<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; Je</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/author/je/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 02:40:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Tips Professional Development dari Paula</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/tips-professional-development-dari-paula.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/tips-professional-development-dari-paula.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 15:07:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Profile]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Daff, Dep, Ken dan saya berkumpul untuk beberapa cangkir kopi, kami memutuskan untuk mengangkat tema teknologi di postingan-postingan kami. Dan waktu itu saya langsung teringat oleh seorang guru yang menurut saya benar-benar perlu diketahui banyak orang di dunia. Saya memutuskan untuk berkomunikasi dengan Paula. Berikut adalah cuplikan jawaban dari tiga pertanyaan yang saya kirimkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika Daff, Dep, Ken dan saya berkumpul untuk beberapa cangkir kopi, kami memutuskan untuk mengangkat tema teknologi di postingan-postingan kami. Dan waktu itu saya langsung teringat oleh seorang guru yang menurut saya benar-benar perlu diketahui banyak orang di dunia.</p>
<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/paula2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-329" title="Paula Ledesmana" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/paula2.jpg" alt="" width="64" height="64" /></a></p>
<p>Saya memutuskan untuk berkomunikasi dengan Paula. Berikut adalah cuplikan jawaban dari tiga pertanyaan yang saya kirimkan ke Paula melalui fasilitas <em>messaging</em> di situs itu:</p>
<p>Je:</p>
<p>Bisakah anda menceritakan sedikit tentang anda dan social network yang anda bangun ini?</p>
<p>Paula:</p>
<p>Well, saya adalah guru dari Argentina. Saya mengkhususkan diri di bidang Sejarah dan Teknologi Pendidikan. Saat ini saya sedang meyelesaikan S2 saya di Teknologi Pendidikan di University of Buenos Aires. Saya sendiri sudah bekerja sebagai Teacher Trainer dan Konsultan Pendidikan sejak tahun 2004.</p>
<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/paula.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-330" title="Paula dan her colleagues" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/paula.jpg" alt="" width="139" height="104" /></a></p>
<p>Saya sangat tertarik sekali dengan Professional  Development dalam bidang pendidikan. Saya  bergabung ke beberapa situs jejaring sosial sampai  suatu hari saya memutuskan untuk membuat sebuah  jaringan sosial sendiri. Saya memakai <a href="http://www.ning.com/">NING</a>—sebuah  platform online yang menyediakan fasilitas pembentukan komunitas tertentu secara online. Tujuan saya adalah untuk bisa berbagi minat saya kepada teman-teman di semua belahan dunia. Di <a href="http://teach-with-internet.ning.com/">Teach With Internet</a> saya bisa melakukan banyak hal seperti posting link, bahan mengajar, event-event, video dan juga foto-foto yang ada sangkut pautnya dengan dunia pendidikan.</p>
<p>Je:</p>
<p>Apakah ada hal-hal yang sangat menarik yang tidak bisa anda lupakan dalam pembuatan social network ini?</p>
<p>Paula:</p>
<p>Tentu saja. Saya pernah mengundang satu orang untuk bergabung online di situs saya. Setelah itu, tiba-tiba saja saya mendapat tawaran untuk menulis buku tentang tren pengajaran yang akan diterbitkan di negaranya segera. Buku itu berjudul: <em>Smart Teaching: A </em><em>transformational approach</em>. Selain itu saya juga mendapat banyak sekali undangan untuk bergabung menjadi peserta maupun presenter di beberapa <em>online course</em>. Yang paling menarik buat saya adalah bahwa saya belum pernah sekalipun bertemu dengan orang-orang itu. Semuanya dilakukan secara <em>online</em>!</p>
<p>Je:</p>
<p>Menarik sekali, Paula. Tentu saja banyak sekali orang-orang&#8211;di Indonesia terutama&#8211;yang ingin tahu apa saja sebenarnya yang harus kita lakukan ketika kita dihadapkan pada penggunaan teknologi untuk mengajar. Ada saran?<br />
Paula: Hal yang terpenting adalah tidak berhenti belajar. Dalam hal teknologi yang selalu berkemdang dan banyak sekali pilihan, yang terpenting adalah training-training tentang bagaimana menggunaka teknologi itu sendiri. Kalau guru-guru mendapatkan kesempatan mengikuti training-training dalam hal teknologi, tentunya mereka dapat mewujudkan imajinasi mereka dalam hal cara-cara mengajar. Yang saya ketahui, sekarang ini banyak sekali guru-guru yang “menghindari” penggunaan teknologi karena mereka tidak tahu bagaimana menggunakan teknologi itu. Sekali guru itu bisa, tentunya penerapan teknologi di kurikulum bukan menjadi masalah lagi. Menurut saya, guru-guru harus benar-benar mencoba <a href="http://www.wiki.com/">WIKI</a>.</p>
<p>Di bagian akhir wawancara saya dengan Paula, dia mengatakan hal yang saya pribadi sangat setuju.</p>
<p>“Mulailah mencari cara untuk bisa menruh karya-karya siswa di internet. Semakin banyak orang yang tahu kemajuan mereka dan menghargainya melalui komentar-komentar tentang tugas mereka, semakin termotivasilah mereka karena mereka sadar pekerjaannya ada yang mengapresiasi.”</p>
