<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; Reviews</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/category/reviews/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 02:40:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>How to Teach for Exams</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 15:28:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun di luar sana banyak sekali pendapat tentang UAN—yang setuju, lah,&#8230;yang tidak sertuju, lah,&#8230;ada satu hal yang pasti. Tes itu penting! Dan segala daya upaya harus kita kerahkan ketika kita akan mempersiapkan tes—untuk diri kita sendiri ataupun untuk membantu orang lain. Kali ini saya mau share salah satu buku yang sudah cukup lama ada di pasaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.amazon.co.uk/How-Teach-Exams-Sally-Burgess/dp/0582429676"></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.pearsonlongman.com/professionaldevelopment/howtoseries/how-to-teach-for-exams.html"><img class="size-full wp-image-188 aligncenter" title="How to Teach for Exams" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/03/images1.jpg" alt="" width="87" height="116" /></a>Walaupun di luar sana banyak sekali pendapat tentang UAN—yang setuju, lah,&#8230;yang tidak sertuju, lah,&#8230;ada satu hal yang pasti. Tes itu penting! Dan segala daya upaya harus kita kerahkan ketika kita akan mempersiapkan tes—untuk diri kita sendiri ataupun untuk membantu orang lain.</p>
<p>Kali ini saya mau <em>share</em> salah satu buku yang sudah cukup lama ada di pasaran yang membahas cara kita membantu siswa dalam menghadapi sebuah tes. Buku ini sangat spesifik dengan mengangkat Bahasa Inggris sebagai subjeknya. Tetapi apakah buku ini hanya bermanfaat bagi guru-guru Bahasa Inggris? Tidak juga. Ada beberapa manfaat yang bisa kita petik untuk diterapkan ke mata pelajaran lainnya.</p>
<p>Adalah seroang pakar pengajaran Bahasa Inggris yang bernama Jeremy Harmer. Dia mengeluarkan beberapa seri buku yang bisa dijadikan pegangan para praktisi pendidikan pada umunya dan guru-guru Bahasa Inggris pada khususnya. Di buku ini dia menjadi editor untuk dua penulis—<em>Sally Burgess </em>dan <em>Katie Head</em>.</p>
<p>Buku ini berjudul <em>How to Teach for Exams.</em> Tebalnya hanya 156 halaman dengan isi penting seperti:</p>
<p>-  Bagaimana menjadi guru sukses dalam mempersiapakan murid untuk sebuah tes</p>
<p>- Bagaimana memilih dan mempersiapkanmateri pengajaran yang sesuai untuk tes</p>
<p>- Bagaimana mengajarkan empat macam  ketrampilan berbahasa—berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis untuk ujian, dan lain-lain</p>
<p>Saya sendiri pernah melahap buku ini. Tulisannya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sangat bermanfaat untuk pendidik seperti saya.</p>
<p>UAN <em>nggak</em> UAN,&#8230;buku ini akan membantu kita menjadi pendidik yang sukses untuk mempersiapkan anak didik kita menghadapi sebuah tes.</p>
<p>PS: <a href="http://www.pearsonlongman.com/professionaldevelopment/howtoseries/how-to-teach-for-exams.html">LONGMAN</a> juga menyediakan CD nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/104.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/104.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 18:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[trailer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-103" title="sangpemimpi-209x300" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/sangpemimpi-209x300.jpg" alt="sangpemimpi-209x300" width="209" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan di Jerman, film ini memenangkan Gelar Film Terbaik&#8211;di festival film anak CINEPANZ ke dua puluh.</p>
<p style="text-align: left;">Memangnya apa sih yang spesial dari film ini? Kalau saya berbicara masalah teknis pembuatan film tentu saja tidak akanada yang percaya. Makanya saya akan melihat film ini lebih dalam dari sisi pendidikannya. Cerita di film ini masih berkutat seputar kehidupan si Novelis Andre Hirata di masa kecil. Dia tinggal di daerah Belitung yang keindahan alamnya sangat hebat. Namun keadaan itu tidak sehebat seperti yang beberapa anak-anak disana inginkan. Ada tiga anak sebagai tokoh utama di film ini. Ikal (Andrea Hirata yang masih kecil), Arai (saudara jauhnya), dan Jimbron (seorang anak yang gagap). Ketiganya mengalami hal-hal yang hebat untuk ukuran anak kecil seusia mereka di Belitung. Salah satu pembuka film ini adalah peristiwa bertemunya Arai dengan Ikal. Setelah itu menyusul Jimbron. Arai adalah seorang pemimpi yang selalu bersikap optimis dalam hidup. Sikap ini tetap ada di dirinya walaupun dia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan tidak mempunyai apa-apa lagi. Hal ini benar-benar menginspirasi Ikal dan