<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Jan 2010 10:13:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Disiplin tanpa kekerasan</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 09:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[From Us]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Dasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Suasana belajar di sekolah yang menyenangkan dapat meningkatkan prestasi anak, yang pada ujungnya meningkatkan mutu pendidikan. Suasana yang dibutuhkan supaya anak merasa nyaman bukanlah melulu karena gedung yang mentereng dan peralatan yang nomor wahid. Sekolah apa saja dengan suasana yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengemukakan pendapat dan menghormati orang lain untuk mengemukakan pendapat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/jewer2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-165" title="jewer" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/jewer2.jpg" alt="" width="104" height="86" /></a>Suasana belajar di sekolah yang menyenangkan dapat meningkatkan prestasi anak, yang pada ujungnya meningkatkan mutu pendidikan. Suasana yang dibutuhkan supaya anak merasa nyaman bukanlah melulu karena gedung yang mentereng dan peralatan yang nomor wahid. Sekolah apa saja dengan suasana yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengemukakan pendapat dan menghormati orang lain untuk mengemukakan pendapat yang berbeda dengan dirinya memberikan lingkungan yang sangat kondusif bagi kesuksesan siswa.  Siswa  tidak perlu khawatir untuk ditertawakan, dipermalukan atau dihukum atas perbuatan mereka.</p>
<p>Temuan dari berbagai survey menyatakan alasan anak merasa senang di sekolah karena sbb:<br />
-	guru tersenyum ketika anak masuk kelas<br />
-	siswa merasa dapat berteman dengan gurunya<br />
-	guru ramah dan mau mendengarkan apa yang dikatakan siswa<br />
-	siswa merasa dilindungi guru<br />
-	siswa merasa gurunya idola dan panutannya<br />
-	siswa yakin gurunya memperhatikan dengan cara  mendengar,melayani, menerima dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>Nah, sudahkah kita melakukan upaya terbaik agar anak merasa senang berada di sekolah? Apakah hal-hal diatas cenderung jauh sulit kita lakukan sebagai pendidik karena kita sudah terlalu pusing dengan kepentingan-kepentingan sekolah: bahan ajar yang harus diselesaikan, ujian nasional, dan lain-lainnya?</p>
<p>Banyak dari kita merasa, menjewer anak merupakan tindakan biasa untuk mendisiplinkan anak. Sadarkah kita bahwa, tindakan fisik sesederhana menjewer saja bisa dikategorikan sebagai tindak kekerasan pada anak?</p>
<p><strong>Apa itu kekerasan pada anak?</strong></p>
<p>Menurut WHO, perlakuan salah pada anak (child maltreatment)  adalah<br />
“<em>Semua bentuk perlakuan salah secara fisik dan/atau emosional, penganiyayaan seksual, penelantaran atau ekspoitasi secara komersial atau lainnya yang mengakibatkan gangguan nyata ataupun potensial terhadap perkembangan, kesehatan dan kelangsungan hidup anak ataupun martabatnya dalam konteks hubungan yang bertanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.</em>”</p>
<p>Pengertian lain menurut Hay,1997  penyalahgunaan anak (child abuse) adalah:“ <em>Prilaku orang tua/wali , pengasuh, guru, orang dewasa lainnya yang salah yang menyebabkan luka/bahaya/resiko <strong>psikis/batin</strong> pada anak</em> “.</p>
<p>Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990 dan sejak tahun 2002 pun sudah memiliki UU Perlindungan Anak. Secara garis besar kita layak memberikan hak hidup, hak kelangsungan hidup dan kesempatan tumbuh kembang yang optimal bagi anak, mengedepankan kepentingan terbaik pada anak, serta menghargai pendapat anak dengan mendorong partisipasi anak.  Dengan adanya peraturan itu, segenap rakyat Indonesia diamanatkan untuk memenuhi hak anak dan memastikan bahwa anak terhindar dari berbagai bentuk kekerasan.</p>
<p>Jenis-jenis kekerasan pada anak adalah antara lain:<br />
1.	kekerasan fisik<br />
contoh : memukul, mengguncang-guncang anak dengan keras, mencekik, menggigit, menendang, meracuni, menyundut anak dengan rokok,dll</p>
<p>2.	kekerasan seksual<br />
yaitu hal-hal yang dilakukan untuk tujuan seksual bagi orang yang lebih tua usianya dari anak<br />
contoh : memaparkan (expose) anak pada kegiatan/prilaku seksual, memegang/meraba anak atau mengundang anak untuk melakukannya, termasuk penggunaan anak dalam gambar/tulisan/film porno</p>
<p>3.	kekerasan secara emosional<br />
mencakup serangan terhadap perasaan dan harga diri anak.<br />
Contoh : mempermalukan, menghina, menolak anak, mengatakan anak “malas”, “nakal”, menghardik, menyumpahi,dll.</p>
<p>4.	penelantaran anak<br />
adalah jika orang tua/wali/pengasuh/orang dewasa tidak menyediakan kebutuhan mendasar bagi anak untuk dapat berkembang emosi, psikologis, dan fisiknya secara normal.<br />
