Teachers’ long life education. Kayaknya hal ini memang perlu. Bayangin aja kalau murid-murid diajar sama orang yang belajarnya ya itu-itu saja. Bisa-bisa mereka lebih pintar daripada gurunya. Hal ini saya angkat menjadi postingan pertama saya karena saya sendiri sekarang sedang memaksa diri dengan sepenuh-penuhnya untuk belajar di tingkat yang lebih tinggi. Bagaimana dengan guru-guru sekolah formal?
Pilihan-pilihan yang tersedia sekarang lebih banyak. Kalau dulu guru-guru harus mengeluarkan duit sendiri untuk belajar, sekarang tidak lagi. Sudah banyak fasilitas yang bisa di bantu oleh sekolah supaya guru-gurunya tetap meningkatkan diri. Tulisan ini menyediakan beberapa pilihan yang bisa diambil guru dalam rangka peningkatan diri agar selalu up-to-date dengan perkembangan jaman dan pendidikan.
Pilihan pertama yang memang fleksibel adalah pilihan kuno seperti yang saya sindir-sindir di atas—menempuh pendidikan dengan biaya sendiri. Pilihan ini memang sedikit berat tapi sama sekali tidak mengikat kita ke institusi dimana kita bekerja. Banyak Universitas ternama yang menyediakan program Master untuk para pemburu pendidikan. Salah satu yang saya tahu—sesuai dengan bakcground saya, Pendidikan Bahasa Inggris, ada dua Universitas yang akan saya jadikan contoh (sekali lagi bukan hanya tiga institusi ini yang ada, loh.).
1.Universitas Katholik Atma Jaya
Kampus ini menyediakan jurusan Applied Linguistics yang bisa ditempuh dalam jangka waktu selama 2 tahun. Kualitas kampusnya sudah terkenal bukan? Sekarang tinggal komitmen kita dalam belajar.
2.Universitas Negeri Jakarta
Lokasi kampus ini di daerah Rawamangun—Jakarta Timur. Kabarnya mereka berkerja sama dengan salah satu Universitas di Australia dan Vietnam. Jika kita belajar disana, ada program yang bisa kita ambil untuk melanjutkan belajar selama dua minggu di Vietnam dan kita akan lulus dengan Ijazah dari Universitas di Australia. Lumayan, kan?
Pilihan kedua menawarkan fleksibilitas tinggi namun menuntut komitmen yang lebih tinggi—Universitas Terbuka. Sudah banyak pilihan yang bisa diambil guru-guru untuk meningkatkan ilmu belajar mengajar. Saya yakin hal ini bukan sesuatu hal yang asing untuk para pendidik seperti kita.
Pilihan ketiga—masih swadaya guru—adalah dengan mengikuti program shortcourse yang tersedia di banyak negara. Teman saya seorang guru dari Solo memamerkan foto-fotonya selama dua minggu bekajar program kursus pendek di Australia.
Pilihan keempat adalah beasiswa yang bisa diberikan sekolah kepada guru-guru. Beberapa sekolah serius menginginkan gurunya maju dan menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pilihan Universitasnya akan sedikit terikat tentunya. Tetapi saya pribadi berpikir itu bukan masalah asalkan tempat-tempat belajar itu tetap berkualitas.
Pilihan kelima yang sedikit memaksa adalah PPKHB—Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar. Guru-guru yang belum sarjana bisa mendapatkan pendidikan dan menjadi sarjana melalui program ini. Sudah ada beberapa universitas yang dijadikan partner sekolah-sekolah, bukan?
Dengan tersedianya beberapa macam pilihan tersebut, guru bisa memilah dan memilih apa dan bagaimana kita semua mau meningkatkan diri dalam hal keilmuan. Sekarang pertanyaannnya kembali ke diri kita masing-masing sebagai pendidik. Masalahnya sudah harus bukan mau atau tidaknya kita, tetapi…kapan kita bisa mulai?
Ayo sekolah!
Je