<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; Headlines</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/category/headlines/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 17:33:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Penutur Asli vs Penutur Non-Asli</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/penutur-asli-vs-penutur-non-asli.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/penutur-asli-vs-penutur-non-asli.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 02:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Native Speaker]]></category>
		<category><![CDATA[Penutur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[Saya percaya teman-teman pengajar bahasa Inggris sering menelan ludah pahit jika harus mengajar dalam  satu tim dengan penutur asli.  Bahan yang diajar sama, pesertanya sama, tapi kenapa honor dibedakan? Kalau sekedar berambut pirang dan berkulit Kaukasian, memang kami tidak bisa merubah sel  genetis, tapi kalau urusan kompetensi ? Mungkin anda juga tahu ada sekelompok orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya percaya teman-teman pengajar bahasa Inggris sering menelan ludah pahit jika harus mengajar dalam  satu tim dengan penutur asli.  Bahan yang diajar sama, pesertanya sama, tapi kenapa honor dibedakan? Kalau sekedar berambut pirang dan berkulit Kaukasian, memang kami tidak bisa merubah sel  genetis, tapi kalau urusan kompetensi ?</p>
<p>Mungkin anda juga tahu ada sekelompok orang (semoga anda bukan salah satu diantara mereka yang mengatakan) bahwa baru mau kursus atau belajar bahasa asing jika yang mengajarnya adalah penutur asli.  Atau bersedia ikut seminar pengajaran bahasa asing kalau yang membawakannya penutur asli.</p>
<p>Dalam edisi jumat, Jakarta Globe,  October 29 halaman 7, seorang mahasiswi program PHd , UW Madison, Amerika Serikat menyatakan seorang penutur asli bahasa Inggris dapat memberikan input bahasa yang diharapkan hanya JIKA mereka memiliki kemampuan pedagogy.  Di sisi lain,  para pengajar bahasa asing non penutur asli aka orang Indonesia mengajar bahasa asing di Indonesia dituntut memiliki ijazah formal pengajaran bahasa Inggris atau setara dengen TEFL, TESOL atau CELTA. Yang terjadi seringkali di Indonesia, penutur asli hanya bermodalkan selembar kertas sertifikat  berdasarkan tes teori pengajaran yang diberikan secara on-line. Menyedihkan.</p>
<p>Memang pakem bahwa penutur asli bisa mengajarkan bahasa yang alami, yang memang dipakai oleh orang yang berbahasa tersebut, dan bukan  bahasa textbook yang salah konteks. Memang, lafal pengucapan sang penutur asli pun pasti lebih dipercaya, meskipun bisa saja tetap ada unsur dialek lokal darimana si penutur asli berasal.</p>
<p>Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih penutur asli :</p>
<ol>
<li>Penguasaan metode pengajaran (pedagogy)</li>
</ol>
<p>Jika penutur asli tidak menguasai metode pengajaran (pedagogy) bahasa, proses pembelajaran malah akan membahayakan proses pemerolehan bahasa bagi anak-anak.  Karena apa yang mereka pelajari akan menjadi dasar apa yang mereka pelajari seumur hidupnya. Bahayanya ada 2 : anak-anak tidak “mendapat apa-apa” atau belajar bahasa dengan cara yang salah. Ada, misalkan pengajar penutur asli yang hanya memberikan permainan di kelas tanpa ada learning point atau tidak komunikatif. Atau anak-anak belajar kata-kata yang tidak senonoh atau tidak sopan atau tidak sesuai dari gurunya yang penutur asli itu.</p>
<p>2.  Penguasaan tata bahasa yang sesuai dengan kaidahnya.</p>
<p>Jangan sangka para penutur asli mengetahui kaidah tata bahasa, meskipun itu bahasa mereka. Predikat penutur asli tidak menjamin kemampuan atau pengetahuan tata bahasa dan kaidahnya. Penulis menemukan beberapa kejadian bahkan penutur asli itu mencari referensi dari buku “Grammar for Dummies” yang pastinya tidaklah cukup untuk mengajarkan kepada orang yang belajar bahasa.</p>
<p>3. Proses seleksi dan rekruitmen</p>
<p>Sebaiknya ada proses seleksi dan rekruitmen yang memastikan kompetensi yang memadai. Penulis mengambil contoh, jika seorang penutur non asli (Non-native speaker) pengajar bahasa inggris ingin menjadi asisten mengajar di Universitas di Amerika, maka harus melalui prasyaratan minimal gelar kesarjanaan atau master dalam bidang pengajaran Bahasa Inggris, dan magang selama 2 tahun ditambah nilai TOEFL minimal 550.</p>
<p>Di Indonesia memang ada beberapa institusi yang memberikan prasyarat nilai TOEFL dan paling tidak internal training dan praktek mengajar sekian kali bagi para orang Indonesia yang akan mengajar bahasa Inggris. Sebaiknya ada juga prasyarat yang diberlakukan kepada para penutur asli, yang dapat dipertanggungjawabkan demi jaminan kualitas hasil belajar peserta didik.</p>
<p>Pada intinya baik penutur asli maupun penutur asing yang mengajar bahasa Inggris perlu memiliki kemampuan berbahasa dan pedagogy.  Meskipun demikian,  menurut saya ada banyak kelebihan pengajar yang bukan penutur asli  antara lain: area kesulitan pembelajaran bahasa asing bagi orang Indonesia sehingga empatinya lebih baik,  sikap yang memberi teladan dalam pengajaran bahasa asing : bahwasanya boleh saja  mahir berbahasa asing, tapi  bahasa nasional tetap bahasa Indonesia, dan  bertindak tanduk lokal serta bangga menjadi bangsa Indonesia.  Jangan ragu untuk bersejajar  dengan penutur asli.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/penutur-asli-vs-penutur-non-asli.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STORY TELLING…BISA!</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/story-telling-bisa.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/story-telling-bisa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 06:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Story Telling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin memulai tulisan ini dengan beberapa checklist. Silahkan “centang” beberapa pernyataan di bawah ini sesuai dengan keadaan anda sekarang. Anda ingin melakukan story telling kepada anak-anak kecil &#8230; Anda malu jika harus beracting seperti isi ceritanya &#8230; Anda merasa tidak mempunyai kemampuan memanipulasi suara seperti karakter cerita &#8230; Anda takut merasa konyol di depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya ingin memulai tulisan ini dengan beberapa checklist. Silahkan “centang” beberapa pernyataan di bawah ini sesuai dengan keadaan anda sekarang.</p>
<ol>
<li>Anda ingin melakukan <em>story telling</em> kepada anak-anak kecil &#8230;</li>
<li>Anda malu jika harus ber<em>acting</em> seperti isi ceritanya &#8230;</li>
<li>Anda merasa tidak mempunyai kemampuan memanipulasi suara seperti karakter cerita &#8230;</li>
<li>Anda takut merasa konyol di depan anak-anak kecil &#8230;</li>
</ol>
<p>Dari keempat nomor diatas, apabila anda men”centang” nomor satu, dan tidak, atau hanya beberapa di nomor-nomor selanjutnya, mungkin ada baiknya jika anda membaca postingan ini sampai akhir. Apabila anda mempunyai jawaban lain, tetap tidak ada ruginya <em>kok </em>jika anda meluangkan waktu untuk membaca artikel ini. Siapa tahu anda bisa membagi tulisan ini yang berisi tentang ide-ide untuk bercerita apabila anda malu kepada teman-teman anda.</p>
<p>Ada beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk tetap menghadiahkan anak-anak kecil cerita-cerita yang bagus walaupun anda malu. Berikut ini ada empat ide:</p>
<p>1. Gunakan mainan anak-anak</p>
<p>Ada robot? Ada boneka? Ambil saja keduanya. Tanyalah kepada si anak siapa nama mereka. Lalu gerakkanlah robot dan boneka itu. Mulailah dengan si boneka atau robot menanyakan nama mereka seolah-olah mereka berkenalan. Anda cukup bertanya (dengan suara normal anda) “Siapa kamu?” Dan biarkanlah anak itu yang menjawabnya. Dialog demi dialog akan mengalir dengan sendirinya.</p>
<p>2. Maksimalkan ibu jari anda</p>
<p>Ambillah marker. Gambar wajah sedih dan wajah ceria di masing-masing ibu jari anda. Mulailah dengan kalimat tanya:</p>
<p>“Kok kamu sedih?”</p>
<p>“Iya.”</p>
<p>“Ada apa?”</p>
<p>Dan lalu pancinglah anak untuk menjawab. Jika masih belum ada respon dari anak, lanjutkanlah dengan adegan-adegan yang mudah. Jangan lupa untuk membicarakan hal-hal yang sederhana dan berhubungan langsung dengan dunia anak seperti nilai yang jelek di sekolah, pe-er yang susah dan lain sebagainya.</p>
<p>3. Perhatikan karakter-karakter di kemasan makanan/ minuman</p>
<p>Pada saat anak anda ingin meminum susu atau makan cereal sarapan pagi, ajaklah dia untuk mulai memberi nama makhluk-makhluk yang ada di kemasan produk. Lalu seperti dua nomor diatas, mulailah adegan menyapa. Dan selanjutnya, ikuti saja perkembangan dialog yang mungkin.</p>
<p>4. Manfaatkanlah karakter-karakter di kaos anak-anak anda</p>
<p>Karakter apa yang tergambar di kaos anak-anak? Mungkinkah tokoh kartun Ben 10 yang bisa berubah-rubah bentuk? Anda bisa mulai dari sana. Buatlah seolah-olah Ben 10 yang memanggil anak anda untuk membantu anda melipat pakaian bersih. Dari sana, imajinasi anak akan mengalir.</p>
