Menonton film ini merupakan (lagi) sebuah pencerahan bagi saya. Kisah ini diinspirasikan oleh sebuah kisah nyata dari seorang guru yang bernama Erin Gruwell yang harus mengajar di satu sekolah khusus bagi siswa-siswi yang multiras yang terjadi sekitar tahun 1996.

Datang di hari pertama dengan membawa idealisme seorang staf pengajar yang baru akan mengajar untuk pertama kalinya, Erin dikejutkan dengan adanya segregasi diantara siswa-siswinya. Bukan oleh tingkat kepandaian, ataupun oleh tingkat ekonomi, tetapi oleh perbedaan perkumpulan (gank) yang didasarkan kepada ras. Terdapat tiga ras besar dalam kelasFreshman Englishnya yaitu Asia, Amerika Latin dan keturunan Afrika. Satu siswa kulit putih yang menjadi musuh nomor satu kelas itu (termasuk juga sang guru kelas karena dia berkulit putih) merasa teralienasi dan hanya merasa aman dengan duduk di dekat gurunya. Dimana lagi selain di bangku paling depan.
Kondisi yang ada menjadi bertambah buruk ketika kolega Erin di sekolah tersebut menunjukkan sikap apatis atas keadaan segregasi yang ada dan menyalahkan kondisi tersebut kepada dewan pendidikan kota. Dewan inilah yang merubah status sekolah menjadi sekolah integrasi yang (seharusnya) diikuti oleh siswa-siswi secara sukarela (voluntary integration program). Program inilah yang merubah ‘iklim’ belajar menjadi satu sistem dimana blok-blok pertemanan menjadi sangat dominan dan sekolah akhirnya memutuskan untuk melarang pembicaraan apapun yang berhubungan dengan gank dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Ayah Erin sendiri menunjukkan ketidakpuasannya atas pilihan anaknya untuk menjadi guru di sekolah khusus itu. Dia berujar,’Banyak-banyaklah mengambil pengalaman. Ini hanya sebuah pekerjaan. Bila kau tak menyukainya, kau bisa menggantinya.’
Hari-hari pertama Erin dilewati dengan kegagalan demi kegagalan. Ketika akhirnya siswa-siswinya menemukan bahwa mereka sebenarnya adalah sama: berjuang untuk hidup hari demi hari dengan cara apapun, bahkan dengan mengikuti sebuah perkumpulan, barulah Erin merasakan inti pengajaran yang sesungguhnya. Siswa-siswi yang semula dianggap tidak dapat memahami literature-literatur rumit pada akhirnya diberikan kesempatan untuk mengetahui ‘dunia di luar’ kehidupan gank mereka. Mereka menjalani wisata sekolah, menulis agenda harian yang berisikan tentang cerita kehidupan mereka, dan bahkan berhasil mengundang satu tokoh penting dalam cerita yang mereka baca demi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang mereka miliki atas diri mereka sendiri. Pada akhirnya, agenda harian mereka itu dibukukan dan berhasil diterbitkan. Benar-benar amazing,
Namun keberhasilan itu tidak terlepas dari beberapa pengorbanan yang akhirnya harus dijalani Erin seperti pertemuanny
a dengan dewan pendidikan kota, 2 macam pekerjaan yang harus diambilnya untuk dapat membelikan buku-buku baru dan satu pengorbanan besar yang tak pernah terbayangkan akan dialaminya. Benar-benar sebuah harga yang mahal sebagai pendidik.
Lalu apakah harga yang dibayarkan itu pantas? Dan bagaimana Erin dapat melewati masa-masa sulit di awal pengajarannya hingga akhirnya siswa-siswinya tidak rela melepaskan sang guru di tahun berikutnya? Saksikan filmnya dan temukan detil strategi Erin di film ini.
‘Freedom Writers’
Paramount Pictures & MTV Entertainment
Hillary Swank, Imelda Staunton, Scott Glenn, Mario, Robert Wisdom, Kristin Herrera, Jacklyn Ngan
Je