<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; Articles</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/category/articles/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 02:40:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Paket C &#8211;  the FAQs</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 02:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah setara SMA]]></category>
		<category><![CDATA[Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Penyetaraan Ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[PKBM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa orang tua datang kepada saya dengan wajah kebingungan. Bukan bingung lantaran tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya, tapi lantaran kekurang informasi mengenai jalur alternatif yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang sangat spesifik. Orang tua ke-1 mengatakan anaknya putus sekolah di tengah jalan kelas 1 SMA saja  (drop out) lantaran tak kuat dengan standar disiplin sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa orang tua datang kepada saya dengan wajah kebingungan. Bukan bingung lantaran tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya, tapi lantaran kekurang informasi mengenai jalur alternatif yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang sangat spesifik.</p>
<p>Orang tua ke-1 mengatakan anaknya putus sekolah di tengah jalan kelas 1 SMA saja  (drop out) lantaran tak kuat dengan standar disiplin sekolah X dan memilih belajar di rumah saja (homeschool). Setelah 2 tahun belajar gaya di rumah, mereka  kebingungan mencari cara penyetaraan ijazah supaya bisa melanjutkan sekolah musik di Vienna. &#8220;wong anak say itu kan seniman ya, bu. Mana bisa dipaksa begini begitu seperti di sekolah X itu. Apalagi suruh belajar Matematika, Sejarah, oalaahhhh&#8230;dia mendingan bolos aja dan genjrang genjreng gitarnya  atau main piano sendirian membuat lagu&#8221;.</p>
<p>Orang tua ke-2 datang dengan wajah yang melankolis setengah putus asa karena tidak ada sekolah yang menerima anaknya yang disinyalir memiliki kecenderungan prilaku tertentu (maaf saya tidak suka melabelkan anak jadi tidak saya tulis secara rinci), sehingga sang ibu membantu sang anak belajar di rumah dengan materi dari internet dan diiringi beberapa terapi yang bisa membantu perkembangannya. Sang ibu bertanya apakah mungkin anaknya memiliki ijazah pendidikan agar bisa melanjutkan ke tingkat pendidikan tinggi.</p>
<p>Orang tua ke-3 datang dengan ekspresi wajah marah dan frustasi, bukan karena cuaca hari itu panas terik, namun lantaran ijazah dari sekolah di luar negeri tidak diakui oleh negeri ini dan ditolak mentah-mentah untuk masuk ke sekolah yang konon beken.  Penyetaraan ijazah yang diperlukan menjadi hambatan untuk melanjutkan pendidikan.</p>
<p>Orang tua ke-4 datang dengan cerita bahwa anaknya dikirim ke sekolah internasional, namun tidak lulus ujian internasional yang diadakan di sekolahnya. Tambahan lagi, karena kadung tidak lulus, anak ini sudah tak mau mencoba Ujian Nasional yang diadakan Diknas. Sang ortu pun kebingungan, kalau tak ada ijazah, bagaimana mau sekolah di perguruan tinggi di negeri seberang yang konon bisa mencetak anak jadi pengusaha yang handal bukan lulusan perguruan tinggi yang kebingungan cari pekerjaan.</p>
<p>Empat ortu ini bertanya apakah saya menjual atau kenal dengan orang yang bisa menjual ijazah SMA. Walaupun ingin, sayangnya saya tidak punya mental jadi makelar untuk ijazah. Walaupun saya bukan pejabat pendidikan atau dinas pendidikan,  saya hanya bisa   menjelaskan mengenai kemungkinan untuk mengambil ujian Paket C yang dulunya dilirik sebelah mata. Jika saja ibu-ibu itu tahu, bahwa beberapa calon pemimpin politik beberapa waktu yang lalu pun sama bingungnya dengan para ibu-ibu ini dikarenakan harus memiliki ijazah SMA untuk mencalonkan diri di kursi legislatif dan akhrinya menemukan solusi dengan Paket C ini . Dan beberapa lawan politiknya mati-matian berupaya menjatuhkan mereka dengan mencuci otak pengikutnya bahwa jalur pendidikan non formal itu tidak selevel dengan formal, dan ijazah Paket C itu disinyalir tak sah.</p>
<p>Mari kita tinggalkan sejenak intrik politik . Tapi seandainya anda dalam posisi keempat ibu tadi, anda tidaklah sendirian. Untuk kasus-kasus lainnya yang serupa dan mengindikasi kebutuhan untuk memperoleh ijazah penyetaraan SD, SMP atau SMA, dapat saya pastikan anda berkesempatan untuk mendapatkan ijazah resmi lewat jalur nonformal. Untuk sederhananya, saya berikan dalam bentuk pertanyaan FAQs (Frequentlyy asked Questions)</p>
<p><strong>1.  Apakah itu Paket C?</strong></p>
<p>Paket C (dulunya disebut Program Kejar Paket C) adalah pelayanan pendidikan pada jenjang  menengah kejuruan melalui jalur  non formal (UU Mendiknas No.36 tahun 2009)</p>
<p><strong>2. Siapa saja yang diperbolehkan mengikuti ujian paket C  ini ?</strong></p>
<ul>
<li> yang memerlukan penyetaraan ijazah tingkat menengah atas</li>
</ul>
<ul>
<li>yang  menempuh pendidikan menengah di luar negeri namun berniat menempuh pendidikan tinggi di Indonesia, sehingga memerlukan ijazah   penyetaraan</li>
<li> yang menempuh pendidikan mandiri (<em>homeschooling)</em> dikarenakan alasan tertentu dan bermaksud mendapat ijazah penyetaraan dari pemerintah</li>
<li> yang tidak mengikuti jalur pendidikan formal di sekolah (mengikuti program di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat /PKBM)</li>
</ul>
<p><strong>3 . Siapakah yang mengeluarkan ijazah Paket C</strong></p>
<p>Ijazah dikeluarkan  resmi dari Dinas Pendidikan Menengah Kantor Wilayah  pemerintah setempat (Hubungi Kasi Pendidikan Non Formal, Kepala Suku</p>
<p>Dinas Pendidikan Menengah, Kantor Wilayah Pemerintah Daerah dimana anda berada)</p>
<p><strong>4. Persyaratan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat C</strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.<br />
- Fotocopy ijazah SMP sebanyak 5 lembar.<br />
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2&#215;3 (5 buah), 3&#215;4 (5 buah),                      4&#215;6 (5 buah).<br />
- Foto harus hitam putih dan mengenakan baju putih berkerah (bukan                      kaos).  Foto                     digunakan untuk ijazah.</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">5. Kapan ujian diselenggarakan?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Dalam setahun, ujian diselenggarakan 2 gelombang.</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Gelombang I   : Bulan Juni (pendaftaran paling lambat bulan Februari)</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Gelombang II : Bulan November (pendaftaran paling lambat bulan Agustus)</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">7. Siapakah yang mengeluarkan surat keterangan lulus ujian Sertifikat C ini?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Kepala Dinas Pendidikan Menengah Kabupaten/ Kota<br />
</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">8. Apakah ada program persiapan sebelum mengambil ujian Paket C ini?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Di beberapa wilayah biasanya ada program persiapan sebelum anda ikut ujian Paket C ini dalam wadah non formal yang disebut PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Di sini ada program pembelajaran yang terdiri dari satuan kredit kompetensi. Sedikit berbeda dengan jalur formal pendidikan, di PKBM kegiatan diselenggarakan sesuai dengan keadaaan masing-masing pembelajar. Beberapa PKBM menyelenggarakan program di hari sabtu, ada juga yang dilaksanakan sore/malam hari karena peserta harus bekerja di pagi hari. Ada juga PKBM yang menyelenggarakan pembelajaran on line/mandiri, sehingga peserta mengambil bahan pelajaran dalam bentuk modul atau satuan pelajaran lainnya dan mempelajarinya di rumah.</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">9. Bagaimana bentuk penilaian dari PKBM ?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- penilaian kemajuan belajar : penilaian terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- penilaian kompetensi kejuruan (bagi pendidikan kejuruan) dilakukan oleh institusi/lembaga yang memenuhi standar kompetensi<br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- ujian akhir :ujian nasional yang penilaiannya dilakukan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)<br />
</span></p>
<p>Untuk acuan beberapa PKBM yang ada : klik <a href="http://serbaserbipkm.blogspot.com">disini</a></p>
<p>Semoga tidak ada lagi diskriminasi informasi . Salam Indonesia Educate!</p>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan untuk semua. Ijazah : juga untuk semua!</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-untuk-semua-ijazah-juga-untuk-semua.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-untuk-semua-ijazah-juga-untuk-semua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Kejar Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Inklusi]]></category>
