Saya mempunyai latar belakang sebagai pendidik di sebuah lembaga pendidikan informal yang lumayan lama (Menurut saya, tujuh tahun adalah waktu yang cukup lama). Dalam jangka waktu itu, saya juga sempat mengenyam sekitar setahun pengalaman mengajar di sekolah formal—SMA dan SD. Kesempatan menikmati dua dunia yang sedikit berbeda itulah yang mendasari tulisan saya kali ini.
Ketika saya masuk menjadi pengajar sebuah SMA Negeri di Ungaran, saya sempat dipandang sebelah mata karena mempraktekan hal-hal dari kursusan ke sekolah formal. Namun saya merasa bisa berbagi dengan guru-guru yang lain. Berbagi disini yang saya maksud, saya bisa sedikit menjelaskan pandangan saya tentang pendidikan—walaupun saat itu saya masih awam—dan sebagai gantinya, saya belajar tentang profil guru yang berwibawa di depan murid-murid—bukan berarti saya tidak berwibawa, loh, hanya kurang karena faktor usia.
Hal-hal yang sama juga saya dapatkan ketika mengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri di Solo. Pengalaman berbagi saya menjadi lebih banyak dan luas karena guru-guru disana sangat terbuka terhadap pendapat orang lain. Mengajar di sekolah formal dan di kursusan mempunyai manfaat masing-masing terhadap saya—dan saya yakin begitu juga terhadap semua pendidik.
Kalau ditilik-tilik, sekolah formal memberi kesempatan guru untuk lebih dihormati. Guru mendapat privilage—hak khusus untuk dihormati hanya dengan memakai seragam PSH. Setelah itu, semuanya terletak di tangan guru itu sendiri bagaimana akan menggunakannya. Seragam itu juga memberikan tanggung jawab besar dimana guru-guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik.
Apakah hal yang sama berlaku terhadap guru-guru di kursusan? Tidak semuanya tentunya. Dan keadanyapun berbeda-beda. Guru di tempat kursus harus berusaha untuk mendapatkan rasa hormat dari murid. Tanggung jawab mendidik pun tidak selamanya disadari oleh para guru kursusan.
Lalu apakah itu artinya guru formal lebih mudah mengajar murid dibandingkan dengan guru kursus? Tidak juga. Hal yang biasa dibahas oleh guru-guru formal adalah betapa banyak murid yang dihadapi dalam satu kelas. Hal lainnya adalah materi yang banyak yang harus di cover dalam jangka waktu satu semester. Dalam hal ini, mengajar di kursusan sering dianggap lebih enak daripada mengajar di sekolah formal. Materinya sudah disesuaikan dengan jangka waktu pengajaran. Hal ini juga memungkinkan guru kursus sering memberi aktivitas-aktivitas yang menyenangkan di kelas—tentunya yang masih sesuai dengan tujuan pembelajaran, ya. Efeknya adalah sampai sekarang murid-murid banyak yang lebih menyukai guru kursus daripada guru sekolahnya. Banyak yang lebih merasa “berteman” dengan guru-guru dikursusannya daripada dengan bapak dan ibu guru yang berdiri di depan kelas mereka sehari-hari.
Terus apa solusinya? Kenapa tidak mengadopsi konsep Buy 1 get 2? Ambil saja yang positif-positif dari kedua golongan guru tersebut. Kalau anda ragu-ragu akan kemungkinannya, anda tidak perlu seperti itu. Saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang guru matematika yang dihormati di kelas memberikan games yang membuat anak didiknya menganggap cara mengajarnya sangat fun. Hasilnya adalah anak termotivasi untuk belajar s-e-n-d-i-r-i di rumah walaupun ketika tidak ada guru tersebut. Materi yang kadang terlalu banyak bukan menjadi masalah lagi. Di lain pihak, teman saya di kursusan yang kebetulan menjadi guru favorit dalam sebuah jangka waktu tertentu berdasarkan survey masih dihormati penuh oleh murid-muridnya karena sosoknya yang berwibawa dan ajaran-ajaran moral yang disampaikannya dengan cara yang anak muda banget!
Guru formal dan guru kursus akan bisa menjadi guru super apabila mau belajar dari masing-masing pihak. Semoga kita semua bisa menjadi seperti itu, ya. Amin!
Je