<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; Ken Sanjaya</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/author/sanjaya_ken/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 02:40:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Paket C &#8211;  the FAQs</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 02:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Ijazah setara SMA]]></category>
		<category><![CDATA[Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Penyetaraan Ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[PKBM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa orang tua datang kepada saya dengan wajah kebingungan. Bukan bingung lantaran tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya, tapi lantaran kekurang informasi mengenai jalur alternatif yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang sangat spesifik. Orang tua ke-1 mengatakan anaknya putus sekolah di tengah jalan kelas 1 SMA saja  (drop out) lantaran tak kuat dengan standar disiplin sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa orang tua datang kepada saya dengan wajah kebingungan. Bukan bingung lantaran tidak punya biaya untuk menyekolahkan anaknya, tapi lantaran kekurang informasi mengenai jalur alternatif yang bisa mengakomodasi kebutuhan yang sangat spesifik.</p>
<p>Orang tua ke-1 mengatakan anaknya putus sekolah di tengah jalan kelas 1 SMA saja  (drop out) lantaran tak kuat dengan standar disiplin sekolah X dan memilih belajar di rumah saja (homeschool). Setelah 2 tahun belajar gaya di rumah, mereka  kebingungan mencari cara penyetaraan ijazah supaya bisa melanjutkan sekolah musik di Vienna. &#8220;wong anak say itu kan seniman ya, bu. Mana bisa dipaksa begini begitu seperti di sekolah X itu. Apalagi suruh belajar Matematika, Sejarah, oalaahhhh&#8230;dia mendingan bolos aja dan genjrang genjreng gitarnya  atau main piano sendirian membuat lagu&#8221;.</p>
<p>Orang tua ke-2 datang dengan wajah yang melankolis setengah putus asa karena tidak ada sekolah yang menerima anaknya yang disinyalir memiliki kecenderungan prilaku tertentu (maaf saya tidak suka melabelkan anak jadi tidak saya tulis secara rinci), sehingga sang ibu membantu sang anak belajar di rumah dengan materi dari internet dan diiringi beberapa terapi yang bisa membantu perkembangannya. Sang ibu bertanya apakah mungkin anaknya memiliki ijazah pendidikan agar bisa melanjutkan ke tingkat pendidikan tinggi.</p>
<p>Orang tua ke-3 datang dengan ekspresi wajah marah dan frustasi, bukan karena cuaca hari itu panas terik, namun lantaran ijazah dari sekolah di luar negeri tidak diakui oleh negeri ini dan ditolak mentah-mentah untuk masuk ke sekolah yang konon beken.  Penyetaraan ijazah yang diperlukan menjadi hambatan untuk melanjutkan pendidikan.</p>
<p>Orang tua ke-4 datang dengan cerita bahwa anaknya dikirim ke sekolah internasional, namun tidak lulus ujian internasional yang diadakan di sekolahnya. Tambahan lagi, karena kadung tidak lulus, anak ini sudah tak mau mencoba Ujian Nasional yang diadakan Diknas. Sang ortu pun kebingungan, kalau tak ada ijazah, bagaimana mau sekolah di perguruan tinggi di negeri seberang yang konon bisa mencetak anak jadi pengusaha yang handal bukan lulusan perguruan tinggi yang kebingungan cari pekerjaan.</p>
<p>Empat ortu ini bertanya apakah saya menjual atau kenal dengan orang yang bisa menjual ijazah SMA. Walaupun ingin, sayangnya saya tidak punya mental jadi makelar untuk ijazah. Walaupun saya bukan pejabat pendidikan atau dinas pendidikan,  saya hanya bisa   menjelaskan mengenai kemungkinan untuk mengambil ujian Paket C yang dulunya dilirik sebelah mata. Jika saja ibu-ibu itu tahu, bahwa beberapa calon pemimpin politik beberapa waktu yang lalu pun sama bingungnya dengan para ibu-ibu ini dikarenakan harus memiliki ijazah SMA untuk mencalonkan diri di kursi legislatif dan akhrinya menemukan solusi dengan Paket C ini . Dan beberapa lawan politiknya mati-matian berupaya menjatuhkan mereka dengan mencuci otak pengikutnya bahwa jalur pendidikan non formal itu tidak selevel dengan formal, dan ijazah Paket C itu disinyalir tak sah.</p>
<p>Mari kita tinggalkan sejenak intrik politik . Tapi seandainya anda dalam posisi keempat ibu tadi, anda tidaklah sendirian. Untuk kasus-kasus lainnya yang serupa dan mengindikasi kebutuhan untuk memperoleh ijazah penyetaraan SD, SMP atau SMA, dapat saya pastikan anda berkesempatan untuk mendapatkan ijazah resmi lewat jalur nonformal. Untuk sederhananya, saya berikan dalam bentuk pertanyaan FAQs (Frequentlyy asked Questions)</p>
<p><strong>1.  Apakah itu Paket C?</strong></p>
<p>Paket C (dulunya disebut Program Kejar Paket C) adalah pelayanan pendidikan pada jenjang  menengah kejuruan melalui jalur  non formal (UU Mendiknas No.36 tahun 2009)</p>
<p><strong>2. Siapa saja yang diperbolehkan mengikuti ujian paket C  ini ?</strong></p>
<ul>
<li> yang memerlukan penyetaraan ijazah tingkat menengah atas</li>
</ul>
<ul>
<li>yang  menempuh pendidikan menengah di luar negeri namun berniat menempuh pendidikan tinggi di Indonesia, sehingga memerlukan ijazah   penyetaraan</li>
<li> yang menempuh pendidikan mandiri (<em>homeschooling)</em> dikarenakan alasan tertentu dan bermaksud mendapat ijazah penyetaraan dari pemerintah</li>
<li> yang tidak mengikuti jalur pendidikan formal di sekolah (mengikuti program di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat /PKBM)</li>
</ul>
<p><strong>3 . Siapakah yang mengeluarkan ijazah Paket C</strong></p>
<p>Ijazah dikeluarkan  resmi dari Dinas Pendidikan Menengah Kantor Wilayah  pemerintah setempat (Hubungi Kasi Pendidikan Non Formal, Kepala Suku</p>
<p>Dinas Pendidikan Menengah, Kantor Wilayah Pemerintah Daerah dimana anda berada)</p>
<p><strong>4. Persyaratan mengikuti ujian untuk mendapatkan sertifikat C</strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- Mengisi Formulir Pendaftaran yang telah disediakan.<br />
- Fotocopy ijazah SMP sebanyak 5 lembar.<br />
- Menyerahkan Pas Foto Ukuran 2&#215;3 (5 buah), 3&#215;4 (5 buah),                      4&#215;6 (5 buah).<br />
- Foto harus hitam putih dan mengenakan baju putih berkerah (bukan                      kaos).  Foto                     digunakan untuk ijazah.</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">5. Kapan ujian diselenggarakan?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Dalam setahun, ujian diselenggarakan 2 gelombang.</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Gelombang I   : Bulan Juni (pendaftaran paling lambat bulan Februari)</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Gelombang II : Bulan November (pendaftaran paling lambat bulan Agustus)</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">7. Siapakah yang mengeluarkan surat keterangan lulus ujian Sertifikat C ini?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Kepala Dinas Pendidikan Menengah Kabupaten/ Kota<br />
</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">8. Apakah ada program persiapan sebelum mengambil ujian Paket C ini?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">Di beberapa wilayah biasanya ada program persiapan sebelum anda ikut ujian Paket C ini dalam wadah non formal yang disebut PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Di sini ada program pembelajaran yang terdiri dari satuan kredit kompetensi. Sedikit berbeda dengan jalur formal pendidikan, di PKBM kegiatan diselenggarakan sesuai dengan keadaaan masing-masing pembelajar. Beberapa PKBM menyelenggarakan program di hari sabtu, ada juga yang dilaksanakan sore/malam hari karena peserta harus bekerja di pagi hari. Ada juga PKBM yang menyelenggarakan pembelajaran on line/mandiri, sehingga peserta mengambil bahan pelajaran dalam bentuk modul atau satuan pelajaran lainnya dan mempelajarinya di rumah.</span></p>
<p><strong><span style="font-family: Tahoma;">9. Bagaimana bentuk penilaian dari PKBM ?</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- penilaian kemajuan belajar : penilaian terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran dan dilakukan secara berkala dan berkesinambungan</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- penilaian kompetensi kejuruan (bagi pendidikan kejuruan) dilakukan oleh institusi/lembaga yang memenuhi standar kompetensi<br />
</span></p>
<p><span style="font-family: Tahoma;">- ujian akhir :ujian nasional yang penilaiannya dilakukan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)<br />
</span></p>
<p>Untuk acuan beberapa PKBM yang ada : klik <a href="http://serbaserbipkm.blogspot.com">disini</a></p>
<p>Semoga tidak ada lagi diskriminasi informasi . Salam Indonesia Educate!</p>
<p><span style="font-family: Tahoma;"><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/paket-c-the-faqs.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan untuk semua. Ijazah : juga untuk semua!</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-untuk-semua-ijazah-juga-untuk-semua.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-untuk-semua-ijazah-juga-untuk-semua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 17:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Kejar Paket C]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Inklusi]]></category>
		<category><![CDATA[Sertikat C]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan secara umum merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada umumnya peserta didik dalam pendidikan umum/pendidikan reguler adalah peserta didik normal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendidikan secara umum merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada umumnya peserta didik dalam pendidikan umum/pendidikan reguler adalah peserta didik normal, sehingga kurikulum, tenaga guru, sarana dan prasarana, lingkungan belajar dan proses pembelajarannya dirancang untuk anak normal.</p>
<p>Bagaimana dengan mereka (anak-anak) yang :<br />
- berkebutuhan khusus ?<br />
- berkemampuan istimewa, yang mengikuti pendidikan reguler namun perlu penanganan khusus ?<br />
- tidak memempuh pendidikan reguler (misalkan belajar secara nonformal di rumah &#8211;homeschool&#8211; atau di PKBm &#8211;Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)?</p>
<p>Jawabannya adalah : Pendidikan inklusif . Pendidikan inklusif,adalah pendidikan <strong>reguler yang disesuaikan </strong>dengan kebutuhan peserta didik yang memiliki kelainan dan/atau memiliki <strong>potensi kecerdasan dan bakat istimewa</strong> pada sekolah regular dalam satu kesatuan yang sistemik. Pendidikan inklusif adalah pendidikan di sekolah biasa yang mengakomodasi semua anak berkebutuhan khusus yang mempunyai IQ normal diperuntukan bagi yang memiliki kelainan (intelectual challenge), bakat istimewa, kecerdasan istimewa dan atau yang memerlukan pendidikan layanan khusus.</p>
<p>Landasan Yuridisnya adalah :<br />
(1) UUD 1945 (amandemen) pasal 31 ayat 1: “setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan”.</p>
<p>(2) UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasiona babIVl<br />
<strong>Pasal 3 </strong><br />
” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.</p>
<p><strong> Pasal 5 (1)<br />
</strong></p>
<blockquote><p>&#8221; Setiap warganegara mempunyai hak yang sama untuk pendidikan.<br />
Warganegara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Hal ini menunjukkan bahwa <strong>anak yang memiliki kelainan dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa</strong> berhak pula memperoleh kesempatan yang <strong>sama</strong> dengan anak lainnya (anak normal) dalam pendidikan.&#8221;</p></blockquote>
<p>Pasal 5 ayat 2<br />
” Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual dan atau sosial<strong> berhak </strong>memperoleh pendidikan khusus”.</p>
<p>Pasal 32<br />
”Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa” .</p>
<p>(3) UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak,</p>
<p>(4) UU No. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat,</p>
<p>(5) PP No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan,</p>
<p>(6) Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Depdiknas No.380 /C.66/MN/2003, 20 Januari 2003 perihal Pendidikan Inklusi<br />
&#8221; di setiap Kabupaten/ Kota di seluruh Indonesia sekurang kurangnya harus ada 4 sekolah penyelenggara inklusi yaitu di jenjang SD, SMP, SMA dan SMK masing-masing minimal satu sekolah&#8221;</p>
<p>(7) Deklarasi Bandung tanggal 8-14 Agustus 2004 tentang ”Indonesia menuju Pendidikan Inklusi”,</p>
<p>(8) Deklarasi Bukittinggi tahun 2005 tentang ” ”Pendidikan untuk semua”<br />
