<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; Eye Opener</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/category/eye-opener/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 02:40:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Paket C &#8211;  the FAQs</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 02:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah setara SMA]]></category>
		<category><![CDATA[Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Penyetaraan Ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[PKBM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa orang tua datang kepada saya dengan wajah kebingungan. Bukan bingung lantaran tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya, tapi lantaran kekurang informasi mengenai jalur alternatif yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang sangat spesifik. Orang tua ke-1 mengatakan anaknya putus sekolah di tengah jalan kelas 1 SMA saja  (drop out) lantaran tak kuat dengan standar disiplin sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa orang tua datang kepada saya dengan wajah kebingungan. Bukan bingung lantaran tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya, tapi lantaran kekurang informasi mengenai jalur alternatif yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang sangat spesifik.</p>
<p>Orang tua ke-1 mengatakan anaknya putus sekolah di tengah jalan kelas 1 SMA saja  (drop out) lantaran tak kuat dengan standar disiplin sekolah X dan memilih belajar di rumah saja (homeschool). Setelah 2 tahun belajar gaya di rumah, mereka  kebingungan mencari cara penyetaraan ijazah supaya bisa melanjutkan sekolah musik di Vienna. &#8220;wong anak say itu kan seniman ya, bu. Mana bisa dipaksa begini begitu seperti di sekolah X itu. Apalagi suruh belajar Matematika, Sejarah, oalaahhhh&#8230;dia mendingan bolos aja dan genjrang genjreng gitarnya  atau main piano sendirian membuat lagu&#8221;.</p>
<p>Orang tua ke-2 datang dengan wajah yang melankolis setengah putus asa karena tidak ada sekolah yang menerima anaknya yang disinyalir memiliki kecenderungan prilaku tertentu (maaf saya tidak suka melabelkan anak jadi tidak saya tulis secara rinci), sehingga sang ibu membantu sang anak belajar di rumah dengan materi dari internet dan diiringi beberapa terapi yang bisa membantu perkembangannya. Sang ibu bertanya apakah mungkin anaknya memiliki ijazah pendidikan agar bisa melanjutkan ke tingkat pendidikan tinggi.</p>
<p>Orang tua ke-3 datang dengan ekspresi wajah marah dan frustasi, bukan karena cuaca hari itu panas terik, namun lantaran ijazah dari sekolah di luar negeri tidak diakui oleh negeri ini dan ditolak mentah-mentah untuk masuk ke sekolah yang konon beken.  Penyetaraan ijazah yang diperlukan menjadi hambatan untuk melanjutkan pendidikan.</p>
<p>Orang tua ke-4 datang dengan cerita bahwa anaknya dikirim ke sekolah internasional, namun tidak lulus ujian internasional yang diadakan di sekolahnya. Tambahan lagi, karena kadung tidak lulus, anak ini sudah tak mau mencoba Ujian Nasional yang diadakan Diknas. Sang ortu pun kebingungan, kalau tak ada ijazah, bagaimana mau sekolah di perguruan tinggi di negeri seberang yang konon bisa mencetak anak jadi pengusaha yang handal bukan lulusan perguruan tinggi yang kebingungan cari pekerjaan.</p>
<p>Empat ortu ini bertanya apakah saya menjual atau kenal dengan orang yang bisa menjual ijazah SMA. Walaupun ingin, sayangnya saya tidak punya mental jadi makelar untuk ijazah. Walaupun saya bukan pejabat pendidikan atau dinas pendidikan,  saya hanya bisa   menjelaskan mengenai kemungkinan untuk mengambil ujian Paket C yang dulunya dilirik sebelah mata. Jika saja ibu-ibu itu tahu, bahwa beberapa calon pemimpin politik beberapa waktu yang lalu pun sama bingungnya dengan para ibu-ibu ini dikarenakan harus memiliki ijazah SMA untuk mencalonkan diri di kursi legislatif dan akhrinya menemukan solusi dengan Paket C ini . Dan beberapa lawan politiknya mati-matian berupaya menjatuhkan mereka dengan mencuci otak pengikutnya bahwa jalur pendidikan non formal itu tidak selevel dengan formal, dan ijazah Paket C itu disinyalir tak sah.</p>
<p>Mari kita tinggalkan sejenak intrik politik . Tapi seandainya anda dalam posisi keempat ibu tadi, anda tidaklah sendirian. Untuk kasus-kasus lainnya yang serupa dan mengindikasi kebutuhan untuk memperoleh ijazah penyetaraan SD, SMP atau SMA, dapat saya pastikan anda berkesempatan untuk mendapatkan ijazah resmi lewat jalur nonformal. Untuk sederhananya, saya berikan dalam bentuk pertanyaan FAQs (Frequentlyy asked Questions)</p>
<p><strong>1.  Apakah itu Paket C?</strong></p>