Contoh : anak tidak diberi makan, pakaian, tempat berteduh, pengobatan, perlindungan standar yang diperlukan anak.</p>
<p><strong>Disiplin = menghukum anak?</strong></p>
<p>Sebagai guru atau orang tua, jika anak duduk manis dan patuh rasanya hidup kita jadi lebih mudah. Namun tentunya itu tidak selalu bisa terjadi, apalagi dalam suasana kelas yang berisikan 40 siswa. Ditambah lagi dengan masalah pribadi, guru seringkali jengkel menghadapi prilaku murid sehingga melakukan praktek kekerasan dari sekedar memarahi, mencaci maki, menjewer, mencubit, memukul atau memberikan hukuman lainnya seperti membersihkan WC sekolah, berdiri dengan satu kaki, dll. Pertanyaannya adalah apakah dengan perlakuan demikian sedemikian perlunya diterapkan ? Apakah tindakan ini membantu siswa dapat belajar secara optimal?</p>
<p>Ada pepatah lama dalam budaya kita yang mengatakan, “ Diujung rotan ada emas” yang hingga kini masih diyakini sebagai landasan mendisplinkan anak dengan tedeng aling-aling demi kebaikan anak sendiri. Memang tingkat keberhasilannya dirasakan dengan disiplin yang keras, anak menjadi penurut. Namun apakah hasil yang demikian adalah hasil yang terbaik?</p>
<p>Jalan untuk menegakkan disipilin tidaklah selalu melalui hukuman dengan cara kekerasan, seperti pukulan, jeweran, kata-kata keras (bentakan) atau cara-cara lain yang membuat anak takut dengan maksud membuat anak takut untuk melanggar aturan yang ditetapkan. Upaya seperti ini lebih bersifat reaktif dan merendahkan harga diri anak, bukan korektif dan membimbing.  Alih-alih menerapkan disiplin untuk membuat anak menjadi lebih baik, tindakan disiplin diterapkan untuk guru yaitu supaya guru dapat mengajar dengan tenang, supaya siswa tertib dan patuh.</p>
<p><strong>Mengapa menghukum anak?</strong></p>
<p>Dalih untuk penerapan hukuman adalah biasanya karena anak nakal. Tapi tunggu dulu, sebelum menjuluki anak dengan predikat  “berprilaku salah” atau “nakal”, kita sebaiknya memulai dengan pertanyaan : “SALAH menurut siapa?” Seringkali orang dewasa menetapkan standar yang terlalu tinggi pada prilaku anak. Sebagai contoh : seorang siswa kelas 1 sd yang berusia 6 tahun  dihukum menulis 5 baris karena datang terlambat. Bagi orang dewasa menulis 5 baris dapat dilakukan dengan mudah kurang dari 5 menit. Tapi bagi anak usia 6 tahun, hukuman itu benar-benar berat dan tak seimbang dengan kesalahan yang dibuatnya.</p>
<p>Sebelum kita menganggap anak salah atau nakal, bodoh atau malas, perlu diketahui dalam perkembangan anak belajar melalui proses:<br />
-	trial and error<br />
-	menguji batasan yang ditemukan di lingkungan<br />
-	proses yang dianggap bentuk prilaku salah contoh : bertengkar<br />
Dengan cara-cara itu anak belajar mengenal dirinya dan dari sudut pandang orang lain, memecahkan masalah yang dibutuhkan untuk perkembangan jiwanya.</p>
<p>Yang perlu diingat, sebelum kita terjerumus dalam kekerasan pada anak, ingatlah bahwa kekerasan pada masa datang dampaknya adalah antara lain:<br />
1.	anak tumbuh menjadi tidak percaya diri<br />
2.	prestasi cenderung tidak tinggi<br />
3.	gangguan prilaku ; externalizing (agresif, pemberontak, pemarah) atau internalzing ( depresi, pendiam, menutup diri)<br />
4.	kurang mampu mengembangkan hubungan dengan pihak otoritas<br />
5.	menganggap kekerasan adalah penyelesaian yang harus dilakukan<br />
6.	menjadi prilaku kekerasan di kemudian hari</p>
<p><strong>Bagaimana menegakkan disiplin?</strong><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Penegakan disiplin menurut perkembangan anak  dikenal dengan disiplin positif . Disiplin positif merupakan proses pembelajaran, dan menekankan nilai dan sikap damai, toleran, menghormati martabat dan hak asasi manusia.  Jika pun harus memberikan sanksi atas prilaku yang tidak disiplin, pastikan anda memenuhi prinsip sbb:<br />
1.	sanksi berkaitan secara logis dengan prilaku salah<br />
contoh : menumpahkan atau mengotori, sanksi adalah membersihkan<br />
2.	sanksi bersifat moderat, tidak perlu berat<br />
3.	sanksi bertujuan membantu siswa untuk memahami masalahnya dan membentuk prilaku yang baik<br />
4.	sanksi tidak berlebihan, dari segi frekuensi dan tenggang masa<br />
5.	sanksi bersifat konsisten.<br />
Contoh : untuk tindakan yang sama, sanksinya berlaku sama</span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Tentunya sebelum sanksi ini diterapkan, perlu diingat bahwa prilaku yang salah yang menjadi focus perhatian, bukan siswa. Selain itu aturan yang dibuat hendaklah telah disepakati bersama antara guru dan siswa. Aturan yang dilanggar, ada sanksi yang diberikan yang bersifat edukatif. Jika dipatuhi, anak mendapat reward gambar bintang. Jika dilanggar, gambar bintang dikurangi.</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Contoh : peraturan yang ditempel di kelas</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;"> PERATURAN<br />
1	Tidak mencoret tembok<br />
2	Membuang sampah di tempat sampah<br />
3	Tidak terlambat masuk sekolah<br />
4	Tidak suka mencontek<br />