”P<em>enyelenggaraan dan pengembangan pengelolaan pendidikan inklusi ditunjang kerjasama yang sinergis dan produktif antara pemerintah, institusi pendidikan, istitusi terkait, dunia usaha dan industri, orangtua dan masyarakat”.</em></p>
<p>Layanan khusus ini tidak melulu diberikan karena anak tsb cacat atau IQ nya melalui rata-rata. Yang penting diiingat adalah ada anak-anak yang tidak menempuh ujian kelas 3, atau putus jalan di kelas 2 atau bahkan kelas 1. Ada pula yang terlanjur mengenyam pendidikan di luar negeri selama beberapa tahun, dan gegar budaya pada saat kembali belajar di sekolah reguler. Ada pula mereka yang mengenyam pendidikan di rumah (home school) karena satu dan lain hal. Ada juga kawan-kawan kita yang sudah terlanjur bekerja dan kemudian berkeinginan untuk kembali mengenyam pendidikan demi ijazah setara SMA.  Mereka-mereka ini dapat mengikuti ujian khusus yang dinamakan &#8220;Paket C&#8221; yaitu ujian yang setara dengan ijazah SMA.</p>
<p>Ada enam mata pelajaran yang diujikan dalam paket C. Untuk kelompok IPA, terdiri atas PPKN, Bahasa Inggris, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, Fisika dan Matematika (jadi satu). Sedangkan IPS, terdiri atas PPKN, Bahasa Inggris, Sosiologi, Tata Negara, Bahasa Indonesia dan Ekonomi.</p>
<p>Apakah ijazah Paket C ini sah? Sah! Diakui di semua Perguruan Tinggi Negeri dan swasta. Bahkan pemerintah menyatakan jika ada Perguruan Tinggi yang menolak ijazah ini, akan ditegur keras.</p>
<p>Jaman dahulu Kejar Paket A (untuk SD), Paket B (untuk SMP) dan Paket C (untuk SMA) dipandang sebelah mata. Jangan salah, sekarang ini mulai banyak orang tua yang sadar bahwa anak-anaknya yang menempuh pendidikan inklusi juga berhak mendapatkan ijazah setara dan diakui oleh pemerintah.</p>
<p>Jika anda pernah mendengar sertifikat &#8220;O level&#8221; atau &#8220;A level&#8221;  untuk masuk ke jenjang pendidikan tinggi,  seolah hanya untuk mereka yang memiliki hak ekslusif karena bersekolah di penyelenggara pendidikan yang tertentu dengan bayaran yang hanya dapat dijangkau kalangan tertentu, tidak usah khawatir! Pendidikan untuk semua, dan harusnya penyetaraan ijazah pun harus bisa untuk semua, dimana saja, dan kapan saja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pendidikan-untuk-semua-ijazah-juga-untuk-semua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengisi liburan sekolah : siswa SD</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/mengisi-liburan-sekolah-siswa-sd.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/mengisi-liburan-sekolah-siswa-sd.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 17:26:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lighter Side]]></category>
		<category><![CDATA[liburan sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Hasrat menggejolak dari anak-anak yang libur sekolah dikarenakan iklan TV. Ya, ya, ya. katakanlah itu program mengisi liburan ala hedonisme : pergi ke mall ini atau anu karena ada mainan ini atau anu. Celakanya anak-anak pun sudah pandai mempersuasi ortunya dengan iming-iming diskon atau paket murah dengan menggunakan kartu kredit dari bank anu. Saya cuma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hasrat menggejolak dari anak-anak yang libur sekolah dikarenakan iklan TV. Ya, ya, ya. katakanlah itu program mengisi liburan ala hedonisme : pergi ke mall ini atau anu karena ada mainan ini atau anu. Celakanya anak-anak pun sudah pandai mempersuasi ortunya dengan iming-iming diskon atau paket murah dengan menggunakan kartu kredit dari bank anu. </p>
<p>Saya cuma jadi melamun ingat masa kecil dan terharu biru mengenang cara saya mengisi liburan : dulu. Walau selorohan anak saya adalah &#8221; ya, lain dulu lain sekarang kaleee&#8221;. Anak SD semasa saya dulu, libur tak libur kegiatannya sama :<br />
1. membuat kue dari tanah merah<br />
 Tanah diberi air, dicetak dan dijemur di bawah terik matahari.</p>
<p>2. mencari daun waru : untuk membuat minyak-minyakan<br />
jaman dulu ngetrend abis yang namanya main jual-jualan: daun dipotong-potong segala bentuk, bunga-bunga diuntai menjadi kalung atau anting, daun waru diperas dan airnya menjadi minyak yang dijual dengan literan (nah jadi belajar matematika kan?)</p>
<p>3. lomba panjat pohon<br />
tak perduli laki perempuan,  permainan yang mengasyikkan adalah lomba panjat pohon. Mulai dari pohon yang mudah dipanjat seperti flamboyan  yang berdahan lebar, sampai pohon sirsak yang banyak ulatnya. hiiiiiiy.</p>
<p>4. main sepeda<br />
wah , ini sih masih bisa diberlakukan di jaman sekarang! Silakan disarankan kepada anak-anak.</p>
<p>5. lomba<br />
lomba main kutik dengan karet, lomba gambaran, lomba gundu, lomba biji karet, banyaklah!</p>
<p>6. main peran<br />
nah yang satu ini juga seru! main perang-perangan, dokter-dokteran, guru-guruan, sampai maling-malingan! anehnya dulu tidak ada yang kenal konsep idol-idolan!</p>
<p>Tiba-tiba, saya dicolek anak saya yang berkata, &#8221; Bu, pinjam I-pad nya dong! Bosan nih main game di komputer&#8221;. Gubrak. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/mengisi-liburan-sekolah-siswa-sd.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran on-line di masa datang</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pembelajaran-on-line-di-masa-datang.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pembelajaran-on-line-di-masa-datang.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 17:09:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[cms]]></category>
		<category><![CDATA[m-learning]]></category>
		<category><![CDATA[on line learning]]></category>
		<category><![CDATA[virtual learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[Setelah hampir sepuluh tahun digunakannya teknologi dalam pengajaran, seperti apakah perwajahan pembelajaran on line di masa datang? Beberapa tahun ke depan, harga computer dan saluran internet akan jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelajaran tatap muka langsung yang mempersyaratkan pengajar dan peserta didik harus menempuh perjalanan. 1. CMS (Content Management System) CMS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah hampir sepuluh tahun digunakannya teknologi dalam pengajaran, seperti apakah perwajahan pembelajaran on line di masa datang? Beberapa tahun ke depan, harga computer dan saluran internet akan jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelajaran tatap muka langsung yang mempersyaratkan pengajar dan peserta didik harus menempuh perjalanan. </p>
<p>1.	 CMS (Content Management System)<br />
 CMS adalah aplikasi yang memungkinkan pembuatan dan pengolahan informasi . Pada dasarnya, CMS ini adalah tempat penyimpanan yang dapat berisi laman internet, dokumen,  data multimedia  dan lainnya. CMS ini dapat dikelola sekelompok orang, yang memungkinkan kerjasama  untuk berbagi data secara gratis sehingga memudahkan untuk memuat webpage.<br />
Silakan cek di www.etomite.org</p>
<p>2.	VLE (Virtual Learning Environment)<br />
VLE memungkinkan pengolahan informasi detil, ujian/tes dan materi , hasil belajar siswa,<br />
yang dioleh secara structural. Dengan model pembelajaran ini, guru dapat merancang  pelajaran online dan mendaftarkan siswanya. Di dalam pelajaran sendiri, guru dapat menkombinasikan berbagai sumber (lembar informasi dan link ke situs-situs lain atau file lain) dengan elemen yang interaktif, kuis-kuis, kuestioner, pelajaran yang terstruktur, forum, dan chat rooms.  </p>
<p>Ada beberapa macam sebutan untuk VLE ini, antara lain :<br />
a.	MOO (multi-user Dimension Object Oriented) atau MUDs (multi-user Dimension/Dungeon/ Dialog). MOO banyak dipakai untuk teknologi permainan online, dan pada intinya adalah environment yang memungkinkan interaksi antara beberapa orang dan juga interaksi dengan obyek virtual.<br />
b.	MUVEs (multi-user virtual environment)<br />
Yang bentuknya teks, dan orang bisa chat dan menceritakan obyek dan tindakan, tapi karena perkembangan kecepatan video dan computer dan akses internet, kini juga memungkinkan environment yang berbasis grafik.</p>
<p>Silakan dibuka:  www.blackboard.com , www.moodle.org, http://secondlife.com/whatis/, atauwww.sloodle.com</p>
<p>3.	M-learning (mobile learning)<br />
Dengan tingginya peringkat penggunaan mobile phones, MP3 players, PDA, smart phone, bahkan I Pad yang baru diluncurkan, bagi generasi muda sekarang ini, tentunya m-learning bisa dikatakan normal dan diterima karena adanya tuntutan dari gaya hidup yang makin fleksibel termasuk untuk pembelajaran. Sebagai contoh, Negara Jepang, penduduknya telah terbiasa mendowload dan berlatih TOEIC melalui handphone pada saat naik kereta (sebagaimana kita tahu rata-rata orang Jepang adalah commuter yang menempuh perjalanan jauh setiap harinya dengan kereta/subway).Agnes Kukulska Hulme, seorang dosen Jepang dari Universitas Terbuka di Jepang telah melakukan riset (http://iet.open.ac.uk//pp/a.m.kukulska-hulme/agnes.html). Juga departemen m-research di universitas Birmingham melakukan riset di Universitas Nagoya mengenai penggunaan tablet PC dan Mobile CALL Project  (http://www.studypatch.net/mobile/).</p>
<p>Nah, sekarang pilihannya ada pada kita, mau jadi pengajar yang disebut technology illiterate (buta teknologi) atau techno phobia (takut teknologi) atau techno immigrant (masih dalam transisi belajar menggunakan teknologi). Sedangkan, pastinya siswa kita sekarang ini bakalan dikategorikan digital native atau technology geeks, yang sejak lahir pun sudah akrab dengan gadget-gadget canggih  dan perkembangan teknologi. Rekan guru,  bersiaplah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pembelajaran-on-line-di-masa-datang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH DAN TEKNOLOGI INFORMASI  : TIDAK HARUS MAHAL</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/sekolah-dan-teknologi-informasi-tidak-harus-mahal.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/sekolah-dan-teknologi-informasi-tidak-harus-mahal.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 03:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini membahas sejumlah layanan yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah berkaitan dengan kemajuan IT. Menguraikan pemanfaatan IT untuk dunia pendidikan sekolah yaitu website sekolah, web e-learning, dan pencatatan nilai online; serta menghitung investasi layanan IT tersebut dengan harga yang minimal sehingga konotasi IT tidaklah berarti harus mahal. Diharapkan dengan biaya IT yang lebih murah, maka semakin banyak sekolah yang menganggap IT adalah sebuah kebutuhan.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Erwin Sugiarto</p>
<p>Perkembangan Teknologi Informasi (TI) sudah demikian merajalela ke semua bidang kehidupan, rasanya tidak ada yang belum terjamah oleh TI. Demikian juga di bidang pendidikan, masalahnya masih banyak yang beranggapan bahwa menerapkan TI berarti harus mengalokasikan dana yang tidak sedikit, TI masih dianggap sebagai sesuatu hal yang mewah dan mahal.<br />
Untungnya belakangan ini sudah banyak pihak yang mau berpartisipasi baik menjadi donor ataupun menyediakan layanan murah atau bahkan gratis untuk kepentingan dunia pendidikan. Sehingga seharusnya dengan menerapkannya secara tepat maka sekolah dapat menekan pengeluaran dengan tetap memaksimalkan potensi dari penggunaan TI untuk pembelajaran siswa dan untuk eksistensi sekolah itu sendiri di mata lingkungan sekitar dan masyarakat umum.</p>
<p>Sebagai contoh sederhana adalah website sekolah, dapat ditemukan bahwa di era seperti sekarang ini ternyata masih ada sekolah-sekolah yang tidak mempunyai website, jangankan untuk mempublikasikan prestasi siswa-siswanya, ternyata untuk membuat sekolah tersebut eksis dan dapat dilihat infonya dari dunia maya pun belum terpikirkan. Kemudian untuk sekolah yang sudah mempunyai website dan sudah mengisinya dengan info tentang sekolah, ternyata kadang tidak mengupdatenya lagi karena tidak tahu bagaimana cara mengupdate beritanya. Terakhir adalah sekolah yang selalu mengupdate isi websitenya, ternyata masih banyak yang menggunakan website statis sehingga kegiatan mengupdate berita baru kadang malah menimpa berita yang lama, artinya histori berita lama menjadi hilang. Padahal saat ini sudah banyak website dinamis yang dapat diandalkan dan dijamin tidak akan menguras kantong sekolah-sekolah tersebut, andai saja mereka tahu maka mereka dapat eksis dengan berkesinambungan di internet, menambah satu lagi kesempatan mereka untuk bersaing dengan sekolah-sekolah lain, memperbesar kesempatan mereka untuk mendulang pundi-pundi penyeleksian siswa baru setiap tahunnya.</p>