<p>Paket C (dulunya disebut Program Kejar Paket C) adalah pelayanan pendidikan pada jenjang  menengah kejuruan melalui jalur  non formal (UU Mendiknas No.36 tahun 2009)</p>
<p><strong>2. Siapa saja yang diperbolehkan mengikuti ujian paket C  ini ?</strong></p>
<ul>
<li> yang memerlukan penyetaraan ijazah tingkat menengah atas</li>
</ul>
<ul>
<li>yang  menempuh pendidikan menengah di luar negeri namun berniat menempuh pendidikan tinggi di Indonesia, sehingga memerlukan ijazah   penyetaraan</li>
<li> yang menempuh pendidikan mandiri (<em>homeschooling)</em> dikarenakan alasan tertentu dan bermaksud mendapat ijazah penyetaraan dari pemerintah</li>
<li> yang tidak mengikuti jalur pendidikan formal di sekolah (mengikuti program di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat /PKBM)</li>
</ul>
<p><strong>3 . Siapakah yang mengeluarkan ijazah Paket C</strong></p>
<p>Ijazah dikeluarkan  resmi dari Dinas Pendidikan Menengah Kantor Wilayah  pemerintah setempat (Hubungi Kasi Pendidikan Non Formal, Kepala Suku</p>
<p>Dinas Pendidikan Menengah, Kantor Wilayah Pemerintah Daerah dimana anda berada)</p>
<p><strong>4. Persyaratan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat C</strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.<br />
- Fotocopy ijazah SMP sebanyak 5 lembar.<br />
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2&#215;3 (5 buah), 3&#215;4 (5 buah),                      4&#215;6 (5 buah).<br />
- Foto harus hitam putih dan mengenakan baju putih berkerah (bukan                      kaos).  Foto                     digunakan untuk ijazah.</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">5. Kapan ujian diselenggarakan?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Dalam setahun, ujian diselenggarakan 2 gelombang.</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Gelombang I   : Bulan Juni (pendaftaran paling lambat bulan Februari)</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Gelombang II : Bulan November (pendaftaran paling lambat bulan Agustus)</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">7. Siapakah yang mengeluarkan surat keterangan lulus ujian Sertifikat C ini?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Kepala Dinas Pendidikan Menengah Kabupaten/ Kota<br />
</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">8. Apakah ada program persiapan sebelum mengambil ujian Paket C ini?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Di beberapa wilayah biasanya ada program persiapan sebelum anda ikut ujian Paket C ini dalam wadah non formal yang disebut PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Di sini ada program pembelajaran yang terdiri dari satuan kredit kompetensi. Sedikit berbeda dengan jalur formal pendidikan, di PKBM kegiatan diselenggarakan sesuai dengan keadaaan masing-masing pembelajar. Beberapa PKBM menyelenggarakan program di hari sabtu, ada juga yang dilaksanakan sore/malam hari karena peserta harus bekerja di pagi hari. Ada juga PKBM yang menyelenggarakan pembelajaran on line/mandiri, sehingga peserta mengambil bahan pelajaran dalam bentuk modul atau satuan pelajaran lainnya dan mempelajarinya di rumah.</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">9. Bagaimana bentuk penilaian dari PKBM ?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- penilaian kemajuan belajar : penilaian terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- penilaian kompetensi kejuruan (bagi pendidikan kejuruan) dilakukan oleh institusi/lembaga yang memenuhi standar kompetensi<br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- ujian akhir :ujian nasional yang penilaiannya dilakukan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)<br />
</span></p>
<p>Untuk acuan beberapa PKBM yang ada : klik <a href="http://serbaserbipkm.blogspot.com">disini</a></p>
<p>Semoga tidak ada lagi diskriminasi informasi . Salam Indonesia Educate!</p>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Mirip Luna Maya. So What???</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 18:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[Parents-educators]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Rahmad Banglae Daulay, ST Kenapa kita harus kebakaran jenggot ??? Toh ini kan hanya merupakan puncak gunung es dari ribuan kejadian. Kenapa harus sibuk merazia ponsel para pelajar ? Apakah tahan melakukan razia setiaphari sampai hari kiamat nanti ??? Mari kita serius. Apakah kita semua sudah serius mendidik anak – anak kita sementara kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Rahmad Banglae Daulay, ST</strong></p>
<p>Kenapa kita harus kebakaran jenggot ??? Toh ini kan hanya merupakan puncak gunung es dari ribuan kejadian. Kenapa harus sibuk merazia ponsel para pelajar ? Apakah tahan melakukan razia setiaphari sampai hari kiamat nanti ???</p>