		<category><![CDATA[Sertikat C]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan secara umum merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada umumnya peserta didik dalam pendidikan umum/pendidikan reguler adalah peserta didik normal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendidikan secara umum merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada umumnya peserta didik dalam pendidikan umum/pendidikan reguler adalah peserta didik normal, sehingga kurikulum, tenaga guru, sarana dan prasarana, lingkungan belajar dan proses pembelajarannya dirancang untuk anak normal.</p>
<p>Bagaimana dengan mereka (anak-anak) yang :<br />
- berkebutuhan khusus ?<br />
- berkemampuan istimewa, yang mengikuti pendidikan reguler namun perlu penanganan khusus ?<br />
- tidak memempuh pendidikan reguler (misalkan belajar secara nonformal di rumah &#8211;homeschool&#8211; atau di PKBm &#8211;Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)?</p>
<p>Jawabannya adalah : Pendidikan inklusif . Pendidikan inklusif,adalah pendidikan <strong>reguler yang disesuaikan </strong>dengan kebutuhan peserta didik yang memiliki kelainan dan/atau memiliki <strong>potensi kecerdasan dan bakat istimewa</strong> pada sekolah regular dalam satu kesatuan yang sistemik. Pendidikan inklusif adalah pendidikan di sekolah biasa yang mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus yang mempunyai IQ normal diperuntukan bagi yang memiliki kelainan (intelectual challenge), bakat istimewa, kecerdasan istimewa dan atau yang memerlukan pendidikan layanan khusus.</p>
<p>Landasan Yuridisnya adalah :<br />
(1) UUD 1945 (amandemen) pasal 31 ayat 1: “setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan”.</p>
<p>(2) UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona babIVl<br />
<strong>Pasal 3 </strong><br />
” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.</p>
<p><strong> Pasal 5 (1)<br />
</strong></p>
<blockquote><p>&#8221; Setiap warganegara mempunyai hak yang sama untuk pendidikan.<br />
Warganegara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa <strong>anak yang memiliki kelainan dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa</strong> berhak pula memperoleh kesempatan yang <strong>sama</strong> dengan anak lainnya (anak normal) dalam pendidikan.&#8221;</p></blockquote>
<p>Pasal 5 ayat 2<br />
” Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan atau sosial<strong> berhak </strong>memperoleh pendidikan khusus”.</p>
<p>Pasal 32<br />
”Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa” .</p>
<p>(3) UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,</p>
<p>(4) UU No. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat,</p>
<p>(5) PP No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan,</p>
<p>(6) Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas No.380 /C.66/MN/2003, 20 Januari 2003 perihal Pendidikan Inklusi<br />
&#8221; di setiap Kabupaten/ Kota di seluruh Indonesia sekurang kurangnya harus ada 4 sekolah penyelenggara inklusi yaitu di jenjang SD, SMP, SMA dan SMK masing-masing minimal satu sekolah&#8221;</p>
<p>(7) Deklarasi Bandung tanggal 8-14 Agustus 2004 tentang ”Indonesia menuju Pendidikan Inklusi”,</p>
<p>(8) Deklarasi Bukittinggi tahun 2005 tentang ” ”Pendidikan untuk semua”<br />
”P<em>enyelenggaraan dan pengembangan pengelolaan pendidikan inklusi ditunjang kerjasama yang sinergis dan produktif antara pemerintah, institusi pendidikan, istitusi terkait, dunia usaha dan industri, orangtua dan masyarakat”.</em></p>
<p>Layanan khusus ini tidak melulu diberikan karena anak tsb cacat atau IQ nya melalui rata-rata. Yang penting diiingat adalah ada anak-anak yang tidak menempuh ujian kelas 3, atau putus jalan di kelas 2 atau bahkan kelas 1. Ada pula yang terlanjur mengenyam pendidikan di luar negeri selama beberapa tahun, dan gegar budaya pada saat kembali belajar di sekolah reguler. Ada pula mereka yang mengenyam pendidikan di rumah (home school) karena satu dan lain hal. Ada juga kawan-kawan kita yang sudah terlanjur bekerja dan kemudian berkeinginan untuk kembali mengenyam pendidikan demi ijazah setara SMA.  Mereka-mereka ini dapat mengikuti ujian khusus yang dinamakan &#8220;Paket C&#8221; yaitu ujian yang setara dengan ijazah SMA.</p>
<p>Ada enam mata pelajaran yang diujikan dalam paket C. Untuk kelompok IPA, terdiri atas PPKN, Bahasa Inggris, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, Fisika dan Matematika (jadi satu). Sedangkan IPS, terdiri atas PPKN, Bahasa Inggris, Sosiologi, Tata Negara, Bahasa Indonesia dan Ekonomi.</p>
<p>Apakah ijazah Paket C ini sah? Sah! Diakui di semua Perguruan Tinggi Negeri dan swasta. Bahkan pemerintah menyatakan jika ada Perguruan Tinggi yang menolak ijazah ini, akan ditegur keras.</p>
<p>Jaman dahulu Kejar Paket A (untuk SD), Paket B (untuk SMP) dan Paket C (untuk SMA) dipandang sebelah mata. Jangan salah, sekarang ini mulai banyak orang tua yang sadar bahwa anak-anaknya yang menempuh pendidikan inklusi juga berhak mendapatkan ijazah setara dan diakui oleh pemerintah.</p>
<p>Jika anda pernah mendengar sertifikat &#8220;O level&#8221; atau &#8220;A level&#8221;  untuk masuk ke jenjang pendidikan tinggi,  seolah hanya untuk mereka yang memiliki hak ekslusif karena bersekolah di penyelenggara pendidikan yang tertentu dengan bayaran yang hanya dapat dijangkau kalangan tertentu, tidak usah khawatir! Pendidikan untuk semua, dan harusnya penyetaraan ijazah pun harus bisa untuk semua, dimana saja, dan kapan saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-untuk-semua-ijazah-juga-untuk-semua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liburan Sambil Nambah Pengetahuan</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/liburan-sambil-nambah-pengetahuan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/liburan-sambil-nambah-pengetahuan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 06:07:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Zamroni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Lighter Side]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Liburan biasanya identik dengan acara bersantai, bersenang-senang, dan tidak ada hubungannya dengan aktivitas pendidikan. Padahal sebenernya acara mengisi liburan juga bisa menjadi wahana baru untuk belajar, dengan cara yang berbeda, dan tentunya menyenangkan. Hah? Belajar lagi? Apa ndak mumet? Liburan kan waktunya untuk recharge pikiran, agar setelah liburan selesai, pikiran lebih segar dan siap menerima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Liburan biasanya identik dengan acara bersantai, bersenang-senang, dan tidak ada hubungannya dengan aktivitas pendidikan. Padahal sebenernya acara mengisi liburan juga bisa menjadi wahana baru untuk belajar, dengan cara yang berbeda, dan tentunya menyenangkan.</p>
<p>Hah? Belajar lagi? Apa ndak mumet? Liburan kan waktunya untuk recharge pikiran, agar setelah liburan selesai, pikiran lebih segar dan siap menerima pelajaran.</p>
<p>Biasanya kita lebih suka mengunjungi mall dan pusat perbelanjaan, atau pergi ke tempat wisata. Namun, yang namanya liburan, tempat-tempat tersebut ramai dan harga-harga cenderung naik. Padahal kalau mau jeli, ada cara lain untuk mengisi liburan yang murah dan bermanfaat!</p>
<p>Berikut ini beberapa cara mengisi liburan yang murah, bermanfaat, dan pastinya menyenangkan.</p>
<p><strong>Mengunjungi Museum dan Tempat Bersejarah</strong></p>
<p>Kita ini punya banyak sekali peninggalan bersejarah. Di Jakarta aja, setidaknya ada 34 museum, dan itu belum termasuk bangunan dan tempat-tempat bersejara lainnya. Mengunjungi museum bisa menjadi acara liburan yang murah (rata-rata cuma bayar 2 ribu rupiah untuk ongkos masuk, bahkan ada yang gratis), dan tentu saja bisa menambah wawasan.</p>
<p>Jujur saja, dulu saya paling benci dengan  pelajaran sejarah. Namun semenjak mengunjungi beberapa museum, pikiran saya terbuka dan saya menyesal, kenapa dulu membenci pelajaran sejarah. Usut punya usut, rupanya metode &#8220;menghafal&#8221; yang saya peroleh semasa sekolah itu sangat membosankan dan tidak asyik. Coba dulu pas pelajaran Sejarah sambil mengunjungi langsung museum atau tempat bersejarah lain yang terkait dengan bahasan pada pelajaran tersebut. Pasti lebih menyenangkan!</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2757/4127872167_a4c786d27d_d.jpg" alt="" width="500" height="334" /><p class="wp-caption-text">Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)</p></div>