<p>Dari contoh di atas dapat ditelaah bahwa sekolah perlu mengikuti perkembangan TI agar mampu bersaing, sekolah perlu mengambil hal-hal bagus di TI yang bisa diterapkan di sekolah tersebut, sekolah perlu mencari alternatif pengimplementasian TI dengan menggunakan biaya yang minim, sekolah perlu terus memaksimalkan fungsi TI yang telah diterapkan sehingga mendatangkan dampak yang besar bagi perkembangan sekolah tersebut.</p>
<p>Isi artikel ini bukanlah tentang sebuah penemuan luar biasa, bukan pula sesuatu hal baru karena perkembangan TI yang selalu cepat berubah, tetapi artikel ini dibuat untuk mengajak semua pihak dan khususnya sekolah-sekolah untuk berani menerapkan TI dikarenakan tersedianya alternatif-alternatif murah yang dapat digunakan untuk bersaing, mempublikasikan prestasi siswa, dan eksis di internet, apalagi menghadapi AFTA 2010 yang sudah di depan mata, serta maraknya sekolah yang berpindah ke Sekolah Bertaraf Internasional.</p>
<p>Dari artikel ini diharapkan akan didapatkan data tentang berapa nilai investasi yang perlu dianggarkan untuk mengadopsi TI serta memahami mana yang termasuk inovasi TI yang lebih mahal dan mana yang lebih murah, adapun mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan dan pada akhirnya hal ini diserahkan kepada pihak sekolah untuk memutuskannya.</p>
<p>Sangatlah banyak yang dapat ditulis ketika menyinggung keterkaitan dunia pendidikan sekolah dengan TI, sehingga pada artikel ini pembahasan akan dibatasi pada :<br />
1.	Menghitung biaya minimal pembuatan dan penggunaan website dinamis sebagai website sekolah.<br />
2.	Menghitung biaya minimal pembuatan e-learning sehingga siswa dapat mengakses pelajaran melalui media internet dari mana saja.<br />
3.	Menghitung biaya minimal pembuatan dan penggunaan website sistem informasi sekolah untuk mensosialisasikan nilai-nilai siswa (nilai harian/kuis ataupun nilai tes) kepada siswa dan orang tua siswa, sehingga naik atau turunnya nilai siswa dapat dilihat bersama oleh siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua.</p>
<p>“Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah selama beberapa dekade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederhana dan berubah dengan lamban, namun kini teknologi berubah secara dramatis”, (dikutip dari buku Psikologi Pendidikan edisi kedua bab 12 halaman 493, John W. Santrock, 2008).</p>
<p>“Banyak guru tidak memiliki pengetahuan memadai dalam menggunakan komputer, dan banyak sekolah tidak menyediakan workshop atau pelatihan yang dibutuhkan. Dan dengan perkembangan teknologi yang pesat, komputer yang dibeli sekolah menjadi cepat ketinggalan zaman. Bahkan ada yang rusak dan perlu diperbaiki (Baines, Deluzain, &amp; Stanley, 1999). Kenyataan ini berarti pembelajaran di sekolah belum direvolusionerkan secara teknologi. Hanya ketika sekolah punya guru yang terlatih secara teknologilah, maka revolusi teknologi akan benar-benar mengubah sekolah-sekolah (Howell &amp; Dunnivant, 2000; Tomei, 2002)”, (dikutip dari buku Psikologi Pendidikan edisi kedua bab 12 halaman 493 dan 494, John W. Santrock, 2008).</p>
<p>Berangkat dari teori di atas, awalnya teknologi yang diterapkan di sekolah-sekolah berkembang dengan lambat dan kemampuannya terbatas, itulah sebabnya sekolah menjadi tidak menyadari ketika ternyata sekarang ini teknologi yang dapat diadopsi oleh mereka sudah demikian canggih dan beraneka ragamnya.</p>
<p>A. WEB SEKOLAH<br />
Saat ini kebutuhan akan adanya website dapat diibaratkan bagai memiliki sebuah kantor di dunia nyata, orang lain yang ingin mengetahui siapa kita dan ingin berbisnis dengan kita dapat melihat profil kita di website, apabila orang tersebut merasa cocok dan nyaman dengan isi informasi yang ada di dalam website maka besar kemungkinan ia akan menghubungi kita untuk melakukan transaksi bisnis.</p>
<p>Demikian juga dengan sekolah, orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ataupun organisasi yang ingin memberikan beasiswa pendidikan, kemungkinan besar mencari dahulu informasinya melalui internet terutama website sekolah, apabila dirasakan kenyamanan dengan aturan sekolah serta kepuasan dengan prestasi sekolah terhadap siswanya maka besar kemungkinan mereka akan menghubungi sekolah tersebut.</p>
<p>Berikut beberapa layanan penyedia web yang cukup murah untuk digunakan sebagai referensi awal pembanding harga, sbb:<br />
Nama	Jenis Web	Harga<br />
Duwa WebMedia (http://www.duwaweb.com/layanan.php)	Hanya desain 1 tampilan halaman + animasi	Rp 2.750.000,-<br />
Desain Web Murah<br />
(http://www.desainwebmurah.com/paket_website.html)	Paket CMS Website (web dinamis, desain tampilan halaman, email tak terbatas, domain dan hosting)	Rp 1.250.000,-<br />
MasterWeb<br />
(http://www.masterwebnet.com)	Domain + hosting paket Bisnis C sebesar 1,2GB (dapat di setting Moodle, email tak terbatas)	Rp   650.000,-<br />
EDU 2.0 for School<br />
(http://www.edu20.org)	Web e-learning seperti Moodle yang tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web: merdeka.edu20.org	Gratis</p>
<p>Berdasarkan referensi di atas, maka untuk membuat website sekolah dibutuhkan biaya kurang lebihnya sbb:<br />
OPSI1:<br />
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB)		=	Rp     650.000,-<br />
Biaya mendesain 1 tampilan halaman + animasi		=	Rp   2.750.000,-<br />
Total	=	Rp   3.400.000,-<br />
Pilih OPSI1 bila membutuhkan kapasitas yang cukup besar untuk menampung data e-learning serta membutuhkan jasa mendesain halaman awal website dengan penambahan unsur animasi flash. Nama domain website dapat ditentukan sendiri. Setiap tahunnya perlu membayar biaya perpanjang sewa sebesar biaya domain dan hosting yaitu Rp 650.000.</p>
<p>OPSI2:<br />
Biaya mendesain, domain &amp; hosting 1 tahun		=	Rp   1.250.000,-<br />
(tahun berikutnya untuk perpanjang sewa cukup bayar Rp 285.000 / tahun)</p>
<p>Pilih OPSI2 bila hanya membutuhkan website sederhana (kapasitas tidak besar) tetapi cukup untuk memperkenalkan sekolah, dan isi website dapat diubah dengan mudah bagaikan menulis di Ms-Word (website dinamis). Nama domain website dapat ditentukan sendiri, untuk perpanjang setiap tahunnya hanya perlu membayar Rp 285.000.</p>
<p>OPSI3:<br />
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB)		=	Rp     650.000,-<br />
Sebenarnya sudah ada aplikasi e-learning di MasterWeb, maka pilih OPSI3 bila web sekolah akan diintegrasikan dengan web e-learning, dalam hal ini disarankan mengaktifkan fitur Moodle (e-learning) yang sudah ada di dalamnya. Selanjutnya tinggal mengubah theme Moodle agar sesuai dengan identitas sekolah. Nama domain website dapat ditentukan sendiri. Setiap tahunnya perlu membayar biaya perpanjang sewa sebesar biaya domain dan hosting yaitu Rp 650.000.</p>
<p>OPSI4:<br />
Web untuk sekolah gratis				=	Gratis</p>
<p>Pilih OPSI4, dalam hal ini adalah EDU 2.0 for School (http://www.edu20.org), adalah web e-learning seperti Moodle yang instan tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web akan menjadi: merdeka.edu20.org.<br />
Sampai disini diharapkan sekolah memiliki bekal yang cukup untuk mempertimbangkan penawaran harga penyediaan sebuah website yang murah atau lebih mahal, sekali lagi mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan, yang bagi masing-masing sekolah nilai ini akan berbeda-beda.</p>
<p>B. WEB E-LEARNING<br />
“Dengan e-learning, peserta ajar (learner atau murid) tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. E-learning juga dapat mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program studi atau program pendidikan”, dikutip dari Wikipedia (id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik).<br />
Dahulu, untuk membuat web e-learning butuh bantuan sebuah software house dan membutuhkan biaya yang sangat mahal, tetapi saat ini sudah banyak produk open source yang menawarkan e-learning, dan yang banyak digunakan adalah Moodle dengan jumlah web mencapai 50.358 dan digunakan di 211 negara.</p>
<p>Di Indonesia sendiri terdapat 607 web Moodle, banyak digunakan oleh komunitas sekolah dan universitas, perusahaan sekelas Garuda Indonesia pun mempercayakan Moodle sebagai web untuk Training Center nya.</p>
<p>Dengan mengimplementasikan Moodle, maka siswa dapat mengakses pelajaran melalui media internet dari mana saja, sehingga memudahkan siswa mereview pembelajaran, terlebih untuk siswa yang kebetulan tidak hadir sekolah, ia tetap dapat mengetahui apa yang diajarkan ketika ia tidak hadir.</p>
<p>Berikut beberapa layanan penyedia web e-learning yang cukup murah untuk digunakan sebagai referensi awal pembanding harga, sbb:<br />
Opsi	Jenis Web	Harga<br />
MasterWeb<br />
(http://www.masterwebnet.com)	Domain + hosting paket Bisnis C sebesar 1,2GB (dapat di setting Moodle, email tak terbatas)	Rp   650.000,-</p>
<p>EDU 2.0 for School<br />
(http://www.edu20.org)	Web e-learning seperti Moodle yang tinggal pakai, butuh koneksi internet, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web: merdeka.edu20.org	Gratis (butuh koneksi internet)</p>
<p>Moodle<br />
(http://moodle.org/downloads/)	Download aplikasinya dan instal di jaringan lokal sehingga tidak membutuhkan koneksi internet untuk mengaksesnya sebagai media belajar	Gratis (tidak butuh koneksi internet)</p>
<p>Berdasarkan referensi di atas, maka untuk membuat website e-learning dibutuhkan biaya kurang lebihnya sbb:<br />
OPSI1:<br />
Biaya domain dan hosting 1 tahun (1,2GB)		=	Rp     650.000,-</p>
<p>Pilih OPSI1, web dapat difungsikan sebagai web sekolah (untuk promosi) dan web e-learning (untuk pembelajaran).</p>
<p>OPSI2:<br />
Web e-learning + web sekolah gratis				=	Gratis<br />
Pilih OPSI2, dalam hal ini adalah EDU 2.0 for School (http://www.edu20.org), adalah web e-learning seperti Moodle yang instan tinggal pakai, misal nama sekolah: Merdeka, maka nama web akan menjadi: merdeka.edu20.org.</p>
<p>OPSI3:<br />
Web e-learning yang tidak butuh koneksi ke internet	=	Gratis<br />
Pilih OPSI3 bila ingin membuat web e-learning berbasis Moodle yang hanya dapat diakses dalam lingkungan sekolah saja (dalam jaringan LAN) dan tidak butuh koneksi internet, dengan cara menginstal aplikasi dari http://moodle.org/downloads. Cocok untuk diterapkan di sekolah yang belum terpasang internet atau koneksi internet di lingkungan sekolah masih kurang cepat.</p>
<p>C. NILAI SISWA<br />
Bila sekolah sering mengadakan rapat orang tua dan guru secara berkala yang salah satu tujuannya adalah memberitahukan nilai siswa kepada orang tuanya, maka sebaiknya rapat tersebut  kedepannya diadakan untuk acara yang lebih berguna misal konsultasi orang tua dan guru. Dengan memanfaatkan internet dan sistem informasi nilai siswa, maka nilai siswa dapat langsung diketahui oleh orang tua berdasarkan kalendar pengecekan nilai yang dapat diberitahukan periodenya dari pihak sekolah kepada orang tua.<br />
Tentunya ini tergantung kepada kebijakan pihak sekolah apakah memang ada periode penilaian yang ingin diberitahukan kepada orang tua siswa, bila dibutuhkan maka sekolah sebenarnya tidak perlu menunggu atau membuat sistem web nila tersebut karena ada web gratis yang menyediakan fitur pencatatan nilai siswa dan dapat dilihat oleh guru, administrator (Kepala Sekolah), siswa, dan orang tua siswa.</p>
<p>Website tersebut bernama www.engrade.com, web gratis yang menyediakan layanan pencatatan nilai dan dapat dilihat oleh pihak sekolah, siswa, ataupun orang tua siswa. Hal ini membuat terjadinya transparansi nilai, dan membuat siswa serta orang tua lebih terpacu untuk melakukan perbaikan apabila ditemukan adanya penurunan nilai, atau sebaliknya membuat anak termotivasi melihat nilainya yang semakin membaik.<br />
Moodle pun sepertinya menyediakan fitur untuk melihat nilai dengan banyak login (pihak sekolah, siswa, ataupun orang tua siswa), hanya saja penulis belum mencobanya lebih dalam sehingga tidak dapat melakukan perbandingan.</p>
<p>KESIMPULAN<br />
Ternyata dapat dibuktikan bahwa pemanfaatan TI tidaklah harus dianggap mahal, sekali lagi mahal dan murahnya biaya untuk mengadopsi TI sebenarnya tergantung dari persepsi dan manfaat yang didapatkan, yang bagi masing-masing sekolah nilai ini akan berbeda-beda. Sampai disini diharapkan sekolah memiliki bekal yang cukup untuk mempertimbangkan kualitas layanan yang akan diterapkannya.</p>
<p>USUL DAN SARAN<br />
