Saat ini marak berkembang nama-nama bimbingan belajar baik besar maupun kecil. Mereka menawarkan jasa bimbingan secara privat, semi-privat maupun ‘publik’ (yaitu dalam bentuk kelas-kelas di lokasi bimbingan belajar tertentu) dengan slogan yang beraneka ‘warna’. Rata-rata memberikan janji bahwa siswa yang belajar di tempat mereka akan dapat lulus UAN, dapat memahami pelajaran lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang belajar di bimbingan belajar lain atau yang tidak megikuti bimbingan belajar sama sekali. Belum lagi pelaksanaan try-out secara berkala.
Tetapi, apakah itu berarti menjamurnya praktik bimbingan belajar karena kekuatan ‘marketing’ semata? Pertanyaan kedua adalah: apa yang menjadi alasan dibutuhkannya lembaga-lembaga bimbingan belajar oleh siswa? Bagaimana dengan pihak lain? Orang tua misalnya? Tulisan berikut akan membahas secara umum mengapa masyarakat membutuhkan keberadaan lembaga bimbingan belajar terutama bila ditinjau dari aspek siswa di sekolah dan aspek sistem belajar siswa di rumah mereka masing-masing.
Siswa yang memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi di dalam kelas, baik itu karena faktor guru sebagai pribadi, materi, teknik pengajaran maupun faktor psikologis seperti kelelahan dan lain sebagainya, merasa membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk memperdalam mata pelajaran tertentu. Bimbingan belajar memberikan pengetahuan berupa langkah mudah atau tips untuk memahami satu mata pelajaran yang dianggap sulit seperti kimia atau matematika. Hal inilah yang terkadang menjadi kekuatan dari program bimbingan belajar: memberikan tips pembelajaran untuk mempermudah pemahaman. Satu hal yang sebenarnya tidak melulu harus dilakukan oleh lembaga bimbingan belajar.
Pihak lain yang dapat mengambil peran dalam proses pendalaman materi sekolah yang efektif dan secara ekonomi tidak membebani adalah orang tua. Siswa yang masih memperoleh kesempatan untuk dibimbing langsung oleh orang tuanya dalam hal pelajaran di sekolah sangatlah beruntung. Penambahan waktu belajar di rumah dengan orang tua sebagai ‘pengajar’nya tentu akan lebih nyaman dan lebih bersahabat di kantong karena tidak memerlukan biaya. Bimbingan belajar menjadi alternatif solusi bagi siswa yang orang tuanya kedua-duanya bekerja.
Selain faktor ketiadaan bimbingan orang tua karena faktor bekerja, faktor isi materi mata pelajaran juga menjadi penyebab mengapa orang tua tidak dapat menjadi pembimbing akademis bagi putra-putrinya. Sebagai contoh, materi pelajaran matematika yang telah berkembang dengan begitu pesatnya membuat orang tua merasa kewalahan karena pengetahuan mereka yang tidak dapat mengimbangi perkembangan ilmu matematika saat ini.
Sebagai kesimpulan dapat saya sampaikan bahwa semakin banyaknya lembaga bimbingan belajar merupakan fenomena akibat dari kebutuhan dari siswa yang dituntut agar dapat memberikan pemahaman mereka atas mata pelajaran tertentu di sekolah. Siswa yang memperoleh kesempatan untuk memperoleh jasa bimbingan belajar berharap untuk dapat mendapatkan kiat-kiat belajar, kesempatan memperdalam pengetahuan mereka dengan mengerjakan latihan-latihan atau try-out. Dari sisi pemberi bimbingan, sebagian orang tua tidak dapat menjadi mentor bagi putra-putrinya karena beberapa faktor.
Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah bila siswa dapat menemukan cara untuk memahami pelajaran, baik dengan bantuan orang tua maupun tidak, maka yang bersangkutan tidak membutuhkan jasa lembaga bimbingan belajar?
Saya antara paham dan tak paham dengan bimbingan belajar (dulu: bimbingan tes, karena lebih sempit).
Paham sebatas menduga siswa kerepotan mengejar target kurikulum.
Tak paham dalam arti kenapa ada sekolah yang malah “welcome” terhadap bimbel. Ini sama saja mengakui bahwa yang berlangsung di ruang kelas belum beres.
Paman Tyo,
Beberapa alasan kenapa sekolah-sekolah malah memanggil bimbel untuk masuk sekolah adalah karena:
1. Tuntutan ortu. Daripada anak-anak ikut bimbel di beberapa tempat lain (di luar sekolah) yang soal-soalnya berbeda dengan soal-soal yang dikeluarkan sekolah, lebih baik sekolah saja yang menyelenggarakan bimbel. Administrator dari luar, tapi isi pelajaran dari sekolah. Atau setidaknya dapat kisi-kisi dari sekolah.
2. Sekolah merasa belum PD mengenai sdm (baca para guru)nya. Apakah sdm mereka sudah bisa mengantar siswa sampai lulus ujian?
3. Sekolah tidak punya sdm (mungkin guru-gurunya gak bisa lembur? hehehe)
4. Sekolah merasa siswa-siswanya belum cukup mendapat perbekalan untuk ujian. Dengan mengambil bimbel dr luar sekolah diharapkan siswa bisa mendapatkan input yang lebih banyak dan beragam (kali aja bank soal milik bimbel itu lebih lengkap dan canggih).
Apapun alasan sekolah, bila caranya masih spt sekarang, wajar saja bila orang di luar sekolah akan berpikir ada yang belum beres dengan pengajaran di sekolah itu.