<p>Nah, di Jakarta, museum-museum yang layak dikunjungi banyak tersebar di Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua. Tempat ini memang kerap menjadi favorit untuk melihat bangunan peninggalan masa penjajahan Belanda. Tercatat ada 6 museum di sini: Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), <a title="Museum Wayang: Menyimpan Koleksi Wayang Berbagai Daerah" href="http://jengjeng.matriphe.com/museum-wayang-menyimpan-koleksi-wayang-berbagai-daerah.html" target="_blank">Museum Wayang</a>, <a title="Museum Seni Rupa dan Keramik, Menyimpan Koleksi Benda Seni Berbagai Masa dan Bangsa" href="http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html" target="_blank">Museum Seni Rupa dan Keramik</a>, <a title="Museum Bank Mandiri, Potret Perbankan Masa Lalu" href="http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html" target="_blank">Museum Bank Mandiri</a>, <a title="Museum Bank Indonesia, Museum Bermultimedia" href="http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html" target="_blank">Museum Bank Indonesia</a>, dan <a title="Museum Bahari: Sejarah Maritim dan Titik 0 Km Jakarta" href="http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html" target="_blank">Museum Bahari</a>. Di sekitar Monas, ada Museum Nasional (Museum Gajah) dan <a title="Museum Taman Prasasti, Bekas Makam Tertua Batavia" href="http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html" target="_blank">Museum Taman Prasasti</a>.</p>
<p>Tuh kan, banyak toh? Padahal masih ada Museum Layang-Layang, Museum Polri, Museum TNI, Museum Proklamasi, Gedung Arsip Nasional, dan museum-museum di Taman Mini Indonesia Indah. Ini baru di Jakarta, belum di daerah lain.</p>
<p>Keuntungan lainnya, biasanya yang berkunjung ke museum itu sedikit, maka daripada berdesak-desakan di mall dan tempat wisata, tentu lebih nyaman melihat-lihat koleksi museum, bukan?</p>
<p><strong>Mengunjungi Planetarium, Kebun Binatang, dan Tempat Pelestarian Lingkungan</strong></p>
<p>Malas ke museum? Bisa juga mengunjungi kebun binatang. Melihat secara langsung hewan-hewan yang jarang kita lihat juga bisa menambah pengetahuan. Kalo di Jakarta, bisa datang ke Ragunan (favorit saya, mengunjungi <a title=" Pusat Primata Schmutzer: Pusat Primata Terbesar di Dunia" href="http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html" target="_blank">Pusat Primata Schmutzer</a>) atau ke Taman Safari di Cisarua, Pandaan, dan Bali. Memang, pengunjung tempat-tempat ini juga akan membludak, namun tak mengapa demi mengisi liburan, bukan?</p>
<p>Kalo ndak pengen ke kebun binatang, bisa juga datang ke suaka marga satwa, taman nasional, atau cagar alam. Untuk ke sini, memang perlu sedikir repot dalam mengurus perijinan (simaksi &#8211; surat izin masuk kawasan konservasi), namun begitu masuk percayalah akan sangat menyenangkan.</p>
<p>Di Jakarta, ada <a title="Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Mangrove Terakhir Jakarta" href="http://jengjeng.matriphe.com/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html" target="_blank">Suaka Margasatwa Muara Angke</a> yang menjadi benteng terakhir abrasi di laut utara Jakarta. Atau bila pengen yang lebih jauh, bisa ke <a title="Jeng-Jeng Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu" href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html" target="_blank">Taman Nasional Kepulauan Seribu</a>, untuk menyaksikan penyu sisik (<em>Eretmochelys imbricate</em>), elang bondol (<em>Haliastur indus</em>) yang menjadi maskot Jakarta,  dan terumbu karang yang sangat indah.</p>
<p>Pengen tau tentang astronomi? Silakan kunjungi <a title="Belajar Astronomi di Planetarium, Jakarta" href="http://jengjeng.matriphe.com/belajar-astronomi-di-planetarium-jakarta.html" target="_blank">Planetarium</a> yang berada di kompleks Taman Isamil Marzuki di Cikini. Atau kalau tertarik dan pengen tahu lebih dekat tenang budaya, bisa mengunjungi <a title="Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan" href="http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html" target="_blank">Kampung Betawi Situ Babakan</a> atau ke Saung Mang Ujo di Bandung.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4067/4211248446_695f956453_d.jpg" alt="" width="500" height="334" /><p class="wp-caption-text">Melihat aktivitas ibadah umat beragama lain untuk menumbuhkan rasa toleransi</p></div>
<p>Bila ada uang lebih, datang ke Jogja dan mengunjungi kraton atau candi-candi lainnya. Atau mengunjungi <a title="Destinasi: Candi dan Tempat Ibadah" href="http://jengjeng.matriphe.com/category/destinasi/candi-tempat-wisata" target="_blank">tempat ibadah umat agama lain</a> untuk mengenal lebih dekat untuk memupuk rasa toleransi juga menarik.</p>
<p><strong>Lakukan Hobi</strong></p>
<p>Bila memang benar-benar enggan keluar rumah, liburan juga bisa diisi dengan kegiatan menyenangkan. Membaca buku atau melakukan hobi yang selama ini tersita waktunya karena kesibukan tentu menarik. Sekedar melukis, mencoba membuat masakan berdasar resep di Internet, tentu juga bisa menjadi alternatif mengisi liburan yang tak hanya murah, namun juga bermanfaat.</p>
<p>Siapa tau dari hobi, kita juga bisa mendapatkan penghasilan sampingan. <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selamat mengisi liburan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/liburan-sambil-nambah-pengetahuan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Mirip Luna Maya. So What???</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 18:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[Parents-educators]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Rahmad Banglae Daulay, ST Kenapa kita harus kebakaran jenggot ??? Toh ini kan hanya merupakan puncak gunung es dari ribuan kejadian. Kenapa harus sibuk merazia ponsel para pelajar ? Apakah tahan melakukan razia setiaphari sampai hari kiamat nanti ??? Mari kita serius. Apakah kita semua sudah serius mendidik anak – anak kita sementara kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Rahmad Banglae Daulay, ST</strong></p>
<p>Kenapa kita harus kebakaran jenggot ??? Toh ini kan hanya merupakan puncak gunung es dari ribuan kejadian. Kenapa harus sibuk merazia ponsel para pelajar ? Apakah tahan melakukan razia setiaphari sampai hari kiamat nanti ???</p>
<p>Mari kita serius. Apakah kita semua sudah serius mendidik anak – anak kita sementara kita khawatir akan dampak dari ”Mirip Luna Maya Gate” ini ? Kalau kita masih khawatir dan sibuk merazia ponsel mereka ini sudah menunjukkan bahwa kita semua sudah tidak percaya pada hasil didikan kita pada anak – anak kita sendiri.</p>
<p>Kalau kita perhatikan dengan seksama, generasi tua dibesarkan dalam suasana yang sangat berbeda dengan generasi muda searang ini. Generasi tua dibesarkan di zaman perjuangan, zaman mempertahankan kemerdekaan, zaman orde lama dan zaman orde baru yang mana kendali pendidikan anak dipegang oleh keluarga dan sekolah. Keluarga dan kondisi sosial masih sangat memungkinkan untuk terbentuknya kepribadian seorang anak sesuai dengan keinginan keluarganya. Demikian juga sekolah. Pada masa itu hiburan masih sebatas RRI dan TVRI. Paling banter anak – anak cuma nonton film unyil, flash gordon atau scoo bi doo. Teknologi pun masih belum canggih dan masih cukup mahal untuk bisa menikmatinya. Pada masa itu butuh waktu lama untuk menjadi dewasa.</p>
<p>Sementara, generasi zaman sekarang hidup dan dibesarkan serta jadi remaja di zaman reformasi di mana teknologi informasi sudah sangat canggih dan murah. Hiburan di rumahpun sudah sangat banyak. Channel tv swasta hanya dengan sekali pencet sudah bisa menikmati acara hiburan sesuka hati. Dalam suasana seperti ini kendali pendidikan keluaga dan sekolah sudah terimbangi oleh teknologi informasi dan dunia hiburan. Apalagi ketika dunia pendidikan sibuk dengan segala macam intervensi nonkependidikan dengan kasus2 yang tidak simpatik dan orang tua sibuk mencari nafkah hidup yang semakin susah, jadilah sang anak sibuk mencari dan membentuk dunianya sendiri. Bagi yang tidak memiliki fasilitas pribadi maka dia akan sibuk bergaul dengan rekan seusianya. Bagi yang punya fasilitas pribadi sibuk dengan kesendiriannya. Dalam kesendiriannya ini mereka banyak tenggelam dalam dunia maya. Pergaulan dalam dunia maya secara perlahan tapi pasti membentuk kepribadiannya. Mereka menjadi sangat cepat dewasa.</p>
<p>Dan orang tua yang pada umumnya tidak melek teknologi tidak tahu dan tidak bisa mengikuti perkembangan kepribadian anak – anaknya. Dan ketika berita tentang Luna Maya merebak di mana – mana maka kita semua kebakaran jenggot.</p>
<p>Lantas, siapa yang salah ?</p>
<p>Untuk apa kita mencari siapa yang salah, kita semua bertanggung jawab atas semua ini. Pendidikan apa yang telah kita berikan kepada anak kita, selain sekolah formal, kursus privat formal ???</p>
<p>Sudah saatnya kita memikirkan kembali format pendidikan non formal yang up to date selain sekolah formal kepada anak –anak kita. Dulu pernah hidup banyak organisasi pelajar, organisasi pemuda, organisasi mahasiswa, yang sebagian besar sekarang ini megap – megap dilindas zaman akibat dari program yang ketinggalan zaman dan sebagian dari elitnya hanya sibuk menjadikan organisasi sebagai batu loncatan untuk karir politiknya. Organisasi masih merupakan sarana yang efektif sebagai wahana pembinaan generasi muda.</p>
<p>Bila generasi muda membagi sebagian pikiran dan  waktunya untuk berorganisasi maka sudah bisa diperkirakan bahwa waktu dan pikiran untuk melakukan perilaku menyimpang atau perilaku yang tidak perlu sudah berkurang atau ditiadakan sama sekali.</p>