<p>Memang suatu anugrah apabila anda bisa memanipulasi suara anda menirukan beberapa karakter dalam cerita. Sungguh sangat beruntung juga apabila anda mempunyai imajinasi yang tinggi untuk bercerita. Dan nilai <em>plus</em> apabila anda mempunyai bakat menghayati peran dalam acara story telling bersama anak. Namun kalau anda tidak begitu, itu tidak akan menjadi masalah. Sebagian besar <em>story telling</em> sangat tergantung dengan kemauan. Kalau anda mau, silahkan mencoba empat ide diatas sebagai awalan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/story-telling-bisa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, bercerita!</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/yuk-bercerita.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/yuk-bercerita.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 05:36:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Metafor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Apakah sewaktu kecil anda senang diceritakan dongeng Cinderella atau Pinokio ? atau Semar Bagong Petruk Gareng , dongeng silat Ho Ping Ho atau dongeng 1001 malam beserta Aladin? Atau ada yang teringat di suatu masa ada kaset sandiwara sanggar cerita yang sangat beken atau sandiwara radio satria madangkara nan seru itu? Masa kecil saya sakit-sakitan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2011/11/metaphor2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-527" title="metaphor" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2011/11/metaphor2-150x147.jpg" alt="" width="150" height="147" /></a>Apakah sewaktu kecil anda senang diceritakan dongeng Cinderella atau Pinokio ? atau Semar Bagong Petruk Gareng , dongeng silat Ho Ping Ho atau dongeng 1001 malam beserta Aladin? Atau ada yang teringat di suatu masa ada kaset sandiwara sanggar cerita yang sangat beken atau sandiwara radio satria madangkara nan seru itu?</p>
<p>Masa kecil saya sakit-sakitan dan seringnya harus “dirumahkan”  atau terbaring di rumah sakit menjadikan saya anak yang tergantung dengan buku. Buku apa saja jadi teman baik saya sejak kecil : cerita dongeng Snow Whit, komik petualangan Tin Tin, Winnetou, Asterix, Tanguy  sampai novel Lima Sekawan, atau Si Badung. Dalam keadaan terbaring berhari-hari saya bisa terhibur dengan membaca dan mengkhayalkan tokoh-tokoh cerita itu dan bahkan melanjutkan ceritanya versi saya dengan berteman tembok berkapur putih di samping tempat tidur saya. Seolah permukaan tembok itu menjadi layar hidup berisi tokoh-tokoh itu, dan cerita berlanjut , dan yang lebih penting lagi kehidupan saya pun berlanjut&#8230;</p>
<p>Hingga kini cerita-cerita itu tetap membuat saya takjub ; misalkan bagaimana seorang puteri masih bisa lemah lembut meskipun dijahati, betapa dalam keadaan yang serba tak mungkin seorang gadis biasa seperti Upik Abu dibantu peri baik hati yang tak minta bayaran  plus masih  dapat hadiah pangeran yang tampan rupawan. Aih, ternyata kalau kesabaran dan ketabahan itu ada hadiahnya pangeran rupawan saya pun rela lah bersabar, itu lah pikiran saya. Hehe. Sampai sekarang saya masih kagum ada tokoh Semar, orang dari kaum kebanyakan namun luar biasa bijaksana dan sakti mandraguna.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apakah  Cerita Dongeng Baik ? </strong></p>
<p>Sejak dahulu kala, cerita dalam bentuk metafor banyak digunakan para tokoh agama dan guru sebagai cara untuk menyampaikan suatu kebenaran. Ahli komunikasi, pemimpin dan negotiator di masa kini menggunakan metafor atau cerita yang bermakna dalam dengan karakter cerita yang kuat untuk menginspirasikan, mempengaruhi dan memotivasi orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dongeng, dalam istilah Neurolinguistic Programming  (NLP) termasuk teknik yang  disebut Metafora, yaitu suatu <strong>cara yang sering digunakan untuk menjelaskan suatu konsep, prilaku atau situasi</strong> dengan menggunakan persamaan/ perbandingan. Biasanya lebih mudah memahami sesuatu yang asing  bagi kita dengan cara menghubungkannya dengan hal yang kita sudah kenal dengan baik.</p>
<p>Otak manusia terdiri dari belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berkaitan dengan logika dan rasionalisasi . Biasanya, jika kita memberitahu atau mengkritik orang secara langsung, kita mengakses pikiran orang tersebut dalam keadaan sadar sepenuhnya, sehingga si pendengar lebih menggunakan otak kirinya dan menggunakan  logikanya sehingga lebih sulit menerima kritikan.Di lain pihak,  pada saat kita bercerita kita bisa membuka pikiran orang lain dan mengakses pikiran bawah sadarnya dalam keadaan yang relaks sehingga orang tersebut menerima apa yang kita sampaikan tanpa merasa tensinggung atau  tersudutkan dan pada akhirnya membahas masalah-masalah yang terpendam.</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor (atau bercerita) banyak digunakan karena dapat menstimulasi sisi otak kanan:  memicu pemikiran holistik, merangsang imajinasi melalui bentuk visual dan sensorik untuk memahami suatu konsep yang abstrak sekalipun, sementara dalam pikiran bawah sadar informasi yang baru disambungkan dengan data base yang sudah tersimpan</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa jenis metafora antara lain : analogi, simile, lelucon, cerita, parabel dan alegori.  Beberapa jenis  teknik cerita metafor dipergunakan dalam NLP :</p>
<p style="text-align: justify;">1.      Simplifying (menyederhanakan)</p>
<p style="text-align: justify;">Jenis metafor ini singkat, tepat dan menghasilkan hasil yang diinginkan, serta menjembatani elemen yang kompleks.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">2.      Depersonalizing (tidak membuat orang merasa terpojok/ dituding)</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor jenis ini dipergunakan untuk mencegah seseorang tersinggung atau dipermalukan disaat pesan disampaikan. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan menggunakan pengandaian atau cerita, tanpa adanya komentar pribadi yang dilontarkan. Jadi, lebih mudah bagi seseotang untuk melihat sudut pandang orang lain yang pada keadaan normal tidak mau menerima perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">3.      Memicu kreatifitas</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor dihubungkan dengan otak kanan. Metafor juga dapat mengakses pikiran bawah sadar sehingga mengeluarkan zat-zat kreatif seseorang sehingga menjadi lebih terbuka terhadap alternatif solusi dan pendapat pribadinya untuk menyelesaikan masalah. Metafor biasanya digunakan untuk menanamkan suatu konsep atau mengembangkan ide-ide yang terpendam. Metafor juga menghasilkan inovasi dan kreatifitas, dan dulunya digunakan Einstein untuk  masuk ke dalam mode kreatif.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">4.      Enlightening (mencerahkan)</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor yang digunakan dalam bahasa kita mengindikasikan diri kita. Contohnya, beberapa orang mempergunakan metafor uang, dan biasanya orang-orang seperti ini berorientasi pada uang atau bisnis. Dengan mendengarkan metafor yang dipergunakan seseorang, kita bisa mengetahui nilai-nilai yang mereka anut. Informasi ini dapat dipergunakan untuk menjaga hubungan dan berkomunikasi secara efektif dengan mempergunakan teknik mencocokkan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">5.      Mencocokkan</p>
<p style="text-align: justify;">Teknik metafor dapat dipergunakan untuk mencocokkan nilai yang dianut seseorang kemudian memperkenalkan konsep baru atau cara lain melakukan sesuatu dengan cara mengganti bagian akhir cerita. Dengan cara ini, anda dapat menyelaraskan pengalaman seseorang dengan menggunakan metafor kemudian mengarahkannya untuk menerima suatu yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">6.      Mempersonalisasikan</p>
<p style="text-align: justify;">Teknik ini paling berguna untuk digunakan dalam organisasi. Sebuah organisasi biasanya merupakan suatu kesatuan yang impersonal dan tidak ada beremosi. Dalam hal ini, metafor diperlukan untuk mempersonalisasikan dan menarik perasaan manusiawi, dibandingkan mempergunakan ketentuan hukum dan bahasa yang tidak personal. Seringkali metafor dipergunakan untuk membangkitkan organisasi dan menghadirkan misi dan budaya perusahaan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">7.      Menarik perhatian</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor juga dipergunakan untuk menarik perhatian dan mempertahankan konsentrasi. Pikiran kita terbuka saat kita mendengarkan cerita, anekdot, fable yang dipenuhi efek visual dan bahasa sensorik. Jika anda perhatikan seorang pembicara karismatik dan mempesona, anda pasti temukan bahwa pidato orang tersebut dipenuhi metafor. Informasi yang disampaikan dengan cara begini, akan bertahan lebih lama di dalam memori.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">8.      Mengatasi resistansi</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor adalah cara yang luar biasa untuk menghindari konflik dan resistansi. Anda juga dapat menyampaikan permasalahan dalam bentuk cerita, dan bertanya kepada orang tersebut untuk mengakhirinya. Karena tidak ada yang dipersalahkan, jawabannya dapat keluar dalam bentuk akhir cerita.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">9.      Menciptakan ingatan yang kuat</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor dapat menyuguhkan imaji visual, suara atau gerak di dalam pikiran kita. Melalui metafor kita dapat melihat, mendengar dan merasakan ide-ide disampaikan. Sebagai akibatnya, informasi yang disampaikan tertanam dengan kuat di otak kita dan kita mengingatnya dalam waktu yang panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">10.  Kesadaran dan introspeksi</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor juga merupakan alat introspeksi untuk pengembangan diri. Dengan mengakses otak kanan, anda dapat masuk ke pikiran bawah sadar dan menemukan jawabannya sendiri. Anda juga mendapat pemahaman tentang orang lain, dengan mengindetifikasikan metafor yang digunakan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">11.  Mengidentifikasi masalah</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor juga dapat dipergunakan untuk menemukan masalah. Solusi permasalahan tidaklah sepenting menemukan masalah. Dengan mempergunakan metafor dalam bentuk cerita atau anekdot, permasalahan yang tersembunyi dapat muncul. Jika anda menyadari permasalahannya, anda akan dapat menemukan solusinya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">12.  Menggali emosi</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor menyentuh emosi dan perasaan kita lewat panca indera. Cerita pendek yang dipenuhi perasaan yang murni dapat membuat kita tertawa atau menangis, sesuatu yang tidak dapat dikalahkan oleh metafor. Tindakan kita dipengaruhi oleh emosi, dan digunakan untuk membuat keputusan dan bertindak. Komunikator yang efektif tahu pentingnya menggunakan imajinasi manusia dan melibatkan hati, dibanding otak.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h3 style="text-align: justify;">Ciri-ciri metafor</h3>