<p>Dari wawancara di atas saya berpikir. Apakah benar masalah guru di Indonesia terhadap teknologi adalah training-training untuk menggunakan teknologi itu? Jika benar, tentunya workshop-workshop kecil dan efektif mengenai penggunaan blog, facebook dan yang sejenis bisa menjadi solusi yang tepat. Apakah anda tertarik untuk mengikuti atau bahkan mengadakan workshop-workshop tersebut? Seberapa besarkan cinta anda kepada dunia pendidikan Indonesia?</p>
<p>&#8211;Je&#8211;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/tips-professional-development-dari-paula.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Understanding by Design</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/understanding-by-design.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/understanding-by-design.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 09:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Ribut-ribut soal UAN masih berjalan sekarang ini di Indonesia. Di musim UAN seperti saat ini, ada satu teori yang harusnya kita bahas dan pahami bersama. Nama teori itu adalah Understanding by Design (UbD). Apa itu dan bagaimana penerapannya akan saya bahas di artikel ini. Understanding by Design adalah sebuah teori untuk yang seharusnya dipakai dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Ribut-ribut soal UAN masih berjalan sekarang ini di Indonesia. Di musim UAN seperti saat ini, ada satu teori yang harusnya kita bahas dan pahami bersama. Nama teori itu adalah Understanding by Design (UbD). Apa itu dan bagaimana penerapannya akan saya bahas di artikel ini.</div>
<div id="_mcePaste"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Understanding_by_Design">Understanding by Design</a> adalah sebuah teori untuk yang seharusnya dipakai dalam hal pembuatan kurikulum pendidikan. Teori ini dipelopori oleh Grant Wiggins dan Jay McTighe. Menurut kedua pakar bahasa ini, Understanding by Design adalah sebuah kerangka kerja untuk membantu kita menyusun kurikulum, asessement dan kegiatan di dalam kelas yang akan membantu pemahaman lebih mendalam siswa akan apa yang kita ajarkan.</div>
<div id="_mcePaste">Bagaimana konsep diatas bisa berjalan? Cara bekerja framework ini adalah dengan menggunakan Backward Design. Selama ini yang sudah berlaku dalam pembuatan kurikulum adalah mendesain materi yang akan diajarkan, cara pengajarannya dan kemudian merancang tes untuk mengukur keberhasilan pengajaran. Bakcward Design menerapkan hal yang sebaliknya. Dalam pelaksanannya, kita harus memikirkan hasil yang kita maui dari pengajaran kita. Apa yang kita ingin siswa untuk mengerti? Langkah selanjutnya adalah mempersiapkan tes untuk mengukur pemahaman siswa. Barulah setelah itu kita mendisain materi yang akan kita sampaikan dan juga cara penyampainnya.</div>
<div>Mari kita ambil sebuah contoh skala kecil. Misalnya kita akan mengajarkan siswa melakukan presentasi. Apa yang harus kita siapkan dulu? Tesnya. Kita harus muncul dengan criteria presentasi yang baik. Kita tulis poin-poinnya dan kita gunakan poin-poin itu untuk mengukur keberhasilan siswa. Apabila kita menargetkan ketrampilan organisasi materi (beserta poin-poin yang lain, tentunya), kita harus mengajarkan siswa cara membagi sebuah presentasi. Jelaskanlah kepada mereka bahwa sebuah presentasi yang bagus terdiri dari pembukaan yang mengandung perkenalan subjek yang akan dipresentasikan, inti presentasi yang harus dibagi-bagi lagi supaya bisa lebih dimengerti dan lalu penutupan yang mengandung kesimpulan presentasi. Setelah itu, kita harus memikirkan penyampain materi yang mengena. Bisa saja kita berikan satu contoh presentasi kita sendiri kepada siswa. Setelah itu, kita bagikan bagian-bagian dari presentasi kita untuk ditelaah dan dikategorisasikan oleh siswa. Langkah selanjutnya adalah member kesempatan kepada siswa untuk melihat sebuah presentasi lain dan mempraktekan apa yang telah mereka pelajari dengan cara mengisi checklist dan mendiskusikannya dalam grup. Setelah itu, barulah kita beri latihan-latihan kepada siswa untuk melakukan presentasi mereka sendiri.</div>
<div>Konsep ini cukup logis untuk diterapkan. Understanding by Design membantu kita untuk tahu secara pasti arah sebuah pendidikan. Selain itu, UdB juga membuat kita tetap pada tujuan dan tidak salah arah dalam pencapainnya.</div>
<div id="_mcePaste">Bagaimana penerapan konsep ini di tempat anda mendidik?</div>
<p>Kalau anda butuh referensi lain, mungkin<a href="http://www.ubdexchange.org/"> situs</a> ini bisa membantu anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/understanding-by-design.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How to Teach for Exams</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 15:28:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[Book Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun di luar sana banyak sekali pendapat tentang UAN—yang setuju, lah,&#8230;yang tidak sertuju, lah,&#8230;ada satu hal yang pasti. Tes itu penting! Dan segala daya upaya harus kita kerahkan ketika kita akan mempersiapkan tes—untuk diri kita sendiri ataupun untuk membantu orang lain. Kali ini saya mau share salah satu buku yang sudah cukup lama ada di pasaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.amazon.co.uk/How-Teach-Exams-Sally-Burgess/dp/0582429676"></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.pearsonlongman.com/professionaldevelopment/howtoseries/how-to-teach-for-exams.html"><img class="size-full wp-image-188 aligncenter" title="How to Teach for Exams" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/03/images1.jpg" alt="" width="87" height="116" /></a>Walaupun di luar sana banyak sekali pendapat tentang UAN—yang setuju, lah,&#8230;yang tidak sertuju, lah,&#8230;ada satu hal yang pasti. Tes itu penting! Dan segala daya upaya harus kita kerahkan ketika kita akan mempersiapkan tes—untuk diri kita sendiri ataupun untuk membantu orang lain.</p>