Jimbron. Ketiganya bergumul dengan mimpi mereka. Semuanya menjadi terarah ketika salah satu guru mereka&#8211;Pak Julian&#8211;menyebutkan nama &#8220;SORBONNE&#8221;. Sorbonne adalah sebuah universitas di Perancis. Pak Julian benar-benar berusaha memotivasi semua muridnya untuk kesana. Dan ketiga tokoh utama di film ini pun memimpikan hal yang sama. Dalam usahanya mencapai impian, mereka bertiga berusaha keras untuk menabung demi bisa berangkat ke Jakarta dan kuliah dulu disana. Apa saja mereka lakukan. Mereka menjadi pelayan di sebuah restoran, bekerja di prabrik, mencari tambahan di pelabuhan dan lain sebagainya. Dengan tekad seperti itu tentunya mereka akan berhasil bukan? Ternyata belum pasti. Di tengah perjalanan meraih impian mereka, ada beberapa godaan yang menghambat mereka. Ikal, Arai dan Jimbron menghadapi tantangan mereka masing-masing. Jimbron ternyata tidak terlalu pintar. Tetapi toh dia tetap berusaha. Bagaimana dengan Ikal? Ketetapan hati Ikal goyah dengan beberapa hal yang dia lihat dan dengar dari orang-orang tentang mencapai mimpinya dengan lebih cepat namun bukan dengan cara belajar dan bermimpi. Bagaimana dengan Arai? Apakah jalan mimpinya lancar? Apakah mereka berdua bisa mencapai Perancis? Tidak adil buat si penulis dan pembuat film kalau saya menjawab pertanyaan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan buah pemikiran dari film itu. Poin-poin tersebut antara lain: 1. Seberapa pentingkah sebuah mimpi di dunia pendidikan? 2. Bagaimanakah sikap pendidik secara umum menanggapi mimpi seorang siswa didik? 3. Apakah bekerja setelah bersekolah itu baik? Tentu kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada kita semua tanpa konteks apa-apa, jawaban kita juga tidak cukup terarah. Oleh karena itu, mari kita tonton film &#8220;Sang Pemimpi&#8221; dan mulai mempunyai pendapat tentangnya. Selamat menonton. -Je- PS: Ariel perterpan ikut membintangi film ini. Kalau tidak percaya sama saya, silahkan &#8220;mengintip&#8221; trailer filmnya dengan cara klik kata-kata di bawah ini <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=yL0mjLyC-ho">Trailer Sang Pemimpi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/104.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Bullying</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 18:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu bullying? Siapa pelaku bullying? Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying? Bagaimana menghadapi bullying? Buku Barbara Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_94" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><br />
<img class="size-full wp-image-94" title="Stop Bullying" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/buku_stop_bullying.gif" alt="Barbara Coloraso" width="180" height="275" /><p class="wp-caption-text">Barbara Coloraso</p></div>
<p>Apa itu bullying?</p>
<p>Siapa pelaku bullying?</p>
<p>Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying?</p>
<p>Bagaimana menghadapi bullying?</p>
<p>Buku <a href="http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=145&amp;p=1">Barbara</a> Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying terjadi.</p>
<p>Buku ini bisa dijadikan pegangan bagi orang tua dan juga guru-guru untuk memutus rantai bullying di sekitar kita. Buku ini juga berisi kisah-kisah nyata dari korban dan pelaku bullying.</p>
<p><em>Mariskova</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Freedom Writers</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/freedom-writers.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/freedom-writers.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 00:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Menonton film ini merupakan (lagi) sebuah pencerahan bagi saya. Kisah ini diinspirasikan oleh sebuah kisah nyata dari seorang guru yang bernama Erin Gruwell yang harus mengajar di satu sekolah khusus bagi siswa-siswi yang multiras yang terjadi sekitar tahun 1996. Datang di hari pertama dengan membawa idealisme seorang staf pengajar yang baru akan mengajar untuk pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Menonton film ini merupakan (lagi) sebuah pencerahan bagi saya. Kisah ini diinspirasikan oleh sebuah kisah nyata dari seorang guru yang bernama Erin Gruwell yang harus mengajar di satu sekolah khusus bagi siswa-siswi yang multiras yang terjadi sekitar tahun 1996.</p>
