Empati : diajarkan dan diteladankan

Suatu hari di musim libur, saya mengajak 3 anak saya naik kereta ekspress.  Dengan asumsi musim libur tak banyak orang naik kereta, dan sekarang ada gerbong khusus wanita, dengan semangat saya ajak anak-anak naik kereta api. Ternyata, saya salah BESAR. Kereta penuh-nuh-nuh. Gerbong khusus wanita pun penuh-nuh-nuh. Sebegitu penuhnya, bangku khusus yang diperuntukkan bagi mereka yang membawa anak/  yang sedang hamil/ kaum manula, ternyata diduduki bukan seorang pun yang berkategori yang berhak. Lebih parah lagi, melihat saya membawa 3 bocah  dan 2 diantaranya berusia dibawah 5 tahun, mereka pun memejamkan mata dan seolah tak mau tahu. Sementara kereta yang penuh sesak itu ditambah 1 orang wanita yang dengan wajah tak berdosa duduk di atas kursi lipat yang dibawanya. Tak ada tanda-tanda penyesalan, rasa bersalah atau malu untuk memblokir ruang duduknya yang sebenarnya bisa digunakan 3 orang dewasa berdiri.

Di hari lain, saya ajak lagi anak-anak naik bis AC berkoridor khusus. Sewaktu masuk, kami hampir beruntung mendapatkan tempat duduk yang diperuntukkan untuk penumpang yang membawa anak-anak, wanita hamil atau manula. Namun, dalam hitungan detik, dengan tanpa rasa berdosa, seorang pria dewasa yang kuat dan sama sekali bukan golongan kepayahan (disabled) merebut kursi kosong itu yang sedianya akan saya berikan kepada 2 balita saya. Tanpa rasa berdosa, menyesal, apalagi malu, pria itu duduk dan membuang mukanya. Anak saya berteriak “ yaaa…kursinya diduduki bapak itu”. Aih, masih juga tak bergeming si bapak tadi. Ck, ck,ck.

Dari dua kejadian tadi, berceramahlah saya panjang lebar tentang definisi “empati” kepada anak-anak saya. Berangkat dari rasa masygul dan kesal atas ketidakpedulian orang-orang itu, saya hanya ingin memastikan nilai “tak berempati “ itu tak boleh diadaptasi oleh anak-anak saya.

Saya sungguh ingin menghimbau para orang tua lain untuk menumbuhkan rasa empati pada anak-anaknya dengan meneladaninya. Mengapa begitu? Meskipun bayi normal secara alamiah sudah dapat menunjukkan empati pada anggota keluarga lainnya pada usia 12-24 bulan (Zahn-Wexler, et al, 1992), dan nantinya empati dapat tumbuh seiring dengan keterampilan si anak bergaul di masyarakat, tetap saja empati tidak akan muncul begitu saja tanpa teladan ortu.

Apakah empati itu?

Empati adalah merasakan apa yang dirasakan orang lain, contohnya jika si A meringis kesakitan, si B yang melihat dan merasa kasihan. Menurut ahli, ada beberapa komponen yang menentukan seorang memiliki empati atau tidak :

1.       Kesadaran dan kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri

2.       Kemampuan untuk melihat perspektif orang lain.

3.       Kemampuan mengelola/ mengatur  respon emosi.

Pada saat orang lain kesakitan, berempati bukan berarti “berbagi perasaan” sehingga kita pun menghindari orang yang kesakitan itu. Untuk dapat menunjukkan rasa empati  kepada orang yang tengah kesakitan, kita harus mampu mengendalikan respon kita terhadap penderitaan orang lain.

Setiap orang mungkin memiliki penilaian masing-masing mengenai situasi apa yang membutuhkan rasa empati.  Jadi, sungguh tidak aneh jika anak-anak tidak dapat merespon meskipun mereka bisa memahami apa yang dikatakan seseorang.  Bisa jadi dikarenakan mereka menganggap tidak perlu untuk mengenali perasaan orang lain dan kadang karena orang tua membiarkan anaknya tidak berespon.

Dalam hal ini, secara pribadi saya salut terhadap budaya Jepang. Di sana ada namanya prinsip “omoiyari” atau menunjukkan sensitifitas terhadap orang lain. Anak-anak diajarkan oleh ibunya untuk tidak mengabaikan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, jika anak tidak menjawab pertanyaan atau permintaan orang lain, ibunya yang akan mencontohkan  apa yang harus dikatakan si anak.  Misalkan seorang anak tanpa sengaja menginjak kaki seorang nenek , dan si anak diam saja alias tidak menyatakan permohonan maaf, maka si ibu akan segera  berujar “ aduh, duh, duh….gitu kata nenek” . Hal ini dimaksudkan agar si anak tersadar dan menunjukkan empatinya.