<p>Mari kita serius. Apakah kita semua sudah serius mendidik anak – anak kita sementara kita khawatir akan dampak dari ”Mirip Luna Maya Gate” ini ? Kalau kita masih khawatir dan sibuk merazia ponsel mereka ini sudah menunjukkan bahwa kita semua sudah tidak percaya pada hasil didikan kita pada anak – anak kita sendiri.</p>
<p>Kalau kita perhatikan dengan seksama, generasi tua dibesarkan dalam suasana yang sangat berbeda dengan generasi muda searang ini. Generasi tua dibesarkan di zaman perjuangan, zaman mempertahankan kemerdekaan, zaman orde lama dan zaman orde baru yang mana kendali pendidikan anak dipegang oleh keluarga dan sekolah. Keluarga dan kondisi sosial masih sangat memungkinkan untuk terbentuknya kepribadian seorang anak sesuai dengan keinginan keluarganya. Demikian juga sekolah. Pada masa itu hiburan masih sebatas RRI dan TVRI. Paling banter anak – anak cuma nonton film unyil, flash gordon atau scoo bi doo. Teknologi pun masih belum canggih dan masih cukup mahal untuk bisa menikmatinya. Pada masa itu butuh waktu lama untuk menjadi dewasa.</p>
<p>Sementara, generasi zaman sekarang hidup dan dibesarkan serta jadi remaja di zaman reformasi di mana teknologi informasi sudah sangat canggih dan murah. Hiburan di rumahpun sudah sangat banyak. Channel tv swasta hanya dengan sekali pencet sudah bisa menikmati acara hiburan sesuka hati. Dalam suasana seperti ini kendali pendidikan keluaga dan sekolah sudah terimbangi oleh teknologi informasi dan dunia hiburan. Apalagi ketika dunia pendidikan sibuk dengan segala macam intervensi nonkependidikan dengan kasus2 yang tidak simpatik dan orang tua sibuk mencari nafkah hidup yang semakin susah, jadilah sang anak sibuk mencari dan membentuk dunianya sendiri. Bagi yang tidak memiliki fasilitas pribadi maka dia akan sibuk bergaul dengan rekan seusianya. Bagi yang punya fasilitas pribadi sibuk dengan kesendiriannya. Dalam kesendiriannya ini mereka banyak tenggelam dalam dunia maya. Pergaulan dalam dunia maya secara perlahan tapi pasti membentuk kepribadiannya. Mereka menjadi sangat cepat dewasa.</p>
<p>Dan orang tua yang pada umumnya tidak melek teknologi tidak tahu dan tidak bisa mengikuti perkembangan kepribadian anak – anaknya. Dan ketika berita tentang Luna Maya merebak di mana – mana maka kita semua kebakaran jenggot.</p>
<p>Lantas, siapa yang salah ?</p>
<p>Untuk apa kita mencari siapa yang salah, kita semua bertanggung jawab atas semua ini. Pendidikan apa yang telah kita berikan kepada anak kita, selain sekolah formal, kursus privat formal ???</p>
<p>Sudah saatnya kita memikirkan kembali format pendidikan non formal yang up to date selain sekolah formal kepada anak –anak kita. Dulu pernah hidup banyak organisasi pelajar, organisasi pemuda, organisasi mahasiswa, yang sebagian besar sekarang ini megap – megap dilindas zaman akibat dari program yang ketinggalan zaman dan sebagian dari elitnya hanya sibuk menjadikan organisasi sebagai batu loncatan untuk karir politiknya. Organisasi masih merupakan sarana yang efektif sebagai wahana pembinaan generasi muda.</p>
<p>Bila generasi muda membagi sebagian pikiran dan  waktunya untuk berorganisasi maka sudah bisa diperkirakan bahwa waktu dan pikiran untuk melakukan perilaku menyimpang atau perilaku yang tidak perlu sudah berkurang atau ditiadakan sama sekali.</p>
<p>Ketiadaan aktifitas adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan generasi muda terjerumus ke dalam perilaku menyimpang.</p>
<p>Berikan mereka aktiftas, berikan mereka fasilitas. Berikan mereka bimbingan praktis, bukan teoritis. Saya yakin masih banyak generasi muda yang punya kesadaran dan potensi untuk menjadi baik.</p>
<p>Perkara bahwa akan tetap ada yang akan terjerumus itu sudah merupakan hukum alam tersendiri, namun harus diingat, usaha harus terus dilakukan dengan inovasidan ide yang tidak ketinggalan zaman.</p>
<p>Salam repotmasih.</p>
<p>Rahmad Daulay, ST</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembang Apakah? Semoga Terjawab</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/kembang-apakah-semoga-terjawab.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/kembang-apakah-semoga-terjawab.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 07:35:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo Rentjoko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[nama tumbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[topinimi]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[vegetasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Barusan saya memposting foto kembang ini di Memo, salah satu blog saya. Isinya berupa pertanyaan dan catatan. Kemudian saya ulangi di Twitter. Dalam sebentar sudah ada jawaban, misalnya dari seorang narablog  dan pengguna Twitter yang kebetulan biolog. Nama aslinya Rudyanto, tenar sebagai @mbilung. Besok, setelah tulisan itu secara otomatis terunggahkan ke Notes-nya Facebook, saya berharap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo/memo-kembang-njeprak.jpg" alt="" width="500" height="281" /></p>