<p>Ketiadaan aktifitas adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan generasi muda terjerumus ke dalam perilaku menyimpang.</p>
<p>Berikan mereka aktiftas, berikan mereka fasilitas. Berikan mereka bimbingan praktis, bukan teoritis. Saya yakin masih banyak generasi muda yang punya kesadaran dan potensi untuk menjadi baik.</p>
<p>Perkara bahwa akan tetap ada yang akan terjerumus itu sudah merupakan hukum alam tersendiri, namun harus diingat, usaha harus terus dilakukan dengan inovasidan ide yang tidak ketinggalan zaman.</p>
<p>Salam repotmasih.</p>
<p>Rahmad Daulay, ST</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran on-line di masa datang</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pembelajaran-on-line-di-masa-datang.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pembelajaran-on-line-di-masa-datang.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 17:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[cms]]></category>
		<category><![CDATA[m-learning]]></category>
		<category><![CDATA[on line learning]]></category>
		<category><![CDATA[virtual learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Setelah hampir sepuluh tahun digunakannya teknologi dalam pengajaran, seperti apakah perwajahan pembelajaran on line di masa datang? Beberapa tahun ke depan, harga computer dan saluran internet akan jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelajaran tatap muka langsung yang mempersyaratkan pengajar dan peserta didik harus menempuh perjalanan. 1. CMS (Content Management System) CMS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah hampir sepuluh tahun digunakannya teknologi dalam pengajaran, seperti apakah perwajahan pembelajaran on line di masa datang? Beberapa tahun ke depan, harga computer dan saluran internet akan jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelajaran tatap muka langsung yang mempersyaratkan pengajar dan peserta didik harus menempuh perjalanan. </p>
<p>1.	 CMS (Content Management System)<br />
 CMS adalah aplikasi yang memungkinkan pembuatan dan pengolahan informasi . Pada dasarnya, CMS ini adalah tempat penyimpanan yang dapat berisi laman internet, dokumen,  data multimedia  dan lainnya. CMS ini dapat dikelola sekelompok orang, yang memungkinkan kerjasama  untuk berbagi data secara gratis sehingga memudahkan untuk memuat webpage.<br />
Silakan cek di www.etomite.org</p>
<p>2.	VLE (Virtual Learning Environment)<br />
VLE memungkinkan pengolahan informasi detil, ujian/tes dan materi , hasil belajar siswa,<br />
yang dioleh secara structural. Dengan model pembelajaran ini, guru dapat merancang  pelajaran online dan mendaftarkan siswanya. Di dalam pelajaran sendiri, guru dapat menkombinasikan berbagai sumber (lembar informasi dan link ke situs-situs lain atau file lain) dengan elemen yang interaktif, kuis-kuis, kuestioner, pelajaran yang terstruktur, forum, dan chat rooms.  </p>
<p>Ada beberapa macam sebutan untuk VLE ini, antara lain :<br />
a.	MOO (multi-user Dimension Object Oriented) atau MUDs (multi-user Dimension/Dungeon/ Dialog). MOO banyak dipakai untuk teknologi permainan online, dan pada intinya adalah environment yang memungkinkan interaksi antara beberapa orang dan juga interaksi dengan obyek virtual.<br />
b.	MUVEs (multi-user virtual environment)<br />
Yang bentuknya teks, dan orang bisa chat dan menceritakan obyek dan tindakan, tapi karena perkembangan kecepatan video dan computer dan akses internet, kini juga memungkinkan environment yang berbasis grafik.</p>
<p>Silakan dibuka:  www.blackboard.com , www.moodle.org, http://secondlife.com/whatis/, atauwww.sloodle.com</p>
<p>3.	M-learning (mobile learning)<br />
Dengan tingginya peringkat penggunaan mobile phones, MP3 players, PDA, smart phone, bahkan I Pad yang baru diluncurkan, bagi generasi muda sekarang ini, tentunya m-learning bisa dikatakan normal dan diterima karena adanya tuntutan dari gaya hidup yang makin fleksibel termasuk untuk pembelajaran. Sebagai contoh, Negara Jepang, penduduknya telah terbiasa mendowload dan berlatih TOEIC melalui handphone pada saat naik kereta (sebagaimana kita tahu rata-rata orang Jepang adalah commuter yang menempuh perjalanan jauh setiap harinya dengan kereta/subway).Agnes Kukulska Hulme, seorang dosen Jepang dari Universitas Terbuka di Jepang telah melakukan riset (http://iet.open.ac.uk//pp/a.m.kukulska-hulme/agnes.html). Juga departemen m-research di universitas Birmingham melakukan riset di Universitas Nagoya mengenai penggunaan tablet PC dan Mobile CALL Project  (http://www.studypatch.net/mobile/).</p>
<p>Nah, sekarang pilihannya ada pada kita, mau jadi pengajar yang disebut technology illiterate (buta teknologi) atau techno phobia (takut teknologi) atau techno immigrant (masih dalam transisi belajar menggunakan teknologi). Sedangkan, pastinya siswa kita sekarang ini bakalan dikategorikan digital native atau technology geeks, yang sejak lahir pun sudah akrab dengan gadget-gadget canggih  dan perkembangan teknologi. Rekan guru,  bersiaplah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pembelajaran-on-line-di-masa-datang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH DAN TEKNOLOGI INFORMASI  : TIDAK HARUS MAHAL</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/sekolah-dan-teknologi-informasi-tidak-harus-mahal.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/sekolah-dan-teknologi-informasi-tidak-harus-mahal.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini membahas sejumlah layanan yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah berkaitan dengan kemajuan IT. Menguraikan pemanfaatan IT untuk dunia pendidikan sekolah yaitu website sekolah, web e-learning, dan pencatatan nilai online; serta menghitung investasi layanan IT tersebut dengan harga yang minimal sehingga konotasi IT tidaklah berarti harus mahal. Diharapkan dengan biaya IT yang lebih murah, maka semakin banyak sekolah yang menganggap IT adalah sebuah kebutuhan.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Erwin Sugiarto</p>
<p>Perkembangan Teknologi Informasi (TI) sudah demikian merajalela ke semua bidang kehidupan, rasanya tidak ada yang belum terjamah oleh TI. Demikian juga di bidang pendidikan, masalahnya masih banyak yang beranggapan bahwa menerapkan TI berarti harus mengalokasikan dana yang tidak sedikit, TI masih dianggap sebagai sesuatu hal yang mewah dan mahal.<br />
Untungnya belakangan ini sudah banyak pihak yang mau berpartisipasi baik menjadi donor ataupun menyediakan layanan murah atau bahkan gratis untuk kepentingan dunia pendidikan. Sehingga seharusnya dengan menerapkannya secara tepat maka sekolah dapat menekan pengeluaran dengan tetap memaksimalkan potensi dari penggunaan TI untuk pembelajaran siswa dan untuk eksistensi sekolah itu sendiri di mata lingkungan sekitar dan masyarakat umum.</p>
<p>Sebagai contoh sederhana adalah website sekolah, dapat ditemukan bahwa di era seperti sekarang ini ternyata masih ada sekolah-sekolah yang tidak mempunyai website, jangankan untuk mempublikasikan prestasi siswa-siswanya, ternyata untuk membuat sekolah tersebut eksis dan dapat dilihat infonya dari dunia maya pun belum terpikirkan. Kemudian untuk sekolah yang sudah mempunyai website dan sudah mengisinya dengan info tentang sekolah, ternyata kadang tidak mengupdatenya lagi karena tidak tahu bagaimana cara mengupdate beritanya. Terakhir adalah sekolah yang selalu mengupdate isi websitenya, ternyata masih banyak yang menggunakan website statis sehingga kegiatan mengupdate berita baru kadang malah menimpa berita yang lama, artinya histori berita lama menjadi hilang. Padahal saat ini sudah banyak website dinamis yang dapat diandalkan dan dijamin tidak akan menguras kantong sekolah-sekolah tersebut, andai saja mereka tahu maka mereka dapat eksis dengan berkesinambungan di internet, menambah satu lagi kesempatan mereka untuk bersaing dengan sekolah-sekolah lain, memperbesar kesempatan mereka untuk mendulang pundi-pundi penyeleksian siswa baru setiap tahunnya.</p>
<p>Dari contoh di atas dapat ditelaah bahwa sekolah perlu mengikuti perkembangan TI agar mampu bersaing, sekolah perlu mengambil hal-hal bagus di TI yang bisa diterapkan di sekolah tersebut, sekolah perlu mencari alternatif pengimplementasian TI dengan menggunakan biaya yang minim, sekolah perlu terus memaksimalkan fungsi TI yang telah diterapkan sehingga mendatangkan dampak yang besar bagi perkembangan sekolah tersebut.</p>
<p>Isi artikel ini bukanlah tentang sebuah penemuan luar biasa, bukan pula sesuatu hal baru karena perkembangan TI yang selalu cepat berubah, tetapi artikel ini dibuat untuk mengajak semua pihak dan khususnya sekolah-sekolah untuk berani menerapkan TI dikarenakan tersedianya alternatif-alternatif murah yang dapat digunakan untuk bersaing, mempublikasikan prestasi siswa, dan eksis di internet, apalagi menghadapi AFTA 2010 yang sudah di depan mata, serta maraknya sekolah yang berpindah ke Sekolah Bertaraf Internasional.</p>