5	Meminjami alat tulis kepada teman<br />
6	Mengerjakan PR</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Keterangan :<br />
1.	ikut upacara ; 2 bintang<br />
2.	tidak terlambat : 1 bintang<br />
3.	mengerjakan PR : 1 bintang</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Jika metode ini kurang berhasil, maka ada alternatif lain yakni konsekuensi logis yaitu ganjaran yang didapat secara wajar akibat tindakan siswa. Contoh : jika siswa terlambat datang ujian , ia akan tertinggal dan nilainya kurang baik.Konsekuensi logis berbeda dengan hukuman, karena tidak ada paksaan sama sekali dan biasanya anak lebih mudah tergerak untuk tidak mengulangi kesalahannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Nah, anda mau pilih yang mana? </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips untuk guru SBI/ RSBI</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 06:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[SBI]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[
Bapak-bapak, Ibu-ibu, para pengajar SBI dan RSBI, bagaimana perasaan anda terhadap profesi anda? Masih bangga kan karena bisa mengajar sesuatu yang berbeda? Atau masih marah karena dihadapkan pada situasi yang serba salah? Apapun perasaan anda, yang jelas anda sedang berada pada sebuah masa perubahan. Dan semuanya itu terserah bagaimana anda menyikapinya, bukan? Mungkin lebih baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/10479979/2/istockphoto_10479979-teaching.jpg" alt="" width="380" height="296" /></p>
<p>Bapak-bapak, Ibu-ibu, para pengajar SBI dan RSBI, bagaimana perasaan anda terhadap profesi anda? Masih bangga kan karena bisa mengajar sesuatu yang berbeda? Atau masih marah karena dihadapkan pada situasi yang serba salah? Apapun perasaan anda, yang jelas anda sedang berada pada sebuah masa perubahan. Dan semuanya itu terserah bagaimana anda menyikapinya, bukan? Mungkin lebih baik adanya kalau kita berusaha sekeras tenaga untuk berpikir positif tentang keberadaan SBI dan RSBI dan melakukan sesuatu tentang itu.</p>
<p>Anda mungkin berpikir, siapa penulis ini yang berani-beraninya sok tau membuat <em>statement</em> seperti di atas. Pak, Bu, saya bukan guru SBI dan RSBI sekarang ini. Tetapi kebetulan saja saya pernah mengajar di sekolah formal yang sempat melaksanakan <em>pilot project </em>program pemerintah. Istilah kerennya adalah Sekolah Model. Memang sih beda dengan SBI dan RSBI, tetapi saya melihat ada beberapa kesamaan diantara keduanya. Dan berdasarkan kesamaan-kesamaan tersebut, saya ingin membagi beberapa tips yang membuat saya secara pribadi merasa saya bisa mengajar di program <em>Sekolah Model</em> itu yang mungkin saja bisa Bapak dan Ibu terapkan di sekolah.</p>
<p>1. <em>Point of view</em></p>
<p>Seperti yang pertama kali saya ungkapkan, anggaplah SBI dan RSBI bukan sebagai masalah tetapi sebuah tantangan. Dalam profesi apa saja, selalu ada perubahan yang menuntut kita begini-<em>lah</em>, begitu-<em>lah</em>, begini begitu-<em>lah</em>. Apapun itu, jika kita menganggapnya sebagai sebuah hal yang positif, apa yang kita lakukan tentunya bersifat positif juga.</p>
<p>2. <em>Soft Competencies</em></p>
<p>Yang saya maksud dengan kompetensi adalah hal-hal baik di diri kita yang kita punyai. Apa saja yang kita punyai? Sudah saatnya untuk sadar tentang itu, kan? Di bidang ke-SDM-an, ada beberapa jabaran <em>soft competencies. </em>Beberapa diantaranya adalah: Information Seeking, Initiatives dan Achievement Orientaton—Pencarian Informasi, Inisiatif dan Kepemilikan Tujuan Pencapaian. Kalau ketiganya digabung, anda akan menjadi seorang guru SBI dan RSBI yang mempunyai standar kerja yang jelas—murid harus bisa memahami pelajaran dan sekaligus belajar Bahasa Inggris. Hal itu akan membuat anda bertekad untuk mencari sumber-sumber pengetahuan untuk hal-hal yang berbau SBI seperti browsing-browsing internet ke situs-situs seperti: <a href="http://www.onestopclil.com/">www.onestopclil.com</a>, <a href="http://www.clilcompendium.com/">www.clilcompendium.com</a>, <a href="http://www.teachingenglish.org.uk/">www.teachingenglish.org.uk</a>, <a href="http://www.howstuffswork.com/">www.howstuffswork.com</a>, atau bahkan mencoba tes pengetahuan mengajar <em>content</em> dengan cara mencari informasi di internet tentang TKT CLIL (<em>Teaching Knowledge Test on Content and Language Integrated Learning)</em>. Dan itu semua anda lakukan tanpa perintah Kepala Sekolah. Tertarik untuk mencobanya? Semoga saja tidak hanya tertatik, tetapi benar-benar mencobanya.</p>
<p>3. Apakah anda termasuk guru yang kurang yakin dengan kemampuan berbahasa Inggris? Sudah pernah mengusulkan ke Kepala Sekolah untuk membuka kursus khusus guru-guru di sekolah anda? Ide itu bukan tidak mungkin, kan? Anda akan menjadi guru yang mengajar dan belajar. Pasti dianggap hebat dan bisa memotivasi anak didik kita semua.</p>