<p>Kali ini saya mau <em>share</em> salah satu buku yang sudah cukup lama ada di pasaran yang membahas cara kita membantu siswa dalam menghadapi sebuah tes. Buku ini sangat spesifik dengan mengangkat Bahasa Inggris sebagai subjeknya. Tetapi apakah buku ini hanya bermanfaat bagi guru-guru Bahasa Inggris? Tidak juga. Ada beberapa manfaat yang bisa kita petik untuk diterapkan ke mata pelajaran lainnya.</p>
<p>Adalah seroang pakar pengajaran Bahasa Inggris yang bernama Jeremy Harmer. Dia mengeluarkan beberapa seri buku yang bisa dijadikan pegangan para praktisi pendidikan pada umunya dan guru-guru Bahasa Inggris pada khususnya. Di buku ini dia menjadi editor untuk dua penulis—<em>Sally Burgess </em>dan <em>Katie Head</em>.</p>
<p>Buku ini berjudul <em>How to Teach for Exams.</em> Tebalnya hanya 156 halaman dengan isi penting seperti:</p>
<p>-  Bagaimana menjadi guru sukses dalam mempersiapakan murid untuk sebuah tes</p>
<p>- Bagaimana memilih dan mempersiapkanmateri pengajaran yang sesuai untuk tes</p>
<p>- Bagaimana mengajarkan empat macam  ketrampilan berbahasa—berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis untuk ujian, dan lain-lain</p>
<p>Saya sendiri pernah melahap buku ini. Tulisannya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sangat bermanfaat untuk pendidik seperti saya.</p>
<p>UAN <em>nggak</em> UAN,&#8230;buku ini akan membantu kita menjadi pendidik yang sukses untuk mempersiapkan anak didik kita menghadapi sebuah tes.</p>
<p>PS: <a href="http://www.pearsonlongman.com/professionaldevelopment/howtoseries/how-to-teach-for-exams.html">LONGMAN</a> juga menyediakan CD nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/how-to-teach-for-exams.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips untuk guru SBI/ RSBI</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 06:41:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[SBI]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Bapak-bapak, Ibu-ibu, para pengajar SBI dan RSBI, bagaimana perasaan anda terhadap profesi anda? Masih bangga kan karena bisa mengajar sesuatu yang berbeda? Atau masih marah karena dihadapkan pada situasi yang serba salah? Apapun perasaan anda, yang jelas anda sedang berada pada sebuah masa perubahan. Dan semuanya itu terserah bagaimana anda menyikapinya, bukan? Mungkin lebih baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/10479979/2/istockphoto_10479979-teaching.jpg" alt="" width="380" height="296" /></p>
<p>Bapak-bapak, Ibu-ibu, para pengajar SBI dan RSBI, bagaimana perasaan anda terhadap profesi anda? Masih bangga kan karena bisa mengajar sesuatu yang berbeda? Atau masih marah karena dihadapkan pada situasi yang serba salah? Apapun perasaan anda, yang jelas anda sedang berada pada sebuah masa perubahan. Dan semuanya itu terserah bagaimana anda menyikapinya, bukan? Mungkin lebih baik adanya kalau kita berusaha sekeras tenaga untuk berpikir positif tentang keberadaan SBI dan RSBI dan melakukan sesuatu tentang itu.</p>
<p>Anda mungkin berpikir, siapa penulis ini yang berani-beraninya sok tau membuat <em>statement</em> seperti di atas. Pak, Bu, saya bukan guru SBI dan RSBI sekarang ini. Tetapi kebetulan saja saya pernah mengajar di sekolah formal yang sempat melaksanakan <em>pilot project </em>program pemerintah. Istilah kerennya adalah Sekolah Model. Memang sih beda dengan SBI dan RSBI, tetapi saya melihat ada beberapa kesamaan diantara keduanya. Dan berdasarkan kesamaan-kesamaan tersebut, saya ingin membagi beberapa tips yang membuat saya secara pribadi merasa saya bisa mengajar di program <em>Sekolah Model</em> itu yang mungkin saja bisa Bapak dan Ibu terapkan di sekolah.</p>
<p>1. <em>Point of view</em></p>
<p>Seperti yang pertama kali saya ungkapkan, anggaplah SBI dan RSBI bukan sebagai masalah tetapi sebuah tantangan. Dalam profesi apa saja, selalu ada perubahan yang menuntut kita begini-<em>lah</em>, begitu-<em>lah</em>, begini begitu-<em>lah</em>. Apapun itu, jika kita menganggapnya sebagai sebuah hal yang positif, apa yang kita lakukan tentunya bersifat positif juga.</p>
<p>2. <em>Soft Competencies</em></p>
<p>Yang saya maksud dengan kompetensi adalah hal-hal baik di diri kita yang kita punyai. Apa saja yang kita punyai? Sudah saatnya untuk sadar tentang itu, kan? Di bidang ke-SDM-an, ada beberapa jabaran <em>soft competencies. </em>Beberapa diantaranya adalah: Information Seeking, Initiatives dan Achievement Orientaton—Pencarian Informasi, Inisiatif dan Kepemilikan Tujuan Pencapaian. Kalau ketiganya digabung, anda akan menjadi seorang guru SBI dan RSBI yang mempunyai standar kerja yang jelas—murid harus bisa memahami pelajaran dan sekaligus belajar Bahasa Inggris. Hal itu akan membuat anda bertekad untuk mencari sumber-sumber pengetahuan untuk hal-hal yang berbau SBI seperti browsing-browsing internet ke situs-situs seperti: <a href="http://www.onestopclil.com/">www.onestopclil.com</a>, <a href="http://www.clilcompendium.com/">www.clilcompendium.com</a>, <a href="http://www.teachingenglish.org.uk/">www.teachingenglish.org.uk</a>, <a href="http://www.howstuffswork.com/">www.howstuffswork.com</a>, atau bahkan mencoba tes pengetahuan mengajar <em>content</em> dengan cara mencari informasi di internet tentang TKT CLIL (<em>Teaching Knowledge Test on Content and Language Integrated Learning)</em>. Dan itu semua anda lakukan tanpa perintah Kepala Sekolah. Tertarik untuk mencobanya? Semoga saja tidak hanya tertatik, tetapi benar-benar mencobanya.</p>