<p>Barusan saya memposting foto kembang ini di <a href="http://memo.blogombal.org/2010/05/26/kembang-njeprak/" target="_blank">Memo</a>, salah satu blog saya. Isinya berupa pertanyaan dan catatan. Kemudian saya ulangi di <a href="http://twitter.com/pamantyo/status/14745203401" target="_blank">Twitter</a>. Dalam sebentar sudah ada jawaban, misalnya dari seorang narablog  dan pengguna Twitter yang kebetulan biolog. Nama aslinya Rudyanto, tenar sebagai <a href="http://twitter.com/mbilung" target="_blank">@mbilung</a>. Besok, setelah tulisan itu secara otomatis terunggahkan ke Notes-nya Facebook, saya berharap mendapatkan jawaban perihal nama kembang.</p>
<p>Yah, begitulah. Sebagian dari kita, terutama saya, ternyata kurang mengenal nama tanaman. Terhadap <a href="http://blogombal.org/2009/04/16/tentang-daun-pembatas-buku/" target="_blank">daun yang saya pungut untuk pembatas buku</a> pun saya tak tahu namanya.</p>
<p>Anak-anak saya juga tidak tahu. Mereka menjadi korban dari ketidaktahuan dan terutama kelelalaian saya yang kurang memperkenalkan aneka jenis tumbuhan dalam keseharian. Tentu saya punya dalih pembenar bahwa itu terjadi karena di pekarangan saya tak ada pohon tanaman keras. Yang ada hanya beberapa pot tanaman hias.</p>
<p>Kebun Raya Bogor, Taman Bunga TMII, dan Taman Buah Mekarsari tentu bagus untuk pendidikan lingkungan. Tetapi itu hanya insidental, bukan sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari maupun pengalaman literer. Pada beberapa negeri saya sering mendapatkan jawaban jika menanyakan nama tetmbuhan. Beberapa penjawab tak selalu melihatnya dalam keseharian mereka, tetapi buku pelajaran membantu mereka mengenali tanaman hingga dewasa.</p>
<p><strong>Google, Wikipedia, Media Sosial</strong></p>
<p>&#8220;Tanyain aja ke Mbah Gugel,&#8221; begitu saran banyak orang setiap kali kita ingin tahu sesuatu. Jika ingin info yang lebih lengkap, bukalah Wikipedia berbahasa Inggris maupun Indonesia, bergantung pada konteks.</p>
<p>Tetapi nanti dulu. Dalam kasus kembang, sampai saat ini setahu saya belum ada aplikasi di web yang langsung dapat menerka sesuatu berdasarkan gambar. Padahal yang saya butuhkan adalah nama benda. Kalau nama sudah saya perleh maka urusan selanjutntya mestinya mudah.</p>
<p>Yah, kita memang membutuhkan  aplikasi macam itu, serupa aplikasi penebak judul lagu yang dijanjikan oleh ponsel bersistem operasi Android: cukup dari suara satu bar lagu maka titel akan tertebak&#8230;</p>
<p>Jalan pintas untuk mengetahui sesuatu adalah  dengan memanfaatkan media sosial. Misalnya <a href="http://tanyasaja.detik.com/" target="_blank">TanyaSaja</a>, <a href="http://www.kaskus.us/" target="_blank">Kaskus</a>, <a href="http://answers.yahoo.com/" target="_blank">Yahoo! Answers</a>, <a href="http://whatiswhat.com" target="_blank">What is what</a>, dan <a href="http://ask.com" target="_blank">Ask.com</a>. Masalahnya, belum tentu aktivis media sosial yang tercontohkan itu (kecuali TanyaSaja dan Kaskus) dapat langsung menjawab karena latar belakang pengalaman, termasuk faktor geografis tempat mereka hidup.</p>
<p>Cara lain tentu saja memasuki media sosial dan jejaring sosial yang ramai, yang anggotanya saling berbalas. Misalnya Twitter. Akan lebih bagus jika memanfaatkan beberapa pemengaruh (<em>influencers</em>) dengan menanya mereka. Misalnya <a href="http://twitter.com/ndorokakung" target="_blank">@ndorokakung</a>, yang hingga hari ini sudah diikuti 11.804 rang. Jika dia cocok, maka lelaki yang bernama asli Wicaksono itu akan melakukan <em>retweet</em> sehingga dalam sekejap pertanyaan kita tersebar.</p>
<p>Dalam urusan beginian, guru dan murid sama saja. Sama-sama belajar dari lingkungan sosial masing-masing melalui internet. Bukankah anak-anak pun mengerjakan PR dengan memanfaatkan <em>direct messages</em> pada Twitter? <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Pengenalan terhadap sekitar</strong></p>
<p>Di luar urusan pemanfaatan media sosial sebagai sarana belajar, jika merujuk kasus kembang dan daun yang tak kita kenali tadi apakah yang sesungguhnya terjadi?</p>
<p>Jika Anda guru bahasa Indonesia, tengoklah karya tulis murid dari tingkat apapun sesuai kelas yang Anda pegang. Berapakah yang mampu membuat deskripsi vegetatif dengan lengkap sesuai tingkat usianya? Jangan-jangan banyak yang hanya menyebut &#8220;daun&#8221;, &#8220;pohon&#8221;, dan &#8220;bunga&#8221;, tapi tanpa keterangan. Jangan-jangan pula guru tak menanyakan soal itu kepada muridnya.</p>
