<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesiaeducate.org &#187; daffodil</title>
	<atom:link href="http://indonesiaeducate.org/author/daffodil/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiaeducate.org</link>
	<description>indonesia educate</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 17:33:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pertemuan Edisi Juli 2010</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/pertemuan-edisi-juli-2010.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/pertemuan-edisi-juli-2010.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 10:32:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=421</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/pertemuan-edisi-juli-2010.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Mirip Luna Maya. So What???</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 18:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Eye Opener]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[Parents-educators]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=352</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Rahmad Banglae Daulay, ST Kenapa kita harus kebakaran jenggot ??? Toh ini kan hanya merupakan puncak gunung es dari ribuan kejadian. Kenapa harus sibuk merazia ponsel para pelajar ? Apakah tahan melakukan razia setiaphari sampai hari kiamat nanti ??? Mari kita serius. Apakah kita semua sudah serius mendidik anak – anak kita sementara kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Rahmad Banglae Daulay, ST</strong></p>
<p>Kenapa kita harus kebakaran jenggot ??? Toh ini kan hanya merupakan puncak gunung es dari ribuan kejadian. Kenapa harus sibuk merazia ponsel para pelajar ? Apakah tahan melakukan razia setiaphari sampai hari kiamat nanti ???</p>
<p>Mari kita serius. Apakah kita semua sudah serius mendidik anak – anak kita sementara kita khawatir akan dampak dari ”Mirip Luna Maya Gate” ini ? Kalau kita masih khawatir dan sibuk merazia ponsel mereka ini sudah menunjukkan bahwa kita semua sudah tidak percaya pada hasil didikan kita pada anak – anak kita sendiri.</p>
<p>Kalau kita perhatikan dengan seksama, generasi tua dibesarkan dalam suasana yang sangat berbeda dengan generasi muda searang ini. Generasi tua dibesarkan di zaman perjuangan, zaman mempertahankan kemerdekaan, zaman orde lama dan zaman orde baru yang mana kendali pendidikan anak dipegang oleh keluarga dan sekolah. Keluarga dan kondisi sosial masih sangat memungkinkan untuk terbentuknya kepribadian seorang anak sesuai dengan keinginan keluarganya. Demikian juga sekolah. Pada masa itu hiburan masih sebatas RRI dan TVRI. Paling banter anak – anak cuma nonton film unyil, flash gordon atau scoo bi doo. Teknologi pun masih belum canggih dan masih cukup mahal untuk bisa menikmatinya. Pada masa itu butuh waktu lama untuk menjadi dewasa.</p>
<p>Sementara, generasi zaman sekarang hidup dan dibesarkan serta jadi remaja di zaman reformasi di mana teknologi informasi sudah sangat canggih dan murah. Hiburan di rumahpun sudah sangat banyak. Channel tv swasta hanya dengan sekali pencet sudah bisa menikmati acara hiburan sesuka hati. Dalam suasana seperti ini kendali pendidikan keluaga dan sekolah sudah terimbangi oleh teknologi informasi dan dunia hiburan. Apalagi ketika dunia pendidikan sibuk dengan segala macam intervensi nonkependidikan dengan kasus2 yang tidak simpatik dan orang tua sibuk mencari nafkah hidup yang semakin susah, jadilah sang anak sibuk mencari dan membentuk dunianya sendiri. Bagi yang tidak memiliki fasilitas pribadi maka dia akan sibuk bergaul dengan rekan seusianya. Bagi yang punya fasilitas pribadi sibuk dengan kesendiriannya. Dalam kesendiriannya ini mereka banyak tenggelam dalam dunia maya. Pergaulan dalam dunia maya secara perlahan tapi pasti membentuk kepribadiannya. Mereka menjadi sangat cepat dewasa.</p>
<p>Dan orang tua yang pada umumnya tidak melek teknologi tidak tahu dan tidak bisa mengikuti perkembangan kepribadian anak – anaknya. Dan ketika berita tentang Luna Maya merebak di mana – mana maka kita semua kebakaran jenggot.</p>
<p>Lantas, siapa yang salah ?</p>
<p>Untuk apa kita mencari siapa yang salah, kita semua bertanggung jawab atas semua ini. Pendidikan apa yang telah kita berikan kepada anak kita, selain sekolah formal, kursus privat formal ???</p>
