas, maka guru semestinya mau belajar dan menguasainya. Misalnya penggunaan blog, forum atau CMS (content management system) lain sebagai sarana e-learning (pengajaran berbasis elektronik, sering tertukar dengan distant learning). Karena jika masuk dalam penugasan, maka masuk dalam cakupan ‘dibayar’.

Namun media sosial yang sifatnya lebih pada berbagi konten pribadi (misalnya foto, update status Facebook, atau berinteraksi melalui Twitter) merupakan daerah yang sebagian besar guru enggan datangi, apalagi untuk berinteraksi dengan siswa. Untuk perpanjangan fungsi kelas saja masih minim yang berpartisipasi jika tidak ‘dipaksa’ melalui pelatihan atau penugasan dari sekolah. Apalagi yang sukarela -terlebih lagi tak berbayar berupa tambahan pendapatan. Seringnya justru pengeluaran bertambah untuk bayar penyedia layanan internet dan akan ada waktu tersita untuk memelihara relasi di jalur ini.

Sudah ‘tidak profesional’, nombok pula. Bukan prioritas yang menyenangkan.

2. Berteman dengan siswa mengacaukan peran guru

Interaksi yang rapat dengan siswa dapat mengacaukan peran guru. Bahkan ada anjuran untuk tidak berteman dengan siswa melalui media sosial untuk pencegahan memudarnya batas dan timbulnya konflik antara guru-siswa akibat interaksi online. Saya cenderung pada sikap pertengahan: guru bisa tetap berinteraksi rapat dengan siswa tanpa mengacaukan perannya asalkan ia tetap sadar dan menjaga tindakannya untuk tidak melampaui batas hubungan.

Ini bukan pada media sosialnya, tapi pada kepiawaian gurunya. Sampai mana ia masih sanggup menjaga peran sebagai guru dan tidak berubah menjadi teman?

Sebagian guru, karena keinginannya untuk dapat diterima, disenangi dan mengerti siswanya, bergaul rapat dengan siswanya. Berusaha mengerti yang sedang tren, mencoba kegiatan yang sedang disenangi siswa, mengetahui hal/hubungan pribadi antar siswanya, bahkan bicara dengan bahasa mereka.

Bagi saya berjalan di titian tipis ini bukan hal yang mudah namun bukan pula mustahil. Karena sulit dan agak berbahaya karena merisikokan profesi, maka jalan keluar paling aman memang jauhi saja pagar pembatasnya. Namun dorongan untuk diterima dan disenangi siswa ini terkadang begitu besar, sehingga menurunkan kepercayaan diri guru, seolah jika tidak dapat membuat senang hati siswanya maka ia bukan guru yang baik.

Bagaimana menjadi guru yang memiliki hubungan yang hangat dengan siswa? Satu hal: tetaplah menjadi guru. Tetap menjadi panutan bagi hal-hal prinsip dalam hidup. Hal kedua: libatkan kesungguhan. Jika tidak benar-benar mengerti dan menikmati, katakan saja. Jika memaksakan diri dan hanya meniru, akan tampak ‘sok asyik’. Dampaknya belum tentu positif juga bagi hubungan guru-siswa.

3. Media sosial membuat hubungan guru-siswa lebih peka konflik

Menurut saya, interaksi offline (tidak melalui perantara perangkat atau bantuan internet) pun dapat memicu konflik, hanya kedua pihak sama-sama kekurangan akses terhadap pihak lain sehingga tidak tahu bahwa konflik itu ada. Beberapa waktu lalu seorang siswa menceritakan keterkejutannya bahwa ‘ternyata guru suka membicarakan murid juga, ya!’. Saya jawab dengan santai saja, “Ya seperti kamu juga suka membicarakan guru.” Anak ini tertawa membenarkan.

Siswa kalau kesal akan bercerita pada siswa lainnya. Guru jika dongkol akan bercerita pada guru lainnya. Selama tidak ada akses dan informasi silang (ada siswa lain yang bercerita pada guru atau ada guru yang curhat ke siswa), ya masing-masing kemungkinan besar tidak sadar konflik. Ada, hanya tidak terlihat. Ini bisa membesar, bisa pula terkubur, termaafkan lalu terlupakan dengan sendirinya.

Akses terhadap sumber konflik

Dengan adanya media sosial, akses dan informasi silang antar pihak akan membuat konflik lebih nyata terlihat. Lebih terdengar. Bisa jadi membesar dengan lebih cepat, sering pula terselesaikan dengan cepat karena konflik yang dikenali dapat segera ditangani.

Apakah media sosial berpotensi menjadi masalah baru? Menurut saya tidak. Media sosial bisa memperbesar dampak, kemungkinan maupun ukuran konflik. Bisa, tidak lantas pasti. Dan seringkali, ketika suatu masalah diangkat di media sosial, seolah seluruh ‘dunia’ ramai menanggapi. Padahal yang kita lihat adalah tanggapan dari orang-orang yang kita pilih untuk kita baca/ikuti. Masih jauh lebih banyak manusia di dunia yang tak tertangkap pendapatnya oleh kita. Jangankan punya pendapat yang sama, tahu saja tidak, dan bahkan mungkin tidak peduli. Ada sambungan internet saja tidak.