<p>3. Apakah anda termasuk guru yang kurang yakin dengan kemampuan berbahasa Inggris? Sudah pernah mengusulkan ke Kepala Sekolah untuk membuka kursus khusus guru-guru di sekolah anda? Ide itu bukan tidak mungkin, kan? Anda akan menjadi guru yang mengajar dan belajar. Pasti dianggap hebat dan bisa memotivasi anak didik kita semua.</p>
<p>4. Rasanya memang lebih berat kalau kita melakukan apa-apa sendiri, kan? Seandainya saja kita semua punya teman-teman yang bisa diajak berbagi tantangan dan bekerja bersama. Saya yakin beberapa diantara Bapak dan Ibu pendidik sudah melakukannya. Buat yang belum, mungkin bisa bergabung di beberapa klub guru-guru SBI. Atau bagaimana kalau anda yang memulainya?</p>
<p>Semoga saja tips yang memang saya sengaja buat tidak banyak ini bisa membantu kita semua menghadapi tantangan SBI dan RSBI. Mungkin suatu hari Bapak dan Ibu bisa menjadi narasumber di sebuah seminar dengan topik yang sama dan menginspirasi para pendidik lainnya. Good luck, Sir, Ma’am.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/tips-untuk-guru-sbi-rsbi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pemimpi</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/104.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/104.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 18:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headlines]]></category>
		<category><![CDATA[Reviews]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[trailer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-103" title="sangpemimpi-209x300" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/sangpemimpi-209x300.jpg" alt="sangpemimpi-209x300" width="209" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Masih ingat dengan sepuluh anggota Laskar Pelangi? Sebagian dari Anda pasti sudah membaca dan menonton filmnya. Bagaimana dengan sequel kedua? Yang kedua dari Tetralogi Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi pun sudah di filmkan. Rame juga loh yang nonton. Film ini pun dijadikan salah satu film pembuka di acara Jakarta International Film Festival 2009. Bahkan di Jerman, film ini memenangkan Gelar Film Terbaik&#8211;di festival film anak CINEPANZ ke dua puluh.</p>
<p style="text-align: left;">Memangnya apa sih yang spesial dari film ini? Kalau saya berbicara masalah teknis pembuatan film tentu saja tidak akanada yang percaya. Makanya saya akan melihat film ini lebih dalam dari sisi pendidikannya. Cerita di film ini masih berkutat seputar kehidupan si Novelis Andre Hirata di masa kecil. Dia tinggal di daerah Belitung yang keindahan alamnya sangat hebat. Namun keadaan itu tidak sehebat seperti yang beberapa anak-anak disana inginkan. Ada tiga anak sebagai tokoh utama di film ini. Ikal (Andrea Hirata yang masih kecil), Arai (saudara jauhnya), dan Jimbron (seorang anak yang gagap). Ketiganya mengalami hal-hal yang hebat untuk ukuran anak kecil seusia mereka di Belitung. Salah satu pembuka film ini adalah peristiwa bertemunya Arai dengan Ikal. Setelah itu menyusul Jimbron. Arai adalah seorang pemimpi yang selalu bersikap optimis dalam hidup. Sikap ini tetap ada di dirinya walaupun dia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan tidak mempunyai apa-apa lagi. Hal ini benar-benar menginspirasi Ikal dan Jimbron. Ketiganya bergumul dengan mimpi mereka. Semuanya menjadi terarah ketika salah satu guru mereka&#8211;Pak Julian&#8211;menyebutkan nama &#8220;SORBONNE&#8221;. Sorbonne adalah sebuah universitas di Perancis. Pak Julian benar-benar berusaha memotivasi semua muridnya untuk kesana. Dan ketiga tokoh utama di film ini pun memimpikan hal yang sama. Dalam usahanya mencapai impian, mereka bertiga berusaha keras untuk menabung demi bisa berangkat ke Jakarta dan kuliah dulu disana. Apa saja mereka lakukan. Mereka menjadi pelayan di sebuah restoran, bekerja di prabrik, mencari tambahan di pelabuhan dan lain sebagainya. Dengan tekad seperti itu tentunya mereka akan berhasil bukan? Ternyata belum pasti. Di tengah perjalanan meraih impian mereka, ada beberapa godaan yang menghambat mereka. Ikal, Arai dan Jimbron menghadapi tantangan mereka masing-masing. Jimbron ternyata tidak terlalu pintar. Tetapi toh dia tetap berusaha. Bagaimana dengan Ikal? Ketetapan hati Ikal goyah dengan beberapa hal yang dia lihat dan dengar dari orang-orang tentang mencapai mimpinya dengan lebih cepat namun bukan dengan cara belajar dan bermimpi. Bagaimana dengan Arai? Apakah jalan mimpinya lancar? Apakah mereka berdua bisa mencapai Perancis? Tidak adil buat si penulis dan pembuat film kalau saya menjawab pertanyaan itu.</p>