<p>Deskripsi memang menyangkut keterampilan menulis, dan keterampilan menulis merupakan turunan kemampuan verbal. Tetapi di luar urusan teknis, keterbasan deskriptif seringkali merupakan akibat dari kekurangmampuan mengenali hal-hal di sekitar diri seseorang. Hanya menyebut &#8220;angkot&#8221; dalam cerita tanpa penjelasan itu Metromini atau Mikrolet tentulah kurang lengkap.</p>
<p>Berapa banyak dari kita, di Jakarta, yang sejak dulu tahu bahwa Menteng, Bintaro, Langsat, dan Salihara, adalah nama-nama tempat yang berasal dari vegetasi?</p>
<p>Internet memberi banyak peluang kepada kita untuk belajar.Bukan hanya menimba tetapi juga menuang isi. Belum pernah ada media dan tekonologi sedigdaya itu dalam peradaban sebelum sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/kembang-apakah-semoga-terjawab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prep School in Japan</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/prep-school-in-japan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/prep-school-in-japan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 13:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Preparatory School or Bimbel in Bahasa Indonesia is not only popular in Indonesia. In Japan, most parents will send their children to study at prep school. Compared to Indonesian kids who take extra lessons for 2 hours per lesson per day, Japanese kids usually have longer hours at prep school. What exactly Japanese parents want to achieve from sending their kids to prep school like this?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Preparatory School or <em>Bimbel</em> in Bahasa Indonesia is not only popular in Indonesia. In Japan, most parents will send their children to study at prep school. Compared to Indonesian kids who take extra lessons for 2 hours per lesson per day, Japanese kids usually have longer hours at prep school. Take a look at their routine (commonly): Formal schools start at 9 AM and finish at 3 PM. The children (from elementary to senior high school) go to prep school directly after their formal school finishes. They study at prep school usually until 7 PM, or longer. Some children even arrive home at 11 PM. This condition once reported as a special report by one of the TV stations in Japan. What exactly Japanese parents want to achieve from sending their kids to prep school like this?</p>
<p>I&#8217;ve asked my good friend, Mika Kobayashi, from Nagasaki Japan to explain to me about prep school in Japan. Kobayashi-san is a mother of two. This is what she says about prep school for his son, Kazuma, a freshman in junior high school.</p>
<p><em>Kazuma started going to prep school since the end of his 5th grade.  Now he studies 3 times a week and the prep school finishes at 10 pm. What he does there is to take extra study for school material, and to prepare for term exam.  Not special program, very ordinary. A prep school usually costs 20,000-30,000 Yen per month, and costs 50,000 Yen or more during summer vacation.  It is actually painfull to pay that amount even for Japanese.  However, kids need to study more.</em></p>
<p><em>Children who want to enter high level schools such as good private schools need to study so hard without playing as kids. Parents have to spend so much time, more money and attention for those children. To be able to pass the exam to enter a good school needs a special program to study. Japanese children don&#8217;t study hard alone, so they need some attention and orders on what to do.</em></p>
<p><em>Parents feel supported by the prep school even though sometimes children don&#8217;t learn so much in that school.  So I think going to prep school does not gurantee children actually learn and study enough, therefore, parents need to follow how children do in that school so that they don&#8217;t miss anything. Another important thing is what those children want to do for their future. If their purpose of study is clear or if they have a dream, they will study differently.</em></p>
<p>So, do parents in Indonesia have the same opinion as parents in Japan regarding the benefits of prep school?</p>
<p>A couple of months ago I met an administrator from one of the biggest prep schools in Japan (sorry I cannot use his name or his company here). He told me that his 8-year-old son went home at 11 PM everyday because the son had to attend his prep school first. He said, &#8220;I didn&#8217;t study as hard as he is when I was a boy. But he has to do it to be able to get a good education. I felt sorry for him sometimes.&#8221;</p>