<p style="text-align: justify;">Suatu cerita disebut metafor jika mengandung elemen-elemen yang sensasinya bisa dirasakan oleh tubuh kita, biasanya sangat kaya, mendalam dan hidup—bukan jenis cerita yang di”buat” oleh pikiran sadar dengan rumus tertentu; bukan sekedar fakta; melibatkan seluruh susunan syaraf, biasanya mengejutkan dan tidak tertebak pada bagian akhirnya; tak terlupakan; artinya diserap oleh pikiran sedemikian rupa sehingga mudah disimpan, dan dapat di”panggil kembali” jauh sesudahnya; dan yang terpenting adalah mengandung EMOSI dan seolah-olah si pendengar “merasakan dengan tubuhnya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentunya tidak semua cerita dapat mengubah seseorang. Pada saat perubahan terjadi  tidak selalu berarti orang mengingat ceritanya&#8211; tentu saja jika ceritanya mudah dilupakan berarti cerita tersebut gagal memberi dampak.  Seberapa jauh sepotong cerita akan diingat tergantung dari seberapa besar cerita tersebut akan membawa dampak bagi seseorang, dan seberapa kuat mereka merasakannya melalui panca inderanya. Sensasi atau pengalaman seseorang lah yang membuat suatu cerita “nyata” bagi seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor merupakan cerita tentang pengalaman manusia. Semua informasi yang disampaikan, perubahan dan pembelajaran semata-mata mengenai pengalaman manusia. Bisa saja kita membuat metafor tentang kartun anjing dan kucing, yang menceritakan kucing pergi ke medan perang, kuda bisa berbicara, melompat, boneka kayu saling memukul, peri dan jin, bahkan mengenai makluk angkasa luar, tapi pada akhirnya semuanya mengenai pengalaman manusia, pembelajaran dan perubahan dalam kemasan yang cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">Aesop, contohnya, menggunakan tokoh keledai, kucing dan srigala untuk menunjukkan 3 orang yang bertengkar. Ketiga  tokoh ini menggambarkan perangai manusia – satu orang bodoh dan keras kepala tapi baik hati, satunya lagi hanya memikirkan diri sendiri, putus asa dan agak malas, tokoh yang ke-3 jahat dan curang terhadap kedua temannya. Kita semua pernah bertemu orang-orang seperti itu – cerita metafor memadatkan dan menekankan aspek-aspek tertentu untuk menghasilkan pegerakan energi yang lebih baik dan respon yang lebih jelas dan alami, dan pembelajaran yang lebih berdampak atau perubahan bagi para pendengarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita metafor yang melibatkan hewan, seperti cerita Aesop dan cerita dongeng lainnya, merupakan salah satu cara menghadirkan informasi yang menciptakan pergerakan dari suatu titik pemahaman ke titik pemahaman lain melintasi batas yang diinginkan. Batas yang dilewati mungkin merupakan hambatan sistem energi pendengar, dan pergerakan dalam cerita dirancang sedemikian rupa agar pendengar melewati hambatan dari dirinya sendiri untuk kemudian mencapai resolusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkatan cerita metafor yang tertinggi adalah cerita yang terumit, yaitu cerita peri-peri (dongeng). Dalam cerita dongeng, tokohnya manusia dan bukan hewan. Konsep “peri” mencakup adanya  kekuatan “dunia lain” yang mengagumkan—dongeng merupakan cerita metafor dimana orang-orang berinteraksi sesamanya dan dengan NASIB.</p>
<p style="text-align: justify;">Dongeng peri melibatkan MANUSIA, bukan hewan; disitulah letak perbedaan yang terpenting. Konsep dongeng “peri” juga menghadirkan kekuatan dari “dunia lain” sehingga berefek berbeda .Namun kita juga mempertahankan “sudut pandang yang berbeda” – ini bukan cerita tentang tetangga kita yang memiliki 2 anak, orang-orang dalam cerita ini “tinggal di suatu kerajaan nun jauh di sana, di suatu masa”.Dengan cerita metafor, kita terlena akan rasa aman – “cerita ini tidak ada hubungannya dengan dirimu, dirimu aman, ini semua jauh berbeda denganmu dan masalahmu, dengar saja, temanku..”</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu kita terhanyut oleh cerita, kita menjadi “BAGIAN DARI CERITA”, masuk ke dalamnya, dan ketika kita sudah demikian, kita merasakan perpindahan energi sebagaimana tokoh dalam cerita alami, dalam waktu yang nyata, sejalan dengan cerita berlangsung. Maka dari itu, kita bisa menjadi marah ketika merasakan perlakuan buruk ibu tiri yang jahat; kita menjadi takut ketika pemburu membawa kita ke hutan yang gelao dan pisau yang tajam tersembunyi dibalik punggung si pemburu, kita terkejut ketika sesuatu terjadi, kita sedih dan kecewa – sebenarnya, kita sedang membuat tarian pergerakan energi yang tertulis sejalan dengan bergulirnya cerita. Dan disini lah perubahan terhadap sistem energi kita sendiri terjadi. Beginilah pembelajaran yang sebenarnya terjadi, beginilah manusia belajar dan berubah.<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana menulis cerita metafor</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk bisa menulis cerita metafor, anda harus masuk  kedalam alur peristiwa yang anda ketahui kemudian menggunakan metafor sejauh yang  anda inginkan. Apakah anda punya cerita lucu di dalam keluarga anda? Sesuatu yang menarik yang terjadi kepada orang yang anda kenal? Sesuatu yang menarik dan penting yang telah anda pelajari dan terjadi pada anda?</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Saya  mempunyai pengalaman berenang di laut, dan terhanyut sampai ke tengah laut karena arus yang deras. Tdak ada cara lain  untuk menyelamatkan diri selain berenang ke pinggir pantai.  Tapi saya begitu lelah untuk berenang ke tepi, dan rasanya saya hampir tenggelam  dan anak-anak anda melihatnya dengan jelas dari pantai. Lalu saya berhenti berenang, dan berusaha, nafas saya tersengal-sengal karena berusaha mengatasi rasa takut dan berusaha mencari jalan keluar. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Saya mengapung di air, dan tersadar oleh ombak besar yang menggulung dan menghalau saya – hei, arahnya menuju pantai. Terbersitlah ide  &#8212; saya kemudian berenang mencapai ombak sekuat tenaga dan memasrahkan diri saya tersapu ombak sedikit demi sedikit.  Begitu ombak berhenti, saya berhenti berenang dan mengambil nafas, dengan demikian saya bisa menghemat banyak tenaga dan nafas.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dalam waktu setengah jam, saya berhasil mencapai pantai&#8212; penuh rasa lelah dan bersyukur bisa selamat dan kembali ke daratan.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari cerita nyata seperti ini, anda bisa merasakan pengalaman saya ini seolah-olah terjadi pada anda. Padahal cerita ini benar-benar terjadi, dan disitulah intinya cerita metafor – ada kebenaran yang tersembunyi : sebab dan akibat dari aturan alam. Jika unsur kebenarannya tidak ada, hasil cerita hanya akan jadi cerita tak bermutu, tidak berdampak apa-apa pada pembaca, sehingga terlupa dan tak ada artinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana mengubahnya menjadi metafor? Mungkin kita bisa menggunakan urutan kejadiannya yang sama, namun mengganti tokohnya menjadi seekor bebek yang berenang di laut dan daratan terlalu jauh untuk dicapai. Atau, tokohnya bisa diganti burung yang sedang migrasi, yang kehabisan tenaga,dan masih jauh dari daratan, hingga terdorong oleh angin ke arah daratan.</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor bisa berubah, tapi ceritanya tetap sama, peristiwa dan perasaannya tetap sama, dan pembelajaran didalamnya tetap ada. Cerita seperti ini banyak diingat orang pada saat krisis, dan mereka mempergunakan pergerakan energi untuk berhenti, dan berpikir dan mendengarkan, sehingga mereka bisa mempergunakan lingkungan untuk menyelamatkan diri, karena kalau mereka terus berusaha, mereka malah akan celaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Metafor sungguh hal yang luar biasa, karena berisi peristiwa-preristiwa yang berlapis-lapis, dan kompleks sehingga mampu merubah orang-orang yang mendengarnya. Metafor dapat mengajari kita bagaimana mengatasi masalah dan situasi yang belum pernah kita  hadapi sebelumnya, dan yang terpenting, bisa dipergunakan untuk “mengangkat” hambatan energi yang menghambat pertumbuhan dalam berpikir, berespon secara emosi dan bahkan secara fisik , sehingga penyembuhan dan pemulihan energi dapat terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin anda mau mulai menulis metafor anda sendiri? Sebenarnya sungguh merupakan hal yang menarik bagaimana kita bisa menuliskan pengalaman penting dalam hidup kita dan membaginya dengan orang lain tanpa harus menampilkan diri anda yang sebenarnya. Cobalah menerjemahkan pergerakan dan peristiwa hidup anda dalam metafor, dan menggunakan inti cerita dimainkan di panggung yang lain, dengan aktor yang berbeda, dengan kostum yang berbeda, dengan waktu yang berbeda &#8212; tapi cerita tetap sama&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Semua metafor biasanya berpengaruh besar pada seseorang, meskipun efeknya tidak selalu seperti yang diharapkan. Komunikator yang baik tahu bagaimana mempergunakan metafor dengan tepat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Tentunya perlu dipilih metafor yang tepat tergantung dari situasi . Dengan menggunakan metafor, anda dapat mengakses peta pikiran seseorang dan mengeluarkan solusi dari pikiran bawah sadar. Metafor memunculkan pikiran kreatif, dan menjaga kita tetap tertarik akan suatu topik pembicaraan. Dengan menggunakan metafor yang tepat, hasil luar biasa yang kemungkinan didapat dan  menjadi komunikator yang efisien.</p>