<p style="text-align: left;">Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan buah pemikiran dari film itu. Poin-poin tersebut antara lain: 1. Seberapa pentingkah sebuah mimpi di dunia pendidikan? 2. Bagaimanakah sikap pendidik secara umum menanggapi mimpi seorang siswa didik? 3. Apakah bekerja setelah bersekolah itu baik? Tentu kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada kita semua tanpa konteks apa-apa, jawaban kita juga tidak cukup terarah. Oleh karena itu, mari kita tonton film &#8220;Sang Pemimpi&#8221; dan mulai mempunyai pendapat tentangnya. Selamat menonton. -Je- PS: Ariel perterpan ikut membintangi film ini. Kalau tidak percaya sama saya, silahkan &#8220;mengintip&#8221; trailer filmnya dengan cara klik kata-kata di bawah ini <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=yL0mjLyC-ho">Trailer Sang Pemimpi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/104.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inspirasi Guru Bahasa Arab</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/inspirasi-guru-bahasa-arab.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/inspirasi-guru-bahasa-arab.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 17:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lighter Side]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu malam ketika saya dalam perjalanan pulang, ban motor saya bocor di daerah Manggarai, Jakarta. Segeralah saya mencari-cari tukang tambal ban. Syukurlah saya tidak harus membakar lemak terlalu banyak untuk menemukan tukang tambal ban. Bahkan ketika sampai disana saya mendapatkan sebuah foto yang membuat saya berpikir &#8220;Bagaimana cara seorang guru bahasa Arab bisa sebegitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-99 alignright" title="jual bensin" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/01/jual-bensin-300x225.jpg" alt="jual bensin" width="300" height="225" />Di suatu malam ketika saya dalam perjalanan pulang, ban motor saya bocor di daerah Manggarai, Jakarta. Segeralah saya mencari-cari tukang tambal ban. Syukurlah saya tidak harus membakar lemak terlalu banyak untuk menemukan tukang tambal ban. Bahkan ketika sampai disana saya mendapatkan sebuah foto yang membuat saya berpikir  &#8220;Bagaimana cara seorang guru bahasa Arab bisa sebegitu menginspirasi muridnya yang sekarang menjadi tukang tambal ban?  <img src='http://indonesiaeducate.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   -Je-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/inspirasi-guru-bahasa-arab.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Libur resmi antisipasi budget</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/libur-resmi-antisipasi-budget.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/libur-resmi-antisipasi-budget.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 03:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Kebijakan pemerintah dan efeknya terhadap dunia pendidikan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari saya membuka kamar hotel di tempat saya menginap pagi-pagi untuk mengecek apakah ada koran tergantung di pegangan pintu. Saya benar. Saya ambil koran itu dan saya <em>browse-browse</em> beritanya. Berbagai macam berita ada di koran <em>Seputar Indonesia</em> edisi 25 Oktober 2009. Tetapi ada satu yang benar-benar membuat perasaan saya campur aduk.</p>
<p>Koran edisi itu menyelipkan satu berita di bagian Internasional. Judulnya saja sudah membuat saya penasaran untuk membacanya: &#8220;Hawai Potong Hari Bersekolah&#8221;. Saat itu saya bertanya-tanya tentang apa yang akan saya baca&#8211;maksud saya adalah alasan kenapa Hawai melakukan hal itu. Ketika mata saya mulai bergerak ke kanan dan ke kiri, saya terkejut bukan main. Hawaii memutuskan menutup sekolah pada hari Jumat hanya karena Hawaii bermaksud mengurangi pengeluaran. Apa ituuuu? Menurut <em>Seputar Indonesia</em>, Departemen Pendidikan setempat mengambil keputusan di atas untuk menghemat USD 468 yang dibutuhkan untuk menutupi defisit anggaran.</p>
<p>Reaksi? Tentu ada. Orang tua murid memprotes keputusan itu. Itu saja yang dibahas di artikel surat kabar yang tadi saya sebut. Tidak ada pembahasan lain mengenai efeknya ke warga didik. Apakah mereka merasa kesal karena jam belajar di sekolahnya dipotong? Ataukah mereka malah merasa senang dengan keputusan itu? Pro dan Kontra tentu saja ada.</p>
<p>Nah, sekarang mari kita bayangkan bila hal serupa terjadi di Indonesia. Bagaimana reaksi anda? Apakah anda akan mendukung keputusan tersebut? Semoga saja tidak. Namun jika hal ini terjadi di negara kita, saya benar-benar berharap ada demonstrasi besar-besaran untuk menentangnya.</p>
<p>Memang sudah bukan hal baru bahwa kebijakan pemerintah terkadang tidak menguntungkan warganya. Mari kita ambil contoh pergantian menteri yang dilakukan paling tidak lima tahun sekali. Dengan pergantian ini, beberapa hal pun juga berubah. Di dunia pendidikan contohnya, urusan rubah-merubah ini pun bisa sampai ke hal-hal kecil seperti buku yang digunakan siswa di kelas. Repot sekali ya?</p>
<p>Artikel yang saya baca membuka mata saya terhadap satu hal: kita harus punya sebuah pendapat yang logis terhadap efek dari tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah. Peristiwa di Hawaii dan maslaah pergantian buku itu bisa kita jadikan pelajaran sebagai orang yang peduli terhadap dunia pendidikan.</p>
<p>Marilah kita susun berbagai macam pendapat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/libur-resmi-antisipasi-budget.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Kreatif</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/sekolah-kreatif.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/sekolah-kreatif.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 21:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[SD Kreatif Muhammadiyah 16 Surabaya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Saya adalah orang yang percaya sekali pada tanda-tanda yang akan menajarkan sesuatu di kehidupan saya. Beberapa waktu yang lalu, saya menerima tanda-tanda itu.</p>