Jejaring sosial, cloud computing, pengoptimalan 1 cpu untuk digunakan oleh 2 sampai dengan 4 pengguna secara bersama-sama (misal diletakkan di sudut perpustakaan), optimasi handphone untuk media learning dan masih banyak lagi hal-hal lain yang masih bisa digali untuk mengadopsi perkembangan TI di sekolah. Tentunya artikel ini masih jauh dari sempurna, harapannya semoga semua yang telah dituliskan paling tidak memberi sedikit ilmu bagi dunia pendidikan.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA<br />
John W. Santrock, 2008,  “Psikologi Pendidikan” edisi kedua bab 12 halaman 492, 493, dan 494.</p>
<p>http://www.desainwebmurah.com/paket_website.html</p>
<p>http://www.duwaweb.com/layanan.php</p>
<p>http://www.edu20.org</p>
<p>http://www.komputercenter.com/ip-cameras-c-17</p>
<p>http://www.livecast.com</p>
<p>http://www.masterwebnet.com</p>
<p>http://www.megatron.biz/cctv.htm</p>
<p>http://www.moodle.org</p>
<p>BIODATA</p>
<p>Nama		:	Erwin Sugiarto<br />
Informasi		:	Sebelumnya mengurusi manajemen guru TI sekolah dan instruktur di sebuah institusi pendidikan di Jakarta sampai awal tahun 2010, saat ini beralih tugas mengurus pembuatan modul TI, harapannya antara modul dan pengajarnya dapat lebih bersinergi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/sekolah-dan-teknologi-informasi-tidak-harus-mahal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perwajahan Ujian Nasional : ada sisi baiknya</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/perwajahan-ujian-nasional-ada-sisi-baiknya.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/perwajahan-ujian-nasional-ada-sisi-baiknya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 10:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Mendengar kata ‘tes’, reaksi alami setiap orang adalah merasa cemas dan meragukan kemampuan dirinya –seolah-olah anda tidak akan keluar dari ruang ujian dengan selamat.  Namun, seperti halnya terbit matahari, tes tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan. Setiap hal yang kita pelajari akan ditandai oleh tes—untuk menandai kemajuan (atau ketidakmampuan)—dan kita berharap dapat pengecualian untuk terbebas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendengar kata ‘tes’, reaksi alami setiap orang adalah merasa cemas dan meragukan kemampuan dirinya –seolah-olah anda tidak akan keluar dari ruang ujian dengan selamat.  Namun, seperti halnya terbit matahari, tes tidak dapat dihindari dalam dunia pendidikan. Setiap hal yang kita pelajari akan ditandai oleh tes—untuk menandai kemajuan (atau ketidakmampuan)—dan kita berharap dapat pengecualian untuk terbebas dari keharusan menjalaninya. Kita hidup dengan tes dan kadang seolah kita <em>mati</em> karenanya.</p>
<p>Sebelum kita membahas mengenai ujian nasional, sebenarnya ada beberapa prinsip dasar yang perlu kita luruskan.<strong> </strong></p>
<p><strong> Apakah yang dimaksud dengan Tes?</strong></p>
<p>Tes adalah metode pengukuran kemampuan, pengetahuan, atau kecakapan seseorang dalam bidang tertentu.Marilah kita kupas definisi tersebut satu persatu.<br />
1.	Tes merupakan metode.</p>
<p>Tes berarti alat – seperangkat teknik, prosedur atau item—yang memerlukan kecakapan di pihak pembuat tes. Untuk memenuhi prasyaratan sebuah tes, metode tersebut haruslah bersifat eksplisit dan berstruktur : tes pilihan berganda yang memiliki jawaban yang benar, tes menulis dengan rubik penilaian, wawancara lisan berdasarkan teks pertanyaan dan ceklis dari jawaban yang diharapkan.</p>
<p>2.	Tes harus dapat mengukur.</p>
<p>Beberapa jenis tes mengukur kemampuan umum, sedangkan yang lain berfokus pada kemampuan atau tujuan yang sangat spesifik. Hasil dan cara pengukuran dapat disampaikan dalam berbagai bentuk. Ada jenis tes seperti tes essay singkat, yang dapat dinilai dengan peringkat huruf (A atau B) disertai komentar instruktur. Jenis tes yang lain, tes standar yang berskala besar misalkan memberikan angka , peringkat, dan mungkin sub skor. Jika suatu alat tidak memberikan bentuk pengukuran hasil –sebagai alat menentukan hasil bagi peserta tes—berarti teknik tersebut tidak dapat dikatakan sebagai tes.</p>
<p>3.	Tes mengukur kemampuan, pengetahuan dan kecakapan seseorang.<br />
Penguji perlu memahami:<br />
-	Siapakah pengambil tes ?<br />
-	Apakah pengalaman dan latar belakang mereka?<br />
-	Apakah tes tersebut sesuai dengan kemampuan mereka?<br />
-	Bagaimana peserta tes menginterpretasikan skor mereka?</p>
<p>4.	Tes menguji ranah tertentu.<br />
Dalam hal tes kecakapan, meskipun kemampuan sesungguhnya hanya melibatkan sampling<br />
dari kecakapan, namun dapat mengukur kemampuan secara menyeluruh. Salah satu kendala<br />
terbesar dalam  membuat tes yang memadai adalah bagaimana caranya mengukur criteria<br />
yang diinginkan dan jangan sampai mengikutsertakan factor-faktor lain yang berlawanan.<br />
Tes yang baik adalah instrumen yang memberikan pengukuran akurat atas kemampuan peserta tes dalam ranah tertentu. Meski kedengarannya mudah, namun membuat tes yang baik melibatkan ilmu dan seni.</p>
<p><strong>Tes seperti apa yang disebut efektif?</strong></p>
<p>Membuat tes tidaklah mudah, karena memerlukan pengetahuan dan seni. Namun, ada kaidah-kaidah yang perlu dipenuhi : praktis, dapat diandalkan dan valid.<br />
1.	praktis, yang berarti<br />
-	tidak terlalu mahal<br />
-	pelaksanaannya tidak terlalu lama<br />
-	mudah untuk diselenggarakan<br />
-	prosedur skoringnya spesifik dan hemat waktu</p>
<p>2.	Konsisten dan dapat diandalkan<br />
Jika tes diberikan kepada siswa yang sama pada dua kesempatan yang berbeda, hasilnya akan sama.Terkadang sifat tes itu sendiri dapat mengakibatkan pengukuran yang salah. Jika tes memakan waktu yang terlalu lama, peserta tes akan kelelahan sebelum mereka sanggup mencapai nomor terakhir dan berakibat tidak dapat menjawab dengan baik. Tes yang tidak dirancang dengan baik (yang ambigu atau mempunyai jawaban yang benar lebih dari satu) juga dapat menjadi sumber ketidakandalan tes.</p>
<p>3.	valid</p>
<p>Tingkat kesimpulan yang diambil dari hasil tes sesuai, bermakna dan berguna menyangkut tujuan dilakukan pengujian. Suatu tes sebenarnya mengambil sampel materi yang memadai untuk pengambilan hasil, dan mempersyaratkan si pengambil tes untuk menunjukkan kemampuan yang diukur. Sebagai contoh, jika kita mengtes kemampuan tennis seseorang  dengan menguji orang tersebut untuk lari 100 meter, maka tes tersebut dianggap tidak memenuhi validitas materi.</p>
<p>Dalam hal ini, ada 2 jenis tes yang dapat diberikan: tes langsung dan tes tidak langsung. Tes langsung melibatkan si pengambil tes untuk menampilkan tugas yang ditargetkan. Dalam Tes tidak langsung, peserta tes melakukan sesuatu tugas yang berhubungan dengan tugas. Misalkan untuk menguji kemampuan lisan untuk penekanan suku kata, tes yang diberikan adalah meminta peserta tes untuk menandai suku kata yang ditekan.</p>
<p>b. hasil tes berhubungan dengan kriteria<br />
Tes harus bisa menunjukkan  sampai di tingkat mana kriteria sudah dicapai.</p>
<p><strong> Apakah Ujian Nasional itu dan apa tujuan diselenggarakannya<br />
</strong></p>
<p>Ujian Nasional, diberikan sebagai salah satu instrumen pendidikan yang dikenal dengan tes standar yaitu produk dari proses penelitian dan pengembangan empirik yang bersifat menyeluruh. Tes standar menetapkan prosedur pelaksanaan dan pemberian nilai tes yang standar. Tes standar juga merupakan tes yang mengacu pada norma (norm-referenced test) yang tujuannya adalah menempatkan peserta ujian pada continuum diantara kisaran nilai dan membedakan mereka berdasarkan urutan ranking.Tes standarisasi mencakup tujuan atau kriteria standar tertentu yang konstan dari satu bentuk tes ke bentuk lainnya. Kriteria yang dibuat memenuhi ukuran kompetensi yang biasanya mengacu pada kurikulum tertentu.</p>
<p>Di Amerika Serikat, siswa SD dan SMP menempuh tes standar untuk mengukur kemahiran standard dan kompetensi yang telah ditetapkan untuk level-level tertentu. Ujian ini berbeda-beda di setiap Negara bagian, kota dan wilayah sekolah, tetapi kesemuanya memiliki persamaan tujuan pengujian skala besar. Di beberapa negara bagian di AS, elepas SMA, siswa harus mengambil tes ACT berupa tes pilihan ganda utnuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Matematika, Membaca dan IPA. Selain ACT, ada juga beberapa negara bagian di AS yang mempergunakan Ujian masuk perguruan tinggi dikenal sebagai SAT (semacam UMPTN) , ujian masuk program pasca sarjana disebut sebagai GRE. Adapula yang jenis ujian khusus untuk manajemen seperti GMAT atau jurusan hukum yaitu LSAT.</p>
<p>Banyak orang salah mengira bahwa ujian standar harus terdiri dari soal-soal yang memiliki jawaban yang telah ditentukan yang berbentuk pilihan ganda. Meskipun benar kenyataannya bahwa kebanyakan tes standar berbentuk pilihan ganda, namun pilihan ganda bukanlah karakteristik yang diprasyaratkan. Kenyataan format pilihan ganda memberikan “alat obyektif” bagi pembuat tes untuk menentukan benar atau salahnya jawaban siswa, sehingga format ini cenderung dipilih sebagai jenis tes untuk skala besar. Namun sebenenarnya ada juga jenis standar tes yang tidak berupa pilihan ganda seperti tes TSE dan TWE yang dibuat oleh ETS.</p>
<p><strong> Keuntungan dan kelemahan tes standar</strong></p>
<p>Setiap hal mengandung kelebihan dan kelemahan. Ujian Nasional layaknya seperti tes standar lainnya memberikan keuntungan antara lain :<br />
1.	produk yang telah siap sedia yang membebaskan guru dari menghabiskan waktu membuat tes</p>
<p>2.	pelaksanaan tes kepada sejumlah besar siswa dapat diadakan dengan waktu yang terbatas</p>
<p>3.	jika bentuk tes adalah pilihan ganda, prosedur scoring sangat praktis (menggunakan mesin scanner)</p>
<p>4. memberikan kepastian akan validitas hasilnya dapat didokumentasikan secara empirik, sehingga skor tes memiliki validitas dan keandalan yang relative, dan juga hasilnya umum dan serupa. Bandingkan sulitnya memberi gambaran umum dari hasil ujian dari materi yang berbeda, guru yang berbeda, dengan cara mengajar yang berbeda. Karena itu tes standar sangat berguna bagi penerimaan siswa baru di jenjang perguruan tinggi dan sekolah dapat membandingkan siswanya terhadap siswa lainnya di seluruh negara atau dunia.</p>
<p>5. Menggambarkan nilai keseluruhan (agregrasi)<br />
Tes standar yang dirancang dengan baik memberikan gambaran bentuk penilaian terhadap kemampuan seseorang terhadap satu ranah pengetahuan atau keterampilan. Dibandingkan dengan penilaian individu yang tidak akurat untuk tujuan praktis, nilai tengah skor kelas, sekolah, cabang ataupun kelompok lainnya , tes standar merupakan informasi yang berharga dikarenakan minimalnya kesalahan yang dapat dihindari dengan cara menaikkan ukuran sample.</p>
<p>Sedangkan, kelemahan  diadakannya tes standar adalah :<br />
1.	ketidaksesuaiannya jenis tes untuk mengukur kemampuan siswa setelah menyerap pelajaran</p>
<p>2.	adanya salah paham antara tes langsung dan tidak langsung.           Beberapa jenis tes standar yang baik memiliki korelasi yang tinggi antara kemampuan dan tujuan yang ingin dicapai, tapi korelasinya tidak cukup untuk menunjukkan tercapainya    kriteria tujuan untuk semua pengambil tes.</p>
<p>3. Menurut pakar, tes standar tidak dapat mengukur insiatif, kreatifitas, imajinasi, pemikiran konseptual, upaya, ironi, penilaian, komitmen, nuansa, niat baik, refleksi etis, atau hal-hal positif lainnya. Yang diukur oleh tes standar adalah keterampilan tertentu, fakta dan fungsi spesifik, pengetahuan, yang merupakan hal yang paling tidak penting dalam aspek pembelajaran.</p>
<p>Di AS, orang yang mengambil perpanjangan SIM harus mengikuti tes tertulis berbentuk pilihan Sebagai bahan perbandingan, sistem pendidikan di Jepang dinyatakan lebih canggih ketimbang di Negara Paman Sam. Para siswa di Jepang secara konsisten mengalahkan kemampuan akademik siswa Amerika, terutama dalam pelajaran Matematika dan IPA. Menurut sumber yang dipercaya dan tahu benar mengenai system pendidikan di kedua negara tsb, rata-rata lulusan SMA di Jepang mempelajari lebih banyak hal dibanding rata-rata lulusan sekolah menengah atas di Amerika. Di jepang, 95 % kaum muda menyelesaikan tingkat SMA meskipun program wajib belajar hanya sampai tingkat SMP atau kelas 9.</p>
<p>Hal inilah yang merupakan salah satu faktor yang menempatkan negara Jepang sebagai pemain kuat di bidang ekonomi dunia. Negara Jepang menghasilkan dua kali lipat jumlah insinyur per kapita dibandingan AS. Tambahan lagi pekerja pabrik Jepang cenderung lebih trampil dan disiplin, lebih pandai matematika dan IPA dan mahir teknologi dibanding rata-rata pekerja pabrik AS. Bagaimana Jepang melakukannya? Salah satu pendorong bagi kehidupan bersekolah di Jepang adalah serangkaian ujian masuk mulai dari tingkat SMP. Tes-tes ini benar-benar menentukan masa depan siswa di JEpang. Dari tingkat TK sampai SMA, mayoritas kaum muda Jepang sekolah dengan satu tujuan : untuk lulus tes masuk yang akan menempatkan mereka.pada pekerjaan yang baik atau pemerintahan. Mengutip pendapat Diane Ravitch, tokoh pendidikan AS yang paham dengan system pendidikan Jepang mengatakan “ Siswa Jepang sukses menyekolahkan rakyatnya karena pemerintahnya menganggap pendidikan dengan serius&#8221;.</p>