Media sosial seperti halnya segala sesuatu yang lain. Dapat lebih mudah terlihat positifnya, dapat pula lebih mudah terlihat negatifnya. Perkenalan yang dimulai dengan larangan justru mengundang untuk dicoba. Jika dikenalkan manfaat dan cara untuk mengolah media sosial menjadi hasil yang baik, mengapa tidak?

Yang tidak terbantah ya bagaimana guru itu membawa diri dan lihai beradaptasi untuk kemajuan diri dan profesinya.

-Lita Mariana

 


4 Komentar

  1. AT0 says:

    Berinteraksi dengan dengan dalam konteks pembelajaran sangat diperlukan tetapi tidak boleh lebih dari itu.karena berinteraksi secara berlebuhan tanpa batasan antara guru dan siswa, membuat guru tidak ada wibawa ini akan berakibat guru tidak dihargai oleh siswa.

  2. mariskova says:

    Terima kasih Pak (Bu?) Ato atas komentarnya. Mungkin Bapak/Ibu bisa memberikan contoh interaksi tanpa batasan antara guru dan siswa?

  3. Ronaldi says:

    Beberapa hal menarik yang perlu saya sampaikan disini sebagai praktisi pendidikan yang memanfaatkan media sosial sebagai media pembelajaran.

    dalam point 1 artikel ini ibu menuliskan
    “sukarela dan tidak di bayar. Kecuali jika pada rincian tugas dan fungsi pokok guru di masa mendatang di nyatakan secara tertulis dalam undang undang bahwa guru wajib berinteraksi melayani siswa melalui media sosial.”

    Kalau semua guru terutama guru di sekolah sekolah negeri selalu berfikiran, “ah rajin rajin amat ngurusin tugas murid di media sosial? di bayar juga tidak? Maka secara tidak langsung guru tersebut sudah mengajarkan komersialisasi, materiliasme & kapitalisme kepada murid muridnya di sekolah. Semua tugas & fungsi harus selalu di ukur dengan uang dan materi. Nah, mau di bawa kemana bangsa kita jika murid murid tidak pernah di ajarkan keikhlasan dan pengabdian? Perlahan lahan dididik menjadi orang yang matrialistis atau kapitalis?

    “Kecuali jika pada rincian tugas dan fungsi pokok guru di masa mendatang di nyatakan secara tertulis dalam undang undang bahwa guru wajib berinteraksi melayani siswa melalui media sosial.”

    Media sosial hanya sebagai alat media belajar. Media sosial sama halnya seperti LCD projector, power point, media media ajar canggih lainnya. Kalau semua harus di tuliskan dalam undang undang bukankah alasan yang demikian akan menjadi pembenaran bagi guru guru yang malas untuk belajar dan meng-upgrade skill IT untuk berfikir,” ah ngapain amat ngajar make laptop, video, LCD? Emangnya dalam undang undang tertulis guru wajib melayani siswa di dalam kelas dengan menggunakan laptop, LCD?

    Media sosial itu pilihan, bu. Boleh pakai boleh juga tidak. Sama sebagaimana bolehnya guru menggunakan laptop, LCD, video showing. Tidak di gunakan juga tidak berdosa. Selama tidak menyangkut, bersinggungan dan menganggu privacy sang guru atau murid ya tidak ada masalah. Bilamanakah media sosial di gunakan? Media sosial bisa di gunakan sebagai media pembelajaran alternatif ketika sang guru sangat sibuk dengan workshop workshop pengajaran sementara dia harus memberikan remedial atau pengayaan kepada murid di sekolah setelah jam belajar. Dalam trend kepangkatan guru di sekolah di jelaskan bahwa jika sang guru tidak mengikuti workshop maka mereka terancam tidak bisa naik pangkat. Si murid juga sibuk dengan jadwal Bimbel, kursus bahasa Inggris, les piano, les balet, les vocal.Nah sang guru bisa saja berinteraksi dan memberikan latihan latihan melalui media sosial sebagai alternatif media pembelajaran karena penugasan atau remedial online memiliki waktu yang lebih flexible.

    Apakah penugasan yang demikian masuk dalam cakupan ‘dibayar’? Di bayar bu. Kewajiban jam kerja guru di sekolah mulai dari 6:30 – 15:00. Tatap muka di kelas dari jam 6:30 – 12:20. Setelah ISOMA apa yang seharusnya di lakukan guru sekolah? Hidupkan AC & tidur di ruang perpustakaan? ngobrol sesama guru yang ngga jelas maksud & arah pembicaraannya? Shopping shopping ke mall terdekat dengan menggunakan seragam? Tentu tidak. Bagi yang mengerti etika, tanggung jawab & mengajar dengan cinta dan pengabdian akan senantiasa berusaha memberikan pelayanan yang terbaik baik dalam bentuk remedial di dalam kelas maupun penugasan online. Jadi selama penugasan blog sebagai media ajar masih dalam jam kerja 6:30 – 15:00 saya bisa katakan pekerjaan itu adalah masih dalam cakupan ‘di bayar’.

  4. Lita says:

    Terima kasih atas tanggapannya, pak Ronaldi.
    Saya menuliskan ini apa adanya berdasarkan tanggapan rekan-rekan kerja (dulu).
    Walaupun pahit, demikianlah adanya. Saya berbaik sangka bahwa golongan (yang berat orientasinya hanya pada ‘dibayar’) tersebut minoritas.
    Terima kasih sudah menyuarakan yang diharapkan dari profesi mulia ini :)

Beri Komentar