<p style="text-align: justify;">Apapun jenis ceritanya, darimana pun asalnya, sebenarnya cerita atau dongeng memiliki unsur-unsur penting yang dapat dipergunakan orang tua atau  pendidik/ guru. Sayang sebenarnya, jika dongeng itu hanya dianggap sesuatu yang harus disampaikan sebagai prasyarat pemenuhan materi pelajaran atau pentas seni semata. Jika saja informasi (pelajaran, nasehat, aturan )  yang ingin disampaikan oleh para orang tua dan guru disampaikan sedemikian rupa sehingga berdampak dengan apa yang dirasakan anak pada tubuhnya, informasi tersebut tidak diingat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja cara yang biasa dan lebih mudah adalah menyampaikan langsung kepada anak , “ Pencipta Lagu Indonesia Raya adalah WR Supratman”.  Pikiran sadar dapat menyimpan informasi dalam jangka pendek dengan upaya yang keras, tapi kemudian terkikis cepat. Terlebih lagi informasi tersebut tidak dapat di HUBUNGKAN dengan aspek-aspek bagaimana informasi dapat disimpan. Sebagai contoh, seorang siswa yang belajar matematika menghafal rumus dengan cara menghafal, tapi tidak memahami gambaran besar rumus tsb. Semua rumus ini, setelah tes usai, akan terlupa dan tidak dapat diakses lagi APALAGI dipergunakan dalam bentuk yang berguna.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernahkah anda mencoba menyampaikan pelajaran dengan metafor atau bercerita sedemikian menariknya sehingga anak (didik) anda terhanyut ke alam pikiran bawah sadar dan menikmati informasi itu seolah-olah mereka mengalami sendiri cerita itu? Kemudian, bukankah pelajaran sekolah itu bisa menjadi suatu hal yang luar biasa menarik, dan lebih baik lagi menjadi acuan bersikap dan berpandangan?</p>
<p style="text-align: justify;">Jika ada hal-hal yang anda ingin bicarakan dengan anak atau siswa anda, dan anda kesulitan untuk menjelaskannya atau tahu anak atau siswa anda akan menentangnya, cobalah menggunakan teknik metafor.</p>
<p style="text-align: justify;">Einsten menyatakan “<em>Anda tidak dapat merubah suatu masalah dari ruang yang sama tempat masalah itu berasal”</em> .  Metafor memungkinkan kita keluar dari permasalahan –permasalahan menyangkut pengalaman manusia&#8211; selama beberapa saat , dan memandang kembali permasalahan ini dari sudut pandang yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="padding-left: 60px;">Sumber acuan :</p>
<p style="padding-left: 60px;"><a href="http://www.exforsys.com/">http://www.exforsys.com</a></p>
<p style="padding-left: 60px;"><a href="http://silviahartmann.com/">http://silviahartmann.com</a></p>
<p style="padding-left: 60px;"><a href="http://aromatherapy4soul.com/frangipani.htm">http://aromatherapy4soul.com/frangipani.htm</a></p>
<p style="padding-left: 60px;"><a href="http://ceritakecil.com/">http://ceritakecil.com</a></p>
<p style="padding-left: 60px;">
<p style="padding-left: 60px;">
<p style="padding-left: 60px;">
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/yuk-bercerita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah : menyesuaikan kepribadian anak dan cara belajar</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/mungkinkah-menyesuaikan-kepribadian-anak-dan-cara-belajar.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/mungkinkah-menyesuaikan-kepribadian-anak-dan-cara-belajar.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 19:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin anda pernah dalam posisi yang sama dengan saya : terheran-heran bagaimana bisa anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang sama, dan diasuh oleh orang tua yang sama namun bisa punya kepribadian yang berbeda? Saya punya 3 orang anak, dan bukan karena musim ataupun makanan yang saya konsumsi selama hamil, tapi begitu mereka lahir ternyata masing-masing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="../wp-content/uploads/2011/07/disc.jpg"><img title="disc" src="../wp-content/uploads/2011/07/disc-150x150.jpg" alt="" width="267" height="267" /></a>Mungkin anda pernah dalam posisi yang sama dengan saya : terheran-heran bagaimana bisa anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang sama, dan diasuh oleh orang tua yang sama namun bisa punya kepribadian yang berbeda? Saya punya 3 orang anak, dan bukan karena musim ataupun makanan yang  saya konsumsi selama hamil, tapi begitu mereka lahir ternyata  masing-masing punya kepribadian yang berbeda.</p>
<p>Setelah terheran-heran pun akhirnya saya memberanikan diri untuk mendatangi suatu badan konsultasi untuk mengukur kecenderungan kepribadian anak-anak saya itu. Eng-ing-eng : dari 4 jenis kepribadian yang ada sesuai teorinya William Moulton  Marston, 3 anak saya masing-masing masuk ke dalam kategori yang berbeda. Tidak berhenti di situ, ternyata gaya belajar masing-masing pun berbeda, jadi saya tidak bisa pukul rata cara mengajari mereka (Duh, terbayang tantangan yang dihadapi seorang guru yang memiliki 40 siswa). Dan saya pun baru sadar, bahwa saya pun cenderung mengajarkan mereka sesuai dengan kepribadian saya dan gaya saya belajar yang belum tentu sesuai dengan mereka.</p>
<p>Sebenarnya, mudah saja mengindentifikasi ciri-ciri kepribadian anak. Anda mau coba ?</p>
<ul>
<li><strong>Dominance:</strong> Direct &amp; Decisive, berkemauan keras, senang dengan tantangan, menjalankan dan mendapatkan hasil segera.</li>
<li><strong>Influence:</strong> Optimistic &amp; Outgoing,  senang berpartisipasi dalam kelompok, bercerita, memberi semangat dan menghibur orang lain</li>
<li><strong>Steadiness:</strong> Sympathetic &amp; Cooperative, senang membantu di belakang layar, menampilkan sesuai dengan cara yang sudah dilakukan sbelumya. pendengar yang baik.</li>
<li><strong>Conscientiousness:</strong> Concerned &amp; Correct, menuntut kualitas dan perencanaan awal , memberikan pendekatan yang menerapkan pendekatan sistematis,</li>
</ul>
<p>Setelah menggali, mari kita lihat lebih dalam lagi, bagaiamana cara anak-anak dari setiap kategori ini belajar dan bagaimana kita mengajarkannya.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="128" valign="top"><strong> Dominan</strong></td>
<td width="128" valign="top"><strong> Influence </strong></td>
<td width="128" valign="top"><strong> Steadiness</strong></td>
<td width="128" valign="top"><strong> Compliance</strong></td>
<td width="128" valign="top">FACTORS</td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top">Mudah membuat keputusan</td>
<td width="128" valign="top">senang berinteraksi dengan orang lain</td>
<td width="128" valign="top">sabar, setia, empati dengan orang lain</td>
<td width="128" valign="top">memperhatikan prosedur,  protokol</td>
<td width="128" valign="top">Kecenderungannya</td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top">Gerakannya cepat dan sigap, cenderung kurang sabar dan senang mengatur orang lain</td>
<td width="128" valign="top">Menggunakan bahasa tubuh yang ekspresif, banyak gerakan, banyak bicara</td>
<td width="128" valign="top">Gerakan tubuhnya pelan dan lemah, tampak tenang</td>
<td width="128" valign="top"></td>
<td width="128" valign="top">Ciri-ciri</td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top">Persaingan, tantangan, mandiri, dinamis</td>
<td width="128" valign="top">Bersama-sama orang lain (dalam kelas), bekerja sama dan  berinteraksi dengan orang lain, tidak bermasalah dengan persaingan.</td>
<td width="128" valign="top">Dalam lingkungan sosial yang harmonis, bersama-sama. Menghindari persaingan</td>
<td width="128" valign="top">Langsung, tidak ada gangguan, banyak hal-hal detil, melibatkan proses dan metode tertentu.</td>
<td width="128" valign="top">Lingkungan pembelajaran yang sesuai<br />
(where)</td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top">Sangat cepat, tingkat tinggi, gambaran umum , singkat.</td>
<td width="128" valign="top">cepat, interaktif, santai (tidak formal), bebas.</td>
<td width="128" valign="top">Pelan, hati-hati, sistematis,</td>
<td width="128" valign="top">Sangat pelan, taat azas, mendalam</td>
<td width="128" valign="top">Kecepatan belajar<br />
(when)</td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top">Meningkatkan daya saing atau hasil yang baik di ranah lain.</td>
<td width="128" valign="top">Bersosialisasi, menjalin pertemanan, berbagi</td>
<td width="128" valign="top">Menciptakan dan mendorong stabilitas.</td>
<td width="128" valign="top">untuk memastikan atau memperbaiki kuaitas dan pengetahuan</td>
<td width="128" valign="top">Tujuan pembelajaran<br />
(why)</td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top">Gambaran umum saja. alasan-alasan saja, tanpa proses.</td>
<td width="128" valign="top">Gambaran umum saja. alasan-alasan saja, tanpa proses.</td>
<td width="128" valign="top">gambaran kecil. detil dan proses.</td>
<td width="128" valign="top">gambaran kecil. detil dan proses.</td>
<td width="128" valign="top">Cakupan pembelajaran<br />
