<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Disiplin tanpa kekerasan</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Fri, 28 Oct 2011 03:06:33 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: vincent kiabeda</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-555</link>
		<dc:creator>vincent kiabeda</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 08:11:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-555</guid>
		<description>Saya sangat senang membaca dan kami sedang menjalankan disiplin positif di sekolah sejak tahun 2009. Ternyata tidak gampang seperti teori-teori para ahli. Karena persoalan lebih banyak terdapat pada orang dewasa atau guru-gurunya yang masih begitu yakin diujung rotan ada emas. Kini, kami tengah berupaya merubah pola pikir dan tindakan guru-guru dalam kesehariannya. Memang, belum banyak yang berubah tetapi sudah mulai sedikit demi sedikit ada peubahan pemahaman para orang dewasa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Saya berkeyakinan jika terus digemakan pasti akan membuahkan hasil. 
Dalam peraturan sekolah kami mempergunakan kata-kata yang positif seperti 
1. Tidak mencoret tembok diganti dengan Selalu menjaga kebersihan tembok
2. Tidak datang terlambat diganti dengan Datang pagi tepat waktu
3. dst</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sangat senang membaca dan kami sedang menjalankan disiplin positif di sekolah sejak tahun 2009. Ternyata tidak gampang seperti teori-teori para ahli. Karena persoalan lebih banyak terdapat pada orang dewasa atau guru-gurunya yang masih begitu yakin diujung rotan ada emas. Kini, kami tengah berupaya merubah pola pikir dan tindakan guru-guru dalam kesehariannya. Memang, belum banyak yang berubah tetapi sudah mulai sedikit demi sedikit ada peubahan pemahaman para orang dewasa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Saya berkeyakinan jika terus digemakan pasti akan membuahkan hasil.<br />
Dalam peraturan sekolah kami mempergunakan kata-kata yang positif seperti<br />
1. Tidak mencoret tembok diganti dengan Selalu menjaga kebersihan tembok<br />
2. Tidak datang terlambat diganti dengan Datang pagi tepat waktu<br />
3. dst</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ken Sanjaya</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-540</link>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 19:58:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-540</guid>
		<description>&#039;ngeyel&#039; itu berarti bersikukuh dengan pendiriannya ya? Memang itu tantangan yang terbesar untuk orang dewasa, pada saat berusaha memberitahu tapi anak tidak mau. Saya hanya tanya, apakah dengan membentak, anak jadi serta merta menurut? Dan apakah itu yang sebenarnya lebih baik: anak menurut saat ini saja, atau dia paham kenapa harus menurut sehingga lain kali tidak mengulangi prilakunya? Pernahkah anda mencoba untuk menjelaskan tapi kemudian membiarkan anak mendapatkan konsekuensi dari apa yang diinginkannya (kecuali hal tsb mengundang bahaya yang besar) tanpa membentaknya?beberapa anak memang terlahir dengan gen yang khusus dan cenderung menantang perintah orang dewasa, sekalipun orang tuanya. Seringkali jenis anak ini memerlukan peraturan yang diberlakukan konsisten, maksudnya sekali  tidak boleh tetap tidak boleh, baik itu diberlakukan ibunya, ayahnya atau tantenya. silakan dicoba!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8216;ngeyel&#8217; itu berarti bersikukuh dengan pendiriannya ya? Memang itu tantangan yang terbesar untuk orang dewasa, pada saat berusaha memberitahu tapi anak tidak mau. Saya hanya tanya, apakah dengan membentak, anak jadi serta merta menurut? Dan apakah itu yang sebenarnya lebih baik: anak menurut saat ini saja, atau dia paham kenapa harus menurut sehingga lain kali tidak mengulangi prilakunya? Pernahkah anda mencoba untuk menjelaskan tapi kemudian membiarkan anak mendapatkan konsekuensi dari apa yang diinginkannya (kecuali hal tsb mengundang bahaya yang besar) tanpa membentaknya?beberapa anak memang terlahir dengan gen yang khusus dan cenderung menantang perintah orang dewasa, sekalipun orang tuanya. Seringkali jenis anak ini memerlukan peraturan yang diberlakukan konsisten, maksudnya sekali  tidak boleh tetap tidak boleh, baik itu diberlakukan ibunya, ayahnya atau tantenya. silakan dicoba!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nona.sip</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-527</link>