<p>Dari artikel ini diharapkan akan didapatkan data tentang berapa nilai investasi yang perlu dianggarkan untuk mengadopsi TI serta memahami mana yang termasuk inovasi TI yang lebih mahal dan mana yang lebih murah, adapun mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan dan pada akhirnya hal ini diserahkan kepada pihak sekolah untuk memutuskannya.</p>
<p>Sangatlah banyak yang dapat ditulis ketika menyinggung keterkaitan dunia pendidikan sekolah dengan TI, sehingga pada artikel ini pembahasan akan dibatasi pada :<br />
1.	Menghitung biaya minimal pembuatan dan penggunaan website dinamis sebagai website sekolah.<br />
2.	Menghitung biaya minimal pembuatan e-learning sehingga siswa dapat mengakses pelajaran melalui media internet dari mana saja.<br />
3.	Menghitung biaya minimal pembuatan dan penggunaan website sistem informasi sekolah untuk mensosialisasikan nilai-nilai siswa (nilai harian/kuis ataupun nilai tes) kepada siswa dan orang tua siswa, sehingga naik atau turunnya nilai siswa dapat dilihat bersama oleh siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua.</p>
<p>“Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah selama beberapa dekade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederhana dan berubah dengan lamban, namun kini teknologi berubah secara dramatis”, (dikutip dari buku Psikologi Pendidikan edisi kedua bab 12 halaman 493, John W. Santrock, 2008).</p>
<p>“Banyak guru tidak memiliki pengetahuan memadai dalam menggunakan komputer, dan banyak sekolah tidak menyediakan workshop atau pelatihan yang dibutuhkan. Dan dengan perkembangan teknologi yang pesat, komputer yang dibeli sekolah menjadi cepat ketinggalan zaman. Bahkan ada yang rusak dan perlu diperbaiki (Baines, Deluzain, &amp; Stanley, 1999). Kenyataan ini berarti pembelajaran di sekolah belum direvolusionerkan secara teknologi. Hanya ketika sekolah punya guru yang terlatih secara teknologilah, maka revolusi teknologi akan benar-benar mengubah sekolah-sekolah (Howell &amp; Dunnivant, 2000; Tomei, 2002)”, (dikutip dari buku Psikologi Pendidikan edisi kedua bab 12 halaman 493 dan 494, John W. Santrock, 2008).</p>
<p>Berangkat dari teori di atas, awalnya teknologi yang diterapkan di sekolah-sekolah berkembang dengan lambat dan kemampuannya terbatas, itulah sebabnya sekolah menjadi tidak menyadari ketika ternyata sekarang ini teknologi yang dapat diadopsi oleh mereka sudah demikian canggih dan beraneka ragamnya.</p>
<p>A. WEB SEKOLAH<br />
Saat ini kebutuhan akan adanya website dapat diibaratkan bagai memiliki sebuah kantor di dunia nyata, orang lain yang ingin mengetahui siapa kita dan ingin berbisnis dengan kita dapat melihat profil kita di website, apabila orang tersebut merasa cocok dan nyaman dengan isi informasi yang ada di dalam website maka besar kemungkinan ia akan menghubungi kita untuk melakukan transaksi bisnis.</p>
<p>Demikian juga dengan sekolah, orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ataupun organisasi yang ingin memberikan beasiswa pendidikan, kemungkinan besar mencari dahulu informasinya melalui internet terutama website sekolah, apabila dirasakan kenyamanan dengan aturan sekolah serta kepuasan dengan prestasi sekolah terhadap siswanya maka besar kemungkinan mereka akan menghubungi sekolah tersebut.</p>
<p>Berikut beberapa layanan penyedia web yang cukup murah untuk digunakan sebagai referensi awal pembanding harga, sbb:<br />
Nama	Jenis Web	Harga<br />
Duwa WebMedia (http://www.duwaweb.com/layanan.php)	Hanya desain 1 tampilan halaman + animasi	Rp 2.750.000,-<br />
Desain Web Murah<br />
(http://www.desainwebmurah.com/paket_website.html)	Paket CMS Website (web dinamis, desain tampilan halaman, email tak terbatas, domain dan hosting)	Rp 1.250.000,-<br />
MasterWeb<br />
(http://www.masterwebnet.com)	Domain + hosting paket Bisnis C sebesar 1,2GB (dapat di setting Moodle, email tak terbatas)	Rp   650.000,-<br />
EDU 2.0 for School<br />
(http://www.edu20.org)	Web e-learning seperti Moodle yang tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web: merdeka.edu20.org	Gratis</p>
<p>Berdasarkan referensi di atas, maka untuk membuat website sekolah dibutuhkan biaya kurang lebihnya sbb:<br />
OPSI1:<br />
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB)		=	Rp     650.000,-<br />
Biaya mendesain 1 tampilan halaman + animasi		=	Rp   2.750.000,-<br />
Total	=	Rp   3.400.000,-<br />
Pilih OPSI1 bila membutuhkan kapasitas yang cukup besar untuk menampung data e-learning serta membutuhkan jasa mendesain halaman awal website dengan penambahan unsur animasi flash. Nama domain website dapat ditentukan sendiri. Setiap tahunnya perlu membayar biaya perpanjang sewa sebesar biaya domain dan hosting yaitu Rp 650.000.</p>
<p>OPSI2:<br />
Biaya mendesain, domain &amp; hosting 1 tahun		=	Rp   1.250.000,-<br />
(tahun berikutnya untuk perpanjang sewa cukup bayar Rp 285.000 / tahun)</p>
<p>Pilih OPSI2 bila hanya membutuhkan website sederhana (kapasitas tidak besar) tetapi cukup untuk memperkenalkan sekolah, dan isi website dapat diubah dengan mudah bagaikan menulis di Ms-Word (website dinamis). Nama domain website dapat ditentukan sendiri, untuk perpanjang setiap tahunnya hanya perlu membayar Rp 285.000.</p>
<p>OPSI3:<br />
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB)		=	Rp     650.000,-<br />
Sebenarnya sudah ada aplikasi e-learning di MasterWeb, maka pilih OPSI3 bila web sekolah akan diintegrasikan dengan web e-learning, dalam hal ini disarankan mengaktifkan fitur Moodle (e-learning) yang sudah ada di dalamnya. Selanjutnya tinggal mengubah theme Moodle agar sesuai dengan identitas sekolah. Nama domain website dapat ditentukan sendiri. Setiap tahunnya perlu membayar biaya perpanjang sewa sebesar biaya domain dan hosting yaitu Rp 650.000.</p>
<p>OPSI4:<br />
Web untuk sekolah gratis				=	Gratis</p>
<p>Pilih OPSI4, dalam hal ini adalah EDU 2.0 for School (http://www.edu20.org), adalah web e-learning seperti Moodle yang instan tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web akan menjadi: merdeka.edu20.org.<br />
Sampai disini diharapkan sekolah memiliki bekal yang cukup untuk mempertimbangkan penawaran harga penyediaan sebuah website yang murah atau lebih mahal, sekali lagi mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan, yang bagi masing-masing sekolah nilai ini akan berbeda-beda.</p>
<p>B. WEB E-LEARNING<br />
“Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan”, dikutip dari Wikipedia (id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik).<br />
Dahulu, untuk membuat web e-learning butuh bantuan sebuah software house dan membutuhkan biaya yang sangat mahal, tetapi saat ini sudah banyak produk open source yang menawarkan e-learning, dan yang banyak digunakan adalah Moodle dengan jumlah web mencapai 50.358 dan digunakan di 211 negara.</p>
<p>Di Indonesia sendiri terdapat 607 web Moodle, banyak digunakan oleh komunitas sekolah dan universitas, perusahaan sekelas Garuda Indonesia pun mempercayakan Moodle sebagai web untuk Training Center nya.</p>
<p>Dengan mengimplementasikan Moodle, maka siswa dapat mengakses pelajaran melalui media internet dari mana saja, sehingga memudahkan siswa mereview pembelajaran, terlebih untuk siswa yang kebetulan tidak hadir sekolah, ia tetap dapat mengetahui apa yang diajarkan ketika ia tidak hadir.</p>
<p>Berikut beberapa layanan penyedia web e-learning yang cukup murah untuk digunakan sebagai referensi awal pembanding harga, sbb:<br />
Opsi	Jenis Web	Harga<br />
MasterWeb<br />
(http://www.masterwebnet.com)	Domain + hosting paket Bisnis C sebesar 1,2GB (dapat di setting Moodle, email tak terbatas)	Rp   650.000,-</p>
<p>EDU 2.0 for School<br />
(http://www.edu20.org)	Web e-learning seperti Moodle yang tinggal pakai, butuh koneksi internet, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web: merdeka.edu20.org	Gratis (butuh koneksi internet)</p>
<p>Moodle<br />
(http://moodle.org/downloads/)	Download aplikasinya dan instal di jaringan lokal sehingga tidak membutuhkan koneksi internet untuk mengaksesnya sebagai media belajar	Gratis (tidak butuh koneksi internet)</p>
<p>Berdasarkan referensi di atas, maka untuk membuat website e-learning dibutuhkan biaya kurang lebihnya sbb:<br />
OPSI1:<br />
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB)		=	Rp     650.000,-</p>
<p>Pilih OPSI1, web dapat difungsikan sebagai web sekolah (untuk promosi) dan web e-learning (untuk pembelajaran).</p>
<p>OPSI2:<br />
Web e-learning + web sekolah gratis				=	Gratis<br />
Pilih OPSI2, dalam hal ini adalah EDU 2.0 for School (http://www.edu20.org), adalah web e-learning seperti Moodle yang instan tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web akan menjadi: merdeka.edu20.org.</p>
<p>OPSI3:<br />
Web e-learning yang tidak butuh koneksi ke internet	=	Gratis<br />