(what)</td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top">1. Singkat, beri intinya saja,</p>
<p>2. diskusi dengan cakupan topik yang tidak terlalu luas,</p>
<p>3. hindari membuat generalisasi</p>
<p>4. hindari mengulang-ulang pesan</p>
<p>5. fokus pada solusi, bukan masalahnya.</td>
<td width="128" valign="top">1. ceritakan pengalaman pribadi anda</p>
<p>2. beri kesempatan untuk bertanya dan berbicara</p>
<p>3. fokus pada hal-hal yang positif</p>
<p>4. hindari memberikan terlalu banyak detil</p>
<p>5. jangan memotong perkataan anak</td>
<td width="128" valign="top">1. tunjukkan anda berminat  dan menikmati bercakap-cakap dengan anak</p>
<p>2. tunjukkan apa yang anda harapkan dari anak</p>
<p>3. beri waktu untuk memberi penjelasan</p>
<p>4. santun dan hindari sikap frontal, agresif atau kasar</td>
<td width="128" valign="top">1. sabar, persisten, dan diplomatis pada saat bercakap-cakap dengan anak</p>
<p>2. hindari pembicaraan pribadi atau bahasa emosional.</p>
<p>3. bicara perlahan dan tidak terlalu keras, beri jeda panjang supaya anak bisa berpikir dan bertanya</td>
<td width="128" valign="top">C<strong>ara membantu anak belajar </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="128" valign="top"></td>
<td width="128" valign="top"></td>
<td width="128" valign="top"></td>
<td width="128" valign="top"></td>
<td width="128" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/mungkinkah-menyesuaikan-kepribadian-anak-dan-cara-belajar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empati : diajarkan dan diteladankan</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/empati-diajarkan-dan-diteladankan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/empati-diajarkan-dan-diteladankan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 16:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari di musim libur, saya mengajak 3 anak saya naik kereta ekspress.  Dengan asumsi musim libur tak banyak orang naik kereta, dan sekarang ada gerbong khusus wanita, dengan semangat saya ajak anak-anak naik kereta api. Ternyata, saya salah BESAR. Kereta penuh-nuh-nuh. Gerbong khusus wanita pun penuh-nuh-nuh. Sebegitu penuhnya, bangku khusus yang diperuntukkan bagi mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2011/03/imgname-empathy_in_outsourcing-50226711-Call_center_comics_-_Empathy1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-479" title="imgname--empathy_in_outsourcing---50226711--Call_center_comics_-_Empathy" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2011/03/imgname-empathy_in_outsourcing-50226711-Call_center_comics_-_Empathy1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Suatu hari di musim libur, saya mengajak 3 anak saya naik kereta ekspress.  Dengan asumsi musim libur tak banyak orang naik kereta, dan sekarang ada gerbong khusus wanita, dengan semangat saya ajak anak-anak naik kereta api. Ternyata, saya salah BESAR. Kereta penuh-nuh-nuh. Gerbong khusus wanita pun penuh-nuh-nuh. Sebegitu penuhnya, bangku khusus yang diperuntukkan bagi mereka yang membawa anak/  yang sedang hamil/ kaum manula, ternyata diduduki bukan seorang pun yang berkategori yang berhak. Lebih parah lagi, melihat saya membawa 3 bocah  dan 2 diantaranya berusia dibawah 5 tahun, mereka pun memejamkan mata dan seolah tak mau tahu. Sementara kereta yang penuh sesak itu ditambah 1 orang wanita yang dengan wajah tak berdosa duduk di atas kursi lipat yang dibawanya. Tak ada tanda-tanda penyesalan, rasa bersalah atau malu untuk memblokir ruang duduknya yang sebenarnya bisa digunakan 3 orang dewasa berdiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Di hari lain, saya ajak lagi anak-anak naik bis AC berkoridor khusus. Sewaktu masuk, kami hampir beruntung mendapatkan tempat duduk yang diperuntukkan untuk penumpang yang membawa anak-anak, wanita hamil atau manula. Namun, dalam hitungan detik, dengan tanpa rasa berdosa, seorang pria dewasa yang kuat dan sama sekali bukan golongan kepayahan (disabled) merebut kursi kosong itu yang sedianya akan saya berikan kepada 2 balita saya. Tanpa rasa berdosa, menyesal, apalagi malu, pria itu duduk dan membuang mukanya. Anak saya berteriak “ yaaa…kursinya diduduki bapak itu”. Aih, masih juga tak bergeming si bapak tadi. Ck, ck,ck.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari dua kejadian tadi, berceramahlah saya panjang lebar tentang definisi “empati” kepada anak-anak saya. Berangkat dari rasa masygul dan kesal atas ketidakpedulian orang-orang itu, saya hanya ingin memastikan nilai “tak berempati “ itu tak boleh diadaptasi oleh anak-anak saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sungguh ingin menghimbau para orang tua lain untuk menumbuhkan rasa empati pada anak-anaknya dengan meneladaninya. Mengapa begitu? Meskipun bayi normal secara alamiah sudah dapat menunjukkan empati pada anggota keluarga lainnya pada usia 12-24 bulan (Zahn-Wexler, et al, 1992), dan nantinya empati dapat tumbuh seiring dengan keterampilan si anak bergaul di masyarakat, tetap saja empati tidak akan muncul begitu saja tanpa teladan ortu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apakah empati itu?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Empati adalah <em>merasakan apa yang dirasakan orang lain</em>, contohnya jika si A meringis kesakitan, si B yang melihat dan merasa kasihan. Menurut ahli, ada beberapa komponen yang menentukan seorang memiliki empati atau tidak :</p>
<p style="text-align: justify;">1.       Kesadaran dan kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri</p>
<p style="text-align: justify;">2.       Kemampuan untuk melihat perspektif orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">3.       Kemampuan mengelola/ mengatur  respon emosi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pada saat orang lain kesakitan, berempati bukan berarti “berbagi perasaan” sehingga kita pun menghindari orang yang kesakitan itu. Untuk dapat menunjukkan rasa empati  kepada orang yang tengah kesakitan, kita harus mampu mengendalikan respon kita terhadap penderitaan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang mungkin memiliki penilaian masing-masing mengenai situasi apa yang membutuhkan rasa empati.  Jadi, sungguh tidak aneh jika anak-anak tidak dapat merespon meskipun mereka bisa memahami apa yang dikatakan seseorang.  Bisa jadi dikarenakan mereka menganggap tidak perlu untuk mengenali perasaan orang lain dan kadang karena orang tua membiarkan anaknya tidak berespon.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini, secara pribadi saya salut terhadap budaya Jepang. Di sana ada namanya prinsip “<em>omoiyari</em>” atau menunjukkan sensitifitas terhadap orang lain. Anak-anak diajarkan oleh ibunya untuk tidak mengabaikan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, jika anak tidak menjawab pertanyaan atau permintaan orang lain, ibunya yang akan mencontohkan  apa yang harus dikatakan si anak.  Misalkan seorang anak tanpa sengaja menginjak kaki seorang nenek , dan si anak diam saja alias tidak menyatakan permohonan maaf, maka si ibu akan segera  berujar “ aduh, duh, duh….gitu kata nenek” . Hal ini dimaksudkan agar si anak tersadar dan menunjukkan empatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan empati dan anggapan kita tentang orang lain dan situasi yang membutuhkan empati kita, ditentukan oleh beberapa faktor.  Memang orang akan lebih mudah menunjukkan rasa empati jika: merasa akrab, memiliki persamaan dengan si penderita, atau pernah merasakan penderitaan yang sama. Namun yang terpenting adalah orang tua dapat mengajarkan anak  :</p>
<p style="text-align: justify;">-          <strong> mengenali perasaannya, dan membedakannya dengan perasaan orang lain</strong></p>
<p style="text-align: justify;">-          <strong> membayangkan sudut pandang orang lain</strong></p>
<p style="text-align: justify;">-          <strong> menenangkan diri dan “mundur” dari emosi negatif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">-          <strong> menggunakan empatinya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Beberapa temuan riset yang cukup menarik mengenai peran orang tua dalam pembentukan empati anaknya, antara lain adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">1.      Anak yang memiliki hubungan kedekatan dengan orang tuanya menunjukkan empati yang lebih besar dan lebih dapat mengendalikan emosi dan sensitivitas moral.</p>
<p style="text-align: justify;">2.      Orang tua yang membantu anaknya untuk mengatasi emosi negatif biasanya memiliki anak yang lebih ramah dan empatik.</p>