		<dc:creator>nona.sip</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Jun 2011 13:46:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-527</guid>
		<description>saya mau tanya ... bagaiman cara mendidik anak yang ngeyel kalo di kasih tau ... sebagai tante saya berusaha tidak membentak ponakan saya ..tapi terkadang kakak saya yang membentak anaknya ...(mungkin disaat kondisi kakak saya capek) saya jadi takut kalo terjadi dampak yang negativ terhadap ponakan saya ...mohon sarannya ...trimaksih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya mau tanya &#8230; bagaiman cara mendidik anak yang ngeyel kalo di kasih tau &#8230; sebagai tante saya berusaha tidak membentak ponakan saya ..tapi terkadang kakak saya yang membentak anaknya &#8230;(mungkin disaat kondisi kakak saya capek) saya jadi takut kalo terjadi dampak yang negativ terhadap ponakan saya &#8230;mohon sarannya &#8230;trimaksih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ken Sanjaya</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-226</link>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 16:24:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-226</guid>
		<description>Merlin, terimakasih atas kunjungannya. Website ini kami proteksi, jadi jika anda berminat mengutip silakan mengirimkan tulisan utuh yang memuat kutipan kami. Silakan menghubungi admin kami melalui &lt;a href=&quot;http://indonesiaeducate.org/contact-us&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Contact us&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Merlin, terimakasih atas kunjungannya. Website ini kami proteksi, jadi jika anda berminat mengutip silakan mengirimkan tulisan utuh yang memuat kutipan kami. Silakan menghubungi admin kami melalui <a href="http://indonesiaeducate.org/contact-us" rel="nofollow">Contact us</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Merlin silviani</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-215</link>
		<dc:creator>Merlin silviani</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 11:47:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-215</guid>
		<description>saya sangat setuju..
saya ingin mengkopy makalah ini tpi kok ga bisa yaa??
saya ingin menuliskannya di halaman saya,,thanks</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya sangat setuju..<br />
saya ingin mengkopy makalah ini tpi kok ga bisa yaa??<br />
saya ingin menuliskannya di halaman saya,,thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mariskova</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-213</link>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 14:09:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-213</guid>
		<description>Kalau menurut saya, bukan sikap terbuka guru atau jarak yang terlalu dekat antara guru dan siswa yang menjadikan siswa tidak sopan/tidak patuh. Kemampuan atau keahlian guru yang lebih rendah (kualitasnya) dibanding para guru kita di jaman dulu lah yang membuat siswa tidak hormat. Disaat anak sekarang menjadi lebih pintar, gurunya malah beberapa langkah di belakang mereka. 
Kisah nyata seorang anak SMP yang &#039;bercerita&#039; kepada saya: &quot;Ah, males banget sama guru Bahasa Inggris aku! Dia aja gak bisa ngajar. Salah-salah melulu gitu neranginnya. Trus kalo kita tanya, dia marah-marah. Bahasa Inggrisnya juga bagusan aku!&quot;

Jadi, Mas Sigit, menurut saya loh ya, respect is earned, not made. Guru2 jaman dulu sangat tersohor keahliannya. Jadi guru susah di jaman dulu. Makanya kalau mereka galak pun kita tetep manut. 
Dengan kondisi jaman yang berubah, cara guru menghadapi siswa juga harus berubah. Tapi soal hormat menghormati, itu soal lain. Seperti yg saya sebut tadi, respect is earned. 