<p>Setelah usai Perang Dunia ke -2, pihak swasta dan pemerintah Jepang mulai mengandalkan lulusan universitas untuk membangun kembali negaranya dari kejatuhan. Keluarga Jepang kemudian menyadari bahwa supaya dapat mengantarkan anak-anaknya ke jenjang yang tinngi dan pekerjaan yang gajinya tingi, mereka harus memasukan anaknya ke bangku kuliah terutama di univeristas yang peringkatnya tinggi. Sekarang ini kompetisi ujian masuk perguruan tinggi di Jepang sangatlah ketat. Lebih dari sejuta tamatan SMA setiap tahunnya bersaing dan hanya separuhnya yang dapat diterima di universitas.</p>
<p>Para orang tua memasukkan anaknya ke sekolah sedini mungkin. Hampir semua anak Jepang masuk TK pada usia 5 tahun. Setelah itu, 6 tahun sekolah dasar diarahkan untuk mempersiapkan anak-anak untuk ujian masuk SMP. Para orang tua di Jepang sangat menyadari bahwa SMP, SMA dan Universitas memiliki peringkat dari yang tertinggi sampai menengah. Dengan nilai yang tinggi pada tingkat SMP akan membantu anak tsb untuk dapat masuk ke SMA yang bergengsi. Hal ini dengan sendirinya akan meningkatkan kesempatan untuk berprestasi lebih baik pada ujian masuk perguruan tinggi. Mendapatkan SMA yang ranking tinggi  menempatkan anak untuk menguasai semua kemampuan yang diperlukan untuk data masuk ke universitas yang bergengsi. Tujuan utama para ortu di Jepang adalah supaya anaknya mendapatkan universitas terpandang.Mengapa? Jika anak bisa masuk ke Universitas Tokyo, masa depannya terjamin. Perusahaan dan pemerintah Jepang biasanya mencari lulusan dari universitas terkemuka. Semuanya tergantung dari ujian masuk dan sekolah yang diambil.</p>
<p>Begitu seriusnya siswa di Jepang mensikapi ujian masuk SMP atau SMA atau Univ, mereka tidak berpacaran, menyetir mobil, atau bekerja paruh waktu. Sepulang sekolah anak-anak akan belajar dan belajar. Bahkan ada istilah “Tidur 4 jam sehari, kamu akan lulus. Tidur 5 jam, kamu tidak akan lulus ujian”. Para orang tua juga percaya bahwa sekolah tidak cukup mempersiapkan anak untuk ujuan masuk. Dengan demikian anak-anak ini dikirim untuk belajar di Bimbel yang disebut Juku. Sekitar 70 % anak-anak mengikutu Juku, dua atau tiga jam sepulang dari sekolah.Ada juga kursus untuk Univ Prep yang disebut Ronin. Para ibu-ibu Jepang terkenal sangat mendukung Bimbel ini dari mulai menyiapkan bekal, bertemu dengan para guru, sampai-sampai bekerja paruh waktu untuk membiayai Bimbel untuk anaknya, dan kadang para ibu tersebut duduk di kelas mendengarkan pelajaran saat anaknya sakit dan harus absent dari bimbel.</p>
<p>Di AS, ada sejenis tes yang diberikan kepada para siswa dinamakan  NAEP  (The National Assessment of Educational Progress)  yang diselenggarakan oleh Pusat Statistik Pendidikan, unit dari Diknas AS. Tes ini merupakan ujian berkala yang mengukur kemajuan siswa yang mencakup mata pelajaran Matematika, Membaca, Menulis dan IPA. Pada tahun 2001 tes ditambah dengan Sejarah dan Bahasa Asing yang akan diterapkan pada tahun 2012.  Hasil ujian ini diberikan dalam bentuk Kartu Rapor Nasional yang dipergunakan oleh para pembuat kebijakan, Kepala Sekolah, guru, dan orang tua.</p>
<p>NAEP tidak diberikan kepada semua siswa, namun hanya sample siswa di kelas 4, 8 dan 12 untuk ujian utama. Selain itu beberapa siswa sebagai sample pada usia 9,13 dan 17 untuk ujian jangka panjang. Pemilihan sampling diambil karena merupakan titik penting dalam pencapaian akademik. Hasil NAEP memberikan gambaran mengenai pencapaian mata pelajaran, pengalaman belajar, dan lingkungan sekolah untuk kelompok populasi tertentu (misalkan siswa kelas 4) dan berdasarkan kelompok-kelompok dalam pupulasi tersebut (sebagai contoh, siswa wanita, siswa Hispanik). Hasil NAEP tidak diberikan dalam bentuk skor individu atau skor sekolah, meskipun dimungkinkan untuk memberikan data untuk area tertentu yang dipilih. Ujian NAEP ini diberikan kepada semua siswa dengan buku tes dan prosedur yang sama diseluruh negara bagian setiap tahunnya.</p>
<p>Meskipun semua pakar pendidikan menyadari bahwa tes standar merupakan sekumpulan alat yang dipergunakan untuk menguji kemampuan siswa, para kritikus berpendapat bahwa penyalahgunaan dan penggunaan yang berlebihan berdampak negatif terhadap proses belajar dan mengajar.</p>
<p>Jika tes standar dijadikan faktor utama dalam pendidikan, kecenderungannya adalah tes tersebut dipergunakan untuk menentukan kurikulum dan fokus pengajaran. Akibatnya, materi yang diujikan tidak diajarkan, dan yang diajarkan dikelas adalah bagaimana mengerjakan tes. Hal ini menghambat pembelajaran yang membutuhkan nalar tingkat tinggi. Meskipun metode ini dapat dijadikan focus pembelajaran untuk hasil yang diinginkan seperti untuk mata pelajaran matematika dan membaca. Seorang ahli, Popham mengatakan bahwa skor tes standar menjadi alat bermasalah untuk keandalan sekolah karena dipengaruhi oleh 3 faktor: apa yang dipelajari anak di sekolah, apa yang dipelajari anak di luar sekolah, dan kecerdasan bawaan. Perkembangan tes terkini sudah diusulkan dengan mengendalikan secara statistik bakat bawaan dan faktor di luar sekolah.</p>
<p>Meskipun kita dapat mempergunakan tes standar dan tidak menjadikannya penghambat kurikulum dan pengajaran, hal ini dapat menyebabkan sekolah menghasilkan skor tes yang lebih rendah dan berdampak negatif secara politis. Di AS, skor tes yang rendah menyebabkan sekolah tersebut diberi predikat “kurang baik” dan dikucilkan. Jika tes dijadikan metode satu-satunya untuk menentukan keandalan, maka para orang tua dan masyarakat  tidak mengetahui bagaimana prestasi anak-anak di sekolah yang tidak dites.</p>
<p>Para pendukung kebijakan tes standar mengatakan bahwa ini bukanlah alasan untuk meninggalkan tes, tapi  hanya bentuk kritik terhadap tes yang tidak didesain dengan baik. Beberapa ahli menganggap bawa tes berfokus pada sumber-sumber pendidikan yang merupakan aspek penting dalam pendidikan – meninggalkan serangkaian pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan—dan bahwa aspek yang lain tidaklah kurang penting, atau perlu ditambahkan pada skema tes. Jika “pengetahuan dan keterampilan” mencakup kemampuan untuk menulis essay, sebagai contoh, maka kemampuan ini tidak dicakup dalam ranah tes.</p>
<p>Para kritikus menyatakan beberapa anak hasil tesnya kurang baik bukan karena faktor penguasaan materi, tetapi karena panik dan kurang mahir dalam pengelolaan waktu dan keterampilan mengerjakan tes. Hal ini menunjukkan bahwa tes semata tidak dapat mengukur pengetahuan siswa, namun hanya kemampuan siswa menerapkan pengetahuannya dalam situasi yang menegangkan. Kecemasan menghadapi tes terkait dengan penyakit jiwa dan berkaitan dengan kecemasan umum.<br />
Dalam perkembangannya, Bimbingan Tes menjadi hal yang berbeda.  Karena para siswa merasa tes standar semakin penting, maka mereka menyiapkan dirinya untuk tes dengan cara mengerjakan tes trial gratis, membeli buku-buku, sampai mencari guru pembimbing. Banyak orang tua yang bersedia merogoh koceknya untuk mengkursuskan anaknya di lembaga bimbingan tes yang dalam hal ini orang tua yang berkemampuan ekonomi lebih baik lebih diuntungkan dibanding mereka yang berada di posisi ekonomi rata-rata.  Meskipun ada juga pendapat yang mengatakan bimbingan tes hanya membawa efek kecil pada peningkatan tes.</p>
<p>Di AS, kerancuan tes terjadi dikarenakan tes standar dianggap mengutamakan satu kelompok dibanding yang lainnya. Para kritikus percaya bahwa seringkali pembuat tes kebanyakan berasal dari kelas menengah danberkulit putih sehingga tes standar mengandung nilai, kebiasaan dan bahasa para pembuat tes. Namun demikian, ada fakta mengejutkan bahwa ternyata kelompok yang mendapatkan hasil tertinggi bukanlah mereka yang berasal dari kelompok ekonomi menengah, namun orang-orang Asia pendatang.</p>
<p>Pada kenyataannya, tidak semua jenis tes didesain dengan baik, sebagai contoh, ada tes pilihan ganda yang mengandung jawaban ambigu atau tidak mencakup kurikulum yang ditetapkan. Beberapa tes standar dalam bentuk essai dan dikritik karena tingkat efektifitas dalam pemberian skor. Sekarang ini, dikembangkanlah tes dalam bentuk essai yang dinilai oleh komputer.<br />
Bagaimanapun buruknya perwajahan Ujian Nasional, sebagaimana tes standar yang diberlakukan di Negara manapun bersifat wajib, mandatory, utama untuk kelulusan atau masuk ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Kegunaan lainnya adalah untuk perbandingan (apakah siswa dianggap “cepat” atau “lambat” dalam menguasai pelajaran) dan juga untuk penentuan pemberian beasiswa.<br />
Begitu besarnya ketergantungan akademis pada tes standar sebagai alat penentu dalam pembuatan keputusan menjadikan tes standar isu yang kontroversial. Seringkali para kritikus mengusulkan nilai kumulatif atau pengukuran yang tidak bersifat angka (deskripsi kemampuan siswa) dari guru. Dalam hal ini pendukung aliran penerapan tes standar berargumentasi bahwa tes standar memberikan standar yang obyektif dan pasti serta meminimalkan kemungkinan untuk pengaruh politik atau subjektifitas. Barangkali jalan tengahnya adalah penentuan keputusan akademik tidak didasarkan pada angka hasil tes semata, namun juga menyertakan kritera lain seperti rapor, pelajaran yang diprasyaratkan, kehadiran, dll. Pemakaian tes standar semata biasanya digunakan dikarenakan faktor yang lain sulit diukur.</p>
<p>Apapun praduga terhadap penyelenggaraan Ujian Nasional, mari kita jernihkan kepala kita dengan menempatkan tujuan utama diselenggarakannya ujian berstandar nasional. Untuk menuju idealisme diperlukan waktu dan pengalaman, juga kesempatan. Alih-alih menuduh pemerintah bertendensi mengambil keuntungan dari dana penyelenggaraan Ujian Nasional, marilah kita turut berbenah dan mendukung sistem pendidikan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/perwajahan-ujian-nasional-ada-sisi-baiknya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Disiplin tanpa kekerasan</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 09:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[From Us]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Dasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Suasana belajar di sekolah yang menyenangkan dapat meningkatkan prestasi anak, yang pada ujungnya meningkatkan mutu pendidikan. Suasana yang dibutuhkan supaya anak merasa nyaman bukanlah melulu karena gedung yang mentereng dan peralatan yang nomor wahid. Sekolah apa saja dengan suasana yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengemukakan pendapat dan menghormati orang lain untuk mengemukakan pendapat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/jewer2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-165" title="jewer" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/jewer2.jpg" alt="" width="104" height="86" /></a>Suasana belajar di sekolah yang menyenangkan dapat meningkatkan prestasi anak, yang pada ujungnya meningkatkan mutu pendidikan. Suasana yang dibutuhkan supaya anak merasa nyaman bukanlah melulu karena gedung yang mentereng dan peralatan yang nomor wahid. Sekolah apa saja dengan suasana yang memberikan kesempatan bagi anak untuk mengemukakan pendapat dan menghormati orang lain untuk mengemukakan pendapat yang berbeda dengan dirinya memberikan lingkungan yang sangat kondusif bagi kesuksesan siswa.  Siswa  tidak perlu khawatir untuk ditertawakan, dipermalukan atau dihukum atas perbuatan mereka.</p>
<p>Temuan dari berbagai survey menyatakan alasan anak merasa senang di sekolah karena sbb:<br />
-	guru tersenyum ketika anak masuk kelas<br />
-	siswa merasa dapat berteman dengan gurunya<br />
-	guru ramah dan mau mendengarkan apa yang dikatakan siswa<br />
-	siswa merasa dilindungi guru<br />
-	siswa merasa gurunya idola dan panutannya<br />
-	siswa yakin gurunya memperhatikan dengan cara  mendengar,melayani, menerima dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>Nah, sudahkah kita melakukan upaya terbaik agar anak merasa senang berada di sekolah? Apakah hal-hal diatas cenderung jauh sulit kita lakukan sebagai pendidik karena kita sudah terlalu pusing dengan kepentingan-kepentingan sekolah: bahan ajar yang harus diselesaikan, ujian nasional, dan lain-lainnya?</p>