<p style="text-align: justify;">3.      Orang tua yang menerapkan peraturan dan konsekuensi untuk prilaku yang buruk, biasanya memiliki anak yang memiliki perhatian kepada orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">4.      Anak laki-laki yang menghirup hormone oksitosin memiliki emosi yang lebih baik. Manusia secara alami memproduksi hormone oksitosin pada saat dipeluk atau bercakap-cakap hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">5.   Anak yang ibunya memiliki tingkat emosi yang tinggi, cenderung juga memiliki empati yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Beberapa tips untuk mengajarkan empati :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #1:  Perhatikan apa yang dibutuhkan anak, dan ajarkan bagaimana mensiasati perasaan negatif. </strong>Saat seseorang membuatnya marah, lebih efektif jika ia diajarkan menghindar dari orang yang menyebabkannya marah. Jika ia harus belajar,  anak akan lebih mudah untuk konsentrasi jika ia tidak di dekat televisi atau di ruang tamu yang berisik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #2:  Jadilah orang tua yang  menghargai perasaan anak dan mengajarkan bahwa perasaan menentukan prilaku.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>K</strong>adang anak menangis tak henti karena ia tidak merasa dipahami. Pada saat itu, jangan memarahi anak apalagi memukulnya dan melabelkannya anak cengeng. Tenangkan anak (dengan memeluk, mengusap, mencium) dan terimalah perasaannya, setelah tenang barulah ajak diskusi tentang perasaannya. Jika ada anak lain yang memukul anak anda, alih-alih menyalahkan anak itu<strong> </strong>dan membela anak anda, bahaslah dengan anak anda kira-kira kenapa temannya memukul: apakah karena kesal dengannya, apakah anak anda juga menyebabkan anak itu kesal sehingga memukulnya. <strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #3:  Setiap hari ambillah kesempatan untuk meneladankan empati terhadap orang lain (</strong> sambil menonton TV  atau  mempergunakan suatu kejadian di sekitar untuk dijadikan bahan diskusi ttg perasaan orang lain)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #4:  Bantulah anak untuk mencari persamaan antara perasaan mereka dengan orang lain. </strong>Jika anak tidak mau berbagi atau tidak mau meminjamkan mainannya kepada anak lain, berilah ilustrasi agar ia bisa membayangkan bahwa ia pun akan sedih jika temannya tidak mau berbagi atau tidak meminjamkan mainannya. <strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #5:  Ajarkan anak tentang &#8220;kesenjangan empati&#8221;, </strong>misalkan  jika mereka mengeluh capek berjalan, mintalah ia membayangkan nenek moyang jaman dahulu kala yang harus jalan kaki berkilometer.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #6:  Ajarkan anak mengeksplorasi peran dan perspektif. </strong>Ajak anak baca cerita, atau menonton film yang mendidik kemudian ajaklah diskusi tentang peran dalam cerita itu dan apa yang dirasakan peran itu. Bisa juga kita mengajak anak bermain sandiwara, atau memainkan panggung boneka. <strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #7 : Bermain peran / menunjukkan atau menyebutkan raut wajah yang berbeda&#8211;beda tergantung perasaan yang dimiliki</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> tip #8:  Ajarkan anak mengembangkan moral dan kendali diri  dalam bertindak </strong>(bukan karena hadiah atau hukuman)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>tip #9:  Berikan rasa aman dan bahagia kepada anak dengan melakukan interaksi sosial yang menyenangkan dan sentuhan fisik (peluk, belaian dan pijat)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, marilah kita bentuk anak-anak yang bahagia dengan mengajarkan dan meneladankan empati. Itulah paling tidak yang dapat kita wariskan bagi generasi selanjutnya.Di saat yang sama, kita bisa membuat Indonesia lebih baik!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/empati-diajarkan-dan-diteladankan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Jasmani (Penjas)</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-jasmani-penjas.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-jasmani-penjas.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Oct 2010 17:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=455</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan Jasmani telah berkembang pesat di negara-negara maju seperti Inggris., Kanada, Australia. Tidak main-main, Mata Pelajaran Pendidikan Kesehatan dan Jasmani ini dibuat terintegrasi dalam kurikulum untuk menunjang pelajaran lain. Sedemikian pentingnya, Pendidikan Jasmani atau dikenal dengan istilah Physical Education (PE) dinyatakan dapat membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman mengenai apa yang mereka perlukan nantinya saat dewasa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/10/DSCN8249.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-457" title="DSCN8249" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/10/DSCN8249-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">P<span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">endidikan Jasmani telah berkembang pesat di negara-negara maju seperti Inggris., Kanada, Australia. Tidak main-main, Mata Pelajaran Pendidikan Kesehatan dan Jasmani ini dibuat terintegrasi dalam kurikulum untuk menunjang pelajaran lain. Sedemikian pentingnya, Pendidikan Jasmani atau dikenal dengan istilah Physical Education (PE) dinyatakan dapat membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman mengenai apa yang mereka perlukan nantinya saat dewasa, yaitu :</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;"><br />
</span></span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">komitmen 	untuk hidup sehat dan aktif</span></span></li>
<li><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">mengembangkan kapasitas untuk hidup yang memuaskan dan produktif. </span></span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;"><strong>Komitmen untuk hidup sehat dan aktif.</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Dengan kehadiran teknologi, terbentuklah pola hidup yang berbeda .  Sebagai ilustrasi, generasi muda kini menghabiskan banyak waktu di depan TV atau komputer. Belum lagi dengan kehadiran makanan siap saji dan iklan yang menarik, kandungan makanan yang dikonsumsi sekarang lebih banyak mengandung lemak jenuh dan gula. Ditambah lagi, anak-anak sekarang sudah sangat sedikit berjalan kaki, karena kemudahan transportasi dan fasilitas yang tersedia.Bayangkan saja, masa kini, berangkat sekolah saja mereka diantar kendaraan, di Jakarta kalau tidak dengan mobil, atau motor. Berapa banyak anak sekarang berjalan kaki atau mengayuh sepeda ke sekolah? Sepulang sekolah, anak-anak menghempaskan diri di sofa, menonton TV sepanjang hari, dan jika lapar tinggal menelepon layanan antar 24 jam. Ancaman obesitas, kolestrol, dan gula membayangi masa depan mereka jika tidak ada upaya untuk melalui olah gerak dan informasi tentang hidup sehat. </span></span><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Hidup sehat memang harus diajarkan, sedari kecil, dan dibawah bimbingan orang dewasa. Selain itu juga, harus ada pembiasaan, dan cara termudah adalah dengan membangun support system dalam masyarakat. Dalam hal ini keluarga dan sekolah. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;"><br />
</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Mengembangkan kapasitas untuk hidup yang memuaskan dan produktif</span></span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Berdasarkan riset, ada hubungan antara meningkatnya kegiatan fisik (dalam hal ini olah raga) dengan pencapaian akademis, konstrasi yang lebih baik, prilaku yang lebih baik di kelas, pembelajaran yang lebih fokus. Anak-anak yang mengikuti kegiatan olah raga mendapat keuntungan tadi yaitu peningkatan di kehidupan psikologis, kapasitas fisik, konsep diri dan kemampuan mengatasi stress. Di Indonesia sendiri, pernah dilakukan <a href="http://www.ugm.ac.id/en/?q=news/physical-education-proven-effective-increase-elementary-students-emotional-intelligence">penelitian</a> bahwa siswa dapat mengembangkan kepandaian emosionalnya melalui pelajaran Pendidikan Jasmani. Anak -anak yang cenderung mengganggu temannya atau kemampuan akademiknya rendah, jika mendapat kesempatan untuk berhasil dibidang lain (misalkan kegiatan olah raga), merasa percaya dirinya meningkat. Dan pada usia remaja yang rawan dengan krisis identitas, prestasi di bidang olahraga selain melancarkan aliran darah juga meningkatkan ketahanan tubuh dan rasa gembira. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Berita baiknya adalah dengan adanya PenJas, produktivitas siswa menjadi meningkat (lebih siap belajar), memperbaiki moral (mengurangi keinginan untuk membolos) menurunkan biaya perawatan kesehatan, mengurangi prilaku anti sosial </span></span>( <span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;"><em>bullying</em></span></span><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;"> dan kekerasan). Kalau badan sudah lelah dibuat berolah raga, mana sempat memikirkan untuk mengolok-olok anak lain? Sportivitas bisa dibangun lewat pertandingan-pertandingan kecil antar teman, yang pada akhirnya membuat siswa menhadi lebih produktif. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Masalahnya bagaimana memulainya? Diawali dengan cara memperkenalkan siswa   dengan kegiatan seperti <em>bowling, hiking, frisbee </em>sedini mungkin akan membentuk kebiasaan yang baik yang akan terbawa saat mereka dewasa. Beberapa guru mulai mengkombinasikan dengan teknik mengurangi stress seperti yoga dan latihan pernafasan. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Ada beberapa model yang telah diciptakan dalam perkembangan PenJas ini. Salah satunya adalah <strong>Model Klub Kesehatan,</strong> yaitu seperti layaknya di Klub Kebugaran, dengan model ini siswa melakukan kegiatan yang berbeda di setiap harinya model yang menawarkan berbagai jenis kegiatan bagi siswa, dengan latihan yang sangat intense, dengan maksud memperkenalkan kegiatan ini untuk nantinya menjadi kebiasaan di masa dewasa. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Model yang kedua adalah <strong>Model Pendidikan Olah Raga,</strong> adalah model baru seperti liga olah raga, dimana siswa berperan sebagai pelatih, pencatat skor, wasit, dan reporter olah raga, dan juga sebagai yang bertanding. Melalui model ini, siswa berlatih keterampilan manajemen, matematika, menulis dan pada saat yang bersamaan juga berlatih olah raga dan berperan aktif.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Sekarang ini, di beberapa negara, guru Olah raga harus tersertifikasi untuk mengajar Kesehatan. Banyak universitas dan sekolah tinggi di luar negeri  yang menawarkan sertifikasi Pendidikan Kesehatan dan Jasmani sekaligus. Hal ini juga didorong oleh Departemen Kesehatan setempat, dari tingkat pemula sampai menengah, termasuk pelajaran mengenai <em>bullying</em>, kepercayaan diri, manajemen stress dan marah untuk dimasukkan ke dalam klurikulum. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Jika sementara ini hanya ada kegiatan senam bersama untuk pelajaran PenJas di sekolah negeri, dikarenakan keterbatasan guru olah  raga.  Padahal, yang dinamakan PE (PenJas), ada 4 area yang termasuk dalam kegiatan PenJas ini :</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">-  permainan kompetitif , seperti atletik<br />