<p><img class="alignright size-medium wp-image-41" title="freedom writers" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2009/12/freedomwritersposter-202x300.jpg" alt="freedom writers" width="202" height="300" /></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Datang di hari pertama dengan membawa idealisme seorang staf pengajar yang baru akan mengajar untuk pertama kalinya, Erin dikejutkan dengan adanya segregasi diantara siswa-siswinya. Bukan oleh tingkat kepandaian,  ataupun oleh tingkat ekonomi, tetapi oleh perbedaan perkumpulan (<em>gank</em>) yang didasarkan kepada ras. Terdapat tiga ras besar dalam kelas<em>Freshman English</em>nya yaitu Asia, Amerika Latin dan keturunan Afrika. Satu siswa kulit putih yang menjadi musuh nomor satu kelas itu (termasuk juga sang guru kelas karena dia berkulit putih) merasa teralienasi dan hanya merasa aman dengan duduk di dekat gurunya. Dimana lagi selain di bangku paling depan.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Kondisi yang ada menjadi bertambah buruk ketika kolega Erin di sekolah tersebut menunjukkan sikap apatis atas keadaan segregasi yang ada dan menyalahkan kondisi tersebut kepada dewan pendidikan kota. Dewan inilah yang merubah status sekolah menjadi sekolah integrasi yang (seharusnya) diikuti oleh siswa-siswi secara sukarela (<em>voluntary integration program</em>). Program inilah yang merubah ‘iklim’ belajar menjadi satu sistem dimana blok-blok pertemanan menjadi sangat dominan dan sekolah akhirnya memutuskan untuk melarang pembicaraan apapun yang berhubungan dengan <em>gank </em>dan hal-hal yang berkaitan dengannya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Ayah Erin sendiri menunjukkan ketidakpuasannya atas pilihan anaknya untuk menjadi guru di sekolah khusus itu. Dia berujar,’Banyak-banyaklah mengambil pengalaman. Ini hanya sebuah pekerjaan. Bila kau tak menyukainya, kau bisa menggantinya.’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Hari-hari pertama Erin dilewati dengan kegagalan demi kegagalan. Ketika akhirnya siswa-siswinya menemukan bahwa mereka sebenarnya adalah sama: berjuang untuk hidup hari demi hari dengan cara apapun, bahkan dengan mengikuti sebuah perkumpulan, barulah Erin merasakan inti pengajaran yang sesungguhnya. Siswa-siswi yang semula dianggap tidak dapat memahami literature-literatur rumit pada akhirnya diberikan kesempatan untuk mengetahui ‘dunia di luar’ kehidupan <em>gank </em>mereka. Mereka menjalani wisata sekolah, menulis agenda harian yang berisikan tentang cerita kehidupan mereka, dan bahkan berhasil mengundang satu tokoh penting dalam cerita yang mereka baca demi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang mereka miliki atas diri mereka sendiri. Pada akhirnya, agenda harian mereka itu dibukukan dan berhasil diterbitkan. Benar-benar <em>amazing</em>,</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Namun keberhasilan itu tidak terlepas dari beberapa pengorbanan yang akhirnya harus dijalani Erin seperti pertemuanny</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">a dengan dewan pendidikan kota, 2 macam pekerjaan yang harus diambilnya untuk dapat membelikan buku-buku baru dan satu pengorbanan besar yang tak pernah terbayangkan akan dialaminya. Benar-benar sebuah harga yang mahal sebagai pendidik.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Lalu apakah harga yang dibayarkan itu pantas? Dan bagaimana Erin dapat melewati masa-masa sulit di awal pengajarannya hingga akhirnya siswa-siswinya tidak rela melepaskan sang guru di tahun berikutnya? Saksikan filmnya dan temukan detil strategi Erin di film ini.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">‘Freedom Writers’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Paramount Pictures &amp; MTV Entertainment</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;">Hillary Swank, Imelda Staunton, Scott Glenn, Mario, Robert Wisdom, Kristin Herrera, Jacklyn Ngan</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; text-align: left; padding: 0px;"><em>Je<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/freedom-writers.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of Learning Styles</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/the-power-of-learning-styles.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/the-power-of-learning-styles.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 04:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Menemukan gaya belajar siswa kita lalu membuat formulasi pendekatan yang sesuai untuk mengajar di satu kelas dengan anak-anak yang berbeda bakatnya akan (kalau tidak dapat dikatakan ‘selalu’) menjadi salahsatu tantangan dalam mengajar, kalau (juga) tidak dapat dikatakan sebagai tantangan terbesar. Dalam prolog-nya sang penulis, Barbara Prashnig mengkritik pendidikan yang diterima oleh jutaan anak yang belajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_35" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-35 " title="The_Power_of_Learning_Styles" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2009/12/The_Power_of_Learning_Styles.jpg" alt="Barbara