<p style="text-align: left;">Waktu itu saya berada dalam perjalanan kereta dari Surabaya menuju Jakarta. Ketika memasuki gerbong dan menuju ke tempat duduk saya, saya melihat ada koran Jawa Pos edisi 10 Oktober 2009 di kursi sebelah. Setelah beberapa lama kereta berjalan namun tidak ada orang yang duduk disitu, saya memutuskan untuk mengambil koran itu dan membacanya. Saya membolak-balik koran untuk menemukan berita-berita menarik. Salah satunya adalah yang akan saya bahas kali ini.</p>
<p style="text-align: left;">Di bagian METROPOLIS harian JAWA POS, ada sebuah tulisan dengan judul &#8220;Dulu Tak Laku, Kini Sekolah Favorit&#8221;. Tulisan itu adalah tentang seorang laki-laki yang bernama Heru Tjahjono. Dia adalah konseptor sekolah kreatif&#8211;SD Muhammadiyah Kreatif 16 Surabaya. Tepatnya di daerah Bratajaya. Bapak Heru yang difotonya berambut gondrong menceritakan bahwa dulunya sekolah itu tidak banyak peminatnya walaupun iurannya murah&#8211;hanya Rp. 15 ribu. Kemudian dia mempunyai ide untuk merubah total sekolah itu.</p>
<p style="text-align: left;">Perubahannya terjadi di berbagai macam aspek. Di bagian fisik sekolah, yang paling menarik adalah penggunaan tangga kayu dari lantai satu  ke lantai dua yang tidak sering digunakan untuk turun. Itu karena ada pelorotan ke bawah yang menjadi sarana &#8220;transportasi&#8221; yang lebih diminati murid-murid.</p>
<p style="text-align: left;">Kebijakan sekolah soal seragam juga berbeda. Murid-murid tidak diwajibkan untuk memakai seragam. Saya yakin kata-kata &#8220;tidak diwajibkan&#8221; benar-benar dimanfaatkan sepenuhnya oleh mereka. Saat ini saya membayangkan bagaimana rasanya kalau ada sekolah seperti ini ketika saya kecil. Mungkin saya akan memakai kaos dan celana pendek. Yang penting kan belajarnya.</p>
<p style="text-align: left;">Ngomong-ngomong soal belajar, di sekolah ini siswa tidak hanya belajar di dalam kelas. Mereka juga belajar melalui berbagai kegiatan outdoors. Itu ciri sekolah kreatif menurut Pak Heru. Saking kreatifnya ini sekolah, ekstra kurikulernya pun berbeda dengan kegiatan yang biasanya ada di sekolah-sekolah lain. Beberapa kegiatannya adalah group hip-hop Islami dan Barongsai.</p>
<p style="text-align: left;">Selain berusaha menginspirasi murid-muridnya, nampaknya sekolah ini juga sudah berhasil melakukan yang sama terhadap SD Muhammadiyah Kreatif 20 Surabaya dan SD Muhamadiyah Kreatif 02 Bangil. Mungkin kedua sekolah itu juga ingin mengalami kenaikan iuran seperti di SD Muhammadiyah Kreatif 16 Surabaya yang berangkat dari Rp. 15 ribu menuju Rp. 150 ribu per bulan.</p>
<p style="text-align: left;">Saya salut dengan apa yang saya baca. Tanda-tanda saya berupa koran di tempat duduk sebelah saya bermanfaat untuk saya. Namun ada beberapa pertanyaan yang membuat saya berpikir keras. Seberapa efektifkah sistim pendidikan seperti itu? Apakah sudah ada penelitian tentang itu? Dan seberapa jauhkah kita boleh berkreasi? Apakah sekolah negeri bisa melakukan yang sama? Bagaimana menurut anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/sekolah-kreatif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buy 1 Get 2</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/buy-1-get-2.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/buy-1-get-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 08:03:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Saya mempunyai latar belakang sebagai pendidik di sebuah lembaga pendidikan informal yang lumayan lama (Menurut saya, tujuh tahun adalah waktu yang cukup lama). Dalam jangka waktu itu, saya juga sempat mengenyam sekitar setahun pengalaman mengajar di sekolah formal—SMA dan SD. Kesempatan menikmati dua dunia yang sedikit berbeda itulah yang mendasari tulisan saya kali ini. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Saya mempunyai latar belakang sebagai pendidik di sebuah lembaga pendidikan informal yang lumayan lama (Menurut saya, tujuh tahun adalah waktu yang cukup lama). Dalam jangka waktu itu, saya juga sempat mengenyam sekitar setahun pengalaman mengajar di sekolah formal—SMA dan SD. Kesempatan menikmati dua dunia yang sedikit berbeda itulah yang mendasari tulisan saya kali ini.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Ketika saya masuk menjadi pengajar sebuah SMA Negeri di Ungaran, saya sempat dipandang sebelah mata karena mempraktekan hal-hal dari kursusan ke sekolah formal. Namun saya merasa bisa berbagi dengan guru-guru yang lain. Berbagi disini yang saya maksud, saya bisa sedikit menjelaskan pandangan saya tentang pendidikan—walaupun saat itu saya masih awam—dan sebagai gantinya, saya belajar tentang profil guru yang berwibawa di depan murid-murid—bukan berarti saya tidak berwibawa, loh, hanya kurang karena faktor usia.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Hal-hal yang sama juga saya dapatkan ketika mengajar di sebuah Sekolah Dasar Negeri di Solo. Pengalaman berbagi saya menjadi lebih banyak dan luas karena guru-guru disana sangat terbuka terhadap pendapat orang lain. Mengajar di sekolah formal dan di kursusan mempunyai manfaat masing-masing terhadap saya—dan saya yakin begitu juga terhadap semua pendidik.