<p>Sudah saatnya kita memikirkan kembali format pendidikan non formal yang up to date selain sekolah formal kepada anak –anak kita. Dulu pernah hidup banyak organisasi pelajar, organisasi pemuda, organisasi mahasiswa, yang sebagian besar sekarang ini megap – megap dilindas zaman akibat dari program yang ketinggalan zaman dan sebagian dari elitnya hanya sibuk menjadikan organisasi sebagai batu loncatan untuk karir politiknya. Organisasi masih merupakan sarana yang efektif sebagai wahana pembinaan generasi muda.</p>
<p>Bila generasi muda membagi sebagian pikiran dan  waktunya untuk berorganisasi maka sudah bisa diperkirakan bahwa waktu dan pikiran untuk melakukan perilaku menyimpang atau perilaku yang tidak perlu sudah berkurang atau ditiadakan sama sekali.</p>
<p>Ketiadaan aktifitas adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan generasi muda terjerumus ke dalam perilaku menyimpang.</p>
<p>Berikan mereka aktiftas, berikan mereka fasilitas. Berikan mereka bimbingan praktis, bukan teoritis. Saya yakin masih banyak generasi muda yang punya kesadaran dan potensi untuk menjadi baik.</p>
<p>Perkara bahwa akan tetap ada yang akan terjerumus itu sudah merupakan hukum alam tersendiri, namun harus diingat, usaha harus terus dilakukan dengan inovasidan ide yang tidak ketinggalan zaman.</p>
<p>Salam repotmasih.</p>
<p>Rahmad Daulay, ST</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/video-mirip-luna-maya-so-what.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kongkow 13 April Part 3</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/257.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/257.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 18:37:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/257.html</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/meeting13-04-3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-256" title="meeting13-04-3" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/meeting13-04-3-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/257.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kongkow 13 April part 2</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/255.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/255.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 18:35:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/255.html</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/meeting13-04-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-254" title="meeting13-04-1" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/meeting13-04-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/255.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kongkow 13 April</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/kongkow-13-april.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/kongkow-13-april.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 May 2010 18:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/meeting13-04-22.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-251" title="meeting13-04-2" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/05/meeting13-04-22-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/kongkow-13-april.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Memilih Lembaga Bimbingan Belajar</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/tips-memilih-bimbingan-belajar.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/tips-memilih-bimbingan-belajar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 11:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Menyambung artikel mengenai alasan siswa dan orang tua memilih untuk mengikuti sesi di lembaga bimbingan belajar, saya akan membagi tips tentang bagaimana memilih lembaga bimbingan belajar yang sesuai dengan kebutuhan putra/putri kita. Tidak ada salahnya bila kita melakukan survey kecil-kecilan sebelum menentukan lembaga bimbel mana yang akan kita pilih. Mintalah brosur atau carilah iklan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menyambung artikel mengenai alasan siswa dan orang tua memilih untuk mengikuti sesi di lembaga bimbingan belajar, saya akan membagi tips tentang bagaimana memilih lembaga bimbingan belajar yang sesuai dengan kebutuhan putra/putri kita.</p>
<p>Tidak ada salahnya bila kita melakukan survey kecil-kecilan sebelum menentukan lembaga bimbel mana yang akan kita pilih. Mintalah brosur atau carilah iklan tentang lembaga bimbel itu. Akan lebih baik lagi bila kita mendapatkan testimoni dari (mantan) pengguna jasa bimbel tersebut. Informasi utama yang perlu diketahui diantara adalah:</p>
<ul>
<li>Jasa pengajaran <strong>mata pelajaran apa saja</strong> yang ditawarkan. Tanyakan juga apakah <strong>biaya</strong> yang dimaksud sudah termasuk dengan materi modul dan materi serta kesempatan mengikuti try-out (bila putra/ putri kita akan mengikuti ujian nasional),</li>