<p>Banyak dari kita merasa, menjewer anak merupakan tindakan biasa untuk mendisiplinkan anak. Sadarkah kita bahwa, tindakan fisik sesederhana menjewer saja bisa dikategorikan sebagai tindak kekerasan pada anak?</p>
<p><strong>Apa itu kekerasan pada anak?</strong></p>
<p>Menurut WHO, perlakuan salah pada anak (child maltreatment)  adalah<br />
“<em>Semua bentuk perlakuan salah secara fisik dan/atau emosional, penganiyayaan seksual, penelantaran atau ekspoitasi secara komersial atau lainnya yang mengakibatkan gangguan nyata ataupun potensial terhadap perkembangan, kesehatan dan kelangsungan hidup anak ataupun martabatnya dalam konteks hubungan yang bertanggung jawab, kepercayaan atau kekuasaan.</em>”</p>
<p>Pengertian lain menurut Hay,1997  penyalahgunaan anak (child abuse) adalah:“ <em>Prilaku orang tua/wali , pengasuh, guru, orang dewasa lainnya yang salah yang menyebabkan luka/bahaya/resiko <strong>psikis/batin</strong> pada anak</em> “.</p>
<p>Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak pada tahun 1990 dan sejak tahun 2002 pun sudah memiliki UU Perlindungan Anak. Secara garis besar kita layak memberikan hak hidup, hak kelangsungan hidup dan kesempatan tumbuh kembang yang optimal bagi anak, mengedepankan kepentingan terbaik pada anak, serta menghargai pendapat anak dengan mendorong partisipasi anak.  Dengan adanya peraturan itu, segenap rakyat Indonesia diamanatkan untuk memenuhi hak anak dan memastikan bahwa anak terhindar dari berbagai bentuk kekerasan.</p>
<p>Jenis-jenis kekerasan pada anak adalah antara lain:<br />
1.	kekerasan fisik<br />
contoh : memukul, mengguncang-guncang anak dengan keras, mencekik, menggigit, menendang, meracuni, menyundut anak dengan rokok,dll</p>
<p>2.	kekerasan seksual<br />
yaitu hal-hal yang dilakukan untuk tujuan seksual bagi orang yang lebih tua usianya dari anak<br />
contoh : memaparkan (expose) anak pada kegiatan/prilaku seksual, memegang/meraba anak atau mengundang anak untuk melakukannya, termasuk penggunaan anak dalam gambar/tulisan/film porno</p>
<p>3.	kekerasan secara emosional<br />
mencakup serangan terhadap perasaan dan harga diri anak.<br />
Contoh : mempermalukan, menghina, menolak anak, mengatakan anak “malas”, “nakal”, menghardik, menyumpahi,dll.</p>
<p>4.	penelantaran anak<br />
adalah jika orang tua/wali/pengasuh/orang dewasa tidak menyediakan kebutuhan mendasar bagi anak untuk dapat berkembang emosi, psikologis, dan fisiknya secara normal.<br />
Contoh : anak tidak diberi makan, pakaian, tempat berteduh, pengobatan, perlindungan standar yang diperlukan anak.</p>
<p><strong>Disiplin = menghukum anak?</strong></p>
<p>Sebagai guru atau orang tua, jika anak duduk manis dan patuh rasanya hidup kita jadi lebih mudah. Namun tentunya itu tidak selalu bisa terjadi, apalagi dalam suasana kelas yang berisikan 40 siswa. Ditambah lagi dengan masalah pribadi, guru seringkali jengkel menghadapi prilaku murid sehingga melakukan praktek kekerasan dari sekedar memarahi, mencaci maki, menjewer, mencubit, memukul atau memberikan hukuman lainnya seperti membersihkan WC sekolah, berdiri dengan satu kaki, dll. Pertanyaannya adalah apakah dengan perlakuan demikian sedemikian perlunya diterapkan ? Apakah tindakan ini membantu siswa dapat belajar secara optimal?</p>
<p>Ada pepatah lama dalam budaya kita yang mengatakan, “ Diujung rotan ada emas” yang hingga kini masih diyakini sebagai landasan mendisplinkan anak dengan tedeng aling-aling demi kebaikan anak sendiri. Memang tingkat keberhasilannya dirasakan dengan disiplin yang keras, anak menjadi penurut. Namun apakah hasil yang demikian adalah hasil yang terbaik?</p>
<p>Jalan untuk menegakkan disipilin tidaklah selalu melalui hukuman dengan cara kekerasan, seperti pukulan, jeweran, kata-kata keras (bentakan) atau cara-cara lain yang membuat anak takut dengan maksud membuat anak takut untuk melanggar aturan yang ditetapkan. Upaya seperti ini lebih bersifat reaktif dan merendahkan harga diri anak, bukan korektif dan membimbing.  Alih-alih menerapkan disiplin untuk membuat anak menjadi lebih baik, tindakan disiplin diterapkan untuk guru yaitu supaya guru dapat mengajar dengan tenang, supaya siswa tertib dan patuh.</p>
<p><strong>Mengapa menghukum anak?</strong></p>
<p>Dalih untuk penerapan hukuman adalah biasanya karena anak nakal. Tapi tunggu dulu, sebelum menjuluki anak dengan predikat  “berprilaku salah” atau “nakal”, kita sebaiknya memulai dengan pertanyaan : “SALAH menurut siapa?” Seringkali orang dewasa menetapkan standar yang terlalu tinggi pada prilaku anak. Sebagai contoh : seorang siswa kelas 1 sd yang berusia 6 tahun  dihukum menulis 5 baris karena datang terlambat. Bagi orang dewasa menulis 5 baris dapat dilakukan dengan mudah kurang dari 5 menit. Tapi bagi anak usia 6 tahun, hukuman itu benar-benar berat dan tak seimbang dengan kesalahan yang dibuatnya.</p>
<p>Sebelum kita menganggap anak salah atau nakal, bodoh atau malas, perlu diketahui dalam perkembangan anak belajar melalui proses:<br />
-	trial and error<br />
-	menguji batasan yang ditemukan di lingkungan<br />
-	proses yang dianggap bentuk prilaku salah contoh : bertengkar<br />
Dengan cara-cara itu anak belajar mengenal dirinya dan dari sudut pandang orang lain, memecahkan masalah yang dibutuhkan untuk perkembangan jiwanya.</p>
<p>Yang perlu diingat, sebelum kita terjerumus dalam kekerasan pada anak, ingatlah bahwa kekerasan pada masa datang dampaknya adalah antara lain:<br />
1.	anak tumbuh menjadi tidak percaya diri<br />
2.	prestasi cenderung tidak tinggi<br />
3.	gangguan prilaku ; externalizing (agresif, pemberontak, pemarah) atau internalzing ( depresi, pendiam, menutup diri)<br />
4.	kurang mampu mengembangkan hubungan dengan pihak otoritas<br />
5.	menganggap kekerasan adalah penyelesaian yang harus dilakukan<br />
6.	menjadi prilaku kekerasan di kemudian hari</p>
<p><strong>Bagaimana menegakkan disiplin?</strong><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Penegakan disiplin menurut perkembangan anak  dikenal dengan disiplin positif . Disiplin positif merupakan proses pembelajaran, dan menekankan nilai dan sikap damai, toleran, menghormati martabat dan hak asasi manusia.  Jika pun harus memberikan sanksi atas prilaku yang tidak disiplin, pastikan anda memenuhi prinsip sbb:<br />
1.	sanksi berkaitan secara logis dengan prilaku salah<br />
contoh : menumpahkan atau mengotori, sanksi adalah membersihkan<br />
2.	sanksi bersifat moderat, tidak perlu berat<br />
3.	sanksi bertujuan membantu siswa untuk memahami masalahnya dan membentuk prilaku yang baik<br />
4.	sanksi tidak berlebihan, dari segi frekuensi dan tenggang masa<br />
5.	sanksi bersifat konsisten.<br />
Contoh : untuk tindakan yang sama, sanksinya berlaku sama</span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Tentunya sebelum sanksi ini diterapkan, perlu diingat bahwa prilaku yang salah yang menjadi focus perhatian, bukan siswa. Selain itu aturan yang dibuat hendaklah telah disepakati bersama antara guru dan siswa. Aturan yang dilanggar, ada sanksi yang diberikan yang bersifat edukatif. Jika dipatuhi, anak mendapat reward gambar bintang. Jika dilanggar, gambar bintang dikurangi.</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Contoh : peraturan yang ditempel di kelas</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;"> PERATURAN<br />
1	Tidak mencoret tembok<br />
2	Membuang sampah di tempat sampah<br />
3	Tidak terlambat masuk sekolah<br />
4	Tidak suka mencontek<br />
5	Meminjami alat tulis kepada teman<br />
6	Mengerjakan PR</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Keterangan :<br />
1.	ikut upacara ; 2 bintang<br />
2.	tidak terlambat : 1 bintang<br />
3.	mengerjakan PR : 1 bintang</span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Jika metode ini kurang berhasil, maka ada alternatif lain yakni konsekuensi logis yaitu ganjaran yang didapat secara wajar akibat tindakan siswa. Contoh : jika siswa terlambat datang ujian , ia akan tertinggal dan nilainya kurang baik.Konsekuensi logis berbeda dengan hukuman, karena tidak ada paksaan sama sekali dan biasanya anak lebih mudah tergerak untuk tidak mengulangi kesalahannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: normal;">Nah, anda mau pilih yang mana? </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/disiplin-tanpa-kekerasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak RSBI/ SBI</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/dampak-rsbi-sbi.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/dampak-rsbi-sbi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 17:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[RSBI/SBI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Bab XIV pasal 50 ayat 3 Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pemerintah daerah harus mengembangkan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan menjadi bertaraf internasional. Pendidikan yang berambisi bertaraf internasional ini diamanatkan kepada pemerintah daerah dan dimaksudkan untuk memajukan pendidikan nasional ini akhirnya menjadi kebingungan nasional. Ketika kita berbicara tentang sistem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/DSCN67721-150x150.jpg" alt="DSCN6772" title="DSCN6772" width="150" height="150" class="alignleft size-thumbnail wp-image-134" /><br />
Dalam Bab XIV pasal 50 ayat 3 Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa pemerintah daerah harus mengembangkan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan menjadi bertaraf internasional.</p>
<p>Pendidikan yang berambisi bertaraf internasional ini diamanatkan kepada pemerintah daerah dan  dimaksudkan untuk memajukan pendidikan nasional ini akhirnya menjadi kebingungan nasional. Ketika kita berbicara tentang sistem pendidikan, kita berbicara mengenai :<br />
1.	kurikulum<br />
2.	materi ajar<br />
3.	metodologi pengajaran<br />
4.	kompetensi guru<br />
5.	fasilitas<br />
6.	siswa</p>
<p>Embel-embel  istilah “.bertaraf internasional’ seringkali diterjemahkan sebagai  “asing” atau “non Indonesia”. Kebingungan nasional ini kemudian berdampak kepada 6 aspek , yaitu:</p>
<p>1. Penggunaan kurikulum asing<br />
Kurikulum menurut Nunan, 1987 didefinisikan sebagai produk yang diajarkan, proses untuk mendapatkan materi dan metodologi, atau sebagai fase perencanaan suatu program.  Sedangkan menurut Jack C. Richards , 1996, kurikulum merupakan filosofi, tujuan, desain dan implementasi suatu program.</p>
<p>Saat filosofi, tujuan dan desain program diimpor sebutlah dari  Negara A secara mentah-mentah, yang terjadi adalah filosofi, tujuan dan desain program belumlah tentu sesuai dengan keadaan di Indonesia. Dengan kerendahan hati saya, keadaan Negara A tidak akan pernah sama dengan keadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Apa yang membuat kita yakin filosofi itu dapat mentah-mentah diterapkan untuk anak-anak Indonesia yang sedianya menjadi generasi penerus kita? Apakah kita sadar, filosofi yang terbentuk akan mempersiapkan peserta didik kita sebagai manusia-manusia Indonesia yang semestinya akan berpikir global namun bertindak lokal? Sadarkah kita bahwa penerapan kurikulum asing sama bahayanya dengan penerapan idiologi asing jika tak pandai-pandai kita memilah isinya.</p>
<p>Johnson (1989) menyatakan bahwa kurikulum merupakan proses pengembangan, revisi, perawatan, dan pembaharuan  yang  bersifat terus menerus dan bersiklus sepanjang kurikulum itu masih ada.   Dengan demikian, suatu kurikulum tidak mungkin dapat mentah-mentah digunakan tanpa proses adaptasi, apalagi tanpa melibatkan input dari guru-guru dan terutama siswa sebagai hasil proses itu sendiri.</p>
<p>Apa yang terlintas di benak kita saat kita dengan bangganya mengatakan “ Sekolah kami menggunakan kurikulum Negara A”?  Sudahkah kita melengkapi diri dengan riset bahwa ternyata di Negara A tersebut kurikulum tersebut menjadi penyebab tingkat stress yang tinggi pada para siswanya  di tempat asalnya atau bahkan para ahli pendidikan menganggap produk kurikulum yang kurang berhasil?</p>
<p>2. Materi ajar<br />