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Kalau ditilik-tilik, sekolah formal memberi kesempatan guru untuk lebih dihormati. Guru mendapat privilage—hak khusus untuk dihormati hanya dengan memakai seragam PSH. Setelah itu, semuanya terletak di tangan guru itu sendiri bagaimana akan menggunakannya. Seragam itu juga memberikan tanggung jawab besar dimana guru-guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Apakah hal yang sama berlaku terhadap guru-guru di kursusan? Tidak semuanya tentunya. Dan keadanyapun berbeda-beda. Guru di tempat kursus harus berusaha untuk mendapatkan rasa hormat dari murid. Tanggung jawab mendidik pun tidak selamanya disadari oleh para guru kursusan.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Lalu apakah itu artinya guru formal lebih mudah mengajar murid dibandingkan dengan guru kursus? Tidak juga. Hal yang biasa dibahas oleh guru-guru formal adalah betapa banyak murid yang dihadapi dalam satu kelas. Hal lainnya adalah materi yang banyak yang harus di <em style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: italic; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; margin: 0px; border: 0px initial initial;">cover</em> dalam jangka waktu satu semester. Dalam hal ini, mengajar di kursusan sering dianggap lebih enak daripada mengajar di sekolah formal. Materinya sudah disesuaikan dengan jangka waktu pengajaran. Hal ini juga memungkinkan guru kursus sering memberi aktivitas-aktivitas yang menyenangkan di kelas—tentunya yang masih sesuai dengan tujuan pembelajaran, ya. Efeknya adalah sampai sekarang murid-murid banyak yang lebih menyukai guru kursus daripada guru sekolahnya. Banyak yang lebih merasa “berteman” dengan guru-guru dikursusannya daripada dengan bapak dan ibu guru yang berdiri di depan kelas mereka sehari-hari.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Terus apa solusinya? Kenapa tidak mengadopsi konsep Buy 1 get 2? Ambil saja yang positif-positif dari kedua golongan guru tersebut. Kalau anda ragu-ragu akan kemungkinannya, anda tidak perlu seperti itu. Saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri seorang guru matematika yang dihormati di kelas memberikan games yang membuat anak didiknya menganggap cara mengajarnya sangat <em style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: italic; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; margin: 0px; border: 0px initial initial;">fun</em>. Hasilnya adalah anak termotivasi untuk belajar s-e-n-d-i-r-i di rumah walaupun ketika tidak ada guru tersebut. Materi yang kadang terlalu banyak bukan menjadi masalah lagi. Di lain pihak, teman saya di kursusan yang kebetulan menjadi guru favorit dalam sebuah jangka waktu tertentu berdasarkan survey masih dihormati penuh oleh murid-muridnya karena sosoknya yang berwibawa dan ajaran-ajaran moral yang disampaikannya dengan cara yang <em style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: italic; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; margin: 0px; border: 0px initial initial;">anak muda banget</em>!</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Guru formal dan guru kursus akan bisa menjadi guru super apabila mau belajar dari masing-masing pihak. Semoga kita semua bisa menjadi seperti itu, ya. Amin!</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;"><em>Je</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/buy-1-get-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SMK untuk semua</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/smk-untuk-semua.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/smk-untuk-semua.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 12:29:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Je</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Murid]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[SMK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Sekolah Menengah Kejuruan menjadi salah satu fokus dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional periode 2005-2009. Info ini saya dapetkan dari salah satu situs pendidikan ketika browsing-browsing di internet.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; width: 1px; height: 1px; top: 0px; left: -10000px;">Sekolah Menengah Kejuruan menjadi salah satu fokus dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional periode 2005-2009. Info ini saya dapetkan dari situs http://www.unimed.ac.id/pegawaidoc/03.pdf ketika browsing-browsing di internet.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; width: 1px; height: 1px; top: 0px; left: -10000px;">Hal ini sangat masuk akal melihat kondisi negara kita sekarang. Dengan makin mahal dan ketatnya dunia pendidikan, SMK menjadi salah satu pilihan favorit para pendaftar sekolah menengah. Mari kita lihat keberadaan SMK dari tiga sudut pandang yang berbeda—murid, sekolah dan bisnis.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; width: 1px; height: 1px; top: 0px; left: -10000px;">Dari segi murid, SMK bisa jadi pilihan yang menggiurkan karena jenis sekolah itu memberikan akses ketiga hal sekaligus ketika para murid lulus: Melanjutkan ke Perguruan Tinggi, belajar sambil bekerja dan berwirausaha. Setelah menempuh pendidikan di SMK, para siswa masih bisa melanjutkan ke pendidikan ke Perguruan Tinggi yang sesuai dengan jurusan pilihan mereka. Yang dari jurusan akutansi bisa terus memperdalam ilmunya. Begitu juga yang dari jurusan teknik. Apabila tidak sabar menunggu kelulusan, murid-murid bisa langsung membagi waktu mereka antara belajar dan bekerja sesuai dengan keahlian mereka, bukan? Saya pernah mempunyai seorang kenalan anak SMK yang bekerja paruh waktu di sebuah bengkel sambil menerapkan ilmunya di bisang otomatif—jurusan yang dia ambil. Dan apabila murid-murid dengan jurusan tertentu sudah lulus dan memilih berwiraswasta, mereka bisa saja membuka usaha kecil-kecilan. Semuanya tergantung niat, bukan?