<p>4. Rasanya memang lebih berat kalau kita melakukan apa-apa sendiri, kan? Seandainya saja kita semua punya teman-teman yang bisa diajak berbagi tantangan dan bekerja bersama. Saya yakin beberapa diantara Bapak dan Ibu pendidik sudah melakukannya. Buat yang belum, mungkin bisa bergabung di beberapa klub guru-guru SBI. Atau bagaimana kalau anda yang memulainya?</p>
<p>Semoga saja tips yang memang saya sengaja buat tidak banyak ini bisa membantu kita semua menghadapi tantangan SBI dan RSBI. Mungkin suatu hari Bapak dan Ibu bisa menjadi narasumber di sebuah seminar dengan topik yang sama dan menginspirasi para pendidik lainnya. Good luck, Sir, Ma’am.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UU NO# 20/2003 tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/uu-no-202003-tentang-sistem-pendidikan-nasional.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/uu-no-202003-tentang-sistem-pendidikan-nasional.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 07:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[undang-undang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Bila hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara denan hasil program pendidikan formal, apakah itu berarti siswa sekolah formal boleh tidak mengikuti satu subyek tertentu yangmana dirinya telah mendapatkan hasil yang diakui pemerintah dari pendidikan nonformal yang diikutinya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="text-align: center;"><strong>Bagian Kelima</strong></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;"><strong>Pendidikan Nonformal</strong></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;"><strong>Pasal 26</strong></div>
<div id="_mcePaste">(1) <strong>Pendidikan nonformal diselenggarakan</strong> bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang <strong>berfungsi</strong> sebagai <strong>pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal</strong> dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(2) Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(3) Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(4) Satuan pendidikan nonformal t<strong>erdiri atas lembaga kursus</strong>, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(6) <strong>Hasil</strong> pendidikan nonformal <strong>dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal</strong> setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(7) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/uu-no-202003-tentang-sistem-pendidikan-nasional.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Coming soon!</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 14:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak RSBI/ SBI</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/dampak-rsbi-sbi.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/dampak-rsbi-sbi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 17:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[RSBI/SBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam Bab XIV pasal 50 ayat 3 Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pemerintah daerah harus mengembangkan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan menjadi bertaraf internasional.
Pendidikan yang berambisi bertaraf internasional ini diamanatkan kepada pemerintah daerah dan  dimaksudkan untuk memajukan pendidikan nasional ini akhirnya menjadi kebingungan nasional. Ketika kita berbicara tentang sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/DSCN67721-150x150.jpg" alt="DSCN6772" title="DSCN6772" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-134" /><br />
Dalam Bab XIV pasal 50 ayat 3 Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pemerintah daerah harus mengembangkan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan menjadi bertaraf internasional.</p>
<p>Pendidikan yang berambisi bertaraf internasional ini diamanatkan kepada pemerintah daerah dan  dimaksudkan untuk memajukan pendidikan nasional ini akhirnya menjadi kebingungan nasional. Ketika kita berbicara tentang sistem pendidikan, kita berbicara mengenai :<br />
1.	kurikulum<br />
2.	materi ajar<br />
3.	metodologi pengajaran<br />
4.	kompetensi guru<br />
5.	fasilitas<br />
6.	siswa</p>
<p>Embel-embel  istilah “.bertaraf internasional’ seringkali diterjemahkan sebagai  “asing” atau “non Indonesia”. Kebingungan nasional ini kemudian berdampak kepada 6 aspek , yaitu:</p>
<p>1. Penggunaan kurikulum asing<br />
Kurikulum menurut Nunan, 1987 didefinisikan sebagai produk yang diajarkan, proses untuk mendapatkan materi dan metodologi, atau sebagai fase perencanaan suatu program.  Sedangkan menurut Jack C. Richards , 1996, kurikulum merupakan filosofi, tujuan, desain dan implementasi suatu program.</p>