Setelah latah menggunakan kurikulum asing, maka beberapa sekolah menjadi korban mangsa penerbit internasional yang melakukan gerakan ekspansi ke Indonesia. Sasaran paling empuk sang penerbit asing adalah sekolah-sekolah yang kebingungan karena hanya diberi target 2 tahun untuk mempersiapkan diri menjadi Sekolah Bertaraf Internasional. Langkah gegabah yang diambil, tidak berhenti pada pembelian kurikulum, tapi memborong buku yang bertuliskan “ berdasarkan kurikulum negara A” dengan harapan penggunaan buku impor itu melegitimasi label “ Sekolah Bertaraf Internasional”.  Apa yang terjadi? Guru kebingungan karena tak mengerti “jiwa” buku itu , atau malah jadi pening karena buku itu ternyata menggunakan bahasa pengantar bahasa asing. Celakalah jika kemampuan guru  dalam bahasa asing benar-benar nol. Bagaimana bisa mengajar dengan buku impor itu? Jikapun ada guru  yang mampu cas-cis-cus berbahasa asing, apakah siswanya siap diajarkan dengan buku impor? Jika diterangkan suatu konsep dalam bahasa Indonesia saja siswa masih kesulitan, bagaimana mungkin akan mengerti buku teks yang ditulis dalam bahasa asing? Jika kesulitan belajar di rumah, apakah orang tua bisa membantu?</p>
<p>Belum lagi masalah UUD: ujung-ujungnya duit. Materi impor sama dengan harga impor. Apakah siswa berkemampuan membayar? Jika tidak, apakah sekolah berhak memaksa? Apa urgensinya pemakaian buku impor  di sekolah katakanlah di lereng bukit suatu kabupaten? Bersediakah kita mengorbankan kemampuan membayar orang tua siswa demi suatu gengsi disebut sekolah internasional karena mempergunakan buku dari Negara A? Bukankah akan terjadi diskriminasi kesempatan dikarenakan kemampuan membayar?</p>
<p>Buku impor itu pastinya disajikan dalam bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Tapi tunggu dulu, bahasa inggris macam apa? Jangan-jangan bahasa Inggris gaya Negara A? Apakah sudah benar cara penuturan penulis dalam bahasa Inggis itu? Bagaimana dengan isinya? Sesuaikan dengan keadaan lokal?</p>
<p>Secara sederhana, saya ilustrasikan saja, jika ada satu bahasan pelajaran IPA mengenai jenis-jenis hewan bertulangbelakang dalam buku impor itu yang disebutkan adalah hewan yang ada di Negara A. Kapan pula kita akan memperkenalkan hewan asli Indonesia? Bukankah seharusnya hewan lokal terlebih dahulu yang dijadikan contoh untuk memudahkan pemahaman, dan juga pengenalan potensi daerah?</p>
<p>3. Metodologi  pengajaran</p>
<p>Apa yang diamanatkan sebuah kurikulum biasanya dituangkan dalam materi dan disampaikan dengan metode pengajaran tertentu. Apakah saat sekolah membeli kurikulum asing tersebut, ada pelatihan yang memadai bagi guru-guru untuk menyesuaikan metode pengajarannya? Pun jika guru-guru dikirim ke suatu institusi untuk pelatihan, apakah ada upaya kendali mutu di lapangan pada saat mereka kembali mengajar? Apakah ada kendala-kendalanya? Siapa yang melakukan pendampingan bagi guru-guru ini?</p>
<p>Sedihnya adalah anda akan menemukan fakta bahwa akhirnya guru-guru ini dipasrahkan kepada penerbit asing yang berbaik hati menjanjikan pelatihan, tapi seperti mengikat perjanjian dalam perjanjian bisnis yang berkondisi tertentu : kami siap melatih, jika anda siap mempergunakan buku-buku kami. Maka terjebaklah sekolah tersebut dalam lingkaran itu : membeli kurikulum asing, terjebak membeli buku impor, terjebak membeli tes impor. Duit, duit, duit. Bayar,bayar, bayar. Siapa yang membayar?</p>
<p>Kurikulum asing yang terjabarkan dalam materi katakanlah pelajaran Matematika  menyebutkan agar siswa dapat memahami perkalian. Tunggu dulu, memahami perkalian ala kita dari jaman kejaman pada umumnya siswa disuruh menghafal, dan terjadilah drilling berkepanjangan. Padahal, mungkin “jiwa” kurikulum tersebut hanya mempersyaratkan anak-anak memahami konsep perkalian dasar dengan cara –cara lain misalkan mempergunakan alat peraga tertentu. Timbul lagi masalah, beli dimana alat peraga itu? Berapa lagi biaya yang diperlukan untuk itu? Duit lagi, duit lagi Padahal, ada metodologi yang lebih sesuai bagi anak-anak didik kita, dan tak selalu harus mahal.</p>
<p>4. Kompetensi guru<br />
Dimulai dari sekolah-sekolah itu juga harus mengkursuskan  guru-guru agar memiliki penguasaan bahasa Inggris lebih baik. Ternyata siswalah yang menanggung biaya kursus guru-guru tersebut. Konon RAB salah satu sekolah favorit setahun Rp 2,8 miliar, yang sebagian besar untuk peningkatan sumber daya guru dan pengembangan kurikulum. Namun dalam breakdown anggaran ini, ternyata isinya untuk biaya kursus guru, menyekolahkan tenaga pendidik dan sederet workshop, lokakarya, dan sebagainya – yang semestinya tidak selayaknya ditanggung siswa.Kendatipun pembiayaan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) merupakan tanggung jawab pemerintah, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 48 tentang Pendanaan Pendidikan, sekolah-sekolah dengan status RSBI masih diperbolehkan memungut dana dari masyarakat. Karena diperbolehkan, seolah-olah merupakan pembenaran atas pembengkakan atas biaya yang harus ditanggung siswa.</p>
<p>Guru yang mau mengajar di sekolah bertaraf internasional pun diminta punya sertifikasi. Sertifikasi ini akhirnya pun menjadi ajang bisnis, karena guru-guru ini diharuskan membayar demi sertifikat. Adakah serifikat itu menjamin guru siap dan cukup kompeten untuk mengajar model SBI/RSBI?Pihak mana yang mengawasi kualitas dan kinerja badan sertifikasi guru tersebut? Jangan-jangan hanya jadi ajang kasak-kusuk dan sogok-menyogok demi selembar kertas itu.</p>
<p>5. Fasilitas<br />
Dengan embel-embel aturan SK Mendiknas, yang memperbolehkan sekolah SBI dan RSBI menerima sumbangan dari orangtua dan pihak ketiga, siswa menanggung seluruh biaya fasilitas yang harus ada : mulai dari penyediaan AC untuk ruang belajar, laptop, computer, laboratorium bahasa, laboratorium praktikum IPA dan sebagainya.</p>
<p>Standar internasional itu apakah berarti harus ruangan ber-AC? Ada apa dengan konsep sekolah ramah lingkungan-ramah ozon demi bumi yang makin panas ini? Apakah sekolah internasional tidak boleh memakai angin dan ventilasi yang baik? Apakah pengadaaan komputer bagi sekolah menjadi jaminan sekolah itu bertaraf internasional?</p>
<p>Saya punya pengalaman pribadi ketika mendaftarkan anak bersekolah disalah satu SBI. Saat anak saya sibuk mengerjakan tes, belum lagi ada hasil tesnya, saya disodori surat pernyataan tentang kesanggupan menyumbang untuk fasilitas sekolah disertai senyum manis penuh arti dari sang Wakil Kepsek seraya berkata, “Silakan ibu tulis sumbangan apa yang sukarela diberikan.” Saya mematung seolah masuk dalam ruangan pendingin yang membuat otak saya beku sesaat,  apalagi setelah dibisiki info tambahan oleh Wakil Kepsek ini “ Sebenarnya sekolah kami sedang membutuhkan lab komputer”. Saya kontan mengurungkan niat mendaftarkan anak saya disana karena saya tidak mau anak saya dijadikan komoditas untuk pengadaan komputer demi suatu predikat “ siswa SBI nih, yang menyumbangkan computer untuk sekolahnya” seolah-olah tulisan itu akan menjadi penentu masa depannya dan akan tertulis didalam curriculum vitaenya.</p>
<p>6. Siswa<br />
Mau tahu syarat mendaftar menjadi siswa SBI? Tes IQ. Ingin rasanya saya memberikan ceramah mengenai Kecerdasan Majemuk saat diminta melampirkan tes IQ untuk masuk SD. Apa nasibnya orang tua yang tak mampu membayar tes IQ itu? Bagaimana anak-anak yang berkebutuhan khusus? Haruskah mereka tersisih karena hasil tes yang hanya mengukur sebagian kecil potensi anak ?</p>
<p>Pengakuan menarik dari salah satu pengasuh lembaga konseling hypnotherapy yang kebanjiran klien yang kebanyakan adalah para pelajar kelas 1 SMP yg rata-rata murid yg masuk di kelas SBI.  Setelah satu bulan para siswa memulai belajar di sekolah yang dipilihnya,  mereka mulai dijangkiti tanda-tanda depresi seperti jadi pemarah, suka menangis sendiri, nggak bisa tidur dll.Beberapa penyebab diantaranya, merasa tertekan dengan belum pahamnya mereka atas penguasaan materi pelajaran dg bahasa inggris, pake bahasa indonesia saja sulit apalagi harus memahami dg bahasa inggris begitu katanya. Kemudian mereka merasakan teman-teman di kelas sangat individualistis, juga tugas / PR yg bertumpuk yg harus dikerjakan sampai larut malam. Ditambah ada ketakutan tersendiri jika tugas tdk selesai atau salah yg biasanya akan dimarah guru-gurunya.Beberapa klient ingin di sekolah yg reguler saja dan tidak ingin masuk SBI.</p>
<p>Dengan perwajahan SBI ini, apakah kita akan pasrah menjadi korban pembuat kebijakan? Sedemikian putus asanyakah kita dengan sekolah bermuatan lokal?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/dampak-rsbi-sbi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membentuk konsep diri anak (2)</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak-2.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 15:45:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak Usia Dini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Kesalahan – bagian dari pembelajaran Selama proses pembelajaran berlangsung, anak pasti akan melakukan kesalahan. Peran orang tua/guru disini adalah mendiskusikan kesalahan, tujuan yang tidak tercapai, dan perbuatan yang tidak baik. Kita pun kadang gagal memberikan jawaban, mengatakan hal yang tepat, gagal memenangkan pertandingan bola, atau tidak bisa menulis kalimat yang jelas. Jelaskanlah kepada anak bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kesalahan – bagian dari pembelajaran</strong></p>
<p>Selama proses pembelajaran berlangsung, anak pasti akan melakukan kesalahan. Peran orang tua/guru disini adalah mendiskusikan kesalahan, tujuan yang tidak tercapai, dan perbuatan yang tidak baik. Kita pun kadang gagal memberikan jawaban, mengatakan hal yang tepat, gagal memenangkan pertandingan bola, atau tidak bisa menulis kalimat yang jelas.</p>
<p>Jelaskanlah kepada anak bahwa kesalahan sebenarnya membantu pembelajaran. Kita belajar berdasarkan umpan balik yang diberikan kepada kita. Jika umpan baliknya mengatakan kita melakukan sesuatu yang tidak benar, hasilnya adalah tergantung dari apa yang akan kita lakukan yaitu mengkoreksi kesalahan.Hal yang terpenting adalah anda ingin anak tidak mudah putus asa, berusaha lagi, mencoba lagi, melakukan pendekatan yang berbeda yang sesuai bagi anak agar dapat mencapai tujuannya. Intinya, fleksibilitas adalah alat pembelajaran yang diperlukan.</p>
<p>Perlu ditekankan kepada anak bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Jika kita tidak pernah berbuat kesalahan, karena hal yang dikerjakan sifatnya terlalu mudah dan bukan hal yang baru, hal itu berarti kita membuang-buang waktu. Anak perlu berbuat kesalahan sesekali (bukan sering) merupakan  yang penting untuk proses pembelajaran, sehingga anak dapat merasakan apa rasanya kehilangan kesempatan, dan bagaimana harus mencoba lagi, dan lagi. Kemungkinan untuk berbuat kesalahan adalah sesuatu yang akan selalu kita hadapi, dan akan menjadi sesuatu yang tak terlalu menyakitkan atau mengecewakan jika anak pernah mengalami sebelumnya.</p>
<p>Tentunya anda ingin anak mau mencoba melakukan sesuatu yang baru. Bantulah anak untuk mengerti bahwa dengan mengalami kegagalanlah ia dapat kesempatan untuk sukses, meraih sesuatu dan belajar hal yang baru.</p>
<p>Pada saat melakukan yang terbaik, anda perlu menunjukkan bahwa tidak ada orang yang sempurna. Kita sebagai orang tua atau guru tidak perlu bersikap seolah-olah orang dewasa selalu gagal. Doronglah rasa ingin tahu, rasa ingin mencoba, dan mengambil resiko. Anak-anak belajar banyak hal dengan melihat  bahwa orang tuanya/ gurunya memiliki ketidaksempurnaan , mengakui kesalahan dan berupaya memperbaikinya.</p>
<p><strong>Bersikaplah positif!</strong></p>
<p>Kita dapat memberi kejutan istimewa, melakukan atau mengucapkan sesuatu untuk memberi semangat. Kejutan istimewa bentuknya dapat bermacam-macam, dari sekedar makanan kecil sampai pesta kejutan. Ucapan yang positif juga sangat membantu anak membentuk percaya dirinya. Misalkan dalam pertandingan bola, penonton bisa meneriaki para pemain seperti“ tendangan maut!” , “hebat!”. Sebagai orang dewasa kita dapat memberi contoh sikap positif ini agar anak-anak nantinya dapat menjadi otomatis positif.</p>
<p><strong>Mengingat pengalaman masa kecil</strong></p>
<p>Kebanyakan orang dewasa tidak mengingat pengalaman masa kecilnya : apa yang membuat senang dan khawatir, merasa terkucil, dan takut. Sebenarnya, saat anak merasa khawatir, kita dapat membantu anak dengan cara membayangkan diri kita berada di posisi anak atau berempati.</p>
<p>Anak yang terluka perasaannya tidak akan merasa lebih baik dengan bujukan atau dengan ucapan “ tidak apa-apa”. Tugas orang dewasa adalah mendukung dan memberi penjelasan. Dengarkan anak dengan penuh empati (gunakan hati, bukan kepala). Lebih baik anda katakan:<br />
“Kelihatannya kamu marah sekali waktu temanmu mengejek”<br />