Pilih OPSI3 bila ingin membuat web e-learning berbasis Moodle yang hanya dapat diakses dalam lingkungan sekolah saja (dalam jaringan LAN) dan tidak butuh koneksi internet, dengan cara menginstal aplikasi dari http://moodle.org/downloads. Cocok untuk diterapkan di sekolah yang belum terpasang internet atau koneksi internet di lingkungan sekolah masih kurang cepat.</p>
<p>C. NILAI SISWA<br />
Bila sekolah sering mengadakan rapat orang tua dan guru secara berkala yang salah satu tujuannya adalah memberitahukan nilai siswa kepada orang tuanya, maka sebaiknya rapat tersebut  kedepannya diadakan untuk acara yang lebih berguna misal konsultasi orang tua dan guru. Dengan memanfaatkan internet dan sistem informasi nilai siswa, maka nilai siswa dapat langsung diketahui oleh orang tua berdasarkan kalendar pengecekan nilai yang dapat diberitahukan periodenya dari pihak sekolah kepada orang tua.<br />
Tentunya ini tergantung kepada kebijakan pihak sekolah apakah memang ada periode penilaian yang ingin diberitahukan kepada orang tua siswa, bila dibutuhkan maka sekolah sebenarnya tidak perlu menunggu atau membuat sistem web nila tersebut karena ada web gratis yang menyediakan fitur pencatatan nilai siswa dan dapat dilihat oleh guru, administrator (Kepala Sekolah), siswa, dan orang tua siswa.</p>
<p>Website tersebut bernama www.engrade.com, web gratis yang menyediakan layanan pencatatan nilai dan dapat dilihat oleh pihak sekolah, siswa, ataupun orang tua siswa. Hal ini membuat terjadinya transparansi nilai, dan membuat siswa serta orang tua lebih terpacu untuk melakukan perbaikan apabila ditemukan adanya penurunan nilai, atau sebaliknya membuat anak termotivasi melihat nilainya yang semakin membaik.<br />
Moodle pun sepertinya menyediakan fitur untuk melihat nilai dengan banyak login (pihak sekolah, siswa, ataupun orang tua siswa), hanya saja penulis belum mencobanya lebih dalam sehingga tidak dapat melakukan perbandingan.</p>
<p>KESIMPULAN<br />
Ternyata dapat dibuktikan bahwa pemanfaatan TI tidaklah harus dianggap mahal, sekali lagi mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan, yang bagi masing-masing sekolah nilai ini akan berbeda-beda. Sampai disini diharapkan sekolah memiliki bekal yang cukup untuk mempertimbangkan kualitas layanan yang akan diterapkannya.</p>
<p>USUL DAN SARAN<br />
Jejaring sosial, cloud computing, pengoptimalan 1 cpu untuk digunakan oleh 2 sampai dengan 4 pengguna secara bersama-sama (misal diletakkan di sudut perpustakaan), optimasi handphone untuk media learning dan masih banyak lagi hal-hal lain yang masih bisa digali untuk mengadopsi perkembangan TI di sekolah. Tentunya artikel ini masih jauh dari sempurna, harapannya semoga semua yang telah dituliskan paling tidak memberi sedikit ilmu bagi dunia pendidikan.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
John W. Santrock, 2008,  “Psikologi Pendidikan” edisi kedua bab 12 halaman 492, 493, dan 494.</p>
<p>http://www.desainwebmurah.com/paket_website.html</p>
<p>http://www.duwaweb.com/layanan.php</p>
<p>http://www.edu20.org</p>
<p>http://www.komputercenter.com/ip-cameras-c-17</p>
<p>http://www.livecast.com</p>
<p>http://www.masterwebnet.com</p>
<p>http://www.megatron.biz/cctv.htm</p>
<p>http://www.moodle.org</p>
<p>BIODATA</p>
<p>Nama		:	Erwin Sugiarto<br />
Informasi		:	Sebelumnya mengurusi manajemen guru TI sekolah dan instruktur di sebuah institusi pendidikan di Jakarta sampai awal tahun 2010, saat ini beralih tugas mengurus pembuatan modul TI, harapannya antara modul dan pengajarnya dapat lebih bersinergi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/sekolah-dan-teknologi-informasi-tidak-harus-mahal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembang Apakah? Semoga Terjawab</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/kembang-apakah-semoga-terjawab.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/kembang-apakah-semoga-terjawab.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 07:35:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Antyo Rentjoko</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[nama tumbuhan]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[topinimi]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[vegetasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Barusan saya memposting foto kembang ini di Memo, salah satu blog saya. Isinya berupa pertanyaan dan catatan. Kemudian saya ulangi di Twitter. Dalam sebentar sudah ada jawaban, misalnya dari seorang narablog  dan pengguna Twitter yang kebetulan biolog. Nama aslinya Rudyanto, tenar sebagai @mbilung. Besok, setelah tulisan itu secara otomatis terunggahkan ke Notes-nya Facebook, saya berharap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://i54.photobucket.com/albums/g110/kotakgambar/memo/memo-kembang-njeprak.jpg" alt="" width="500" height="281" /></p>
<p>Barusan saya memposting foto kembang ini di <a href="http://memo.blogombal.org/2010/05/26/kembang-njeprak/" target="_blank">Memo</a>, salah satu blog saya. Isinya berupa pertanyaan dan catatan. Kemudian saya ulangi di <a href="http://twitter.com/pamantyo/status/14745203401" target="_blank">Twitter</a>. Dalam sebentar sudah ada jawaban, misalnya dari seorang narablog  dan pengguna Twitter yang kebetulan biolog. Nama aslinya Rudyanto, tenar sebagai <a href="http://twitter.com/mbilung" target="_blank">@mbilung</a>. Besok, setelah tulisan itu secara otomatis terunggahkan ke Notes-nya Facebook, saya berharap mendapatkan jawaban perihal nama kembang.</p>
<p>Yah, begitulah. Sebagian dari kita, terutama saya, ternyata kurang mengenal nama tanaman. Terhadap <a href="http://blogombal.org/2009/04/16/tentang-daun-pembatas-buku/" target="_blank">daun yang saya pungut untuk pembatas buku</a> pun saya tak tahu namanya.</p>
<p>Anak-anak saya juga tidak tahu. Mereka menjadi korban dari ketidaktahuan dan terutama kelelalaian saya yang kurang memperkenalkan aneka jenis tumbuhan dalam keseharian. Tentu saya punya dalih pembenar bahwa itu terjadi karena di pekarangan saya tak ada pohon tanaman keras. Yang ada hanya beberapa pot tanaman hias.</p>
<p>Kebun Raya Bogor, Taman Bunga TMII, dan Taman Buah Mekarsari tentu bagus untuk pendidikan lingkungan. Tetapi itu hanya insidental, bukan sebagai bagian dari pengalaman sehari-hari maupun pengalaman literer. Pada beberapa negeri saya sering mendapatkan jawaban jika menanyakan nama tetmbuhan. Beberapa penjawab tak selalu melihatnya dalam keseharian mereka, tetapi buku pelajaran membantu mereka mengenali tanaman hingga dewasa.</p>
<p><strong>Google, Wikipedia, Media Sosial</strong></p>
<p>&#8220;Tanyain aja ke Mbah Gugel,&#8221; begitu saran banyak orang setiap kali kita ingin tahu sesuatu. Jika ingin info yang lebih lengkap, bukalah Wikipedia berbahasa Inggris maupun Indonesia, bergantung pada konteks.</p>
<p>Tetapi nanti dulu. Dalam kasus kembang, sampai saat ini setahu saya belum ada aplikasi di web yang langsung dapat menerka sesuatu berdasarkan gambar. Padahal yang saya butuhkan adalah nama benda. Kalau nama sudah saya perleh maka urusan selanjutntya mestinya mudah.</p>
<p>Yah, kita memang membutuhkan  aplikasi macam itu, serupa aplikasi penebak judul lagu yang dijanjikan oleh ponsel bersistem operasi Android: cukup dari suara satu bar lagu maka titel akan tertebak&#8230;</p>
<p>Jalan pintas untuk mengetahui sesuatu adalah  dengan memanfaatkan media sosial. Misalnya <a href="http://tanyasaja.detik.com/" target="_blank">TanyaSaja</a>, <a href="http://www.kaskus.us/" target="_blank">Kaskus</a>, <a href="http://answers.yahoo.com/" target="_blank">Yahoo! Answers</a>, <a href="http://whatiswhat.com" target="_blank">What is what</a>, dan <a href="http://ask.com" target="_blank">Ask.com</a>. Masalahnya, belum tentu aktivis media sosial yang tercontohkan itu (kecuali TanyaSaja dan Kaskus) dapat langsung menjawab karena latar belakang pengalaman, termasuk faktor geografis tempat mereka hidup.</p>
<p>Cara lain tentu saja memasuki media sosial dan jejaring sosial yang ramai, yang anggotanya saling berbalas. Misalnya Twitter. Akan lebih bagus jika memanfaatkan beberapa pemengaruh (<em>influencers</em>) dengan menanya mereka. Misalnya <a href="http://twitter.com/ndorokakung" target="_blank">@ndorokakung</a>, yang hingga hari ini sudah diikuti 11.804 rang. Jika dia cocok, maka lelaki yang bernama asli Wicaksono itu akan melakukan <em>retweet</em> sehingga dalam sekejap pertanyaan kita tersebar.</p>
<p>Dalam urusan beginian, guru dan murid sama saja. Sama-sama belajar dari lingkungan sosial masing-masing melalui internet. Bukankah anak-anak pun mengerjakan PR dengan memanfaatkan <em>direct messages</em> pada Twitter? <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Pengenalan terhadap sekitar</strong></p>
<p>Di luar urusan pemanfaatan media sosial sebagai sarana belajar, jika merujuk kasus kembang dan daun yang tak kita kenali tadi apakah yang sesungguhnya terjadi?</p>
<p>Jika Anda guru bahasa Indonesia, tengoklah karya tulis murid dari tingkat apapun sesuai kelas yang Anda pegang. Berapakah yang mampu membuat deskripsi vegetatif dengan lengkap sesuai tingkat usianya? Jangan-jangan banyak yang hanya menyebut &#8220;daun&#8221;, &#8220;pohon&#8221;, dan &#8220;bunga&#8221;, tapi tanpa keterangan. Jangan-jangan pula guru tak menanyakan soal itu kepada muridnya.</p>