</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">-  kesehatan dan kebugaran, seperti mempelajari makanan yang bergizi, pola hidup yang sehat, dll<br />
</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">- kegiatan petualangan <em>outdoor </em>, seperti hiking, arung jeram,<br />
</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">- kegiatan kreatif</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Sayangnya, di bumi pertiwi ini, untuk dikarenakan keterbatasan sumber daya dan fasilitas, siswa tidak mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan motoriknya. Selain itu juga, anak-anak yang tak cakap dalam bidang olah raga tidak mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuannya. Keadaan ini semakin sulit saat tenaga pendidik tidak mendapatkan pelatihan dan bimbingan seperti pengajar bidang studi lainnya yang kerap kali dikirim untuk pelatihan, seminar, lokakarya dan pembinaan di sanggar. Alangkah baiknya, sekolah bermitra dengan sekolah lainnya yang berdekatan  yang memiliki pengajar yang cakap di bidang olah raga lainnya. Seperti di negara Inggris, guru bidang studi Penjas di SD mendapat dukungan dari guru Penjas SMP dan SMA di dekatnya. Selain itu guru-guru lain (tidak harus guru Penjas) yang mahir dalam mata olah raga tertentu dapat membantu mengajar. Lebih ideal lagi jika ada relawan dari orang tua yang bisa mendukung pembelajaran dengan datang ke sekolah pada hari Sabtu untuk melatih ekstra kurikuler kepada siswa-siswa. </span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Keberlangsungan pendidikan ada di tangan kita semua, tidak hanya sekolah dan guru-guru, namun masyarakat dan khususnya orang tua sebagai mitra sekolah selayaknya ikut tergerak memajukan pendidikan. Pada akhirnya, jika semua aspek mendukung, buahnya dipetik bersama pula.<br />
</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;"><br />
</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">Beberapa acuan untuk Kurikulum PenJas</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">1. http://www.edu.gov.on.ca/eng/curriculum/elementary</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">2 <a href="http://books.google.co.id/books?id=eN1MbmCZs4MC&amp;printsec=frontcover&amp;dq=physical+education&amp;source=bl&amp;ots=pfMX0BErRb&amp;sig=eDYBOFqP-rnhyCcrp4TnED_h_OM&amp;hl=en&amp;ei=-cS5TKj9GsXXcZ_sveMM&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;ct=result&amp;resnum=3&amp;ved=0CCsQ6AEwAg#v=onepage&amp;q&amp;f=falseMengajar%20Penjas%20untuk%20Sekolah%20Dasar%20">Untuk Sekolah Dasar</a></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;">3. </span></span>http://www.humankinetics.com</p>
<p><span style="font-family: Andalus;"><span style="font-size: medium;"><a href="http://books.google.co.id/books?id=eN1MbmCZs4MC&amp;printsec=frontcover&amp;dq=physical+education&amp;source=bl&amp;ots=pfMX0BErRb&amp;sig=eDYBOFqP-rnhyCcrp4TnED_h_OM&amp;hl=en&amp;ei=-cS5TKj9GsXXcZ_sveMM&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;ct=result&amp;resnum=3&amp;ved=0CCsQ6AEwAg#v=onepage&amp;q&amp;f=falseMengajar%20Penjas%20untuk%20Sekolah%20Dasar%20"></a></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-jasmani-penjas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional atau Kualitas Pendidikan?</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/ujian-nasional-atau-kualitas-pendidikan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/ujian-nasional-atau-kualitas-pendidikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 17:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[From Us]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Parents-educators]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Hari Senin pagi sembari menyetir ke kantor, saya sempat mendengarkan wawancara antara seorang anggota Badan Standar Nasional Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. dengan radio Elshinta. Isi wawancaranya adalah tentang -lagi-lagi- Ujian Nasional yang akan berlangsung mulai tanggal 22 Maret 2010. Sepanjang wawancara, Prof Mungin menjelaskan panjang lebar tentang UN ini. Satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Senin pagi sembari menyetir ke kantor, saya sempat mendengarkan wawancara antara seorang anggota <a title="BSNP" href="http://bsnp-indonesia.org/id/?page_id=34">Badan</a> Standar Nasional Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. dengan radio <a title="Radio Elshinta" href="http://indonesiaeducate.org/wp-admin/www.elshinta.com">Elshinta</a>. Isi wawancaranya adalah tentang -lagi-lagi- Ujian Nasional yang akan berlangsung mulai tanggal 22 Maret 2010.</p>
<p><span id="more-168"></span></p>
<p>Sepanjang wawancara, Prof Mungin menjelaskan panjang lebar tentang UN ini. Satu hal yang bisa ditarik dari pembicaraan beliau adalah pemerintah tetap memandang perlu diadakannya ujian nasional sebagai alat untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional yang berguna sebagai alat pemetaan mutu satuan pendidikan. Standarisasi, adalah kata kuncinya. Mutu pendidikan nasional harus standar.</p>
<p>“Nilai 7 di sekolah A,” kata Prof Mungin, “harusnya sama dengan nilai 7 di sekolah B.”</p>
<p>Buat saya yang orang awam, logika nilai 7 yang harus sama bobotnya di sekolah A, atau B, atau C sangat <em>masuk akal</em>, tapi <em>belum tentu adil</em>. Maksud saya, nilai 7 yang harus sama di setiap sekolah berarti ada ada input yang sama dan ada usaha yang sama dalam mendapatkannya. Bila para siswa di sekolah A dapat dengan mudah mendapatkan input belajar mengajar yang baik (gurunya, kemampuan gurunya, materi pendukungnya, dsb.), tuntutan untuk mendapatkan nilai 7 di sekolah A adalah wajar. Tapi, bagaimana dengan input belajar mengajar yang didapat para siswa di sekolah B? Sebut saja sekolah B ada di daerah pelosok dengan keterbatasan guru, keterbatasan materi belajar mengajar, keterbatasan paparan/eksposur bagi siswa, apakah wajar meminta nilai 7 yang sama dengan sekolah A? Bila nilai 7 diberlakukan sebagai standar di seluruh sekolah di Indonesia, maka input belajar mengajar di seluruh sekolah di Indonesia juga harus berstandar sama.</p>
<p>Masalahnya, seperti yang semua orang juga tahu, kualitas belajar mengajar antara satu sekolah dengan sekolah lain bisa berbeda bagai bumi dan langit. Padahal, ujian nasional memberlakukan standar yang sama! Apakah itu artinya ujian nasional harus ditunda dulu sampai sistem pendidikan nasional kita siap untuk distandarisasikan? Lalu, kapan siapnya?</p>
<p>Di luar pro kontra atas ujian nasional, menurut saya mutu kualitas pendidikan nasional harus tidak-boleh-tidak ditingkatkan! Itu yang paling penting. Mau ada ujian nasional atau tidak, kualitas pendidikan harus naik. Yang saya lihat, ujian nasional dijadikan alat pemaksa dari pemerintah bagi dunia pendidikan nasional untuk menggeliat, untuk berubah. Sekarang, pertanyaan untuk pemerintah adalah apakah pemerintah hanya bisa memaksa tanpa memberikan solusi dan dukungan peningkatan kualitas?</p>
<p>Nah, daripada menunggu sikap pemerintah, kenapa kita tidak mulai dengan mendukung sekolah-sekolah kita, pendidikan bangsa kita? Turunkan semangat belajar demi ilmu (bukan demi nilai) kepada anak-anak kita, tularkan semangat memajukan sekolah demi pendidikan (bukan demi prestise) kepada orang-orang tua di sekitar kita, dan gerakkan orang-orang di sekitar untuk mau peduli pada proses pendidikan (bukan pada hasilnya saja). Segala keributan ini harusnya tertuju pada bagaimana meningkatkan kualitas pendidikannya, bukan pada satu alat yang tahun depan mungkin sudah berubah lagi.</p>
<p>Catatan penulis:</p>
<ul>
<li>Pendapat <a title="Menteri Pendidikan" href="http://ujiannasional.org/un-sebagai-penilaian-kelulusan.htm">Menteri Pendidikan </a>tentang pro kontra ujian nasional bisa dibaca <a title="UN sebagai penilai kelulusan" href="http://ujiannasional.org/un-sebagai-penilaian-kelulusan.htm">disini</a>.</li>
<li>Jadwal UN 2010 bisa dilihat <a title="Jadwal UN" href="http://nusantaranews.wordpress.com/2009/11/14/jadwal-lengkap-un-2010-smama-smpmts-dan-sdmi/">disini</a>.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/ujian-nasional-atau-kualitas-pendidikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips untuk guru SBI/ RSBI</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 06:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[SBI]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Bapak-bapak, Ibu-ibu, para pengajar SBI dan RSBI, bagaimana perasaan anda terhadap profesi anda? Masih bangga kan karena bisa mengajar sesuatu yang berbeda? Atau masih marah karena dihadapkan pada situasi yang serba salah? Apapun perasaan anda, yang jelas anda sedang berada pada sebuah masa perubahan. Dan semuanya itu terserah bagaimana anda menyikapinya, bukan? Mungkin lebih baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/10479979/2/istockphoto_10479979-teaching.jpg" alt="" width="380" height="296" /></p>