Prashnig" width="150" height="193" /><p class="wp-caption-text">Barbara Prashnig</p></div>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Menemukan gaya belajar siswa kita lalu membuat formulasi pendekatan yang sesuai untuk mengajar di satu kelas dengan anak-anak yang berbeda<span style="font-size: 13px; "><span style="font-size: 15px; "> bakatnya akan (kalau tidak dapat dikatakan ‘selalu’) menjadi salahsatu tantangan dalam mengajar, kalau (juga) tidak dapat dikatakan sebagai tantangan terbesar. Dalam prolog-nya sang penulis, Barbara Prashnig mengkritik pendidikan yang diterima oleh jutaan anak yang belajar dengan system sekolah yang tidak sesuai dengan bakat setiap anak. Hal inilah yang mungkin akan menarik minat kita untuk membaca buku ini dengan harapan akan menemukan sedikit ‘pencerahan’ dalam gaya mengajar (atau bahkan, gaya belajar) kita.</span></span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Dari segi tampilan, tata letak buku ini boleh dikatakan unik. Pada halaman kanan ditulis dalam format sugestopedia. Ruang kosong untuk catatan kecil pembaca juga disediakan di halaman ini. Sementara pada halaman kiri berupa pemikiran dan slogan-slogan utama yang merupakan stimulan bagi mereka yang membutuhkan deskripsi pendek akan suatu topic. Terdapat kesan bahwa inilah cara Barbara menunjukkan pada pembaca bahwa dia juga menyediakan lebih dari satu macam jalan untuk dapat memahami isi bukunya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Kembali kepada penerapan konsep keberagaman, Barbara menyebutkan ‘perkataan lama seperti ‘Kerjakan seperti yang kulakukan’ atau ‘Kerjakan sesuai perintahku’ yang sering digunakan oleh orangtua kepada anak-anak mereka atau antara guru kepada muridnya jelas bukan pendekatan yang paling tepat untuk mengeluarkan kemampuan seseorang karena tidak mempertimbangkan keragaman manusia’ (Halaman 47).</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Lebih lanjut, Barbara menyebutkan bahwa ‘sikap menyeragamkan juga sangat tidak adil bagi semua orang dan memberi dampak buruk yang besar terhadap pengembangan potensi manusia sehingga menyebabkan penghargaan diri rendah, motivasi menurun, stress meningkat, kecemasan dan kinerja yang tidak konsisten.‘</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Meskipun mungkin bukan satu-satunya kambing hitam penyebab hal-hal buruk tersebut, pendapat Barbara ini cukup membuat kita berkaca pada konsep pengajaran yang telah dilakukan selama ini. Muncul pertanyaan seperti, ‘Apakah saya telah memaksakan gaya belajar saya kepada siswa-siswi saya?’, ‘Apakah saya telah menjadi salah satu penyumbang kegagalan system pendidikan yang menyeragamkan gaya pengajaran kepada pelajar?’ dan lain sebagainya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Untuk membantu pengajar menemukan cara terbaik dalam menyampaikan materi pengajaran, Barbara Prashniq bekerjasama dengan Kevin Dunn dari New York untuk menciptakan instrumen baru yaitu Learning Style Analysis (Analisis Gaya Belajar) dengan 2 kategori yaitu untuk versi sekolah dasar dan sekolah lanjutan (SMP dan SMA), LSA dilambangkan oleh tingkatan dalam piramida dimana empat<span style="font-size: 13px;"><span style="font-size: 15px;"> tingkat pertama ditentukan secara biologis dan genetik sementara dua tingkat terakhir dikondisikan atau dipelajari (halaman 97-99).</span></span></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Hal yang juga bermanfaat dari buku ini adalah dengan disediakannya beberapa contoh kasus kekeliruan penerapan cara belajar siswa (halaman 215-223), skema rencana pelatihan secara umum bagi guru dan staf penunjangnya (halaman 239-245) dan diakhiri dengan saran penciptaan suasana yang mendukung perkembangan gaya belajar anak-anak di rumah.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Satu hal yang patut disayangkan dari buku ini adalah beberapa ‘tugas’ yang dapat dilakukan pembaca untuk lebih memahami penerapan isi buku ini harus dilakukan secara on-line sehingga dirasakan kurang praktis, terutama bagi mereka yang sulit terhubung ke dunia maya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Suatu contoh penerapan konsep LSA dalam bentuk silabus juga akan sangat membantu para pembaca yang ingin mencoba menerapkan konsep ini. Terlebih lagi terdapat daftar panjang sekolah-sekolah di Selandia Baru yang telah menerapkan konsep LSA ini dan dinilai cukup berhasil.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;"><strong>‘The Power of Learning Styles’</strong><br />
Barbara Prashnig<br />
Penerbit Kaifa, Juni 2007</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;"><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/the-power-of-learning-styles.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
