Kembang Apakah? Semoga Terjawab

Barusan saya memposting foto kembang ini di Memo, salah satu blog saya. Isinya berupa pertanyaan dan catatan. Kemudian saya ulangi di Twitter. Dalam sebentar sudah ada jawaban, misalnya dari seorang narablog  dan pengguna Twitter yang kebetulan biolog. Nama aslinya Rudyanto, tenar sebagai @mbilung. Besok, setelah tulisan itu secara otomatis terunggahkan ke Notes-nya Facebook, saya berharap mendapatkan jawaban perihal nama kembang.

Yah, begitulah. Sebagian dari kita, terutama saya, ternyata kurang mengenal nama tanaman. Terhadap daun yang saya pungut untuk pembatas buku pun saya tak tahu namanya.

Anak-anak saya juga tidak tahu. Mereka menjadi korban dari ketidaktahuan dan terutama kelelalaian saya yang kurang memperkenalkan aneka jenis tumbuhan dalam keseharian. Tentu saya punya dalih pembenar bahwa itu terjadi karena di pekarangan saya tak ada pohon tanaman keras. Yang ada hanya beberapa pot tanaman hias.

Kebun Raya Bogor, Taman Bunga TMII, dan Taman Buah Mekarsari tentu bagus untuk pendidikan lingkungan. Tetapi itu hanya insidental, bukan sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari maupun pengalaman literer. Pada beberapa negeri saya sering mendapatkan jawaban jika menanyakan nama tetmbuhan. Beberapa penjawab tak selalu melihatnya dalam keseharian mereka, tetapi buku pelajaran membantu mereka mengenali tanaman hingga dewasa.

Google, Wikipedia, Media Sosial

“Tanyain aja ke Mbah Gugel,” begitu saran banyak orang setiap kali kita ingin tahu sesuatu. Jika ingin info yang lebih lengkap, bukalah Wikipedia berbahasa Inggris maupun Indonesia, bergantung pada konteks.

Tetapi nanti dulu. Dalam kasus kembang, sampai saat ini setahu saya belum ada aplikasi di web yang langsung dapat menerka sesuatu berdasarkan gambar. Padahal yang saya butuhkan adalah nama benda. Kalau nama sudah saya perleh maka urusan selanjutntya mestinya mudah.

Yah, kita memang membutuhkan  aplikasi macam itu, serupa aplikasi penebak judul lagu yang dijanjikan oleh ponsel bersistem operasi Android: cukup dari suara satu bar lagu maka titel akan tertebak…

Jalan pintas untuk mengetahui sesuatu adalah  dengan memanfaatkan media sosial. Misalnya TanyaSaja, Kaskus, Yahoo! Answers, What is what, dan Ask.com. Masalahnya, belum tentu aktivis media sosial yang tercontohkan itu (kecuali TanyaSaja dan Kaskus) dapat langsung menjawab karena latar belakang pengalaman, termasuk faktor geografis tempat mereka hidup.

Cara lain tentu saja memasuki media sosial dan jejaring sosial yang ramai, yang anggotanya saling berbalas. Misalnya Twitter. Akan lebih bagus jika memanfaatkan beberapa pemengaruh (influencers) dengan menanya mereka. Misalnya @ndorokakung, yang hingga hari ini sudah diikuti 11.804 rang. Jika dia cocok, maka lelaki yang bernama asli Wicaksono itu akan melakukan retweet sehingga dalam sekejap pertanyaan kita tersebar.

Dalam urusan beginian, guru dan murid sama saja. Sama-sama belajar dari lingkungan sosial masing-masing melalui internet. Bukankah anak-anak pun mengerjakan PR dengan memanfaatkan direct messages pada Twitter? ;)

Pengenalan terhadap sekitar

Di luar urusan pemanfaatan media sosial sebagai sarana belajar, jika merujuk kasus kembang dan daun yang tak kita kenali tadi apakah yang sesungguhnya terjadi?

Jika Anda guru bahasa Indonesia, tengoklah karya tulis murid dari tingkat apapun sesuai kelas yang Anda pegang. Berapakah yang mampu membuat deskripsi vegetatif dengan lengkap sesuai tingkat usianya? Jangan-jangan banyak yang hanya menyebut “daun”, “pohon”, dan “bunga”, tapi tanpa keterangan. Jangan-jangan pula guru tak menanyakan soal itu kepada muridnya.

Deskripsi memang menyangkut keterampilan menulis, dan keterampilan menulis merupakan turunan kemampuan verbal. Tetapi di luar urusan teknis, keterbasan deskriptif seringkali merupakan akibat dari kekurangmampuan mengenali hal-hal di sekitar diri seseorang. Hanya menyebut “angkot” dalam cerita tanpa penjelasan itu Metromini atau Mikrolet tentulah kurang lengkap.

Berapa banyak dari kita, di Jakarta, yang sejak dulu tahu bahwa Menteng, Bintaro, Langsat, dan Salihara, adalah nama-nama tempat yang berasal dari vegetasi?

Internet memberi banyak peluang kepada kita untuk belajar.Bukan hanya menimba tetapi juga menuang isi. Belum pernah ada media dan tekonologi sedigdaya itu dalam peradaban sebelum sekarang.


2 Komentar

  1. daff says:

    Saya jadi ingat ketika topik pengajaran di kelas adalah tentang ‘multiple intelligences’. Ada kecerdasan akan pengetahuan alam dan sekitarnya (naturalist) di situ. Sebagai salahsatu alat bantu mengajar, saya membawa daun pandan, daun mangga dan daun jeruk. Jenis yang sehari-hari bukan? Ada lah beberapa yg bisa menebak dari bentuknya, terutama daun pandan. Tidak ada yg berusaha menebak dari ‘aroma’nya. Ini berlaku untuk daun mangga dan jeruk.:-) Baru nama buahnya secara umum, belum sampai kepada ‘oh itu mangga harum manis’ atau ‘hmm, itu jeruk purut’ yang samasekali berbeda aromanya dengan jeruk peras.

    Siswa tentu pada akhirnya akan dapat menemukan jawaban dari ‘tanaman apakah ini?’ dari website atau forum-forum yg pak Tyo sebutkan tadi. Di lain pihak, saya setuju pula bahwa pengetahuan yg diperoleh akan bersifat insidental dan sementara, berbeda apabila siswa tersebut ‘hidup’ di dalamnya.

    Dalam hubungannya dengan pengenalan alam sekitar, tugas pendidik untuk memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih cermat terhadap alam sekitar dan kemudian dapat menceritakannya kembali kepada pihak lain secara detil dan penuh gairah karena yang bersangkutan tahu persis hal yang disampaikan, sungguh merupakan tugas yang berat.

  2. @daff
    Ya Mbak, saya sepakat.
    Tenu internet hanya alat bantu, karena sesungguhnya yang lebih mendasar adalah memelihara kesadaran dan kegatalan observasional.

    Pada giliran selanjutnya adalah pengenalan dan pemilihan kata. Ini sangat berguna karena apapun cabang ilmu sangat menuntut itu, agar sebuah paparan menjadi jelas sekaligus operasional.

    Salam,
    Tyo

Beri Komentar