<p>Saat filosofi, tujuan dan desain program diimpor sebutlah dari  Negara A secara mentah-mentah, yang terjadi adalah filosofi, tujuan dan desain program belumlah tentu sesuai dengan keadaan di Indonesia. Dengan kerendahan hati saya, keadaan Negara A tidak akan pernah sama dengan keadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Apa yang membuat kita yakin filosofi itu dapat mentah-mentah diterapkan untuk anak-anak Indonesia yang sedianya menjadi generasi penerus kita? Apakah kita sadar, filosofi yang terbentuk akan mempersiapkan peserta didik kita sebagai manusia-manusia Indonesia yang semestinya akan berpikir global namun bertindak lokal? Sadarkah kita bahwa penerapan kurikulum asing sama bahayanya dengan penerapan idiologi asing jika tak pandai-pandai kita memilah isinya.</p>
<p>Johnson (1989) menyatakan bahwa kurikulum merupakan proses pengembangan, revisi, perawatan, dan pembaharuan  yang  bersifat terus menerus dan bersiklus sepanjang kurikulum itu masih ada.   Dengan demikian, suatu kurikulum tidak mungkin dapat mentah-mentah digunakan tanpa proses adaptasi, apalagi tanpa melibatkan input dari guru-guru dan terutama siswa sebagai hasil proses itu sendiri.</p>
<p>Apa yang terlintas di benak kita saat kita dengan bangganya mengatakan “ Sekolah kami menggunakan kurikulum Negara A”?  Sudahkah kita melengkapi diri dengan riset bahwa ternyata di Negara A tersebut kurikulum tersebut menjadi penyebab tingkat stress yang tinggi pada para siswanya  di tempat asalnya atau bahkan para ahli pendidikan menganggap produk kurikulum yang kurang berhasil?</p>
<p>2. Materi ajar<br />
Setelah latah menggunakan kurikulum asing, maka beberapa sekolah menjadi korban mangsa penerbit internasional yang melakukan gerakan ekspansi ke Indonesia. Sasaran paling empuk sang penerbit asing adalah sekolah-sekolah yang kebingungan karena hanya diberi target 2 tahun untuk mempersiapkan diri menjadi Sekolah Bertaraf Internasional. Langkah gegabah yang diambil, tidak berhenti pada pembelian kurikulum, tapi memborong buku yang bertuliskan “ berdasarkan kurikulum negara A” dengan harapan penggunaan buku impor itu melegitimasi label “ Sekolah Bertaraf Internasional”.  Apa yang terjadi? Guru kebingungan karena tak mengerti “jiwa” buku itu , atau malah jadi pening karena buku itu ternyata menggunakan bahasa pengantar bahasa asing. Celakalah jika kemampuan guru  dalam bahasa asing benar-benar nol. Bagaimana bisa mengajar dengan buku impor itu? Jikapun ada guru  yang mampu cas-cis-cus berbahasa asing, apakah siswanya siap diajarkan dengan buku impor? Jika diterangkan suatu konsep dalam bahasa Indonesia saja siswa masih kesulitan, bagaimana mungkin akan mengerti buku teks yang ditulis dalam bahasa asing? Jika kesulitan belajar di rumah, apakah orang tua bisa membantu?</p>
<p>Belum lagi masalah UUD: ujung-ujungnya duit. Materi impor sama dengan harga impor. Apakah siswa berkemampuan membayar? Jika tidak, apakah sekolah berhak memaksa? Apa urgensinya pemakaian buku impor  di sekolah katakanlah di lereng bukit suatu kabupaten? Bersediakah kita mengorbankan kemampuan membayar orang tua siswa demi suatu gengsi disebut sekolah internasional karena mempergunakan buku dari Negara A? Bukankah akan terjadi diskriminasi kesempatan dikarenakan kemampuan membayar?</p>
<p>Buku impor itu pastinya disajikan dalam bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Tapi tunggu dulu, bahasa inggris macam apa? Jangan-jangan bahasa Inggris gaya Negara A? Apakah sudah benar cara penuturan penulis dalam bahasa Inggis itu? Bagaimana dengan isinya? Sesuaikan dengan keadaan lokal?</p>
<p>Secara sederhana, saya ilustrasikan saja, jika ada satu bahasan pelajaran IPA mengenai jenis-jenis hewan bertulangbelakang dalam buku impor itu yang disebutkan adalah hewan yang ada di Negara A. Kapan pula kita akan memperkenalkan hewan asli Indonesia? Bukankah seharusnya hewan lokal terlebih dahulu yang dijadikan contoh untuk memudahkan pemahaman, dan juga pengenalan potensi daerah?</p>
<p>3. Metodologi  pengajaran</p>
<p>Apa yang diamanatkan sebuah kurikulum biasanya dituangkan dalam materi dan disampaikan dengan metode pengajaran tertentu. Apakah saat sekolah membeli kurikulum asing tersebut, ada pelatihan yang memadai bagi guru-guru untuk menyesuaikan metode pengajarannya? Pun jika guru-guru dikirim ke suatu institusi untuk pelatihan, apakah ada upaya kendali mutu di lapangan pada saat mereka kembali mengajar? Apakah ada kendala-kendalanya? Siapa yang melakukan pendampingan bagi guru-guru ini?</p>
<p>Sedihnya adalah anda akan menemukan fakta bahwa akhirnya guru-guru ini dipasrahkan kepada penerbit asing yang berbaik hati menjanjikan pelatihan, tapi seperti mengikat perjanjian dalam perjanjian bisnis yang berkondisi tertentu : kami siap melatih, jika anda siap mempergunakan buku-buku kami. Maka terjebaklah sekolah tersebut dalam lingkaran itu : membeli kurikulum asing, terjebak membeli buku impor, terjebak membeli tes impor. Duit, duit, duit. Bayar,bayar, bayar. Siapa yang membayar?</p>