<p>Deskripsi memang menyangkut keterampilan menulis, dan keterampilan menulis merupakan turunan kemampuan verbal. Tetapi di luar urusan teknis, keterbasan deskriptif seringkali merupakan akibat dari kekurangmampuan mengenali hal-hal di sekitar diri seseorang. Hanya menyebut &#8220;angkot&#8221; dalam cerita tanpa penjelasan itu Metromini atau Mikrolet tentulah kurang lengkap.</p>
<p>Berapa banyak dari kita, di Jakarta, yang sejak dulu tahu bahwa Menteng, Bintaro, Langsat, dan Salihara, adalah nama-nama tempat yang berasal dari vegetasi?</p>
<p>Internet memberi banyak peluang kepada kita untuk belajar.Bukan hanya menimba tetapi juga menuang isi. Belum pernah ada media dan tekonologi sedigdaya itu dalam peradaban sebelum sekarang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/kembang-apakah-semoga-terjawab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prinsip Laba dan Nirlaba Catatan untuk Mendiknas Mohammad Nuh</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/prinsip-laba-dan-nirlaba-catatan-untuk-mendiknas-mohammad-nuh.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/prinsip-laba-dan-nirlaba-catatan-untuk-mendiknas-mohammad-nuh.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 13:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mariskova</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: ADING SUTISNA*) Dalam wawancaranya dengan wartawan Koran Jakarta, 9 Mei 2010, Mendiknas Mohammad Nuh mengatakan,”prinsipnya kami tetap pegang kendali bahwa pendidikan itu harusnya nirlaba. Karena bila tidak dikunci nirlaba, pendidikan akan menjadi komoditas dan komersialisasi”. Kalimat diatas merupakan jawaban atas pertanyaan wartawan, ”Bagaimana kabar revisi UU Badan Hukum Pendidikan (BHP)?” Kemudian untuk pertanyaan wartawan  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>ADING SUTISNA<sup>*)</sup></strong></p>
<p>Dalam wawancaranya dengan wartawan Koran Jakarta, 9 Mei 2010, Mendiknas Mohammad Nuh mengatakan,”prinsipnya kami tetap pegang kendali bahwa pendidikan itu harusnya nirlaba. Karena bila tidak dikunci nirlaba, pendidikan akan menjadi komoditas dan komersialisasi”. Kalimat diatas merupakan jawaban atas pertanyaan wartawan, ”Bagaimana kabar revisi UU Badan Hukum Pendidikan (BHP)?” Kemudian untuk pertanyaan wartawan  selanjutnya ”Maksud nirlaba itu, PTN tidak boleh mencari untung dari usahanya?” Mendiknas menjawab,”bukan berarti mereka (PTN) tidak boleh menerima pemasukan, tapi hasil pemasukan harus direinvestasi untuk perkembangan kampus. Bukan dibagi-bagi ke <em>stakeholders</em>. Kedua, otonomi penting tapi harus dikawinkan dengan akuntabilitas, jadi harus diawasi.”</p>
<p>Membaca jawaban Mendiknas Mohammad Nuh seperti itu, timbul rasa ingin tahu saya untuk lebih mengetahui tentang pengertian istilah laba dan nirlaba. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Laba <em>diartikan sebagai selisih lebih antara harga penjualan yang lebih besar dari harga pembelian atau biaya produksi</em>. (KBBI, edisi ketiga,2001). Sedangkan T. Guritno mengartikan laba sebagai <em>kelebihan di atas pengeluaran </em>(Kamus Ekonomi-Bisnis-Perbankan, Gajah Mada University Press, 1992). Sedangkan Nirlaba<strong> </strong>diartikan <em>(suatu kegiatan usaha) yang bersifat tidak mengutamakan pemerolehan keuntungan/laba</em> (KBBI, edisi ketiga, 2001).</p>
<p>Ketika mengingat istilah laba, saya juga teringat buku lama karya Peter F. Drucker, Manajemen: Tugas-TanggungJawab-Praktek, yang diterbitkan oleh Penerbit PPM  bekerjasama dengan penerbit Gramedia, tahun 1978. Dalam buku tersebut Drucker menjelaskan betapa pentingnya laba dalam suatu organisasi usaha. Laba menurut Drucker, bukanlah suatu sebab melainkan suatu akibat dari karya perusahaan  dalam kegiatan pemasaran, pembaharuan dan produktivitas. Laba adalah suatu akibat yang dibutuhkan, yang melayani fungsi ekonomis yang pokok. <span style="text-decoration: underline;">Laba adalah tes (alat ukur) dari kinerja, satu-satunya tes yang efektif</span>. Selanjutnya Drucker menjelaskan, jika yang duduk di kursi direktur bukanlah usahawan, melainkan malaikat, maka mereka masih tetap harus menaruh perhatian pada kemampuan berlaba biarpun mereka itu sama sekali tidak mempunyai minat pribadi untuk mencari laba. Laba, dan hanya laba itu sajalah yang dapat menyediakan modal untuk menciptakan pekerjaan  hari esok, dan supaya pekerjaan-pekerjaan itu makin banyak dan makin baik. Laba adalah bukti kemajuan ekonomi yang diperlukan investasi untuk menciptakan pekerjaan baru, dan pekerjaan tambahan yang semangkin berlipat ganda.  Tidak ada alasan meminta maaf untuk pengutipan laba sebagai suatu keperluan ekonomi dan masyarakat. Sebaliknya pengusaha sudah seharusnya menyesal dan perlu meminta maaf bila ia gagal menghasilkan laba yang sesuai fungsi ekonomi dan sosial yang dapat dikembangkan oleh laba, dan hanya oleh laba.</p>
<p>Demikian pentingnya laba dalam organisasi usaha, termasuk satuan pendidikan. Laba bagi sebagian besar pengusaha menjadi motiv dasar berusaha, dan hal itu sah-sah saja. Selain itu laba juga menjadi parameter usaha. Hal itu disampaikan oleh Dale D. McConkey. McConkey mengatakan, umumnya kita enggan menekankan perlunya efektivitas manajerial dalam sektor layanan publik. Ke-efektifan seolah-olah hanya perlu bagi para manajer sektor bisnis (murni). Tujuan perusahaan layanan publik dianggap sedemikian luhur dan mulia, sehingga akan merusak citra (niat/motivasi), jika kegiatan operasi perusahaan layanan publik menekankan efektifitas dan efisiensi. Tidak ada alasan bahwa perusahaan layanan publik harus tidak efektif dan efisien, harus mengabaikan produktivitas manajerial, harus meninggalkan motif “laba”. Perusahaan layanan publik harus memperoleh “laba” dengan beroperasi secara lebih efisien dan efektif demi mencapai prioritas yang tepat. Keuntungan perusahaan layanan publik, mungkin diberi cap yang berbeda, namun motif laba harus ada jika ingin menghindarkan pemborosan ekonomi dan sosial (McConkey, 1985).</p>
<p>Apa yang dikemukakan oleh McConkey, saya melihatnya sejalan dengan apa yang tertuang dalam UU Sisdiknas pasal 48 ayat (1): <em>Pengelelolaan dana pendidikan berdasarkan prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik</em>. Apa lagi di negara kita yang masih dililit praktek korupsi. Bagaimana mengukur efisiensi satuan pendidikan tanpa adanya laba? Saya menilai, apa yang diucapkan oleh Mendiknas Mohammad Nuh, bahwa pendidikan itu harusnya nirlaba, adalah salah satu bentuk penyeragaman. Pendapat itu bertentangan dengan pasal 48 ayat (1) UU Sisdiknas, dan bertentangan pula dengan prinsip-prinsip usaha.</p>
<p>UU BHP sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Salah satu dasar pembatalan UU BHP adalah penyeragaman badan hukum. Bila masyarakat memilih badan hukum yayasan sebagai penyelenggara pendidikan, maka berdasarkan UU Yayasan, maka yayasan dikelola dengan prinsip nirlaba. Bila masyarakat memilih badan hukum koperasi atau perseroan terbatas (PT) sebagai badan hukum penyelenggara pendidikan, maka UU Koperasi dan UU PT menetapkan badan hukum usaha itu berprinsip laba. Apa Mendiknas tidak akan mengizinkan Koperasi dan PT sebagai penyelenggara pendidikan? Bila Mendiknas tidak mengizinkan, apabila ada anggota masyarakat yang ingin menyelenggarakan pendidikan dengan memilih badan hukum Koperasi atau PT, karena kedua badan hukum tersebut berprinsip laba, maka saya menilai sikap itu bertentangan dengan UU No. 7 Tahun 1994 Tentang Ratifikasi WTO, dan UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, dan Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 77 Tahun 2007 Tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Badang Penanaman Modal.</p>
<p>Masyarakat perlu dibebaskan untuk berusaha seluas mungkin, asalkan usahanya tidak bertentangan dengan undang-undang. Yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah mengatur agar kebebasan itu tidak menjadi “<em>free fight liberalism</em>”. Itu yang harus dikendalikan, bukan menyeragamkan badan hukum usaha dan prinsip-prinsip berusaha.</p>
<p>Saya menutup tulisan ini dengan beberapa kalimat yang perlu kita renungkan, saham adalah instrument pengendalian, laba adalah parameter kinerja, nirlaba adalah istilah yang enak didengar ditelinga, akan tetapi bila tidak hati-hati bisa menyesatkan. Kita jangan meniru orde baru dengan memilih kata-kata yang menipu. Kita masih ingat pada masa orde baru, APBN kita dikatakan menganut anggaran berimbang, bukan surplus atau defisit. Sebenarnya, bertahun-tahun APBN kita mengalami defisit. Dikatakan berimbang karena defisit-nya ditutupi oleh hutang luar negeri (Tanjung Priok, 9 Mei 2010)</p>
<p><sup>*) </sup><strong>Direktur Lembaga Kajian Peningkatan Pendidikan Indonesia (LKPPI)</strong></p>
<p>Alamat:</p>
<p><strong> </strong>Jalan Edam II No. 27 Tanjung Priok, Jakarta Utara 14310</p>