<li><strong>Besaran jumlah peserta per kelas.</strong> Apakah pengajaran dilakukan dalam kelas terbatas (3 sampai 5 orangkah) atau kelas besar semacam kuliah umum. Jumlah peserta per kelas tentu akan mempengaruhi besarnya perhatian dan intensitas interaksi peserta dengan pengajarnya. Tanyakan pula<strong> fasilitas pendukung pengajaran dan metode pengajaran.</strong></li>
<li>Reputasi lembaga tersebut terutama dari aspek <strong>komitmen pengajar</strong>nya. Soal reputasi bahwa pengajar merupakan lulusan sekolah favorit atau kuliah di universitas ternama, saya pikir itu hal yang bersifat subyektif. Saya pribadi lebih menimbang berat hal absensi pengajar atau sesi yang konsisten, bukan dari universitas mana yang bersangkutan berasal. Sesi yang sudah dijadwalkan seharusnya tetap berjalan meskipun pengajar mata pelajaran tersebut absen. Ini artinya sang pengelola lembaga memiliki komitmen yang tinggi terhadap aspek pelayanan.</li>
</ul>
<p>Faktor berikutnya adalah <strong>waktu belajar</strong>. Hal ini untuk menghindari ketidaktersediaan sesi yang dibutuhkan karena tidak sesuai dengan jadwal kepulangan putra/ putri kita. Sebelum mendaftar, mintalah jadwal sesi-sesi yang ada yang disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini penting dilakukan terutama bila putra/ putri kita telah memiliki jadwal tambahan lain setelah pulang sekolah.</p>
<p><strong>Biaya </strong>juga dapat menjadi faktor penentu pemilihan sebuah lembaga bimbel. Semakin banyak dana yang tersedia maka akan semakin besar kesempatan kita untuk memilih lembaga mana yang &#8216;tersesuai&#8217;. Meski hal ini tidak selalu berarti bahwa lembaga bimbel yang mahal akan lebih berkualitas.</p>
<p>Faktor terakhir adalah faktor kedekatan<strong> lokasi</strong> sekolah atau rumah dengan lembaga bimbel. Untuk sebagian besar orang tua, faktor keamanan menjadi prioritas utama. Bila pun lokasi lembaga bimbel yang ada cukup jauh, persiapkan putra/ putri kita secara finansial (misalnya dengan memberikan uang saku secukupnya atau memesan ojek langganan) dan secara fisik (berhubung yang bersangkutan tidak dapat pulang ke rumah sebelum belajar, ada baiknya disediakan baju ganti atau bekal secukupnya).</p>
<p>Saya yakin masih banyak lagi faktor-faktor lain yang dipertimbangkan dalam memilih lembaga bimbingan belajar.</p>
<p>Faktor apalagi yang menjadi pertimbangan Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/tips-memilih-bimbingan-belajar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Romantika Gaya Belajar: Bimbel Scenario</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/romantika-gaya-belajar-bimbel-scenario.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/romantika-gaya-belajar-bimbel-scenario.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 11:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lighter Side]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Bicara mengenai bimbingan belajar, saya jadi teringat dengan metode pengajaran yang pernah saya &#8216;cicip&#8217; di sebuah lembaga bimbel di Dewi Sartika. Ketika itu mata pelajaran yang disuguhkan adalah matematika ilmu sosial. Pengajarnya kebetulan owner dari lembaga tersebut yang saat itu terkenal bertangan dingin. Keberhasilan gaya mengajarnya sudah melegenda di kalangan siswa seperti saya saat itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bicara mengenai bimbingan belajar, saya jadi teringat dengan metode pengajaran yang pernah saya &#8216;cicip&#8217; di sebuah lembaga bimbel di Dewi Sartika. Ketika itu mata pelajaran yang disuguhkan adalah matematika ilmu sosial. Pengajarnya kebetulan owner dari lembaga tersebut yang saat itu terkenal bertangan dingin. Keberhasilan gaya mengajarnya sudah melegenda di kalangan siswa seperti saya saat itu. Keajaiban, ya itulah yang kami harapkan.</p>
<p>Awal sesi dimulai seperti biasa. Kami membuka modul matematika kami dan mulai melihat-lihat rumus serta contoh-contoh soalnya.  Sang Ibu kemudian meraih mikropon dan mulai membaca rumus tersebut. Lalu kami diminta untuk mengikutinya. M e n g i k u t i n y a? Iya, benar. Kami diminta menyebutkan rumus keras-keras. Anda bisa bayangkan seperti apa riuh rendahnya ruangan? Sekitar 70an anak-anak SMA bersahut-sahutan menghapalkan rumus dengan setengah berteriak.</p>
<p>Saya bingung. Sepertinya saya juga tidak sendirian. Tapi berhubung sang Ibu nada bicaranya tegas dan sepertinya tidak ada harapan juga bagi kami untuk tawar menawar, kami semua patuh.</p>