<p>However, there is something that he said about prep school that interests me. He said, &#8220;In prep school, we teach the children not only to be smarter. We teach them to be a better generation. Better than their parents, better than the other students in the world. That will make our country a better country.&#8221;</p>
<p>Well, even a prep school in Japan has a mission to develop their country. What about the prep schools here? Does their mission stop when their students passed an exam? Calling a private tutor is probably cheaper.</p>
<p><em>note:</em></p>
<p>This article is in English so that it can be read by wider audience including the sources of this article. We&#8217;d like to thank Kobayashi-san for her explanation about prep school in her country.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/prep-school-in-japan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Sekolah Lebih Memanfaatkan Media Sosial</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/saatnya-sekolah-lebih-memanfaatkan-media-sosial.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/saatnya-sekolah-lebih-memanfaatkan-media-sosial.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 12:05:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo Rentjoko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[krisis]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[public relations]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sivitas akademika]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Ketika tempo hari internet menjadi gerah karena isu penghinaan terhadap Islam oleh seorang remaja yang mengatasnamakan sebuah sekolah Katolik di Bekasi, saya segera menulis dalam blog SeratusKata: public relations itu penting.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/indonesiaeducate/indonesiaeducate-socialmedia.png" alt="media sosial untuk sekolah" width="200" height="200" /></p>
<p>Ketika tempo hari internet menjadi gerah karena isu penghinaan terhadap Islam oleh seorang remaja yang mengatasnamakan sebuah sekolah Katolik di Bekasi, saya segera menulis dalam blog <a href="http://seratuskata.dagdigdug.com/2010/04/22/100-kata-catut-fitnah-dan-public-relations/" target="_blank">SeratusKata</a>: <em>public relations</em> itu penting.</p>
<p>Tidak, saya tak mengajak berdiskusi soal agama di sini. Saya hanya mengingatkan bahwa sekarang zamannya <a href="http://webtrends.about.com/od/web20/a/social-media.htm" target="_blank">media sosial</a>. Media yang isinya dibentuk oleh para pengguna, bukan oleh redaksi seperti di koran.</p>
<p>Dalam kehidupan kita ada blog, <a href="http://facebook.com" target="_blank">Facebook</a>, dan <a href="http://twitter.com" target="_blank">Twitter</a> –– dua yang terakhir mudah sekali dijangkau melalui ponsel. Jika diterapkan ke dalam lembaga pendidikan, maka semakin banyak guru dan murid, bahkan sekolah, yang mencemplungkan diri ke sana.</p>
<p>Ketika terjadi krisis, dan sekolah harus melakukan komunikasi untuk menjelaskan persoalan, maka guru tak perlu menghabiskan waktu untuk Facebook dan Twitter. Yang diperlukan adalah perumusan pesan yang dingin, tidak konfrontatif maupun provokatif, untuk kemudian disiarkan melalui jaringan media sosial yang dimiliki sivitas akademika.</p>
<p>Mereka itu adalah guru, murid, alumni, dan pemangku kepentingan (<em>stakeholders</em>: orangtua murid, orangtua alumni, donatur yayasan, dan lainnya). Mereka menyebarkannya melalui akun masing-masing.</p>
<p>Memang bukan jaminan jika masalahnya adalah SARA, terutama agama, persoalan akan beres. Tetapi dalam krisis, komunikasi harus cepat dan tepat, plus jernih tidak emosional.</p>
<p>Tanpa klarifikasi, yang tentu saja sepihak, maka masyarakat akan menganggap apa yang dituduhkan itu benar. Tetapi setidaknya ada dokumentasi yang dapat diakses oleh publik tentang penjelasan suatu hal.</p>
<p>Sekolah adalah lembaga yang menampung kepentingan masyarakat. Dalam lingkup yang kecil adalah menampung amanat orangtua siswa. Di zaman media terbuka, sudah bukan saatnya lagi sekolah berdiam diri. Misalnya jika ada kabar kekerasan dalam inisiasi (ospek), kekerasan oleh guru, skandal nilai, dan sejenisnya yang negatif.</p>
<p>Kepala sekolah akan kecapaian jika berulangkali harus memberi keterangan kepada reporter koran, radio, televisi, dan situs berita. Memang harus dilakukan tetapi tim guru sebaiknya juga memanfaatkan media daring (<em>online</em>) untiuk menjelaskan. Apa yang sudah dimuat oleh media umum, dari TV sampai situs berita, belum tentu dibaca semua orang. Juga belum tentu hasil penyuntingannya memuaskan. Media sosial memberi kesempatan untuk menampilkan diri lebih utuh. Misalnya melalui blog sekolah.</p>