<p>Kurikulum asing yang terjabarkan dalam materi katakanlah pelajaran Matematika  menyebutkan agar siswa dapat memahami perkalian. Tunggu dulu, memahami perkalian ala kita dari jaman kejaman pada umumnya siswa disuruh menghafal, dan terjadilah drilling berkepanjangan. Padahal, mungkin “jiwa” kurikulum tersebut hanya mempersyaratkan anak-anak memahami konsep perkalian dasar dengan cara –cara lain misalkan mempergunakan alat peraga tertentu. Timbul lagi masalah, beli dimana alat peraga itu? Berapa lagi biaya yang diperlukan untuk itu? Duit lagi, duit lagi Padahal, ada metodologi yang lebih sesuai bagi anak-anak didik kita, dan tak selalu harus mahal.</p>
<p>4. Kompetensi guru<br />
Dimulai dari sekolah-sekolah itu juga harus mengkursuskan  guru-guru agar memiliki penguasaan bahasa Inggris lebih baik. Ternyata siswalah yang menanggung biaya kursus guru-guru tersebut. Konon RAB salah satu sekolah favorit setahun Rp 2,8 miliar, yang sebagian besar untuk peningkatan sumber daya guru dan pengembangan kurikulum. Namun dalam breakdown anggaran ini, ternyata isinya untuk biaya kursus guru, menyekolahkan tenaga pendidik dan sederet workshop, lokakarya, dan sebagainya – yang semestinya tidak selayaknya ditanggung siswa.Kendatipun pembiayaan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) merupakan tanggung jawab pemerintah, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 48 tentang Pendanaan Pendidikan, sekolah-sekolah dengan status RSBI masih diperbolehkan memungut dana dari masyarakat. Karena diperbolehkan, seolah-olah merupakan pembenaran atas pembengkakan atas biaya yang harus ditanggung siswa.</p>
<p>Guru yang mau mengajar di sekolah bertaraf internasional pun diminta punya sertifikasi. Sertifikasi ini akhirnya pun menjadi ajang bisnis, karena guru-guru ini diharuskan membayar demi sertifikat. Adakah serifikat itu menjamin guru siap dan cukup kompeten untuk mengajar model SBI/RSBI?Pihak mana yang mengawasi kualitas dan kinerja badan sertifikasi guru tersebut? Jangan-jangan hanya jadi ajang kasak-kusuk dan sogok-menyogok demi selembar kertas itu.</p>
<p>5. Fasilitas<br />
Dengan embel-embel aturan SK Mendiknas, yang memperbolehkan sekolah SBI dan RSBI menerima sumbangan dari orangtua dan pihak ketiga, siswa menanggung seluruh biaya fasilitas yang harus ada : mulai dari penyediaan AC untuk ruang belajar, laptop, computer, laboratorium bahasa, laboratorium praktikum IPA dan sebagainya.</p>
<p>Standar internasional itu apakah berarti harus ruangan ber-AC? Ada apa dengan konsep sekolah ramah lingkungan-ramah ozon demi bumi yang makin panas ini? Apakah sekolah internasional tidak boleh memakai angin dan ventilasi yang baik? Apakah pengadaaan komputer bagi sekolah menjadi jaminan sekolah itu bertaraf internasional?</p>
<p>Saya punya pengalaman pribadi ketika mendaftarkan anak bersekolah disalah satu SBI. Saat anak saya sibuk mengerjakan tes, belum lagi ada hasil tesnya, saya disodori surat pernyataan tentang kesanggupan menyumbang untuk fasilitas sekolah disertai senyum manis penuh arti dari sang Wakil Kepsek seraya berkata, “Silakan ibu tulis sumbangan apa yang sukarela diberikan.” Saya mematung seolah masuk dalam ruangan pendingin yang membuat otak saya beku sesaat,  apalagi setelah dibisiki info tambahan oleh Wakil Kepsek ini “ Sebenarnya sekolah kami sedang membutuhkan lab komputer”. Saya kontan mengurungkan niat mendaftarkan anak saya disana karena saya tidak mau anak saya dijadikan komoditas untuk pengadaan komputer demi suatu predikat “ siswa SBI nih, yang menyumbangkan computer untuk sekolahnya” seolah-olah tulisan itu akan menjadi penentu masa depannya dan akan tertulis didalam curriculum vitaenya.</p>
<p>6. Siswa<br />
Mau tahu syarat mendaftar menjadi siswa SBI? Tes IQ. Ingin rasanya saya memberikan ceramah mengenai Kecerdasan Majemuk saat diminta melampirkan tes IQ untuk masuk SD. Apa nasibnya orang tua yang tak mampu membayar tes IQ itu? Bagaimana anak-anak yang berkebutuhan khusus? Haruskah mereka tersisih karena hasil tes yang hanya mengukur sebagian kecil potensi anak ?</p>
<p>Pengakuan menarik dari salah satu pengasuh lembaga konseling hypnotherapy yang kebanjiran klien yang kebanyakan adalah para pelajar kelas 1 SMP yg rata-rata murid yg masuk di kelas SBI.  Setelah satu bulan para siswa memulai belajar di sekolah yang dipilihnya,  mereka mulai dijangkiti tanda-tanda depresi seperti jadi pemarah, suka menangis sendiri, nggak bisa tidur dll.Beberapa penyebab diantaranya, merasa tertekan dengan belum pahamnya mereka atas penguasaan materi pelajaran dg bahasa inggris, pake bahasa indonesia saja sulit apalagi harus memahami dg bahasa inggris begitu katanya. Kemudian mereka merasakan teman-teman di kelas sangat individualistis, juga tugas / PR yg bertumpuk yg harus dikerjakan sampai larut malam. Ditambah ada ketakutan tersendiri jika tugas tdk selesai atau salah yg biasanya akan dimarah guru-gurunya.Beberapa klient ingin di sekolah yg reguler saja dan tidak ingin masuk SBI.</p>