<p>Lama saya menyadari arti dari permintaan si Ibu. Ternyata Ibu mengaplikasikan konsep gaya belajar (learning style) ketika beliau mengajar. Mengerjakan soal dalam diam untuk si visual dan berteriak untuk si audio. Wah, wah, wah. Tambah kagum saya terhadap si Ibu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/romantika-gaya-belajar-bimbel-scenario.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bimbingan Belajar: Mengapa Diperlukan?</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/bimbingan-belajar-mengapa-diperlukan.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/bimbingan-belajar-mengapa-diperlukan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 06:08:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Bimbingan Belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini marak berkembang nama-nama bimbingan belajar baik besar maupun kecil. Mereka menawarkan jasa bimbingan secara privat, semi-privat maupun &#8216;publik&#8217; (yaitu dalam bentuk kelas-kelas di lokasi bimbingan belajar tertentu) dengan slogan yang beraneka &#8216;warna&#8217;.  Rata-rata memberikan janji bahwa siswa yang belajar di tempat mereka akan dapat lulus UAN, dapat memahami pelajaran lebih baik bila dibandingkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini marak berkembang nama-nama bimbingan belajar baik besar maupun kecil. Mereka menawarkan jasa bimbingan secara privat, semi-privat maupun &#8216;publik&#8217; (yaitu dalam bentuk kelas-kelas di lokasi bimbingan belajar tertentu) dengan slogan yang beraneka &#8216;warna&#8217;.  Rata-rata memberikan janji bahwa siswa yang belajar di tempat mereka akan dapat lulus UAN, dapat memahami pelajaran lebih baik bila dibandingkan dengan mereka yang belajar di bimbingan belajar lain atau yang tidak megikuti bimbingan belajar sama sekali. Belum lagi pelaksanaan try-out secara berkala.</p>
<p>Tetapi, apakah itu berarti menjamurnya praktik bimbingan belajar karena kekuatan &#8216;marketing&#8217; semata? Pertanyaan kedua adalah: apa yang menjadi alasan dibutuhkannya lembaga-lembaga bimbingan belajar oleh siswa? Bagaimana dengan pihak lain? Orang tua misalnya? Tulisan berikut akan membahas secara umum mengapa masyarakat membutuhkan keberadaan lembaga bimbingan belajar terutama bila ditinjau dari aspek siswa di sekolah dan aspek sistem belajar siswa di rumah mereka masing-masing.</p>
<p>Siswa yang memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi di dalam kelas, baik itu karena faktor guru sebagai pribadi, materi, teknik pengajaran maupun faktor psikologis seperti kelelahan dan lain sebagainya, merasa membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk memperdalam mata pelajaran tertentu. Bimbingan belajar memberikan pengetahuan berupa langkah mudah atau tips untuk memahami satu mata pelajaran yang dianggap sulit seperti kimia atau matematika. Hal inilah yang terkadang menjadi kekuatan dari program bimbingan belajar: memberikan tips pembelajaran untuk mempermudah pemahaman. Satu hal yang sebenarnya tidak melulu harus dilakukan oleh lembaga bimbingan belajar.</p>
<p>Pihak lain yang dapat mengambil peran dalam proses pendalaman materi sekolah yang efektif dan secara ekonomi tidak membebani adalah orang tua. Siswa yang masih memperoleh kesempatan untuk dibimbing langsung oleh orang tuanya dalam hal pelajaran di sekolah sangatlah beruntung. Penambahan waktu belajar di rumah dengan orang tua sebagai &#8216;pengajar&#8217;nya tentu akan lebih nyaman dan lebih bersahabat di kantong karena tidak memerlukan biaya. Bimbingan belajar menjadi alternatif solusi bagi siswa yang orang tuanya kedua-duanya bekerja.</p>
<p>Selain faktor ketiadaan bimbingan orang tua karena faktor bekerja, faktor isi materi mata pelajaran juga menjadi penyebab mengapa orang tua tidak dapat menjadi pembimbing akademis bagi putra-putrinya. Sebagai contoh, materi pelajaran matematika yang telah berkembang dengan begitu pesatnya membuat orang tua merasa kewalahan karena pengetahuan mereka yang tidak dapat mengimbangi perkembangan ilmu matematika saat ini.</p>
<p>Sebagai kesimpulan dapat saya sampaikan bahwa semakin banyaknya lembaga bimbingan belajar merupakan fenomena akibat dari kebutuhan dari siswa yang dituntut agar dapat memberikan pemahaman mereka atas mata pelajaran tertentu di sekolah. Siswa yang memperoleh kesempatan untuk memperoleh jasa bimbingan belajar berharap untuk dapat mendapatkan kiat-kiat belajar, kesempatan memperdalam pengetahuan mereka dengan mengerjakan latihan-latihan atau try-out. Dari sisi pemberi bimbingan, sebagian orang tua tidak dapat menjadi mentor bagi putra-putrinya karena beberapa faktor.</p>