Perkembangan empati dan anggapan kita tentang orang lain dan situasi yang membutuhkan empati kita, ditentukan oleh beberapa faktor.  Memang orang akan lebih mudah menunjukkan rasa empati jika: merasa akrab, memiliki persamaan dengan si penderita, atau pernah merasakan penderitaan yang sama. Namun yang terpenting adalah orang tua dapat mengajarkan anak  :

-          mengenali perasaannya, dan membedakannya dengan perasaan orang lain

-          membayangkan sudut pandang orang lain

-          menenangkan diri dan “mundur” dari emosi negatif

-          menggunakan empatinya

Beberapa temuan riset yang cukup menarik mengenai peran orang tua dalam pembentukan empati anaknya, antara lain adalah:

1.      Anak yang memiliki hubungan kedekatan dengan orang tuanya menunjukkan empati yang lebih besar dan lebih dapat mengendalikan emosi dan sensitivitas moral.

2.      Orang tua yang membantu anaknya untuk mengatasi emosi negatif biasanya memiliki anak yang lebih ramah dan empatik.

3.      Orang tua yang menerapkan peraturan dan konsekuensi untuk prilaku yang buruk, biasanya memiliki anak yang memiliki perhatian kepada orang lain.

4.      Anak laki-laki yang menghirup hormone oksitosin memiliki emosi yang lebih baik. Manusia secara alami memproduksi hormone oksitosin pada saat dipeluk atau bercakap-cakap hangat.

5.   Anak yang ibunya memiliki tingkat emosi yang tinggi, cenderung juga memiliki empati yang baik.

Beberapa tips untuk mengajarkan empati :

tip #1:  Perhatikan apa yang dibutuhkan anak, dan ajarkan bagaimana mensiasati perasaan negatif. Saat seseorang membuatnya marah, lebih efektif jika ia diajarkan menghindar dari orang yang menyebabkannya marah. Jika ia harus belajar,  anak akan lebih mudah untuk konsentrasi jika ia tidak di dekat televisi atau di ruang tamu yang berisik.

tip #2:  Jadilah orang tua yang  menghargai perasaan anak dan mengajarkan bahwa perasaan menentukan prilaku.

Kadang anak menangis tak henti karena ia tidak merasa dipahami. Pada saat itu, jangan memarahi anak apalagi memukulnya dan melabelkannya anak cengeng. Tenangkan anak (dengan memeluk, mengusap, mencium) dan terimalah perasaannya, setelah tenang barulah ajak diskusi tentang perasaannya. Jika ada anak lain yang memukul anak anda, alih-alih menyalahkan anak itu dan membela anak anda, bahaslah dengan anak anda kira-kira kenapa temannya memukul: apakah karena kesal dengannya, apakah anak anda juga menyebabkan anak itu kesal sehingga memukulnya.

tip #3:  Setiap hari ambillah kesempatan untuk meneladankan empati terhadap orang lain ( sambil menonton TV  atau  mempergunakan suatu kejadian di sekitar untuk dijadikan bahan diskusi ttg perasaan orang lain)

tip #4:  Bantulah anak untuk mencari persamaan antara perasaan mereka dengan orang lain. Jika anak tidak mau berbagi atau tidak mau meminjamkan mainannya kepada anak lain, berilah ilustrasi agar ia bisa membayangkan bahwa ia pun akan sedih jika temannya tidak mau berbagi atau tidak meminjamkan mainannya.

tip #5:  Ajarkan anak tentang “kesenjangan empati”, misalkan  jika mereka mengeluh capek berjalan, mintalah ia membayangkan nenek moyang jaman dahulu kala yang harus jalan kaki berkilometer.

tip #6:  Ajarkan anak mengeksplorasi peran dan perspektif. Ajak anak baca cerita, atau menonton film yang mendidik kemudian ajaklah diskusi tentang peran dalam cerita itu dan apa yang dirasakan peran itu. Bisa juga kita mengajak anak bermain sandiwara, atau memainkan panggung boneka.

tip #7 : Bermain peran / menunjukkan atau menyebutkan raut wajah yang berbeda–beda tergantung perasaan yang dimiliki

tip #8:  Ajarkan anak mengembangkan moral dan kendali diri  dalam bertindak (bukan karena hadiah atau hukuman)

tip #9:  Berikan rasa aman dan bahagia kepada anak dengan melakukan interaksi sosial yang menyenangkan dan sentuhan fisik (peluk, belaian dan pijat)

Nah, marilah kita bentuk anak-anak yang bahagia dengan mengajarkan dan meneladankan empati. Itulah paling tidak yang dapat kita wariskan bagi generasi selanjutnya.Di saat yang sama, kita bisa membuat Indonesia lebih baik!



1 Komentar

  1. Hellen Damayanti says:

    Good article! :D

Beri Komentar