Dengan begitu anda memberikan kesan anda memahami perasaannya, dan tidak menghakiminya. Anak dapat mengungkapkan kemarahannya tanpa khawatir ditolak atau diceramahi  jika anak pecaya bahwa anda akan menerima perasaannya.</p>
<p>Setelah itu, tanyakan padanya apakah ia mau dipeluk dan sekaligus bicarakanlah kenapa  temannya berprilaku seperti itu dan tanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk mengatasinya nanti jika hal yang sama terjadi lagi.</p>
<p>Berhati-hatilah dalam berkomentar, misalkan jika anak berusaha meraih mainan di atas lemari tapi tangannya tak sampai, ucapkan:<br />
“lemarinya tinggi sekali ya. Mari, ibu/ayah Bantu mengambilnya.”<br />
Janganlah sekali-sekali berkomentar , “ Kamu pendek badannya, tidak akan sampai”.</p>
<p><strong>Peran buku cerita</strong></p>
<p>Setiap anak mengalami berbagai macam perasaan dan situasi dan juga pertanyaan. Melalui buku cerita, anda dapat mengeksplorasi emosi dan bagaimana menghadapinya. Anak lebih bisa memahami dirinya, dan memahami anak-anak lain  melalui cerita yang menggambarkan masalah, kekhawatiran dan konflik yang serupa. Keunggulan buku cerita adalah pada saat kita mendiskusikan satu tokoh dalam cerita, kita dapat meninjau suatu masalah tanpa menuding, menghakimi atau menggurui  karena anak tidak merasa dirinya sebagai pelaku.</p>
<p>Tugas anda sebagai pendidik adalah mengenali emosi anak dan mencarikan penyaluran emosi yang sesuai dan dapat diterima. Maka dari itu, bacakanlah cerita sebelum anak tidur karena pada saat itulah kesempatan emas untuk mendiskusikan berbagai topic, perasaan, dan banyak hal. Kita sendiri sebagai orang dewasa dapat memahami dunia anak dan mengingat seperti apa menjadi anak-anak melalui buku cerita.</p>
<p>Berikut ini buku-buku yang dapat anda pergunakan untuk anak-anak balita dan SD berdasarkan tema yang diperlukan.</p>
<p>PERPISAHAN</p>
<p>Dear Phoebe, Sue Alexander<br />
You go away, Dorothy Corey<br />
Mama Pergi Kerja Dulu, Ya , Nur Ayati  (Elex Media )</p>
<p>PERSAUDARAAN</p>
<p>Amy and the new baby, Myra Berry Down<br />
The room is mine, Betty Wright</p>
<p>PERCERAIAN</p>
<p>Where is Daddy? The story of a divorce, Beth Goff<br />
Divoce is a grown-up problem, Janet Sinberg</p>
<p>CACAT</p>
<p>Howie helps himself, Joan Fassler<br />
I have a sister, my sister is deaf, Jean Whitehouse</p>
<p>KEMATIAN</p>
<p>My grandpa died today, Joan Fassler<br />
The tenth good thing about Barney , Judith Viorst</p>
<p>ADOPSI</p>
<p>Abby , Jeannette Caines<br />
I am adopted, Susan Lapsley</p>
<p><strong>Kegiatan untuk membangun konsep diri yang positif</strong></p>
<p>1.	Di malam hari, pada saat makan atau di tempat tidur, mintalah anak bercerita tentang kesuksesannya hari itu. Anda mungkin dapat membantu  dengan menunjukkan apa yang dicapainya dan membantunya melihat apa yang perlu dicapai, dipelajari  dan dicapai.</p>
<p>2.	Carilah tempat yang tenang untuk bermain melengkapi kalimat. Berilah waktu bagi anak untuk menceritakan pikiran dan perasaannya dengan melengkapi kalimat berikut :<br />
-	Jika saya boleh mengajukan permohonan kepada Tuhan, saya ingin….<br />
-	Saya senang sekali sewaktu…<br />
-	Saya marah pada saat ….<br />
-	Orang menganggap saya ini…..<br />
-	Saya tidak suka orang yang …..<br />
-	Hal yang saya kuasai adalah ……….<br />
-	Hal yang sedang saya pelajari dan akan kuasai adalah….<br />
-	Saya tidak suka orang menolong saya untuk ……</p>
<p>3.	Berdiskusilah tentang ucapan yang membuat hati anak senang<br />
Misalkan : “ Saya tahu kau sudah berusaha keras untuk itu”<br />
“ Upaya yang bagus! Lain kali kau pasti berhasil!<br />
“  Terimakasih atas pertolonganmu!”</p>
<p>Diskusikan ucapan yang membuat hati anak kecewa<br />
Misalkan : “ Tidak bisa ya?”, &#8220;Sulit ya menulis sambung&#8221;</p>
<p>Jangan sekali-sekali mengatakan :<br />
“ Ya ampun, payah sekali kamu itu”<br />
“  Masak begitu saja tidak bisa?”</p>
<p>Setelah itu berilah waktu khusus untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat hati anak senang.</p>
<p><strong>4.	Buatlah poster penggugah semangat.</strong><br />
Gambarlah poster untuk siapa saja di dalam keluarga yang berbuat sesuatu yang baik dan tulislah namanya. (jika anak belum bisa menulis, mintalah kepada anak yang usianya lebih tua).<br />
Contohnya : Saya melihat Ani membantu ibu menyapu kamar tidur.<br />
Tertanda, Budi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membentuk konsep diri anak (1)</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 21:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ken Sanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Menurut penelitian Jack Canfield dan Harold Wells, anak-anak yang punya masalah akademis biasanya memiliki konsep diri yang buruk (Saya tidak bisa, karena saya bodoh). Prestasi akademis berhubungan dengan konsep diri anak, sehingga upaya untuk mengajar anak akan sulit dilakukan tanpa pembinaan konsep diri. Anak yang memiiki konsep diri yang baik biasanya belajar dengan mudah karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut penelitian Jack Canfield dan Harold Wells, anak-anak yang punya masalah akademis biasanya  memiliki konsep diri yang buruk (Saya tidak bisa, karena saya bodoh).  Prestasi akademis berhubungan dengan konsep diri anak, sehingga upaya untuk mengajar anak akan sulit dilakukan tanpa pembinaan konsep diri.</p>
<p>Anak yang memiiki konsep diri yang baik biasanya belajar dengan mudah karena senang menerima tantangan untuk melakukan sesuatu yang baru dan memperoleh keterampilan yang baru. Sikap mental “aku bisa”, membuat pembelajaran menjadi lebih mudah. Lingkungan yang mendukung, yang dapat mengakomodasi kebutuhan emosinya, yang penuh cinta dan kehangatan, merupakan hal yang diperlukan seorang anak untuk dapat mengembangkan kemampuan akademisnya dan mengembangkan emosinya .</p>
<p>Sebagai orang tua atau guru, kita harus punya komitmen untuk membantu anak merasa nyaman dengan dirinya. Jika anak merasa bahwa anda percaya akan kemampuannya untuk menjadi sukses, dan ia juga percaya, tidak akan terbayangkan apa yang bisa dicapai olehnya!</p>
<p><strong>Pentingnya merasa dicintai</strong><br />
Bagaimana anda mengekespresikan rasa cinta anda kepada anak sangat menentukan bagaimana anak memandang dirinya. Untuk bisa merasa dicintai dan dihargai, anak harus dapat merasakan cinta orang tua.  Sebagai orang tua, Anda harus berupaya menunjukkan rasa cinta anda lebih dari sekedar pelukan dan kata-kata “Ibu/Ayah saying kamu”.</p>
<p>Bagaimana cara menunjukkannya? Saat kita bersama anak, anak harus merasa bahwa kita hadir untuknya secara mental dan fisik. Saat anda meluangkan waktu15 menit untuk membacakan cerita, upayakan  dalam 15 menit itu anda tidak meyambinya dengan  memikirkan cucian piring, pekerjaan di kantor, tagihan yang harus dibayar, dll. Pastikan anda menghabiskan 15 menit itu untuk mendengarkan, dan memperhatikan anak. Tunjukkan pada anak, bahwa anda menikmati waktu bersamanya. Jika anda memilih untuk mencuci mobil bersama anak, dibandingkan menonton TV atau sibuk dengan facebook anda, anda menunjukkan bahwa dirinya berarti dan anda senang berada di dekatnya.</p>
<p>Jika anda menjemput anak dari sekolah, atau anda sampai di rumah, tunjukkan bahwa anda senang bertemu dengannya. Jadikan kedatangan anda di rumah sebagai hadiah terbesar, bukan oleh-oleh atau benda yang anda bawa. Hal ini menunjukkan kepada anak bahwa anda merindukannya dan ia berarti bagi anda.</p>
<p>Mencintai anak juga berarti kita menghormati anak sebagai individu. Perlakukan anak anda dengan cara yang sama anda memperlakukan orang lain. Ucapkan, “ tolong” dan “terimakasih”, ketuklah pintu sebelum masuk ke kamarnya, jika anda ingin menegur atau menasihati tunggulah sampai teman atau saudara kandungnya tidak di dekatnya. Pertimbangkanlah perasaannya sama seperti anda lakukan kepada orang yang anda hormati.</p>
<p>Yang  terakhir, sisakan cinta untuk diri anda sendiri. Jangan berharap menjadi orang tua atau guru yang sempurna. Tidak ada orang yang sempurna. Kita tidak mungkin cinta setengah mati terus menerus selama 24 jam kepada anak. Kadang kita frustasi menghadapi anak, mengucapkan kata-kata yang nantinya kita sesali, kecewa dengan diri kita karena tidak bisa mengendalikan marah dan emosi kita. Ambillah ruang gerak bagi diri kita untuk dapat menjelaskan kepada anak apa yang membuat anda marah, dan bahwa kadang anda perlu melepaskan emosi sama sepertinya, dan bahwa meskipun demikian anda tetap mencintainya.</p>
<p><strong>Ekpektasi Anda</strong><br />
Anda juga perlu memperhatikan derajat ekspekstasi anda. Jika ekspektasi anda terlalu rendah, akan berakibat anak merasa tak berdaya dan tak mungkin berhasil karena anak merasa anda tak percaya ia akan berhasil. Sama bahayanya jika anda berharap terlalu tinggi, kegagalan yang berulang membuat anak tak percaya diri.</p>
<p>Ada beberapa factor yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengembangkan kemampuan menyesuaikan derajat ekspektasi anda.<br />
Pertama, pertimbangkanlah tingkat perkembangan anak. Anda memang ingin memberikan tantangan, tapi upayakan tantangan itu tidak melebihi kemampuannya.Misalkan, anak usia 2 tahun tidak mungkin diharapkan untuk duduk diam manis selama 2 jam di rumah nenek/kakeknya.</p>
<p>Kedua, amati anak dan perhatikan apa yang disukai dan dibencinya, sikapnya di beberapa situasi yang berbeda. Sebelum anda berharap , perhatikan terlebih dahulu keadaan anak anda dan cari tahu bagaimana mengatasinya.</p>
<p>Ketiga, fleksibellah. Jika anda berharap anak melakukan sesuatu, tapi  anak tidak dapat memenuhinya, turunkanlah derajat ekspektasi anda. Jika anak tidak siap bersepeda roda dua, pasangkanlah lagi roda tambahannya di sepeda.</p>
<p><strong>Biarkan anak-anak bersikap kekanak-kanakan</strong><br />
Dalam bukunya yang berjudul The Hurried Child, David Elkind, menyebutkan adanya  akibat-akibat negatif dikarenakan pengkarbitan anak-anak: mempercepat anak menjadi dewasa : meningkatnya sakit kepala, sakit perut pada anak-anak yang ada kaitannya dengan stress, meningkatnya tingkat bunuh diri, tingginya jumlah aliran kepercayaan yang sesat, meningkatnya kejahatan dan ekperimen seksual dini (dan juga penyakit menular seksual pada remaja).</p>
<p>Menurut Elkind, hal ini disebabkan antara lain karena : orang tua di masa sekarang mengalamai stress yang lebih tinggi dibandingkan orang tua di masa 20 tahun yang lalu, lebih banyaknya tingkat perpisahan dan perceraian, meningkatnya kejahatan yang mengakibatkan meningkatnya rasa takut, dan tingginya rasa khawatir yang  disebabkan ancaman teknologi dan inflasi.</p>
<p>Elkind juga menyebutkan tingkat stress anak-anak sekarang lebih tinggi karena sekolah, dan pengaruh televisi masa kini. Sebaiknya kita ingat, bahwa anak tidak berpikir, belajar, atau merasa seperti orang dewasa. Kita perlu waspada seberapa banyak menuntut dari anak dan memastikan tuntutan kita sesuai dengan usianya. Sungguh tidak adil jika kita menuntut anak berlaku seperti orang dewasa.</p>
<p>Anak tidak dapat membuat keputusan seperti layaknya orang dewasa. Tugas kitalah sebagai orang tua/ orang dewasa untuk menetapkan batasan, mengingatkan anak mana yang pantas dan mana yang tidak, kapan saatnya anak perlu bersikap lebih matang dan kapan ia diizinkan untuk berlaku kekanak-kanakan. Kita perlu mengingatkan anak bahwa mereka tetaplah anak-anak, dan mengizinkan mereka bertingkah seperti ya…anak-anak!</p>
<p><strong>Tidak membanding-bandingkan</strong></p>
<p>Anak perlu merasa sebagai individu yang utuh, orang yang istimewa, jadi janganlah membanding-bandingkan! Banyak orang tua menganggap bahwa mereka memperlakukan anak-anaknya dengan cara yang sama, padahal anak-anak ingin diperlakukan berbeda, sebagai individu yang unik.</p>
<p>Meskipun sebagai orang tua anda ingin anak berprestasi di semua bidang, kenyataannya tidak mungkin anak menonjol dalam matematika dan juga membaca. Ada yang berprestasi dalam bidang akademis, ada yang di bidang olah raga. Yang penting adalah beri semangat dan Bantu anak untuk memperbaiki prestasi di bidang yang kurang dikuasainya, tapi jangan lupa memberitahu betapa bangganya anda akan prestasinya yang lain.</p>
<p>Sebelum tidur, berilah waktu dan rutinitas malam bagi masing-masing anak. Bacakanlah cerita yang berbeda bagi setiap anak, berilah waktu khusus berdua dengan anda bagi masing-masing anak. Biarkan anak yang lebih tua tidur lebih lambat, biarpun hanya 15 menit. Berikan perhatian yang khusus bagi setiap anak, agar masing-masing merasa istimewa.</p>
<p>Sanjaya Ken</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/membentuk-konsep-diri-anak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