<p>Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah bila siswa dapat menemukan cara untuk memahami pelajaran, baik dengan bantuan orang tua maupun tidak, maka yang bersangkutan tidak membutuhkan jasa lembaga bimbingan belajar?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/bimbingan-belajar-mengapa-diperlukan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mandiri &amp; Kreatif Ala Dik Doank</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 14:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Profile]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html</guid>
		<description><![CDATA[Salahsatu seminar yang saya sambangi pada hari Minggu tanggal 7 Februari yang lalu hadir dengan topik &#8216; Kiat-kiat dalam Memotivasi Anak agar Mandiri dan Kreatif&#8217;. Yang menarik hati saya adalah pembicara dari seminar itu. Mas Dik Doank. Entah sudah berapa lama saya berharap suatu hari dapat bertemu muka dengannya. Apalagi saya sudah mendengar tentang keberadaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/02/dik.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-213" title="dik" src="http://indonesiaeducate.org/wp-content/uploads/2010/02/dik-110x150.jpg" alt="" width="110" height="150" /></a>Salahsatu seminar yang saya sambangi pada hari Minggu tanggal 7 Februari yang lalu hadir dengan topik &#8216; Kiat-kiat dalam Memotivasi Anak agar Mandiri dan Kreatif&#8217;. Yang menarik hati saya adalah pembicara dari seminar itu. Mas Dik Doank. Entah sudah berapa lama saya berharap suatu hari dapat bertemu muka dengannya.</p>
<p>Apalagi saya sudah mendengar tentang keberadaan KANDANK JURANK DOANK yang menurut saya merupakan suatu proyek dari hati yang telah berperan dalam dunia pendidikan kita. Dengan cara dan metode pengajaran dan pembelajaran yang saya rasa menjadi alternatif dari sekian cara yang diketahui orang. Untuk pengetahuan lebih lanjut mengenai proyek tersebut melalu media virtual dapat mengunjungi <a href="http://kandankjurank.com">kandankjurank.com. </a></p>
<p>Secara garis besar, Mas DD (begitu saya akan menyebutnya di sini) menyampaikan pengalamannya sebagai orang tua dimana garis pendidikan yang diterapkan kepada anak-anaknya, Ratta Billa Baggi, Geddi Jaddi Membummi, dan Putti Kayya Hatti Imanni, boleh dibilang unik. Salahsatu aspek yang menurutnya penting dikembangkan dalam diri anak adalah kebebasan berpikir dan berekspresi. Sebagai contoh, Mas DD membiarkan anak-anaknya tersebut mencorat-coret bidang datar apapun dalam bentuk apapun di lingkungan rumahnya. Menurutnya, pelarangan dalam bentuk aturan-aturan akan mengekang perkembangan pemikiran anak menuju ke arah aspek kreativitas.</p>
<p>Di lain pihak, saya agak terkejut ketika Mas DD menyampaikan bahwa putra-putrinya telah diajarkan untuk mencari uang sendiri semenjak kecil. Salahsatu contoh kecil adalah ketika Ratta yang pandai melukis dibayar oleh teman-temannya untuk membuat proyek kartu. Menurut Mas DD hal ini penting untuk difasilitasi dengan banyak manfaat yang salahsatunya adalah memupuk rasa mandiri dalam berusaha.Hmm, sungguh sangat menarik.</p>
<p>Menghadiri seminar dengan Mas DD membuat saya sangat ingin mengunjungi kandank jurank-nya di Jurangmangu Ciputat untuk mengetahui lebih dalam lagi apa dan bagaimana kegiatan mereka disana. Harapan saya selain itu? Bertemu dengan Mas Dik Doank tentunya. <img src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/3.gif" border="0" alt="" width="18" height="18" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/coming-soon.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop yang Gagal</title>
		<link>http://indonesiaeducate.org/workshop-yang-gagal.html</link>
		<comments>http://indonesiaeducate.org/workshop-yang-gagal.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 13:12:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>daffodil</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Real Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiaeducate.org/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah kisah nyata yang mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya oleh mereka yang akan melaksanakan sebuah acara bagi para orang tua. Sekitar bulan Februari 2008 lalu, saya berkeinginan untuk mengadakan workshop sehari dengan topik autisme (termasuk di dalamnya sindrom hiperaktif) dan cara belajar anak. Dengan kebutuhan khusus yang ada, tentunya cara belajar anak (dan cara orang tua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;"><em style="outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: italic; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; margin: 0px; border: 0px initial initial;">Sebuah kisah nyata yang mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya oleh mereka yang akan melaksanakan sebuah acara bagi para orang tua.