<p>Tidak bisa lagi sekarang ini sekolah hanya bersikap, &#8220;Yang penting kami tahu mana yang benar. Biarlah sejarah yang kelak membuktikan.&#8221;</p>
<p>Sebagai keyakinan, itu memang keren. Tetapi mesin pencari, misalnya <a href="http://google.co.id" target="_blank">Google</a>, <a href="http://bing.com" target="_blank">Bing</a>, dan bahkan <a href="http://topsy.com" target="_blank">Topsy</a>, mencatat apa yang dilontarkan oleh banyak orang. Tanpa klarifikasi berarti (dianggap) benar. •••</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/saatnya-sekolah-lebih-memanfaatkan-media-sosial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Understanding by Design</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/understanding-by-design.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/understanding-by-design.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 09:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Ribut-ribut soal UAN masih berjalan sekarang ini di Indonesia. Di musim UAN seperti saat ini, ada satu teori yang harusnya kita bahas dan pahami bersama. Nama teori itu adalah Understanding by Design (UbD). Apa itu dan bagaimana penerapannya akan saya bahas di artikel ini. Understanding by Design adalah sebuah teori untuk yang seharusnya dipakai dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Ribut-ribut soal UAN masih berjalan sekarang ini di Indonesia. Di musim UAN seperti saat ini, ada satu teori yang harusnya kita bahas dan pahami bersama. Nama teori itu adalah Understanding by Design (UbD). Apa itu dan bagaimana penerapannya akan saya bahas di artikel ini.</div>
<div id="_mcePaste"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Understanding_by_Design">Understanding by Design</a> adalah sebuah teori untuk yang seharusnya dipakai dalam hal pembuatan kurikulum pendidikan. Teori ini dipelopori oleh Grant Wiggins dan Jay McTighe. Menurut kedua pakar bahasa ini, Understanding by Design adalah sebuah kerangka kerja untuk membantu kita menyusun kurikulum, asessement dan kegiatan di dalam kelas yang akan membantu pemahaman lebih mendalam siswa akan apa yang kita ajarkan.</div>
<div id="_mcePaste">Bagaimana konsep diatas bisa berjalan? Cara bekerja framework ini adalah dengan menggunakan Backward Design. Selama ini yang sudah berlaku dalam pembuatan kurikulum adalah mendesain materi yang akan diajarkan, cara pengajarannya dan kemudian merancang tes untuk mengukur keberhasilan pengajaran. Bakcward Design menerapkan hal yang sebaliknya. Dalam pelaksanannya, kita harus memikirkan hasil yang kita maui dari pengajaran kita. Apa yang kita ingin siswa untuk mengerti? Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan tes untuk mengukur pemahaman siswa. Barulah setelah itu kita mendisain materi yang akan kita sampaikan dan juga cara penyampainnya.</div>
<div>Mari kita ambil sebuah contoh skala kecil. Misalnya kita akan mengajarkan siswa melakukan presentasi. Apa yang harus kita siapkan dulu? Tesnya. Kita harus muncul dengan criteria presentasi yang baik. Kita tulis poin-poinnya dan kita gunakan poin-poin itu untuk mengukur keberhasilan siswa. Apabila kita menargetkan ketrampilan organisasi materi (beserta poin-poin yang lain, tentunya), kita harus mengajarkan siswa cara membagi sebuah presentasi. Jelaskanlah kepada mereka bahwa sebuah presentasi yang bagus terdiri dari pembukaan yang mengandung perkenalan subjek yang akan dipresentasikan, inti presentasi yang harus dibagi-bagi lagi supaya bisa lebih dimengerti dan lalu penutupan yang mengandung kesimpulan presentasi. Setelah itu, kita harus memikirkan penyampain materi yang mengena. Bisa saja kita berikan satu contoh presentasi kita sendiri kepada siswa. Setelah itu, kita bagikan bagian-bagian dari presentasi kita untuk ditelaah dan dikategorisasikan oleh siswa. Langkah selanjutnya adalah member kesempatan kepada siswa untuk melihat sebuah presentasi lain dan mempraktekan apa yang telah mereka pelajari dengan cara mengisi checklist dan mendiskusikannya dalam grup. Setelah itu, barulah kita beri latihan-latihan kepada siswa untuk melakukan presentasi mereka sendiri.</div>
<div>Konsep ini cukup logis untuk diterapkan. Understanding by Design membantu kita untuk tahu secara pasti arah sebuah pendidikan. Selain itu, UdB juga membuat kita tetap pada tujuan dan tidak salah arah dalam pencapainnya.</div>
<div id="_mcePaste">Bagaimana penerapan konsep ini di tempat anda mendidik?</div>