Salam!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau menurut saya, bukan sikap terbuka guru atau jarak yang terlalu dekat antara guru dan siswa yang menjadikan siswa tidak sopan/tidak patuh. Kemampuan atau keahlian guru yang lebih rendah (kualitasnya) dibanding para guru kita di jaman dulu lah yang membuat siswa tidak hormat. Disaat anak sekarang menjadi lebih pintar, gurunya malah beberapa langkah di belakang mereka.<br />
Kisah nyata seorang anak SMP yang &#8216;bercerita&#8217; kepada saya: &#8220;Ah, males banget sama guru Bahasa Inggris aku! Dia aja gak bisa ngajar. Salah-salah melulu gitu neranginnya. Trus kalo kita tanya, dia marah-marah. Bahasa Inggrisnya juga bagusan aku!&#8221;</p>
<p>Jadi, Mas Sigit, menurut saya loh ya, respect is earned, not made. Guru2 jaman dulu sangat tersohor keahliannya. Jadi guru susah di jaman dulu. Makanya kalau mereka galak pun kita tetep manut.<br />
Dengan kondisi jaman yang berubah, cara guru menghadapi siswa juga harus berubah. Tapi soal hormat menghormati, itu soal lain. Seperti yg saya sebut tadi, respect is earned. </p>
<p>Salam!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: SGT, Bintaro</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-211</link>
		<dc:creator>SGT, Bintaro</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2010 14:07:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-211</guid>
		<description>Saya pikir semakin kebelakang disiplin  kepatuhan, dan sopan santun siswa kok semakin merosot. dan ini terjadi di hampir di semua sekolah yang menerapkan model sangsi seperti itu. Apakah dengan cara itu siswa akan semakin respec dengan gurunya atau malah semakin meremehkan arti dari sangsi hukuman itu. Saya merasakan ketika jarak semakin terbuka dengan siswa justru sopan santun dan hormat kepada guru sangat tipis sekali. Pendidikan masa lalu yang mengkedepankan wibawa dan keteladanan guru sekaligus sangsi hukuman yang to the point menghasilkan generasi yang relatif lebih patuh dibandingkan sekarang. itu semua lebih dikarenakan &quot;aura kharisma Guru&quot; yang mana sampai sekarang kita bisa menilai bahwa apa yang Beliau lakukan sebagai punishment itu ternyata adalah bentuk kasih sayang dan keikhlasan Beliau para mantan guru kita yang dulu. Mereka keras tapi ikhlas. Hampir semua Guru sekarang ini berkomentar sama bahwa, anak jaman sekarang lebih susah diatur dan kepatuhan mereka lebih rendah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pikir semakin kebelakang disiplin  kepatuhan, dan sopan santun siswa kok semakin merosot. dan ini terjadi di hampir di semua sekolah yang menerapkan model sangsi seperti itu. Apakah dengan cara itu siswa akan semakin respec dengan gurunya atau malah semakin meremehkan arti dari sangsi hukuman itu. Saya merasakan ketika jarak semakin terbuka dengan siswa justru sopan santun dan hormat kepada guru sangat tipis sekali. Pendidikan masa lalu yang mengkedepankan wibawa dan keteladanan guru sekaligus sangsi hukuman yang to the point menghasilkan generasi yang relatif lebih patuh dibandingkan sekarang. itu semua lebih dikarenakan &#8220;aura kharisma Guru&#8221; yang mana sampai sekarang kita bisa menilai bahwa apa yang Beliau lakukan sebagai punishment itu ternyata adalah bentuk kasih sayang dan keikhlasan Beliau para mantan guru kita yang dulu. Mereka keras tapi ikhlas. Hampir semua Guru sekarang ini berkomentar sama bahwa, anak jaman sekarang lebih susah diatur dan kepatuhan mereka lebih rendah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ken Sanjaya</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-58</link>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 13:19:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-58</guid>
		<description>Jika kita menemukan siswa yang terbiasa dididik dengan kekerasan fisik, yang paling baik adalah menunjukkan kepada siswa pemahaman bahwa kita tidak menyetujui kekerasan fisik. Jika ia melanggar peraturan, ada pilihan konsekuensi logis atas perbuatannya. Nantikan bahasan kami mengenai “disiplin positif ” di edisi mendatang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jika kita menemukan siswa yang terbiasa dididik dengan kekerasan fisik, yang paling baik adalah menunjukkan kepada siswa pemahaman bahwa kita tidak menyetujui kekerasan fisik. Jika ia melanggar peraturan, ada pilihan konsekuensi logis atas perbuatannya. Nantikan bahasan kami mengenai “disiplin positif ” di edisi mendatang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ari</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/comment-page-1#comment-48</link>
		<dc:creator>ari</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Apr 2010 14:29:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159#comment-48</guid>
		<description>saya setuju dan perlu disosialisasikan. tapi bagaimana jika kita menemukan seorang siswa yang sudah terbiasa di didik oleh keluarganya dengan kekerasan fisik, bagaimana langkah kita? thanks</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju dan perlu disosialisasikan. tapi bagaimana jika kita menemukan seorang siswa yang sudah terbiasa di didik oleh keluarganya dengan kekerasan fisik, bagaimana langkah kita? thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