<p>Telp: 021-40008558; 0812 843 7031; Fax: 021-43934981</p>
<p>Email: <a href="mailto:adingsutisna@yahoo.com">adingsutisna@yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/prinsip-laba-dan-nirlaba-catatan-untuk-mendiknas-mohammad-nuh.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Memilih Lembaga Bimbingan Belajar</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/tips-memilih-bimbingan-belajar.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/tips-memilih-bimbingan-belajar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 11:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Menyambung artikel mengenai alasan siswa dan orang tua memilih untuk mengikuti sesi di lembaga bimbingan belajar, saya akan membagi tips tentang bagaimana memilih lembaga bimbingan belajar yang sesuai dengan kebutuhan putra/putri kita. Tidak ada salahnya bila kita melakukan survey kecil-kecilan sebelum menentukan lembaga bimbel mana yang akan kita pilih. Mintalah brosur atau carilah iklan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyambung artikel mengenai alasan siswa dan orang tua memilih untuk mengikuti sesi di lembaga bimbingan belajar, saya akan membagi tips tentang bagaimana memilih lembaga bimbingan belajar yang sesuai dengan kebutuhan putra/putri kita.</p>
<p>Tidak ada salahnya bila kita melakukan survey kecil-kecilan sebelum menentukan lembaga bimbel mana yang akan kita pilih. Mintalah brosur atau carilah iklan tentang lembaga bimbel itu. Akan lebih baik lagi bila kita mendapatkan testimoni dari (mantan) pengguna jasa bimbel tersebut. Informasi utama yang perlu diketahui diantara adalah:</p>
<ul>
<li>Jasa pengajaran <strong>mata pelajaran apa saja</strong> yang ditawarkan. Tanyakan juga apakah <strong>biaya</strong> yang dimaksud sudah termasuk dengan materi modul dan materi serta kesempatan mengikuti try-out (bila putra/ putri kita akan mengikuti ujian nasional),</li>
<li><strong>Besaran jumlah peserta per kelas.</strong> Apakah pengajaran dilakukan dalam kelas terbatas (3 sampai 5 orangkah) atau kelas besar semacam kuliah umum. Jumlah peserta per kelas tentu akan mempengaruhi besarnya perhatian dan intensitas interaksi peserta dengan pengajarnya. Tanyakan pula<strong> fasilitas pendukung pengajaran dan metode pengajaran.</strong></li>
<li>Reputasi lembaga tersebut terutama dari aspek <strong>komitmen pengajar</strong>nya. Soal reputasi bahwa pengajar merupakan lulusan sekolah favorit atau kuliah di universitas ternama, saya pikir itu hal yang bersifat subyektif. Saya pribadi lebih menimbang berat hal absensi pengajar atau sesi yang konsisten, bukan dari universitas mana yang bersangkutan berasal. Sesi yang sudah dijadwalkan seharusnya tetap berjalan meskipun pengajar mata pelajaran tersebut absen. Ini artinya sang pengelola lembaga memiliki komitmen yang tinggi terhadap aspek pelayanan.</li>
</ul>
<p>Faktor berikutnya adalah <strong>waktu belajar</strong>. Hal ini untuk menghindari ketidaktersediaan sesi yang dibutuhkan karena tidak sesuai dengan jadwal kepulangan putra/ putri kita. Sebelum mendaftar, mintalah jadwal sesi-sesi yang ada yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini penting dilakukan terutama bila putra/ putri kita telah memiliki jadwal tambahan lain setelah pulang sekolah.</p>
<p><strong>Biaya </strong>juga dapat menjadi faktor penentu pemilihan sebuah lembaga bimbel. Semakin banyak dana yang tersedia maka akan semakin besar kesempatan kita untuk memilih lembaga mana yang &#8216;tersesuai&#8217;. Meski hal ini tidak selalu berarti bahwa lembaga bimbel yang mahal akan lebih berkualitas.</p>
<p>Faktor terakhir adalah faktor kedekatan<strong> lokasi</strong> sekolah atau rumah dengan lembaga bimbel. Untuk sebagian besar orang tua, faktor keamanan menjadi prioritas utama. Bila pun lokasi lembaga bimbel yang ada cukup jauh, persiapkan putra/ putri kita secara finansial (misalnya dengan memberikan uang saku secukupnya atau memesan ojek langganan) dan secara fisik (berhubung yang bersangkutan tidak dapat pulang ke rumah sebelum belajar, ada baiknya disediakan baju ganti atau bekal secukupnya).</p>
<p>Saya yakin masih banyak lagi faktor-faktor lain yang dipertimbangkan dalam memilih lembaga bimbingan belajar.</p>
<p>Faktor apalagi yang menjadi pertimbangan Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/tips-memilih-bimbingan-belajar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bimbingan Belajar: Mengapa Diperlukan?</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/bimbingan-belajar-mengapa-diperlukan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/bimbingan-belajar-mengapa-diperlukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 06:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini marak berkembang nama-nama bimbingan belajar baik besar maupun kecil. Mereka menawarkan jasa bimbingan secara privat, semi-privat maupun &#8216;publik&#8217; (yaitu dalam bentuk kelas-kelas di lokasi bimbingan belajar tertentu) dengan slogan yang beraneka &#8216;warna&#8217;.  Rata-rata memberikan janji bahwa siswa yang belajar di tempat mereka akan dapat lulus UAN, dapat memahami pelajaran lebih baik bila dibandingkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini marak berkembang nama-nama bimbingan belajar baik besar maupun kecil. Mereka menawarkan jasa bimbingan secara privat, semi-privat maupun &#8216;publik&#8217; (yaitu dalam bentuk kelas-kelas di lokasi bimbingan belajar tertentu) dengan slogan yang beraneka &#8216;warna&#8217;.  Rata-rata memberikan janji bahwa siswa yang belajar di tempat mereka akan dapat lulus UAN, dapat memahami pelajaran lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang belajar di bimbingan belajar lain atau yang tidak megikuti bimbingan belajar sama sekali. Belum lagi pelaksanaan try-out secara berkala.</p>
<p>Tetapi, apakah itu berarti menjamurnya praktik bimbingan belajar karena kekuatan &#8216;marketing&#8217; semata? Pertanyaan kedua adalah: apa yang menjadi alasan dibutuhkannya lembaga-lembaga bimbingan belajar oleh siswa? Bagaimana dengan pihak lain? Orang tua misalnya? Tulisan berikut akan membahas secara umum mengapa masyarakat membutuhkan keberadaan lembaga bimbingan belajar terutama bila ditinjau dari aspek siswa di sekolah dan aspek sistem belajar siswa di rumah mereka masing-masing.</p>
<p>Siswa yang memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi di dalam kelas, baik itu karena faktor guru sebagai pribadi, materi, teknik pengajaran maupun faktor psikologis seperti kelelahan dan lain sebagainya, merasa membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk memperdalam mata pelajaran tertentu. Bimbingan belajar memberikan pengetahuan berupa langkah mudah atau tips untuk memahami satu mata pelajaran yang dianggap sulit seperti kimia atau matematika. Hal inilah yang terkadang menjadi kekuatan dari program bimbingan belajar: memberikan tips pembelajaran untuk mempermudah pemahaman. Satu hal yang sebenarnya tidak melulu harus dilakukan oleh lembaga bimbingan belajar.</p>
<p>Pihak lain yang dapat mengambil peran dalam proses pendalaman materi sekolah yang efektif dan secara ekonomi tidak membebani adalah orang tua. Siswa yang masih memperoleh kesempatan untuk dibimbing langsung oleh orang tuanya dalam hal pelajaran di sekolah sangatlah beruntung. Penambahan waktu belajar di rumah dengan orang tua sebagai &#8216;pengajar&#8217;nya tentu akan lebih nyaman dan lebih bersahabat di kantong karena tidak memerlukan biaya. Bimbingan belajar menjadi alternatif solusi bagi siswa yang orang tuanya kedua-duanya bekerja.</p>
<p>Selain faktor ketiadaan bimbingan orang tua karena faktor bekerja, faktor isi materi mata pelajaran juga menjadi penyebab mengapa orang tua tidak dapat menjadi pembimbing akademis bagi putra-putrinya. Sebagai contoh, materi pelajaran matematika yang telah berkembang dengan begitu pesatnya membuat orang tua merasa kewalahan karena pengetahuan mereka yang tidak dapat mengimbangi perkembangan ilmu matematika saat ini.</p>
<p>Sebagai kesimpulan dapat saya sampaikan bahwa semakin banyaknya lembaga bimbingan belajar merupakan fenomena akibat dari kebutuhan dari siswa yang dituntut agar dapat memberikan pemahaman mereka atas mata pelajaran tertentu di sekolah. Siswa yang memperoleh kesempatan untuk memperoleh jasa bimbingan belajar berharap untuk dapat mendapatkan kiat-kiat belajar, kesempatan memperdalam pengetahuan mereka dengan mengerjakan latihan-latihan atau try-out. Dari sisi pemberi bimbingan, sebagian orang tua tidak dapat menjadi mentor bagi putra-putrinya karena beberapa faktor.</p>
<p>Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah bila siswa dapat menemukan cara untuk memahami pelajaran, baik dengan bantuan orang tua maupun tidak, maka yang bersangkutan tidak membutuhkan jasa lembaga bimbingan belajar?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/bimbingan-belajar-mengapa-diperlukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