</em></p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Sekitar bulan Februari 2008 lalu, saya berkeinginan untuk mengadakan workshop sehari dengan topik autisme (termasuk di dalamnya sindrom hiperaktif) dan cara belajar anak. Dengan kebutuhan khusus yang ada, tentunya cara belajar anak (dan cara orang tua dan guru memberikan pelajaran) akan sangat berbeda dengan anak-anak yang lain. Sedianya acara ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2008.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Ide workshop ini benar-benar sebuah idealisme yang sangat besar, kalau tidak dapat disebut sebagai sebagai sebuah obsesi. Betapa tidak. Kami berencana mengundang 100 orang dan melaksanakannya tidak di aula sekolah tetapi MENYEWA satu aula khusus. Proposal kegiatan telah dibuat dengan biaya mendekati 10 juta. Terlebih lagi fakta di lapangan, banyak siswa-siswi, terutama program anak-anak, menunjukkan gejala-gejala hiperaktif dan beberapa bahkan gejala yang mengarah pada autisme. Terus terang, kami tidak dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus ini.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Sehingga muncullah ide untuk mengundang para orang tua dan guru dalam suatu forum dengan mengundang seorang psikolog terkenal yang telah lama berkecimpung di dunia anak yang memiliki kebutuhan khusus ini. Guru sebagai audiens karena mereka akan memerlukan pengetahuan yang ada untuk menangani siswa-siswi mereka, sementara orang tua membutuhkannya untuk dapat menerapkannya di lingkungan rumah.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Sekitar dua bulan sebelum hari H, tim saya menyebarluaskan angket untuk mengetahui hari dan waktu dimana para orang tua dapat menghadirinya. Maklum, sekolah kami berlokasi di area dimana kedua orang tua adalah pekerja. Tidak ketinggalan kami sebutkan pula bahwa workshop ini adalah GRATIS alias tidak dipungut biaya.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Sampai 3 minggu sebelum hari H, jawaban yang kami terima sangat mengecewakan. Dari sekitar 310 lembar angket yang kami sebarluaskan, hanya 4 lembar saja yang dikembalikan kepada tim kami. Ya, anda tidak salah membaca. EMPAT LEMBAR SAJA.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Beberapa guru menyampaikan alasan yang disampaikan oleh orang tua siswa-siswi , diantaranya:<br />
‘Wah, ibu saya kan sibuk, Sir. Ngga ada waktu buat ke seminar.’<br />
‘Ma’am, saya kan ngga autis. Kenapa ibu saya diundang?’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Dan beberapa alasan klasik lainnya yang sangat ‘khas anak-anak’ seperti:<br />
‘Ma’am, saya lupaaa.’<br />
‘Ma’am, suratnya hilang…. (sambil menunduk).’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Tanpa berpikir panjang lagi semua hal yang berhubungan dengan persiapan workshop itu kami batalkan: pemesanan tempat di sebuah aula, biaya yang telah kami minta dari kantor pusat dan tentu saja undangan bagi calon pembicara.</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Di kepala saya kemudian berputar-putar beberapa pertanyaan, seolah-olah ingin menemukan jawaban dari teka-teki ketidaktertarikan para orang tua pada maksud kami:<br />
‘Apakah waktu pelaksanaan yang tidak sesuai?’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">‘Apakah karena anak mereka dianggap ‘normal’ dan baik-baik saja (padahal banyak dari guru kami yang mengeluh bahwa ketika bertemu dengan orang tua siswa/siswi yang ‘bermasalah’ ini beberapa tidak mau mengakui bahwa putra-putrinya membutuhkan pendekatan khusus)?’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">‘Apakah karena acara ini bebas biaya (kami berpikiran bahwa mungkin (ya, MUNGKIN saja) orang tua tidak merasa berkewajiban untuk mengembalikan angket tersebut)?’</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;">Saya benar-benar tak habis pikir.<br />
Mungkin anda memiliki pengalaman yang sama?</p>
<p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.1em; margin-left: 0px; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; font-weight: inherit; font-style: inherit; font-size: 15px; font-family: inherit; vertical-align: baseline; padding: 0px; border: 0px initial initial;"><em>Daffodil</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiaeducate.org/workshop-yang-gagal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