<p>Kalau anda butuh referensi lain, mungkin<a href="http://www.ubdexchange.org/"> situs</a> ini bisa membantu anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/understanding-by-design.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas tentang ujian nasional di Indonesia</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/sekilas-tentang-ujian-nasional-di-indonesia.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/sekilas-tentang-ujian-nasional-di-indonesia.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 17:16:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sistem ujian akhir di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, dimulai dari periode 1965 hingga sekarang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sistem ujian akhir di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. Perkembangan ujian akhir tersebut, yaitu:</p>
<p>1. Periode 1965-1971</p>
<p>Pada periode ini, sistem ujian akhir yang diterapkan disebut dengan Ujian Negara, berlaku untuk hamper semua mata pelajaran. Bahkan ujian dan pelaksanaannya ditetapkan oleh pemerintah pusat dan seragam untuk seluruh wilayah di Indonesia.</p>
<p>2. Periode 1972-1979</p>
<p>Pada tahun 1972 diterapkan sistem Ujian Sekolah di mana setiap atau sekelompok sekolah menyelenggarakan ujian akhir masing-masing. Soal dan pemrosesan hasil ujian semuanya ditentukan oleh masing-masing sekolah/kelompok sekolah. Pemerintah pusat hanya menyusun dan mengeluarkan pedoman yang bersifat umum.</p>
<p>3. Periode 1980-2000</p>
<p>Untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu pendidikan serta diperolehnya nilai yang memiliki makna yang “sama” dan dapat dibandingkan antar sekolah,maka sejak tahun 1980 dilaksanakan ujian akhir nasional yang dikenal dengan sebutan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Dalam EBTANAS dikembangkan sejumlah perangkat soal yang “paralel” untuk setiap mata pelajaran, dan penggandaan soal dilakukan di daerah.</p>
<p> 4. Periode 2001-2004</p>
<p> Sejak tahun 2001, EBTANAS diganti dengan penilaian hasil belajar secara nasional dan kemudian berubah nama menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN) sejak tahun 2002. Perbedaan yang menonjol antara UAN dengan EBTANAS adalah dalam cara menentukan kelulusan siswa, terutama sejak tahun 2003. Dalam EBTANAS, kelulusan siswa ditentukan oleh kombinasi nilai semester I (P), nilai semester II (Q), dan nilai EBTANAS murni (R), sedangkan kelulusan siswa pada UAN ditentukan oleh nilai mata pelajaran secara individual.</p>
<p> 5. Periode 2005-sekarang</p>
<p>Untuk mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan yang bermutu, pemerintah menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) untuk SMP/MTs/SMPLB dan SMA/SMK/MA/SMALB/SMKLB. Sementara untuk tingkat SD/MI/SDLB, mulai tahun 2008 diselenggarakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN).</p>
<p> Sumber: Departemen Pendidikan Nasional</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/sekilas-tentang-ujian-nasional-di-indonesia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>UU NO# 20/2003 tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/uu-no-202003-tentang-sistem-pendidikan-nasional.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/uu-no-202003-tentang-sistem-pendidikan-nasional.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 07:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[undang-undang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Bila hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara denan hasil program pendidikan formal, apakah itu berarti siswa sekolah formal boleh tidak mengikuti satu subyek tertentu yangmana dirinya telah mendapatkan hasil yang diakui pemerintah dari pendidikan nonformal yang diikutinya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="text-align: center;"><strong>Bagian Kelima</strong></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;"><strong>Pendidikan Nonformal</strong></div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: center;"><strong>Pasal 26</strong></div>
<div id="_mcePaste">(1) <strong>Pendidikan nonformal diselenggarakan</strong> bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang <strong>berfungsi</strong> sebagai <strong>pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal</strong> dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(2) Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(3) Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(4) Satuan pendidikan nonformal t<strong>erdiri atas lembaga kursus</strong>, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(6) <strong>Hasil</strong> pendidikan nonformal <strong>dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal</strong> setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.</div>
<div></div>
<div id="_mcePaste">(7) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/uu-no-202003-tentang-sistem-pendidikan-nasional.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