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; width: 1px; height: 1px; top: 0px; left: -10000px;">Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia sudah berjumlah 7. 719 sekolah. Info ini saya dapat dari www.disdiknasdki.net. Jumlah ini sama dengan jumlah SMA yang ada. Dengan perbandingan fifty-fifty, SMK harusnya lebih percaya diri dengan apa yang ditawarkan oleh mereka. Selain itu, SMK harus selalu menjaga mutu pendidikan yang ditawarkan. Salah satunya&#8212;menurut saya pribadi—adalah kerjasama dengan perusahaan-perusahaan dalam rangka penyaluran alumni SMK tersebut. Sudahkah terlaksana dengan baik? Para praktisi SMK tentu lebih bisa menjawab pertanyaan tersebut.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; width: 1px; height: 1px; top: 0px; left: -10000px;">Apa efeknya menjamurnya SMK terhadap sektor bisnis? Selain tenaga kerja yang (seharusnya) handal yang diproduksi oleh SMK, beberapa institusi bisa saja menjalin kerjasama denan beberapa SMK terutama di bidang keahlian. Misalnya saja, kursus Bahasa Inggris bisa menawarkan program intensif sebagai pelajaran tambahan terhadap murid-murid SMK. Tentunya program ini harus bersifat customized agar tepat guna. Sektor bisnis pengadaan alat-alat industri bisa juga mengikuti tender pemerintah atau swasta dalam pengadaan sarana belajar yang berguna, bukan? Saya yakin hal ini sudah dipikirkan oleh para pebisnis. Kalaupun belum, bisa jadi ini saat yang tepat.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; width: 1px; height: 1px; top: 0px; left: -10000px;">Keberadaan SMK bisa dimaknai sangat positif oleh berbagai pihak. Mungkin satu hal yang perlu kita ingat, SMK adalah sebuah fenomena yang sangat berguna bagi bangsa kita—Indonesia.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; width: 1px; height: 1px; top: 0px; left: -10000px;">Je</div>
<p>Sekolah Menengah Kejuruan menjadi salah satu fokus dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Departemen Pendidikan Nasional periode 2005-2009. Info ini saya dapetkan dari salah satu <a href="http://www.unimed.ac.id/pegawaidoc/03.pdf" target="_blank">situs pendidikan</a> ketika browsing-browsing di internet.</p>
<p>Hal ini sangat masuk akal melihat kondisi negara kita sekarang. Dengan makin mahal dan ketatnya dunia pendidikan, SMK menjadi salah satu pilihan favorit para pendaftar sekolah menengah. Mari kita lihat keberadaan SMK dari tiga sudut pandang yang berbeda—murid, sekolah dan bisnis.</p>
<p>Dari segi murid, SMK bisa jadi pilihan yang menggiurkan karena jenis sekolah itu memberikan akses ketiga hal sekaligus ketika para murid lulus: Melanjutkan ke Perguruan Tinggi, belajar sambil bekerja dan berwirausaha. Setelah menempuh pendidikan di SMK, para siswa masih bisa melanjutkan ke pendidikan ke Perguruan Tinggi yang sesuai dengan jurusan pilihan mereka. Yang dari jurusan akutansi bisa terus memperdalam ilmunya. Begitu juga yang dari jurusan teknik. Apabila tidak sabar menunggu kelulusan, murid-murid bisa langsung membagi waktu mereka antara belajar dan bekerja sesuai dengan keahlian mereka, bukan? Saya pernah mempunyai seorang kenalan anak SMK yang bekerja paruh waktu di sebuah bengkel sambil menerapkan ilmunya di bisang otomatif—jurusan yang dia ambil. Dan apabila murid-murid dengan jurusan tertentu sudah lulus dan memilih berwiraswasta, mereka bisa saja membuka usaha kecil-kecilan. Semuanya tergantung niat, bukan?</p>
<p>Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia sudah berjumlah 7. 719 sekolah. Info ini saya dapat dari <a href="http://indonesiaeducate.org/wp-admin/www.disdiknasdki.net." target="_blank">www.disdiknasdki.net.</a> Jumlah ini sama dengan jumlah SMA yang ada. Dengan perbandingan fifty-fifty, SMK harusnya lebih percaya diri dengan apa yang ditawarkan oleh mereka. Selain itu, SMK harus selalu menjaga mutu pendidikan yang ditawarkan. Salah satunya&#8212;menurut saya pribadi—adalah kerjasama dengan perusahaan-perusahaan dalam rangka penyaluran alumni SMK tersebut. Sudahkah terlaksana dengan baik? Para praktisi SMK tentu lebih bisa menjawab pertanyaan tersebut.</p>
<p>Apa efeknya menjamurnya SMK terhadap sektor bisnis? Selain tenaga kerja yang (seharusnya) handal yang diproduksi oleh SMK, beberapa institusi bisa saja menjalin kerjasama denan beberapa SMK terutama di bidang keahlian. Misalnya saja, kursus Bahasa Inggris bisa menawarkan program intensif sebagai pelajaran tambahan terhadap murid-murid SMK. Tentunya program ini harus bersifat customized agar tepat guna. Sektor bisnis pengadaan alat-alat industri bisa juga mengikuti tender pemerintah atau swasta dalam pengadaan sarana belajar yang berguna, bukan? Saya yakin hal ini sudah dipikirkan oleh para pebisnis. Kalaupun belum, bisa jadi ini saat yang tepat.</p>
<p>Keberadaan SMK bisa dimaknai sangat positif oleh berbagai pihak. Mungkin satu hal yang perlu kita ingat, SMK adalah sebuah fenomena yang sangat berguna bagi bangsa kita—Indonesia.</p>
<p>Je</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/smk-untuk-semua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