<p>Bapak-bapak, Ibu-ibu, para pengajar SBI dan RSBI, bagaimana perasaan anda terhadap profesi anda? Masih bangga kan karena bisa mengajar sesuatu yang berbeda? Atau masih marah karena dihadapkan pada situasi yang serba salah? Apapun perasaan anda, yang jelas anda sedang berada pada sebuah masa perubahan. Dan semuanya itu terserah bagaimana anda menyikapinya, bukan? Mungkin lebih baik adanya kalau kita berusaha sekeras tenaga untuk berpikir positif tentang keberadaan SBI dan RSBI dan melakukan sesuatu tentang itu.</p>
<p>Anda mungkin berpikir, siapa penulis ini yang berani-beraninya sok tau membuat <em>statement</em> seperti di atas. Pak, Bu, saya bukan guru SBI dan RSBI sekarang ini. Tetapi kebetulan saja saya pernah mengajar di sekolah formal yang sempat melaksanakan <em>pilot project </em>program pemerintah. Istilah kerennya adalah Sekolah Model. Memang sih beda dengan SBI dan RSBI, tetapi saya melihat ada beberapa kesamaan diantara keduanya. Dan berdasarkan kesamaan-kesamaan tersebut, saya ingin membagi beberapa tips yang membuat saya secara pribadi merasa saya bisa mengajar di program <em>Sekolah Model</em> itu yang mungkin saja bisa Bapak dan Ibu terapkan di sekolah.</p>
<p>1. <em>Point of view</em></p>
<p>Seperti yang pertama kali saya ungkapkan, anggaplah SBI dan RSBI bukan sebagai masalah tetapi sebuah tantangan. Dalam profesi apa saja, selalu ada perubahan yang menuntut kita begini-<em>lah</em>, begitu-<em>lah</em>, begini begitu-<em>lah</em>. Apapun itu, jika kita menganggapnya sebagai sebuah hal yang positif, apa yang kita lakukan tentunya bersifat positif juga.</p>
<p>2. <em>Soft Competencies</em></p>
<p>Yang saya maksud dengan kompetensi adalah hal-hal baik di diri kita yang kita punyai. Apa saja yang kita punyai? Sudah saatnya untuk sadar tentang itu, kan? Di bidang ke-SDM-an, ada beberapa jabaran <em>soft competencies. </em>Beberapa diantaranya adalah: Information Seeking, Initiatives dan Achievement Orientaton—Pencarian Informasi, Inisiatif dan Kepemilikan Tujuan Pencapaian. Kalau ketiganya digabung, anda akan menjadi seorang guru SBI dan RSBI yang mempunyai standar kerja yang jelas—murid harus bisa memahami pelajaran dan sekaligus belajar Bahasa Inggris. Hal itu akan membuat anda bertekad untuk mencari sumber-sumber pengetahuan untuk hal-hal yang berbau SBI seperti browsing-browsing internet ke situs-situs seperti: <a href="http://www.onestopclil.com/">www.onestopclil.com</a>, <a href="http://www.clilcompendium.com/">www.clilcompendium.com</a>, <a href="http://www.teachingenglish.org.uk/">www.teachingenglish.org.uk</a>, <a href="http://www.howstuffswork.com/">www.howstuffswork.com</a>, atau bahkan mencoba tes pengetahuan mengajar <em>content</em> dengan cara mencari informasi di internet tentang TKT CLIL (<em>Teaching Knowledge Test on Content and Language Integrated Learning)</em>. Dan itu semua anda lakukan tanpa perintah Kepala Sekolah. Tertarik untuk mencobanya? Semoga saja tidak hanya tertatik, tetapi benar-benar mencobanya.</p>
<p>3. Apakah anda termasuk guru yang kurang yakin dengan kemampuan berbahasa Inggris? Sudah pernah mengusulkan ke Kepala Sekolah untuk membuka kursus khusus guru-guru di sekolah anda? Ide itu bukan tidak mungkin, kan? Anda akan menjadi guru yang mengajar dan belajar. Pasti dianggap hebat dan bisa memotivasi anak didik kita semua.</p>
<p>4. Rasanya memang lebih berat kalau kita melakukan apa-apa sendiri, kan? Seandainya saja kita semua punya teman-teman yang bisa diajak berbagi tantangan dan bekerja bersama. Saya yakin beberapa diantara Bapak dan Ibu pendidik sudah melakukannya. Buat yang belum, mungkin bisa bergabung di beberapa klub guru-guru SBI. Atau bagaimana kalau anda yang memulainya?</p>
<p>Semoga saja tips yang memang saya sengaja buat tidak banyak ini bisa membantu kita semua menghadapi tantangan SBI dan RSBI. Mungkin suatu hari Bapak dan Ibu bisa menjadi narasumber di sebuah seminar dengan topik yang sama dan menginspirasi para pendidik lainnya. Good luck, Sir, Ma’am.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/104.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/104.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 18:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[trailer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-103" title="sangpemimpi-209x300" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/sangpemimpi-209x300.jpg" alt="sangpemimpi-209x300" width="209" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan di Jerman, film ini memenangkan Gelar Film Terbaik&#8211;di festival film anak CINEPANZ ke dua puluh.</p>
<p style="text-align: left;">Memangnya apa sih yang spesial dari film ini? Kalau saya berbicara masalah teknis pembuatan film tentu saja tidak akanada yang percaya. Makanya saya akan melihat film ini lebih dalam dari sisi pendidikannya. Cerita di film ini masih berkutat seputar kehidupan si Novelis Andre Hirata di masa kecil. Dia tinggal di daerah Belitung yang keindahan alamnya sangat hebat. Namun keadaan itu tidak sehebat seperti yang beberapa anak-anak disana inginkan. Ada tiga anak sebagai tokoh utama di film ini. Ikal (Andrea Hirata yang masih kecil), Arai (saudara jauhnya), dan Jimbron (seorang anak yang gagap). Ketiganya mengalami hal-hal yang hebat untuk ukuran anak kecil seusia mereka di Belitung. Salah satu pembuka film ini adalah peristiwa bertemunya Arai dengan Ikal. Setelah itu menyusul Jimbron. Arai adalah seorang pemimpi yang selalu bersikap optimis dalam hidup. Sikap ini tetap ada di dirinya walaupun dia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan tidak mempunyai apa-apa lagi. Hal ini benar-benar menginspirasi Ikal dan Jimbron. Ketiganya bergumul dengan mimpi mereka. Semuanya menjadi terarah ketika salah satu guru mereka&#8211;Pak Julian&#8211;menyebutkan nama &#8220;SORBONNE&#8221;. Sorbonne adalah sebuah universitas di Perancis. Pak Julian benar-benar berusaha memotivasi semua muridnya untuk kesana. Dan ketiga tokoh utama di film ini pun memimpikan hal yang sama. Dalam usahanya mencapai impian, mereka bertiga berusaha keras untuk menabung demi bisa berangkat ke Jakarta dan kuliah dulu disana. Apa saja mereka lakukan. Mereka menjadi pelayan di sebuah restoran, bekerja di prabrik, mencari tambahan di pelabuhan dan lain sebagainya. Dengan tekad seperti itu tentunya mereka akan berhasil bukan? Ternyata belum pasti. Di tengah perjalanan meraih impian mereka, ada beberapa godaan yang menghambat mereka. Ikal, Arai dan Jimbron menghadapi tantangan mereka masing-masing. Jimbron ternyata tidak terlalu pintar. Tetapi toh dia tetap berusaha. Bagaimana dengan Ikal? Ketetapan hati Ikal goyah dengan beberapa hal yang dia lihat dan dengar dari orang-orang tentang mencapai mimpinya dengan lebih cepat namun bukan dengan cara belajar dan bermimpi. Bagaimana dengan Arai? Apakah jalan mimpinya lancar? Apakah mereka berdua bisa mencapai Perancis? Tidak adil buat si penulis dan pembuat film kalau saya menjawab pertanyaan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan buah pemikiran dari film itu. Poin-poin tersebut antara lain: 1. Seberapa pentingkah sebuah mimpi di dunia pendidikan? 2. Bagaimanakah sikap pendidik secara umum menanggapi mimpi seorang siswa didik? 3. Apakah bekerja setelah bersekolah itu baik? Tentu kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada kita semua tanpa konteks apa-apa, jawaban kita juga tidak cukup terarah. Oleh karena itu, mari kita tonton film &#8220;Sang Pemimpi&#8221; dan mulai mempunyai pendapat tentangnya. Selamat menonton. -Je- PS: Ariel perterpan ikut membintangi film ini. Kalau tidak percaya sama saya, silahkan &#8220;mengintip&#8221; trailer filmnya dengan cara klik kata-kata di bawah ini <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=yL0mjLyC-ho">Trailer Sang Pemimpi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/104.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Bullying</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 18:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Apa itu bullying? Siapa pelaku bullying? Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying? Bagaimana menghadapi bullying? Buku Barbara Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_94" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><br />
<img class="size-full wp-image-94" title="Stop Bullying" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/buku_stop_bullying.gif" alt="Barbara Coloraso" width="180" height="275" /><p class="wp-caption-text">Barbara Coloraso</p></div>
<p>Apa itu bullying?</p>
<p>Siapa pelaku bullying?</p>
<p>Bagaimana mengetahui anak kita telah menjadi korban bullying?</p>
<p>Bagaimana menghadapi bullying?</p>
<p>Buku <a href="http://www.dinamikaebooks.com/details.php?view=145&amp;p=1">Barbara</a> Coloroso ini mengupas tentang bullying dari A sampai Z. Barbara mendefinisikan apa itu bullying, siapa saja yang terlibat di dalamnya, sampai cara untuk mengenali situasi dimana bullying bisa terjadi. Barbara juga memberi informasi bagaimana mencegah bullying terjadi.</p>
<p>Buku ini bisa dijadikan pegangan bagi orang tua dan juga guru-guru untuk memutus rantai bullying di sekitar kita. Buku ini juga berisi kisah-kisah nyata dari korban dan pelaku bullying.</p>
<p><em>Mariskova</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/stop-bullying.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