<p>Dengan perwajahan SBI ini, apakah kita akan pasrah menjadi korban pembuat kebijakan? Sedemikian putus asanyakah kita dengan sekolah bermuatan lokal?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/dampak-rsbi-sbi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/104.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/104.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 18:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[trailer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[
Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-103" title="sangpemimpi-209x300" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/sangpemimpi-209x300.jpg" alt="sangpemimpi-209x300" width="209" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan di Jerman, film ini memenangkan Gelar Film Terbaik&#8211;di festival film anak CINEPANZ ke dua puluh.</p>
<p style="text-align: left;">Memangnya apa sih yang spesial dari film ini? Kalau saya berbicara masalah teknis pembuatan film tentu saja tidak akanada yang percaya. Makanya saya akan melihat film ini lebih dalam dari sisi pendidikannya. Cerita di film ini masih berkutat seputar kehidupan si Novelis Andre Hirata di masa kecil. Dia tinggal di daerah Belitung yang keindahan alamnya sangat hebat. Namun keadaan itu tidak sehebat seperti yang beberapa anak-anak disana inginkan. Ada tiga anak sebagai tokoh utama di film ini. Ikal (Andrea Hirata yang masih kecil), Arai (saudara jauhnya), dan Jimbron (seorang anak yang gagap). Ketiganya mengalami hal-hal yang hebat untuk ukuran anak kecil seusia mereka di Belitung. Salah satu pembuka film ini adalah peristiwa bertemunya Arai dengan Ikal. Setelah itu menyusul Jimbron. Arai adalah seorang pemimpi yang selalu bersikap optimis dalam hidup. Sikap ini tetap ada di dirinya walaupun dia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan tidak mempunyai apa-apa lagi. Hal ini benar-benar menginspirasi Ikal dan Jimbron. Ketiganya bergumul dengan mimpi mereka. Semuanya menjadi terarah ketika salah satu guru mereka&#8211;Pak Julian&#8211;menyebutkan nama &#8220;SORBONNE&#8221;. Sorbonne adalah sebuah universitas di Perancis. Pak Julian benar-benar berusaha memotivasi semua muridnya untuk kesana. Dan ketiga tokoh utama di film ini pun memimpikan hal yang sama. Dalam usahanya mencapai impian, mereka bertiga berusaha keras untuk menabung demi bisa berangkat ke Jakarta dan kuliah dulu disana. Apa saja mereka lakukan. Mereka menjadi pelayan di sebuah restoran, bekerja di prabrik, mencari tambahan di pelabuhan dan lain sebagainya. Dengan tekad seperti itu tentunya mereka akan berhasil bukan? Ternyata belum pasti. Di tengah perjalanan meraih impian mereka, ada beberapa godaan yang menghambat mereka. Ikal, Arai dan Jimbron menghadapi tantangan mereka masing-masing. Jimbron ternyata tidak terlalu pintar. Tetapi toh dia tetap berusaha. Bagaimana dengan Ikal? Ketetapan hati Ikal goyah dengan beberapa hal yang dia lihat dan dengar dari orang-orang tentang mencapai mimpinya dengan lebih cepat namun bukan dengan cara belajar dan bermimpi. Bagaimana dengan Arai? Apakah jalan mimpinya lancar? Apakah mereka berdua bisa mencapai Perancis? Tidak adil buat si penulis dan pembuat film kalau saya menjawab pertanyaan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan buah pemikiran dari film itu. Poin-poin tersebut antara lain: 1. Seberapa pentingkah sebuah mimpi di dunia pendidikan? 2. Bagaimanakah sikap pendidik secara umum menanggapi mimpi seorang siswa didik? 3. Apakah bekerja setelah bersekolah itu baik? Tentu kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada kita semua tanpa konteks apa-apa, jawaban kita juga tidak cukup terarah. Oleh karena itu, mari kita tonton film &#8220;Sang Pemimpi&#8221; dan mulai mempunyai pendapat tentangnya. Selamat menonton. -Je- PS: Ariel perterpan ikut membintangi film ini. Kalau tidak percaya sama saya, silahkan &#8220;mengintip&#8221; trailer filmnya dengan cara klik kata-kata di bawah ini <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=yL0mjLyC-ho">Trailer Sang Pemimpi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/104.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Guru Bahasa Arab</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/inspirasi-guru-bahasa-arab.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/inspirasi-guru-bahasa-arab.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 17:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lighter Side]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu malam ketika saya dalam perjalanan pulang, ban motor saya bocor di daerah Manggarai, Jakarta. Segeralah saya mencari-cari tukang tambal ban. Syukurlah saya tidak harus membakar lemak terlalu banyak untuk menemukan tukang tambal ban. Bahkan ketika sampai disana saya mendapatkan sebuah foto yang membuat saya berpikir  &#8220;Bagaimana cara seorang guru bahasa Arab bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-99 alignright" title="jual bensin" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/jual-bensin-300x225.jpg" alt="jual bensin" width="300" height="225" />Di suatu malam ketika saya dalam perjalanan pulang, ban motor saya bocor di daerah Manggarai, Jakarta. Segeralah saya mencari-cari tukang tambal ban. Syukurlah saya tidak harus membakar lemak terlalu banyak untuk menemukan tukang tambal ban. Bahkan ketika sampai disana saya mendapatkan sebuah foto yang membuat saya berpikir  &#8220;Bagaimana cara seorang guru bahasa Arab bisa sebegitu menginspirasi muridnya yang sekarang menjadi tukang tambal ban?  <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   -Je-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/inspirasi-guru-bahasa-arab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Bullying</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 18:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu bullying?
Siapa pelaku bullying?
Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying?
Bagaimana menghadapi bullying?
Buku Barbara Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying terjadi.
Buku ini bisa dijadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_94" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><br />
<img class="size-full wp-image-94" title="Stop Bullying" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/buku_stop_bullying.gif" alt="Barbara Coloraso" width="180" height="275" /><p class="wp-caption-text">Barbara Coloraso</p></div>
<p>Apa itu bullying?</p>
<p>Siapa pelaku bullying?</p>
<p>Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying?</p>
<p>Bagaimana menghadapi bullying?</p>
<p>Buku <a href="http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=145&amp;p=1">Barbara</a> Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying terjadi.</p>
<p>Buku ini bisa dijadikan pegangan bagi orang tua dan juga guru-guru untuk memutus rantai bullying di sekitar kita. Buku ini juga berisi kisah-kisah nyata dari korban dan pelaku bullying.</p>
<p><em>Mariskova</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Blogger 2009</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pesta-blogger-2009.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pesta-blogger-2009.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:40:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[authors]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Yup, we went to Pesta Blogger 2009. And see how happy we were&#8230;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<a href='http://indonesiaeducate.org/pesta-blogger-2009.html/img_2755' title='IMG_2755'><img width="150" height="150" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/IMG_2755-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="IMG_2755" /></a>
<a href='http://indonesiaeducate.org/pesta-blogger-2009.html/img_2761' title='IMG_2761'><img width="150" height="150" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/IMG_2761-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="IMG_2761" /></a>
<a href='http://indonesiaeducate.org/pesta-blogger-2009.html/img_2777' title='IMG_2777'><img width="150" height="150" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/IMG_2777-150x150.jpg" class="attachment-thumbnail" alt="" title="IMG_2777" /></a>

<p>Yup, we went to Pesta Blogger 2009. And see how happy we were&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pesta-blogger-2009.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Penanganan Bencana</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-penanganan-bencana.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-penanganan-bencana.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 16:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Disaster Management System]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah kita apa yang harus kita lakukan ketika bencana alam terjadi?
Misalnya, saat gempa bumi terjadi, apa yang harus kita lakukan? Saat banjir menggenangi rumah dan sekolah, apa yang harus kita lakukan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahukah kita apa yang harus kita lakukan ketika bencana alam terjadi?<br />
Misalnya, saat gempa bumi terjadi, apa yang harus kita lakukan? Saat banjir menggenangi rumah dan sekolah, apa yang harus kita lakukan?</p>
<p>Amerika Serikat mempunyai sebuah situs <a href="http://www.fema.gov/kids/">FEMA</a> yang memberikan pendidikan penanganan bencana. Situs FEMA for kids memberikan banyak informasi yang bisa dilakukan sebelum, saat, dan sesudah bencana terjadi. FEMA for kids juga memberi pendidikan bagaimana anak-anak sekolah bisa dididik menjadi anak-anak yang tanggap terhadap penanganan bencana. Tujuannya adalah agar mereka bisa menolong diri sendiri dan apabila mungkin menolong orang lain. Situs ini juga menyediakan beragam jenis bencana, dari bencana alam hingga terjadinya tindakan kekerasan.</p>
<p><em>mariskova</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-penanganan-bencana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
